Zeazlan

Zeazlan
Janji Zeo


__ADS_3

Ketika aku sudah memantapkan hati untuk tidak lagi berharap kenapa kau kembali bersikap seakan ingin mengulang semuanya


-Zea-


Gemericik air terdengar pelan, seorang wanita menatap lesu wajahnya di pantulan cermin. Melihat betapa kusutnya wajah cantiknya itu. Dia berusaha tersenyum, meski sedikit berat. Ada beban yang membuat dirinya merasa lelah meskipun tidak melakukan pekerjaan. Beban itu ada di dalam hatinya. Beban yang susah payah ia hancurkan namun dengan mudahnya kembali lagi. Bersaman dengan orang yang memberikannya.


Gadis itu menarik napas dalam. Kemudian membuangnya perlahan. Membasuh wajahnya dengan air yang mengalir di wastafel, setelah itu ia beralih pada sebuah tisu di sebelah kiri wastafel itu lalu mengelap sisa air di tangan serta wajahnya.


"Muka gue kaya baju nggak di setrika. Kusut amat yah," gumam gadis itu yang tidak lain adalah Zea.


Zea menghela napas pelan. Hati ini dirinya cukup lelah, baik tubuh maupun hati. Selain pesanan delivery yang cukup banyak sehingga mengharuskan dirinya turun tangan ternyata mampu membuat tubuhnya seakan ingin remuk. Padahal hanya dalam satu hari ini.


Zea kembali menatap dirinya di pantulan cermin.


"Padahal dulu gue kerja sendirian, dan nggak ada capeknya, giliran sekarang udah banyak yang kerja sama gue malah kaya gini huh,"


"Mungkin karena gue nggak mood dari awal kali ya," Zea berspekulasi sendiri.


"Jadi bawaanya capek aja," tambahnya lagi.


Toktok


Ketukan pintu toilet.


"Ze gue balik duluan ya, udah nggak ada pesenan. Lo nggak mau bareng?" teriak seseorang dari luar. Dan Zea yakini itu adalah Anna. Salah satu resellernya.


"Duluan aja, gue masih mau buat pesenan." Zea berbohong padahal dia sudah close order dari jam enam tadi. Dia sampai malam berada di rukonya hanya untuk membuatkan beberapa pesanan dari para reseller.


"Oke, gue duluan. Bye Ze," Zea mendengar suara pintu ruko tertutup menandakan Anna sudah pergi dari tempatnya tadi.


Zea keluar dari toilet, kemudian berjalan menuju kulkas. Mengeluarkan beberapa buah dari dalam. Mengupasnya satu persatu dengan telaten lalu mencucinya di wastafel khusus tempat mencuci buah yang memang dia sediakan. Setelah merasa sudah bersih, Zea meniriskan buah itu, supaya tidak terlalu banyak kandungan air pada buah. Karena kadar air yang berlebih berpengaruh nantinya pada kekentalan saus salad.


Zea memotong dadu semua buah, lalu menaruhnya kedalam dua cup khusus salad buah miliknya. Zea mengisi penuh kedua cup itu. Setelah merasa cukup penuh, Zea langsung beralih pada saus salad yang memang sebelum ke toilet sudah ia buat. Tanpa menunggu lama, Zea langsung menuangkan saus salad kedalam cup berisi buah tadi, tanpa lupa meratakannya. Setelah merasa cukup rata, Zea langsung memarut keju diatasnya hingga rata, dan di akhir pekerjaannya dia meletakkan staruberi dan kiwi sebagai toping.


"Selesai," ucap Zea senang. "Waktunya pulang,"


Zea mengambil tas kecil miliknya yang sejak tadi tergeletak di atas meja dekat kulkas buah. Kemudian memasukkan dua cup salad tadi kedalam kantong plastik. Setelah itu dia beranjak keluar dari ruko itu.


Ruko itu tidak terlalu besar namun tidak juga kecil, hanya ada satu ruangan persegi dengan ukuran 9×12 saja di tambah satu toilet. Di dalam ruko itu hanya ada beberapa kursi dan satu meja, serta kulkas untuk menyimpan buah. Ya meskipun tempat ini kecil, Zea sangat bersyukur karena dari tempat ini Zea dapat memperoleh uang. Ruko ini awalnya hanya Zea sewa, namun lama-kelamaan Zea mampu membelinya. Tentunya dengan bantuan ayahnya, ketika ibunya masih hidup dulu. Awalnya ruko ini ingin dibuat oleh ibunya sebagai tempat alat musik, hal itu tentu dilakukan karena Zea memanglah suka dengan musik. Namun semua rencana Zea dan ibunya hancur, bersamaan dengan kepergian sang ibu. Maka dari itu Zea berinisiatif untuk memanfaatkan ruko kecil ini untuk usahanya. Hal ini juga menjadi alasan untuknya supaya tidak berlama-lama di rumah. Karena Zea sangat malas jika harus berinteraksi dengan dua manusia di rumahnya. Siapa lagi kalau bukan ibu tiri dan saudara tirinya.


Zea menutup rapat pintu ruko, tidak lupa menguncinya. Setelah itu Zea berjalan menuju parkiran motor. Namun Zea merasakan ponselnya bergetar.


Tukang tahu bulat


Zea memicingkan matanya melihat nama yang tertera di ponselnya. Sejak kapan dirinya memiliki nomor WhatsApp tukang tahu bulat?. Tanpa menunggu lama Zea langsung membuka room chat tersebut.


Senyum Zea terukir sekilas.


Tukang tahu bulat


nggak usah jemput gue


gue bareng temen, soalnya gue pulang agak lama


Zea paham benar siapa pemilik nama ini. Ternyata dirinya belum mengganti Nama Zeo di ponselnya. Sejak insiden Zeo membaca puisi mengenai tahu. Zea mengganti kontak Zeo dengan nama 'tukang tahu bulat'. Dan sampai saat ini Zea belum sempat menggantinya.


Ponsel Zea bergetar lagi. Masih dengan pengirim yang sama.


Lo udah pulang kan?


jangan kemaleman pulangnya! Ingat Lo besok sekolah


*jangan di forsir kali, entar Lo sakit


jam 9 gue sampe rumah


bye kakak gue tersayang assalamualaikum*


Zea hanya tersenyum singkat melihat spam chat dari Zeo. Bagaimanapun Zeo memanglah orang yang sangat over protective mengenai dirinya. Toh memang hanya Zeo dan Zialah yang dia miliki saat ini begitupun Zeo. Ya, ayah mereka memang masih ada. Namun hanya untuk bertanya kabar anak-anaknya saja mungkin dia tidak sempat. Entah apa yang ayah Zea kerjakan di luar kota. Bahkan Zea sendiri tidak tahu.


Ponsel Zea kembali bergetar. Ternyata Zeo masih juga mengirim pesan.


Woi kak Lo ngerti kagaknya


chat gue Lo read doang


gue nungguin juga, gue mau main ini


Zea langsung mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.


**iyaiya


✓✓


ini gue mau gerak pulang


✓✓


Lo juga jangan kemaleman pulangnya


✓✓


siap ibuk boss**


Zea kembali tersenyum.


***Lo pulang lama siap-siap nggak dapet pintu


✓✓


macam rumah udah balik Ze


✓✓


kan ada Lo, jadi aman terkendali


gue nggak mau berurusan sama dia


✓✓


masa demi adik sendiri


emang lo adik gue???


✓✓


JAHAT!!

__ADS_1


BODO!!


✓✓


KAKAK TERLAKNAT LO***!!


Zea hanya membaca pesan terakhir Zeo. Zea tahu ponselnya masih bergetar, pasti Zeo masih menspam dirinya. Biarkan saja, Zea malas menanggapinya. Zea langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya lalu mengambil kunci motor dari sana. Lalu memakai helm miliknya. Meskipun jarak rumahnya dan ruko tidak terlalu jauh keselamatan adalah yang utama.


Belum sempat Zea menyalakan mesin motornya. Tatapan seseorang membuat dirinya membeku.


Kenapa harus lagi??. Batin Zea.


"Baru pulang Ze?" tanya pria itu hati-hati. Sepertinya dia ragu untuk berbicara dengan Zea. Mungkin juga Gugun, terlihat jelas dari raut wajahnya yang mulai berkeringat.


"Iya," jawab Zea singkat.


"Banyak pesanan ya? Sampe malam begini baru pulang," tanyanya lagi.


Zea menatap pria itu jengah. Terlihat jelas bahwa Zea sedang tidak ingin diberi banyak pertanyaan. Dia bukanlah artis ataupun bintang publik yang lagi viral dalam segala aktivitasnya, sehingga harus ditanya-tanya.


"Bukan urusan lo," jawab Zea dingin.


Pria itu hanya menghela napas pelan.


Zea menyalakan motornya, kemudian mulai menjalankannya. Namun pria itu menghadang jalan Zea.


"Lo ngapain disitu? Lo mau gue nabrak lo? Gue nggak mau berurusan sama polisi gara-gara nabrak anak emas,"


Entah mengapa ucapan Zea membuat pria itu terdiam seperti patung. Tangannya perlahan turun dari pegangannya pada motor Zea, perlahan dia minggir .


"Gue cuma pengen ngobrol sama Lo Ze," ucapnya lirih.


"Gue nggak mau ngomong sama lo," tolak Zea mentah-mentah.


Pria itu mendengus kesal.


"Please Ze! Gue pengen jelasin semuanya," ucapnya lagi memohon. Zea membuang wajahnya ke arah lain. Dia tidak ingin lagi tertipu dengan wajah sedih pria di hadapannya.


"Nggak perlu Yo. Nggak ada lagi yang harus Lo jelasin. Dan kita? Anggap aja nggak pernah kenal,"


Zea langsung menancap gas. Tidak memedulikan teriakan pria tadi yang terus meneriakinya. Ya pria itu adalah Rio. yang memang memperhatikan Zea sejak tadi. Menunggu waktu yang tepat untuk menghampiri gadis pujaannya itu, tetapi tetap saja Zea tidak ingin mendengarkannya lagi. Atau bahkan bertemu dengannya juga malas.


Rio menatap nanar Punggur Zea yang semakin lama mengecil. Sekali lagi Lo nolak gue Ze.


* * *


Sampai di rumah Zea langsung memasukkan motornya ke bagasi rumah yang tidak terlalu besar. Membuka helmnya, lalu langsung masuk ke dalam rumah. Namun ketika masuk ke dalam rumah, pemandangan yang Zea lihat membuat hatinya terasa diremas.


"Dasar anak kurang ajar!! Bukannya tadi mama suruh kamu beresin meja makan, kenapa malah kamu duduk nangis disini? Hah!!" bentak ibu tiri Zea kepada adiknya.


Zea langsung meremas ganggang pintu yang karena memang dirinya belum masuk sepenuhnya kedalam rumah.


Zea melihat adik perempuannya yang menangis di samping sofa dengan wajah sembab dan memegang kedua lututnya.


"Tau tuh. Gue juga tadi suruh Lo bawain nastar ke kamar gue, kenapa belom Lo bawain hah?" Faira ikut-ikutan memarahi Zia.


"Maaf mah, kak. Tapi Zia lagi nggak enak badan makannya Zia nggak beresin meja makan. Zia juga lagi banyak pr makannya nggak nganter nastarnya ke kamar Kaka Faira," jelas Zia di tengah-tengah tangisnya.


"Dasar anak bandel, dibilangin malah jawab aja," Wirda melayangkan tangannya ke tubuh Zia.


Namun sebuah tangan menahannya.


Zea menatap tajam ke arah Wirda dan Faira.


"Oh jadi kamu pikir kakak kamu bisa ngelindungin kamu gitu? Kalian bisa aja mama usir dari sini sekarang juga," bentak Wirda lagi.


"Lo lagi, anak perempuan pulang sekolah malem-malem. Bikin gosib tetangga aja," cibir Faira.


Sebenarnya ingin rasanya Zea menampar mulut Fira yang udah kayak netizen itu. Berbicara seenak jidat tanpa tahu kebenarannya. Namun Zea hanya memilih diam, mencoba menenangkan adiknya yang masih menangis.


"Mama bakal aduin ke ayah kalian kalau kalian itu bandel. Kamu Zia suka ngelawan sama mama, dan kamu Zea suka keluyuran dan pulang sampe jam segini, kamu pikir bagus apa anak gadis pulang malam?. Betul kata Faira, apa kata tetangga nanti? Hah!! Kamu nggak mikir?" ucap Wirda menggebu-gebu, sepertinya Wirda mulai emosi. Terlihat matanya yang memerah. Entah apa yang membuatnya emosi, sampai-sampai Zea yang menjadi sasarannya. Bukankah Zea selalu pulang jam segini. Dan mereka juga tahu apa yang Zea kerjakan. Tetapi mengapa mereka mengatakan hal itu seakan Zea itu bekerja sebagai perempuan tidak benar. Padahal ini masih jam delapan malam. Zea mencurigai dua wanita di hadapannya itu. Pasti ada yang mereka rencanakan.


Zea melirik ke arah pintu. Ada seseorang disana, dia memberi kode dan Zea paham akan kode itu.


"Kenapa kamu diam, bener kan kata mama. Kalian itu memang anak nggak tahu di untung. Tidak punya aturan, percuma mama ngajari kalian untuk bersikap baik dan aturan pulang ke rumah setiap jam berapa. Semua ada batasan." sepertinya ucapan Wirda semakin tidak jelas.


Zea memutar bola matanya malas. Sejak kapan wanita itu memberikan pendidikan kepada Zea dan adik-adiknya?. Mengapa dia bersikap seakan memiliki jasa untuk perkembangan Zea dan adik-adiknya. Sangat memuakkan.


"Emang ajaran apa yang udah mama kasih?" sindir Zea langsung.


Zia memeluk erat kakaknya, sesekali melirik tatapan tajam Zea ke arah ibu tirinya itu. Tatapan pertama kali Zia lihat dari wajah kakaknya itu. Karena selama ini hanya wajah hangat dan ceria yang Zea berikan kepada Zia bukanlah wajah seperti saat ini.


"Ajaran nggak pulang selama seminggu?"


"Atau ajaran bawa pulang belanjaan yang sebenernya itu nggak penting-penting banget?"


"Apa ajaran bagaimana menyelundupkan uang yang seharusnya untuk anak malah di pakai untuk shoping?"


"Atau mungkin ajaran untuk menemui Om---" ucapan Zea terpotong karena Wirda menampar Zea.


Zea meringis pelan. Pipinya terasa sedikit perih.


Zea menatap tajam ke arah Wirda.


"Atau ajaran ini? Menampar anak karena emosi," skakmat.


Wirda sudah kehabisan kata-kata. Zea mengungkapkan semuanya. Semua yang memang dia lakukan. Tetapi tetap saja Wirda tidak terima dengan ucapan Zea. Wirda merasa Zea telah menghinanya.


"Zea Lo udah kelewatan batas. Jaga omongan Lo, dasar cewek nggak bener," bentak Faira.


Tatapan Zea beralih ke sumber suara.


"Gue cewek nggak bener? Apa kabar sama Lo yang sering nggak pulang ke rumah?"


Boom. Ucapan Faira malah menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri. Faira terdiam. Zea yakin Faira sedang menahan emosinya. Terlihat Faira menatap ibunya, seakan ingin mengadu dan meminta ibunya untuk memberikan pembelaan. Namun keduanya hanya diam, tidak berucap satu katapun.


"Walaupun gue pulang malam, gue masih tetap tidur di rumah. Tapi Lo? Lo tidur dimana kalau nggak pulang?" pertanyaan Zea lebih terdengar seperti sindiran halus namun menusuk sampai ke hulu hati.


"Jangan nuduh gue cewek nggak bener padahal Lo sendiri lebih parah. Sadar diri sebelum menilai orang lain. Emang bener ya baca diri orang lebih mudah daripada baca diri sendiri. Dan Lo salah satu contohnya," kali ini Zea mengeluarkan semua apa selama ini dia pendam. Kepahitan serta rasa ingin memberontak selalu ia tahan. Tapi kali ini tidak. Zea harus bersikap tegas.


"ZEA!!!" bentak Wirda emosi.


"Kenapa mah? Emang iya kan? Yang Zea bilang semuanya bener," Zea menatap sinis ibu tirinya. Lalu beralih menatap Faira yang wajahnya sudah memerah karena menahan emosi sejak tadi.


"Nggak usah emosi-emosi gitu. Gua nggak takut, malah geli." Ucap Zea ke arah Faira.


"Kamu keterlaluan Zea!!" pekik Wirda.

__ADS_1


Wirda mengambil sepotong kayu yang ada di atas sofa. Entah sejak kapan kayu itu ada. Mata Zea membulat. Bagaimanapun jika kayu itu menyentuh tubuhnya, sudah pasti akan meninggalkan luka dan rasa sakit yang akan lama hilangnya.


Zea menatap Wirda dan Fira bergantian. Mereka tersenyum menyeringai. Ketika Wirda melayangkan potongan kayu itu ke arah Zea. Sontak Zea menarik Zia ke pelukannya, melindungi adiknya itu. Apapun yang terjadi Zea tidak ingin adiknya terluka, biarlah dirinya yang menahan sakitnya terkena pukulan kayu itu. Mata Zea terpejam, seakan tidak ingin melihat apapun ketika dirinya terhantam kayu itu. Namun sebuah suara menghentikan pergerakan Wirda.


"Lo sentuh kakak atau adik gue. Siap-siap aja Lo pergi dari rumah ini,"


Suara itu? Suara berat itu? Zea kenal suara itu. Zea langsung mendongakkan kepalanya.


"Zeo," heran Zea. Lebih tepatnya pura-pura heran. Karena sebenarnya Zea sudah tahu kalau Zeo itu ada di luar sejak tadi. Ya, seseorang yang memberi kode kepada Zea tadi adalah Zeo.


Zeo memperlihatkan ponselnya ke arah Wirda dan Fira. Mata mereka membulat. Bahkan wajah kaget Faira terlihat jelas.


"Mah," lirih Faira. Faira menatap Wirda khawatir. Tentu saja mereka kaget dan cemas melihat video yang berjalan di layar ponsel Zeo.


"Bagaimana mungkin?" gumam Wirda. Namun masih terdengar oleh Zeo.


"Kenapa nggak mungkin? Semuanya bisa aja terjadi kan? Buktinya ini," ucap Zeo dengan senyum meremehkan.


"Jadi dari tadi Lo di depan ngerekan semuanya?" bentak Fira kesal.


"Nggak perlu gue jawab kayanya Lo udah tau jawabannya,"


Vidio berakhir, Zeo menutup ponselnya. Namun sedetik kemudian Zeo kembali menunjukkan sebuah vidio lagi. Tetapi vidio kali ini bukan hanya Wirda dan Faira yang terkejut tetapi Zea juga. Bahkan Zea menatap penuh tanya ke arah Zeo. Namun Zeo hanya menjawab dengan senyuman seakan memberi jawaban 'gue bakal jelasin nanti'. Zea sedikit kesal, namun bukan waktunya untuk Zea menunjukkan hal itu. Zea menyimak terus isi dari Vidio itu.


Vidio itu menunjukkan Wirda yang tengah berada di suatu tempat. Tetapi bukan club, lebih terlihat seperti hotel. Wirda mabuk sampai mengoceh tidak jelas. Bahkan Wirda berbicara sampai ke hal-hal yang mungkin dirahasiakan olehnya, dan akhirnya terbongkar semuanya.


"Lo kenapa sih mau nikah sama suami Lo itu, yang udah tua. Bukannya pacar lo banyak yang lebih muda dan pastinya lebih tajir dari dari dia," ucap seorang wanita sepertinya sebaya dengan Wirda. Namun wanita itu tidak mabuk.


"Hahahah," Wirda tertawa.


"Gue cuma mau balas dendam aja,"


"Fahmi itu cinta pertama gue. Tapi dia malah memilih Aisyah menjadi istrinya. Dan sekarang istrinya udah mati. Gue cuma mau menikmati uang dia aja, dan sekalian balas sakit hati gue melalui anak-anaknya," ucap Wirda dengan keadaan sempoyongan.


"Gila Lo. Gimana kalau Fahmi tahu Lo nyiksa anak-anaknya," tanya wanita itu lagi.


Wirda tersenyum meremehkan.


"Dia nggak akan tahu. Dia sibuk kerja di luar kota, dan anak-anaknya juga mulai benci sama dia. Sudah pasti mereka jarang komunikasi." ucap Wirda enteng.


Zeo mematikan Vidio itu dengan cepat. Zea tahu Vidio itu belum selesai. Namun Zeo mematikan sebelum Vidio berakhir.


"Hapus vidio itu sekarang atau---"


"Atau apa??" sahut Zeo cepat.


"Lo mau ngancam gue? Nggak mempan. Kartu As Lo ada sama gue."


Bahkan Zeo berbicara dengan Wirda sudah tidak lagi seperti bicaranya anak dan ibu. Tetapi bukankah memang Wirda tidak pernah menunjukkan sikap seorang ibu kepada Zeo, meskipun Wirda hanyalah ibu tirinya.


"Kalau lo berani sentuh Zia ataupun merintah dia, Lo akan siap-siap vidio ini gue kirim ke ayah."


"Meski ayah nggak peduli sama kita, gue yakin dia tahu siapa yang benar dan siapa yang salah setelah ngelihat semuanya,"


"selama ini gue diem kalau Lo jadiin kakak atau adik gue kaya pembantu. Lo suruh ini dan itu. Gue nggak masalah, dan mungkin kak Zea dan Zia juga. Tapi yang kalian lakuin tadi itu kelewatan batas, dan gue paling nggak suka saudara gue di sakiti."


Tatapan Zeo seakan menusuk. Wirda dan Faira tidak berani mengucap satu katapun lagi. Bahkan menoleh ke Zeo saja mereka takut.


"Kalau selama ini kalian selalu ngadu ke ayah hal yang bertolak belakang sama apa yang terjadi. Gue juga diem, dan ternyata hal itu terus-menerus kalian lakukan. Bahkan kalian sengaja kan pancing emosi kak Ze supaya marah, dan kalian bisa ngadu ke ayah kalau Kak Ze itu anak pembangkang. Padahal yang sebenernya terjadi nggak sama sekali,"


Faira menatap datar Zeo. Bagaimana mungkin Zeo tahu rencana mereka?. Zeo beralih menatap Faira.


"Kalian kira gue bodoh apa? Gue tahu semuanya. Rencana kalian, akal busuk kalian dan tujuan kalian datang ke rumah ini. Jadi menurut kalian kenapa kak Zea diam aja waktu mama Lo tampar. Hahah, kakak gue nggak selemah itu sampe harus diem aja saat orang lain nyiksa dia."


"Jadi maksud kalian?" gumam Faira.


"Gue nggak perlu jelasin, pasti Lo paham," sahut Zeo cepat.


Zea hanya tersenyum tipis.


"Kalian ngejebak gue dan mama?" ucap Fira mulai emosi kembali.


"Bukan ngejebak lebih tepatnya menangkap basah," ucap Zea dingin. Tatapannya tidak kalah dinginnya.


"Gue nggak terima," Fira mulai emosi.


Namun Wirda menahan anaknya itu. Dia tahu bahwa Zeo memegang rahasianya. Wirda menatap Zeo.


"Lalu apa mau kalian?" tanya Wirda dingin.


Zeo tersenyum menyeringai.


"Kalau ditanya apa mau gue sih, gue maunya kalian pergi dari sini. Tapi, gue masih mikirin malesnya jawab pertanyaan ayah kenapa istrinya tercinta nggak ada di rumah. Jadi gue urungkan niat itu."


"Nggak usah basa-basi. Bilang aja apa mau kamu Zeo?" bentak Wirda menahan emosinya.


"Santai aja kali. Gue nggak budeq jadi nggak usah teriak-teriak." Zeo mengorek-ngorek kupingnya.


"Gue cuma minta jangan usik adik dan kakak gue. Kalau kalian ngelanggar, gue nggak jamin kalian akan tinggal di sini dalam waktu satu hari sekalipun,"


"Deal," ucap Wirda tanpa berpikir panjang. Kemudian dia berjalan hendak meninggalkan Zeo


"Eh satu lagi,"


Wirda menatap Zeo jengah.


"Kakak gue bukan pembantu di sini. Jadi kalian nggak harus suruh-suruh dia untuk nyiapkan kalian makan atau apapun itu. Kalau kalian mau sesuatu, siapkan sendiri dan ambil sendiri. Pergunakan apa yang udah di kasih Tuhan dengan sebaik mungkin. Sebelum di ambil secara paksa," ucapan Zeo pelan namun tegas. Seakan tidak ingin ada penolakan dari setiap kata yang keluar dari mulutnya tadi.


Wirda terdiam sesaat. Sampai akhirnya.


"Oke," ucapnya menyetujui. Lalu Wirda pergi menuju kamarnya, tidak lupa menarik tangan putrinya untuk ikut.


"Ze," panggil Zea.


"Tenang aja kak. Lo nggak perlu tahu gue dapet vidionya dari mana. Yang jelas gue nggak akan biarin kalian di siksa di sini," ucap Zeo tulus.


Zea langsung menubruk tubuh Zeo. Memeluk erat tubuh adiknya itu. Zeo hampir jatuh karena tidak siap.


Air mata Zea mengalir deras. Zeo tahu itu. Dia merasakan bajunya mulai basah.


"Kak baju gue kena ingus Lo tahu,"


Zea memukul pelan pundak Zeo, lalu kembali memeluk erat adiknya itu. Zeo membalas pelukan Kakaknya itu. Karena saat ini kakaknya sanagt memerlukan bahu untuk sandaran. Dan Zeo tidak akan keberatan untuk memberikannya. Apapun gue lakukan asal Lo dan Zia bahagia kak.


Zeo menarik lembut Zia untuk ikut dalam pelukan itu. Tangis Zia kembali tumpah, melihat kakaknya menangis. karena untuk pertama kalinya semenjak ibu mereka meninggal Zea mengeluarkan air matanya lagi.


Gue janji kak, gue nggak akan membiarkan air mata Lo dan Zia jatuh lagi. Ini untuk terakhir kalinya. Lo udah terlalu sering nangis, walaupun itu diam-diam. Gue tahu kak. Ucap Zeo dalam hati.

__ADS_1


Terimakasih sudah baca cerita saya:-)


Maaf kalau masih banyak typo yang bertebaran:-D


__ADS_2