Zeazlan

Zeazlan
Selingkuh


__ADS_3

Maaf Zea, Aku selalu menyayangimu


-Azlan Malik-


Zea terdiam di tempatnya. Ingin menjerit karena kaget, ketika melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya.


Seorang pria dengan senyuman manisnya berdiri dengan santainya di halaman rumahnya, ralat halaman rumah Antoni lebih tepatnya.


"Bang Roby!!" pekik Zea sangking kagetnya.


Terkejut bercampur bahagia karena bertemu dengan Roby, itulah yang Zea rasakan saat ini.


Hatinya yang tadinya kesal setengah mati dengan Azlan kini entah mengapa perasaan itu meluap.


Zea langsung berlari menghampiri Roby lalu memeluknya. Roby pun menerima pelukan Zea tanpa penolakan sama sekali.


Azlan yang melihat itu sontak mengepalkan tangannya. Bagaimana mungkin, Zea berpelukan dengan pria lain di hadapannya langsung. Pria mana yang tidak akan emosi ketika berada di posisi Azlan.


Azlan mulai mengontrol emosinya. Dia tidak ingin Zea melihatnya dalam keadaan tidak kendali nantinya. Hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Apalagi Zea sempat kesal dengannya semenjak pulang sekolah tadi.


"Hei, Bang apa kabar? Kapan Lo sampe?" serbu Zea langsung pada Roby.


"Gue baik. Gue sampe Jakarta kemarin, dan baru sempat kesini hari ini, soalnya ada urusan juga,"


"Dih makin sibuk aja," cibir Zea. Roby hanya meresponnya dengan kekehan saja, dan secara refleks Zea ikut melakukannya.


Azlan yang melihat hal itu semakin tersulut emosi. Untuk pertama kalinya ia melihat Zea tertawa puas seperti itu dengan seseorang. Apalagi dengan seorang pria, dan lebih parahnya pria itu bukan dirinya.


Tiba-tiba saja Azlan merasakan ada yang menepuk pundaknya. Sontak Azlan langsung menoleh ke belakang. Azlan mendapati Zeo yang tengah tersenyum singkat kepadanya.


"Lo, Ze." Ucap Azlan.


Zeo kembali tersenyum singkat.


"Nggak usah cemburu bang, dia itu bang Roby. Sahabat sekaligus Abang bagi kak Zea," ucap Zeo kemudian ia berlalu melewati Azlan menuju Zea dan Roby.


Dengan sedikit ragu Azlan juga ikut melangkahkan kakinya mendekati mereka.


Roby yang melihat Zeo langsung tersenyum ke arahnya.


"Hei jagoan apa kabar?"


"Gue baik bang. Lo gimana? Udah jadi kapten belom?" Zeo bertanya dengan nada bercanda.


Roby memanglah seorang Tentara angkatan laut Indonesia. Wajar jika dia datang di saat Zea tidak tahu. Mungkin saja pemuda itu mengambil cuti atau ini memanglah masa liburnya. Zea memang sudah cukup lama tidak bertemu dengan Roby.


Selain sahabat, Roby juga sudah Zea anggap seperti abangnya sendiri. Roby adalah salah satu orang yang pernah menyatakan cintanya kepada Zea, namun Zea menolaknya dengan alasan tidak ingin ada akhir dari persahabatan mereka. Untungnya Roby mengerti hal itu, dan penolakan Zea tidak membuat pria itu menjauhi Zea malahan hubungan Roby dan Zea semakin erat. Dengan Roby yang menganggap Zea seperti adiknya dan begitupun sebaliknya.


"Hehehe doain aja," sahut Roby dengan wajah bahagianya.


"Eh tapi menurut gue pasti ada alasan khusus yang buat Lo pulang deh bang, nggak mungkin juga kan Lo pulang tanpa alasan." Zea beranggapan.


Roby tersenyum singkat. Seakan mengiyakan ucapan Zea barusan. Pria itu mengacak pelan rambut Zea pelan, Zea membiarkannya.


Sedangkan Azlan sudah hampir mati menahan emosinya karena melihat hal itu.


Sial!!! Kalau nggak di depan Zea udah habis nih cowok.


Zeo yang menyadari raut wajah kesal Azlan hanya mampu menahan senyumnya. Zeo sengaja menyenggol lengan Zea untuk memperingati kakaknya itu. Namun Zea hanya membalasnya dengan decakan pelan saja.


Azlan berdiri di belakang Roby membuat pria itu tidak menyadari kehadiran Azlan.


"Tahu aja ya Ze. Ini, gue mau ngasih ini." Roby mengulurkan sebuah surat undangan, dimana terlihat jelas pose dirinya dengan seorang wanita.


"Lo mau nikah bang?" pekik Zeo heboh.


Roby mengangguk seraya tersenyum sebagai jawabannya.


"Roby love Mita." Zea membaca nama yang tertera di undangan itu.


"Mita?" Zea menatap Roby.


Sedangkan Azlan sejauh ini masih menyimak percakapan mereka.


"Iya, Mita. Masa Lo nggak kenal Ze,"


"Jangan bilang kak Mita anak kepala sekolah SMP kita dulu, gila kok bisa ya dia mau sama Lo bang," sontak Roby langsung menepuk jidat Zea.


"Siapa yang Lo bilang gila, hem." Tegur Roby. Sedangkan Zea hanya mengelus lehernya diikuti cengiran tanpa dosa miliknya.


"Nggak gitu bang, heran plus shok gue tahu."


"Habisnya Lo nggak mau gue ajak nikah, yaudah deh gue nikah sama Mita aja."


Sontak Azlan membulatkan matanya mendengar penuturan Roby barusan.


Pembahasan apaan ini??? Shitt!!!


Sedangkan Zea hanya menanggapi ucapan Roby dengan memutar bola matanya malas. Bukan hal asing Roby mengatakan kalimat itu, jadi Zea tidak heran ataupun kaget lagi.


Bagi Zea Roby itu adalah abang sekaligus sahabatnya. Dan Zea tidak ingin status itu berubah. Zea menyayangi Roby layaknya seorang adik ke abangnya. Tidak ada perasaan lebih dari itu.


"Ekhhhemmm," deheman Azlan yang cukup kuat membuat Zea dan Roby menoleh secara bersamaan.


Sedangkan Zeo sudah ingin tertawa lepas melihat ekspresi kesal Azlan sejak tadi.


Zea menatap Azlan dengan tatapan datar, sedangkan Roby mengerutkan dahinya. Bertanya-tanya dalam pikirannya siapakah pemuda yang tidak tahu kapan ada di belakangnya ini?.


Roby melirik Zea, seakan menanyakan apa yang ada di pikirannya.


"Kenalin bang, dia Azlan." Seakan mengerti tatapan Roby, Zea langsung memperkenalkannya.


"Oh Azlan ya. Kenalin Gue Roby, abangnya Zea." Roby memperkenalkan diri dengan tangan terulur ke arah Azlan.


Azlan tersenyum singkat. Kemudian membalas ucapan Roby.


"Gue Azlan, pacar Zea." Ucap Azlan langsung.


Dan tentunya Azlan mengatakan kalimat pacar Zea dengan penuh penekanan.


Roby sempat terkejut sebentar, namun sekian detik ia langsung menetralkannya.


"Pacar Lo Ze, kenapa nggak bilang dari tadi." Roby beralih pada Zea.


Sedangkan Zea hanya memberikan tatapan datarnya kepada Azlan dan Roby.


Zeo yang melihat itu berjalan pelan-pelan meninggalkan ketika manusia yang tengah dilanda kebisuan itu. Tidak ingin ikut campur, dan juga cari aman saja. Zeo memilih masuk ke dalam taman. Berpura-pura melihat tanaman di sana.


"Udah di bilang barusan kan, jadi sama aja bang." Zea berucap.


"Iya juga sih,"


"Kak Ze," tiba-tiba saja Zeo memanggil Zea.


"Apaan?" sahut Zea malas.


"Lihat nih mawar Lo," mendengar tanaman kesayangannya di sebut Zea langsung berlari mendekati Zeo.


Meninggalkan Azlan dan Roby berdua. Mereka menatap Zea yang berjalan menuju taman. Terjadi keheningan di antara dua manusia itu. Namun keduanya tetap memilih berdiri di tempat dibandingkan mengikuti Zea ke taman. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini.


"Ekhhmm, Lo udah lama pacaran sama Zea?" pertanyaan itu keluar dari mulut Roby. Pandangan pemuda itu tetap fokus pada objek awal. Yaitu Zea.


"Belum lama. Belum sebulan juga," sahut Azlan tanpa menoleh.


Terdengar kekehan ringan dari mulut Roby.


Roby mengalihkan pandangannya kali ini, ia beralih menatap Azlan. Menyadari hal itu, Azlan melakukan hal yang sama.


"Zea itu sulit untuk di luluhin, gue aja nyerah untuk naklukin hati dia. Dan Lo? Lo berhasil dapetin dia, Lo beruntung Lan. Dan gue harap Lo akan selalu jaga keberuntungan itu."


Azlan tersenyum hangat kepada Roby. Azlan dapat melihat tatapan ketulusan dari setiap kata-kata Roby barusan.


"Gue tahu itu, gue akan jaga. Lo tenang aja." Roby membalas senyuman Azlan kemudian kembali menatap Zea.


Gadis itu sekarang mulai memegangi bunga mawar miliknya yang sepertinya sedikit rusak.


"Lihat itu, Zea begitu menyukai mawar sama seperti Almarhumah bundanya."


Azlan jadi teringat dengan surat yang kemarin ia dan Zea baca. Tentang ayahnya yang menuliskan bahwa ibu Zea masih hidup. Azlan jadi penasaran apakan semua itu benar. Ia harus mencari tahu.


"Sepertinya Lo banyak tau tentang Zea, bang." Azlan beranggapan.


"Iya, bahkan lebih dari diri Zea sendiri." Jawab Roby cepat.


Azlan terdiam. Tidak menjawab jawaban Roby barusan.


"Tapi gue harap Lo bisa seperti gue juga," Azlan menoleh ke arah Roby.


"Mengerti Zea, menyayangi dia bahkan selalu ada untuk gadis itu setiap saat."


"Zea pernah terpuruk dua bulan setelah gue pergi. Saat itu gue masih dalam masa pendidikan, Gue dapat kabar seminggu setelah kecelakaan yang menimpa bunda Aisyah. Gue sempat bingung masa itu, satu sisi gue masih dalam keadaan pendidikan dan nggak memungkinkan untuk pulang tapi di sisi lain gue mikirin Zea yang pasti begitu terpuruk dan sedih. Apalagi gue tahu banget Zea begitu dekat dengan Almarhumah bundanya. Maka dua hari setelah itu gue paksain untuk izin pulang, tapi cuma dapet izin sehari. Dan hari itu gue manfaatin buat ketemu Zea," Roby menjeda sebentar ucapannya. Pemuda itu tampak mengatur napasnya.


Azlan hanya mendengarkan ucapan Roby dengan cukup serius.


"Ternyata gue salah. Semuanya di luar pemikiran gue, awalnya gue ngira Zea akan nangis-nangis di kamar dan murung terus-terusan, ternyata dia tidak melakukan itu. Dia terlihat biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Gue awalnya seneng, tapi setelah denger penjelasan Zeo, tentang sikap ceria Zea berubah menjadi dingin dan Zea mulai jarang senyum kepada orang lain."


"Meski bukan sama gue ataupun Zeo, tapi gue tetap sedih karena pada masa itu gue kehilangan sosok Zea."


"Tapi ada hal yang buat gue seneng kali ini. Zea terlihat lebih baik, dari terakhir kali gue nemuin dia. Sepertinya dia lebih bahagia, mungkin semua itu karena Lo, Lan." Azlan tersenyum kembali.


"Gue juga berharap Zea selalu bahagia, bang."


"Dan Lo harus terus lakuin itu," Azlan mengangguk mantap.


"Kalau gue boleh tahu, kenapa Lo suka sama Zea?" tanya Roby.


"Cantik bukan alasan utama, kan?" goda Roby. Azlan terkekeh ringan.


"Zea itu beda bang, beda dari cewek-cewek yang sebelumnya pernah jadi pacar gue. Biasanya nih ya, kalau gue nyapa cewek dikit aja mereka langsung mimisan karena terpesona sama kegantengan gue," kali ini Roby yang dibuat tertawa dengan ucapan Azlan barusan.


Memang sih kalau Roby lihat-lihat Azlan ini memanglah pemuda yang begitu tampan. Bahkan Roby sendiri tidak dapat melihat cela sedikitpun dari wajah pemuda yang lebih muda darinya ini.


"Terus,"


"Kalau Zea mah beda, gue pertama ketemu dia aja langsung di bilang gila." Roby kembali terkekeh.


"Gila?"


"Iya, bang. Gue muji dia cantik, masa dibilang gila. Aneh kan?."


"Awal yang cukup aneh menurut gue," Roby beranggapan.


"Dan pertemuan kedua gue sama dia, gue di bilang mesum." Azlan melanjutkan kembali ceritanya. Anggap saja Azlan curhat.


"Mesum?"


"Gue beliin dia minum waktu itu, karena gue tau dia haus banget setelah selesai joging. Gue sengaja beli dua supaya dia nggak minum bekas gue, eeh dianya malah ngelihatin doang botol minum yang gue kasih. Mungkin dia takut gue racuni kali ya, jadi karena gue nggak mau dia berpikir yang nggak-nggak, gue minum deh tuh air mineral. Habis itu gue kasih Zea. Lo tau nggak bang setelah itu dia bilang apa?"


"Apaan?" tanya Roby langsung karena penasaran.


"Lo udah minum dari botol ini tadi. Dan bibir Lo itu nyentuh botol, kalau gue minum juga dari botol yang sama, otomatis kita itu ciuman secara nggak langsung."


Bahkan Azlan masih ingat dengan jelas kalimat yang diucapkan Zea waktu itu.


Roby yang mendengar itu langsung tertawa hingga terbahak-bahak.


Roby menepuk-nepuk bahu Azlan pelan.


"Dimana lucunya, bang?" sindir Azlan sedikit kesal.


"Ternyata adek gue masih sepolos dulu ya," Roby berusaha menghentikan tawanya.


"Lo tau nggak Lan?"


"Nggak, bang."


"Gue belum ngomong,"


"Lanjut bang, lanjut," Azlan nyengir kuda.


"Waktu gue SMP dulu dan Zea masih SD, gue pernah mau pegang tangan dia karena waktu itu posisi kita emang mau nyebrang, Lo tau nggak Lan Zea bilang apa?" Roby menirukan nada bicara Azlan tadi.


"Apa?"


"Jangan pegang tangan Zea, nanti hamil."


Dan kali ini Azlan langsung tertawa mendengar itu. Bahkan Roby juga tertawa mengingat kejadian masa lalu yang membuatnya selalu tertawa sendiri sebelumnya.


"Tapi Lan, itulah Zea. Dia berbeda, dia yang selalu menunjukan dirinya yang apa adanya tanpa pernah menutupi apapun." Roby menghentikan tawanya dan mulai menatap serius Azlan.


"Lo bener, bang."


"Bahkan gue jatuh cinta begitu dalam sama Zea, karena dirinya yang apa adanya."


"Zea pernah bilang ke gue, dia sengaja lakuin itu karena ingin tahu siapa yang akan menerima dirinya tanpa melihat kelebihannya. Karena banyak yang datang ketika kita memikiki kelebihan, namun pergi ketika mengetahui kekurangan."


"Itu berarti sekarang Zea udah tahu siapa yang menerima dia apa adanya," potong Roby langsung.


"Gue selalu Nerima Zea apa adanya Bang. Bagaimanapun dirinya."


"Mencintai Zea itu pilihan, dan di cintai dia nantinya gue anggap bonus." Roby menoleh kembali menatap Azlan.


"Apa Zea masih menggantung cinta Lo?" pertanyaan Roby barusan membuat Azlan tersenyum kecut.


"Jangan sedih gitu. Dengan Zea Nerima Lo jadi pacarnya, itu berarti Zea mulai membuka hatinya. Gue yakin Zea udah mulai suka sama Lo. Tapi dia belum menyadari itu."


Roby berusaha menyemangati Azlan yang tiba-tiba saja terlihat muram. Roby jadi menyesal menanyakan hal yang begitu sensitif itu


"Gue harap begitu bang,"


"Kenapa nggak Lo coba uji aja,"


Azlan memicingkan matanya, dahinya berkerut bingung.


"Maksudnya?"


Roby merangkul Azlan.


"Terkadang sesuatu yang terus di kejar akan semakin menjauh. Cobalah sedikit memelankan langkah, biarkan yang dikejar itu menghampiri. Namun jangan sampai menghentikan langkahmu."


Azlan terdiam mendengar ucapan Roby. Berusaha mencerna kata demi kata yang barusan ia dengar. Sampai sebuah panggilan membuat lamunannya buyar.


"Azlan," teriakan Zea membuat Azlan langsung menoleh kepadanya.


Azlan berjalan mendekati gadisnya itu. Tampak wajah Zea yang sedang kesal.


"Ada apa sayang," tanya Azlan lembut.


Tampak pipi Zea sedikit merona karena panggilan Azlan barusan.


"Sayang-sayang telinga gue udah tuli nih dengerin pacar Lo bang ngomel Mulu," cerocos Zeo langsung.


Zea yang mendengar itu langsung menatap Zeo tajam.


"Ada apa Zea?" tanya Azlan lagi.


"Bunga mawar gue rusak, gimana dong?" adu Zea kepada Azlan.


"Yaudah nanti Gue beliin lagi," sahut Azlan cepat.


"Serius?" mata Zea berbinar.


"Iya, satu kebonnya gue beliin buat Lo."


"Bunga aja cepet!!" cibir Zeo.


"Dih sirik aja Lo," balas Zea.


"Udah-udah jangan ribut Mulu ngapa sih, kakak adek juga."


Zea menatap Azlan tajam. Baru saja tatapan lembut ia dapat, kali ini sudah mendapatkan lagi tatapan membunuh dari Zea.


Salah lagi gue kayanya.


"Kayak Lo nggak aja, udah ah mendingan lo pulang terus beliin gue mawar sekarang." Suruh Zea seenaknya.


Bukannya marah Azlan malah tersenyum.


"Oke," sahutnya cepat.


"Gue balik ya, entar kalau udah sampe rumah gue kabarin."


"Nggak perlu, Lo cukup kabarin kalau bunga mawarnya udah di beli aja," sahut Zea langsung. Membuat Azlan mencebikkan mulutnya.


"Tega bener, lebih sayang bunga dari pada pacar sendiri kalau gini mah namanya,"


"Emang," jawab Zea langsung.


"Yaudah pacaran aja Sono sama bunga,"


"Dih ogah!!" Zea langsung menolak.


Azlan memberikan wajah mengejeknya kemudian berlalu meninggalkan Zea.


"Dasar aneh!!!"


"Ckckck, pacar sendiri dibilang aneh. Itu artinya Lo pacaran sama orang aneh, kak." Zeo menyahut.


"Diem Lo!!" Zeo langsung bungkam.


Sedangkan Azlan langsung berjalan keluar dari pekarangan rumah, berjalan menuju mobilnya. Tentunya sebelum itu ia berpamitan dengan Roby.


Roby yang melihat wajah kesal Zea langsung mendekatinya.


"Zea, boleh ngobrol sebentar." Ucap Roby.


Zeo yang menyadari situasi memintanya untuk pergi langsung mengerti.


"Kalau gitu gue masuk duluan ya, Bang rob kalau haus masuk aja ke dalam, air kolam berenang penuh kok."


"Zeo," tegur Zea.


"Iya-iya canda bang canda."


Sedangkan Roby hanya geleng-geleng kepala saja menanggapi ucapan Zeo tadi.


"Mau ngobrol di sini atau di dalem aja, bang?" tanya Zea.


"Di sini aja Ze, Abang nggak lama kok. Soalnya ada urusan lagi."


"Oh gitu ya,"


Roby mengajak Zea duduk di kursi kayu yang ada di taman itu.


"Kamu beneran pacaran sama Azlan?" pertanyaan Roby membuat Zea langsung menatapnya.


Zea mengangkat bahunya acuh.


"Ya, seperti yang Abang dengar tadi."


"Kayaknya Azlan beneran bucin deh sama Lo Ze, sampe-sampe mau beliin bunga satu kebon."


Zea tersenyum kecil.


"Dia mah sultan, apapun bisa dia beli." Sahut Zea lagi.


"Lo sadar nggak sih Ze,"


"Sadar?"


"Iya, Lo sadar nggak sih kalau Lo lagi gantungin hati seseorang."


Zea tersenyum kecut. Dia tahu benar kemana arah pembicaraan Roby.


"Gue tahu bang, tapi gue belum siap untuk memulai jatuh cinta lagi." Jelas Zea.


"Terus kenapa Lo terima Azlan?"


"Karena itu adalah cara untuk gue terhindar dari Rio, dia terus ganggu gue."


"Rio?"


"Iya bang, dia ngejar-ngejar gue dan minta gue balik sama dia lagi. Gue selalu nolak, tapi tuh cowok nggak nyerah-nyerah sampai akhirnya gue kehabisan ide, gue bilang aja Azlan pacar gue. Dan dari hari itu gue sama Azlan pacaran."


Roby terkekeh.


"Jalan jadian yang aneh,"


"Yah, bahkan cukup aneh." Zea mengiyakannya.


"Tapi bukan berarti Lo bisa gantungin Azlan terus-terusan Ze,"


"Gue nggak gantungin dia bang, status kita pacaran." Zea membela dirinya.


"Sama aja Ze, status doang pacaran tapi Lo belum buka hati Lo untuk Azlan."


"Itu sama aja Lo egois Ze. Memberikan status tapi nggak memberikan hati Lo untuk orang itu. Padahal tanpa Lo sadari orang itu memberikan segalanya untuk Lo. Bahkan mungkin nyawanya,"


"Gue cowok Ze, Azlan juga cowo gue tahu perasaan Azlan gimana. Dia berusaha memperhatikan Lo, dan itu buat gue salut. Gue tahu semuanya Ze, Zeo cerita semuanya ke gue."


Sontak dahi Zea langsung bergelombang.


"Semuanya?"


"Iya, semuanya."


"Tentang ibu tiri kalian, tentang Rio yang sempat di hajar sama Zeo bahkan tentang Lo dan Azlan."


"Serius bang, Lo tahu semuanya?" Roby mengangguk sebagai jawabannya.


"Gue emang nggak di dekat Lo Ze, tapi gue selalu berusaha ngawasi Lo dan Zeo sebisa gue." Zea langsung memeluk Roby.


"Lo jangan terus buat Azlan merasa dalam kebimbangan Ze. Meskipun dia selalu baik di depan Lo dan bersikap seakan semuanya baik-baik aja, kita nggak tahu apa yang dia rasain."


"Yang namanya hati akan ada titik lelahnya. Berjuang sendirian itu capek Ze. Gue nggak mau Lo nyesel nantinya," Roby melepaskan pelukan Zea.


"Azlan udah berani untuk menggenggam Lo, apa salahnya Lo balas genggaman itu, kan?"


Zea menundukkan pandangannya. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia tidak ingin menyatakan cinta pada Azlan, bahkan merasa tidak pernah menyukai apalagi mencintai pemuda itu. Namun di sisi lain Zea merasa nyaman dan butuh sosok Azlan.


"Sekarang Abang tanya, kamu cinta nggak sama Azlan?" Zea menatap Roby cukup lama.


Dia bingung harus menjawab apa. Otaknya berkata tidak namun hatinya masih bimbang. Begitu banyak keraguan yang ada di benaknya.


"Jawab Ze!!" Roby kembali bersuara.


"Entahlah bang, Zea nggak tahu."


Roby tersenyum singkat.


"Itu berarti kemu udah jatuh cinta sama Azlan." Ucap Roby menyimpulkan.


"Nggak!!" tangkis Zea langsung.


Roby mencoel hidung Zea sedikit.


"Zea yang Abang kenal itu teguh pendirian. Setiap ditanya dia pasti akan menjawab tanpa ragu, dan tadi pas Abang tanya, jawabanya entah, nggak tau. Itu artinya masih ada ragu di hati Lo Ze."


"Dan rasa ragu itu yang artinya menyimpan cinta di sana,"


"Nggak bang nggak, Abang apaan sih nyimpulkan sesuatu seenaknya."


"Dih nggak percaya,"


"Emang nggak,"


"Yaudah lihat aja nanti, ucapan Abang bener atau nggak.


"Oke siapa takut," ucap Zea dengan tegasnya.


Dasar kepala batu. Perasaan sendiri masih aja di bohongin. Batin Roby.


* * *


Zea menuruni anak tangga dengan santai menuju meja makan. Matanya menyisir ke sekitar rumah mencari apakah ada seseorang. Namun tidak ada.


"Zia, Rara kalian dimana?" teriak Zea.


Zea langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata kedua adiknya tengah mengerjakan tugas mereka di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Kalian udah makan." tanya Zea.


"Udah kak," sahut mereka bersamaan.


Zea hanya mengangguk.


"Oh iya, Tante Fida kemana?" tanya Zea lagi.


"Mama ke rumah sakit kak, katanya ada jadwal operasi." Jawab Rara. "Kalau papa belum pulang dari kantor." Belum sempat Zea bertanya Rara sudah menjawabnya lebih dulu.


Setelah mendapatkan jawaban dari Rara tadi Zea langsung meninggalkan dua adiknya yang fokus belajar itu. Perutnya sudah begitu lapar kali ini.


Zea berjalan menuju meja makan. Namun langkah Zea terhenti ketika melihat sesuatu.


Sesosok wanita itu lagi. Sosok yang pernah ia lihat. Namun kali ini lebih jelas. Karena keadaan masih sore.


Kali ini Zea tidak membiarkannya lolos, Zea langsung mendekat menghampiri wanita itu. Sampai ketika wanita itu menoleh kepadanya. Zea langsung mematung dan matanya langsung membulat.


Tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Bunda," lirih Zea.


Zea hendak berlari menyusul wanita itu yang tidak lain adalah ibunya. Namun sebuah tangan mencekalnya.


"Eh kak Lo mau kemana?" tanya Zeo heran.


"Ze itu Ze, bunda Ze gue lihat bunda ada di situ tadi." Zeo langsung melihat ke arah yang Zea tunjuk. Lebih tepatnya ke arah kolam berenang. Namun sayangnya tidak ada siapapun disana.


Zeo menatap sendu Zea.


"Kak nggak ada siapa-siapa di sana," ucap Zeo.


Zea langsung menoleh ke tempat yang ia lihat tadi. Zea yakin dirinya tidak salah lihat tadi. Dan Zea tidak sedang bermimpi.


"Kak, gue tahu Lo masih sedih, tapi tolong kak jangan buat gue makin sedih ngelihat Lo gini." Nada bicara Zeo semakin merendah. Bahkan tatapan matanya mulai menunduk.


Zea menoleh ke arah Zeo, menarik wajah adiknya itu supaya menatapnya.


"Gue serius sama apa yang gue bilang Ze, gue tadi lihat bunda dan itu nyata bukan halunsinasi gue." Nada suara Zea mulai meninggi. Bahkan tatapan matanya menajam.


"Tapi kak, bunda itu udah nggak ada. Bunda udah meninggal!!" Zeo juga mulai meninggikan suaranya.


"Bunda masih hidup Ze, bunda masih ada!!" desis Zea.


Zeo menggeleng lemah. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Zea.


"Kak sadar kak, Lo harus ikhlas." Zeo mengguncang sedikit tubuh Zea. Dan hal itu langsung Zea tepis dengan kasarnya.


"Gue akan ikhlas Ze kalau itu emang beneran. Tapi faktanya bunda emang masih hidup."


Zeo mengacak-acak rambutnya frustasi. Entah dengan cara apa lagi ia harus memberi pengertian kepada Zea, bahkan menghadapi Zia lebih mudah dibandingkan menghadapi Zea dalam hal ini menurut Zeo.


Sedangkan Zea tetap yakin dengan apa yang ia lihat. Awalnya ia ragu dengan isi surat yang almarhum ayahnya tulis. Namun setelah melihat bundanya tadi Zea semakin yakin dengan isi pesan terakhir ayahnya.


"Terserah Lo kak, gue cape ngomong sama Lo." Balas Zeo ketus.


"Oke kalau gitu Lo ikut gue," Zea menarik tangan Zeo.


Gadis itu membawa Zeo menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dengan cepat Zea langsung menarik Zeo untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Mau ngapain Lo ngajak gue ke kamar Lo, kak?"


Zeo sedikit bingung dengan tingkah Zea. Bukannya menjawab, Zea malah sibuk membuka laci lemari di kamarnya. Sepertinya Zea sedang mencari sesuatu.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Zea langsung memberikannya kepada Zeo.


"Baca!!" suruh Zea tegas.


Tidak ingin berdebat, Zeo langsung mengikuti perintah kakaknya.


Zeo membaca surat itu dengan seksama, dan tepat di akhir kalimat matanya membulat.


Zeo menatap Zea dan surat secara bergantian.


"Ja--jadi maksudnya?" Zeo menatap Zea bingung.


"Ya Ze, bunda sebenarnya masih hidup. Dan surat itu ayah yang nulis buat gue sebelum dia meninggal." Zea meraih satu surat lagi yang bertuliskan nama Zeo di sisi atasnya.


"Baca ini, kayaknya ini buat Lo. Karena ada nama Lo di sini Ze," Zeo menerima surat itu. Lalu mulai membukanya.


Awalnya Zeo sempat ragu, namun senyuman Zea meyakinkannya.


**To: Jagoan Ayah, Zeo❤️


Assalamualaikum jagoan. Kamu apa kabar? Makin kuat dong ya. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia.


Zeo


Mungkin ketika kamu baca surat ini ayah udah tidak lagi ada di dunia. Bukan karena tidak sayang kepadamu dan saudarimu tetapi takdir yang mengharuskan ayah untuk pergi.


Zeo


Ayah titip Kak Zea dan Zia ya


Jaga mereka baik-baik. Mereka kesayangan ayah loh. Tentunya kamu juga.


Kamu ayah latih dengan keras selama ini bukan karena ayah membenci kamu. Ayah melakukan hal itu karena takut hal seperti ini terjadi.


Ayah pergi untuk selamanya dan tidak dapat melindungi orang-orang yang ayah sayang lagi. Itu sebabnya tugas itu ayah serahkan kepada kamu.


Kamu selalu menjadi jagoan ayah. Kamu kebanggaan ayah dan bunda.


Zeo


Maaf jika ayah ingin mengatakan sesuatu dan akan membuat tugasmu bertambah.


Ada dua orang lagi yang harus kamu jaga dan lindungi. Bahkan saat ini kamu harus cari mereka.


Mereka adalah BUNDA dan KEMBARAN ZIA**.


Cari mereka ya sayang. Ayah mengandalkanmu.


Air mata Zeo menitik. Hatinya sakit membaca ini. Ia sudah cukup salah faham menyikapi perlakuan ayahnya. Dirinya yang di tuntut harus sempurna dalam setiap hal yang ayahnya inginkan membuat Zeo tidak terlalu menyukai ayahnya.


Ayahnya yang menuntut dirinya harus handal dalam ilmu bela diri dan sepak bola itu membuat Zeo tertekan awalnya. Untung saja Zeo sedikit menyukai sepak bola dan hal itu lah yang akhirnya membuat Zeo mulai mengikuti perintah ayahnya.


Namun dalam hal bela diri ini. Zeo tidak terlalu menyukainya. Memang, laki-laki harus pandai bela diri. Selain untuk melindungi dirinya tetapi juga untuk melindungi orang-orang yang mereka sayang.


Namun dahulu yang Zeo pikirkan bukan seperti itu. Zeo menganggap ayah dan anak buahnya sudah cukup untuk melindungi mereka. Namun ternyata pemikiran Zeo dahulu itu salah besar.


Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Pahit kah atau manis kah. Kita hanya perlu mempersiapkan diri saja untuk menghadapinya.


Zea yang melihat itu langsung merangkul adiknya.


"Lo percaya kan sekarang Ze, kalau bunda masih hidup." Zeo menatap Zea.


Pemuda itu mengangguk.


"Bahkan ayah nulis ini di dua surat, surat untuk Lo dan untuk Gue." Zeo menghapus air matanya.


"Kak kita harus cari bunda," Zea mengangguk mantap.


"Kak, Lo beneran ngelihat bunda tadi?" tanya Zeo mengingat ucapan Zea tadi. Yang membuat Zea membawa dirinya ke kamarnya.


"Iya Ze, gue ngelihat dengan jelas itu bunda. Dan bukan halusinasi." Jelas Zea tidak berbohong.


"Tapi kak, kalau itu memang bunda kenapa bunda lari? Kenapa bunda nggak nemuin kita? Kita kan anaknya." Pertanyaan Zeo barusan membuat Zea bingung.


Memang aneh menurut Zea. Mengapa bundanya lari ketika melihatnya. Bukankah Zea adalah anaknya. Sudah dua tahun lebih mereka bertemu, dan sekarang ketika bertemu bunda mereka malah menghindar.


"Iya sih Ze. Gue juga mikirnya gitu. Lagi pula gue ngelihat bunda ada di tepi kolam berenang tadi, dan itu artinya dia ada di rumah ini satu atap sama kita. Tapi kenapa bunda nggak Nyamperin kita coba?" Zea dan Zeo sama bingungnya. Menurutnya semua ini aneh.


"Kita harus cari tau kak," ucap Zeo serius.


"Iya Ze, kita harus cari tau hal ini. Semuanya masih abu-abu dan membingungkan."


"Oh iya tentang Zia yang punya kembaran itu beneran?" tanya Zeo ketika mengingat apa yang juga ia baca tadi.


"Gue juga nggak tahu Ze, gue nggak yakin awalnya. Yang kita tahu Zia lahir itu nggak kembar." Jelas Zea.


"Oh iya bukannya Lo dan ayah yang ikut ke rumah sakit waktu itu, kan?" Zeo mengingatkan.


"Iya Ze gue yang nemenin ayah waktu itu. Dan gue juga ngelihat sendiri kalau suster yang bawa keluar dari ruang bersalin hanya membawa satu bayi aja."


Zea berusaha mengingat kejadian sepuluh tahun lalu. Dimana usianya masih sembilan tahun. Tentu ingatan tentang itu masih jelas berputar di otaknya.


"Terus, kenapa ayah nulis begini coba kak?"


Zea menghela napas berat, kemudian duduk di tepi ranjangnya. Diikuti oleh Zeo yang duduk di sampingnya.


"Gue juga masih bingung Ze. Tapi kita harus cari tahu keduanya, sesuai yang ayah minta."


Zeo terdiam sebentar. Mencoba memikirkan sesuatu.


"Apa kita harus kasih tahu om Antoni dan Tante Fida dalam hal ini ya, Ze?" Zeo menoleh ke arah Zea. Zeo menggeleng cepat.


"Nggak kak. Kita harus cari tahu sendiri semuanya." Zea masih menatap Zeo.


"Lo tahu kan kak, pas ayah meninggal di rumah sakit. Yang nunggu ayah itu kan, om Antoni dan Tante Fida, gue mikirnya gini. Kalau Ayah mau kasih tahu hal ini ke om Antoni dan Tante Fida, kenapa dia harus kasih surat ini ke kita?. Kenapa dia nggak ngomong aja sama Om Antoni dan Tante Fida? Kan bisa aja mereka yang ngasih tau ke kita nantinya."


Zea membenarkan apa yang Zeo katakan barusan. Mengapa ayahnya harus menulis surat untuk memberitahukan hal ini kepada mereka? Bukankah pada saat itu Antoni dan Fida ada di rumah sakit. Banyak hal yang tidak Zea dan Zeo ketahui sepertinya. Dan hal itu semakin membuat mereka bingung.


"Iya juga ya Ze," Zea mengiyakan ucapan Zeo barusan. "Terus kalau udah gini kita harus minta tolong siapa coba?"


Zeo tampak berpikir sebentar. Kemudian dia tersenyum singkat.


"Gue tahu harus cerita hal ini ke siapa." Ucap Zeo. Membuat Zea menatapnya serius.


"Kita minta tolong sama Bang Roby, dia pasti bakal bantu."


"Tapi Ze, bang Roby kan mau nikah Minggu depan masa iya kita repotin dia sama hal beginian." Zea menoleh saran Zeo


Meskipun Zea tahu nantinya jika mereka meminta tolong Roby tidak akan menolak tetapi tetap saja Zea merasa tidak enak. Bagaimanapun Minggu depan adalah hari spesial untuk Roby.


"Terus gimana dong?" kali ini Zeo yang bingung.


"Tenang." Ucap Zea. "Gue bisa cerita masalah ini sama Azlan, dia pasti bisa bantu kita."


Ucapan Zea terdengar begitu serius dan yakin.


"Oke, gue harap kita bisa segera dapat titik terang tentang hal ini." Ucap Zeo penuh harap.


"Semoga aja,"


* * *


Zea menekuk wajahnya kesal. Selain karena suasana kelas yang ribut karena sedang jam kosong juga karena kejadian pagi ini yang membuat emosinya meluap.


Bagaimana tidak. Dia harus menghadapi pak Samudra karena terlambat lima menit untuk masuk melewati gerbang sekolah. Hal tersebut terjadi karena Zea terlalu lama menunggu Azlan untuk menjemputnya tadi. Karena sudah terbiasa dengan hal itu, membuat Zea lupa kalau Azlan sudah mengatakan bahwa dirinya tidak menjemput hari ini karena mulai sibuk dengan kuliahnya.


Bukan masalah itu sebenarnya, entah mengapa Zea merasa kesal dan tidak tenang kali ini. Azlan memang tidak ada memberi kabar semenjak ia pulang dari rumah Zea kemarin. Bahkan hingga saat ini.


Yang Zea tahu Azlan tidak pernah seperti itu. Pria itu tidak akan melewatkan satu menitpun untuk tidak mengirimi Zea pesan. Setiap harinya ketika jam pelajaran pasti akan menumpuk pesan singkat yang secara terus-menerus pemuda itu kirim. Namun kali ini tidak ada satupun pesan.


Zea jadi kepikiran. Apakah pemuda itu sakit hati karena ucapannya kemarin? Zea merasa tidak enak.


Zea berulang kali mengecek layar ponselnya. Mungkin saja akan ada pesan yang Azlan kirim. Namun tetap saja sama. Tidak ada notifikasi selain dari pesan grub kelas dan grub jualannya yang memang belum Zea baca.


Zea menghela napas cukup dalam.


"Kenapa tuh muka, kusut banget?" Putri mengampiri Zea, lalu duduk di samping sahabatnya itu.


"Lagi nggak mood," jawab Zea ketus.


"PMS?"


Zea menggeleng. Pasalnya memang kali ini dia tidak sedang dalam masa PMS ataupun pra-PMS yang biasanya membuat emosinya suka naik-turun. Aneh sebenarnya. Zea merasa seperti ada yang kurang hari ini. Namun ia tidak tahu apa.


"Lah terus kenapa? Nggak biasanya." Ucap Putri heran.


"Nggak tahu,


"Laper?" tanya Putri.


"Nggak Put, gue kenyang malahan."


"Yah padahal gue mau neraktir loh," Putri berusaha menghibur Zea.


"Terus Lo maunya apa coba?" Zea menoleh ke arah Putri. Memberikan tatapan datarnya.


"Lo nanya gue mau apa," Putri mengangguk mantap.


"Lo diem dan nggak banyak nanya." Putri langsung bungkam.


Manusia es batu sudah kembali sepertinya.


* * *


Zea berjalan menuju balkon kamarnya. Tubuhnya terasa lemas, badannya panas dingin. Entah mengapa dia merasa tidak selera melakukan apapun.


Hari ini adalah hari libur. Dan Zea memutuskan untuk berdiam diri di kamar satu harian. Sepertinya itu lebih baik untuk keadaan tubuh dan hatinya.


Zea sudah mengatakan pada Fida kalau dirinya sedang tidak enak badan. Karena hal itu Fida tidak mengajaknya untuk joging bersama. Saat ini Zea ada di rumah sendirian, karena semua orang sedang pergi untuk menyegarkan tubuh mereka di pagi hari.


Zea berjalan keluar menuju balkon karena ada suara-suara yang membuat dirinya penasaran.


Zea menoleh ke bawah, dapat terlihat jelas Zeo yang sedang menendang-nendang ke udara.


"Ui ngapain Lo?" teriak Zea. Dan hal itu membuat Zeo langsung menoleh ke arahnya.


"Baca koran!!!" dahi Zea bergelombang.


"Ya latihan lah, ya kali!!"


"Dih ngegas!!"


Zeo tidak memedulikan ucapan Zea, dia kembali melanjutkan latihannya.


Sedangkan Zea hanya memperhatikannya saja.


"Dari pada ngelihatin doang mending latihan bareng sini," Zeo bersuara.


Sedangkan Zea menatapnya dengan tatapan malas.


"Males ah,"


"Lo mah kapan rajinnya," cibir Zeo.


Zea menghela napas pelan. Dari pada dirinya terus-terusan seperti ini. Malas-malasan dari kemarin. Bahkan seperti bukan diri Zea. Apa salahnya dia mengikuti ajakan Zeo. Toh dia memang sudah lama tidak berlatih.


"Oke, gue turun dulu." Setelah mengatakan itu Zea langsung masuk ke kamarnya lalu berjalan menuju halaman dimana Zeo berada tadi.


Zeo mulai memejamkan matanya, lalu menutup matanya dengan kain hitam. Zeo ingin mencoba berlatih dengan mata tertutup, ia ingin menguji instingnya.


Dan benar saja Zea entah sejak kapan ada di belakangnya dan mulai melakukan serangan kepadanya.


Zea tidak menyangka Zeo akan segesit itu. Bahkan dia menyadari kehadiran Zea yang cukup tidak bersuara itu. Dan inilah keahlian Zea sebenarnya. Hadir secara tiba-tiba tanpa musuh ketahui, namun kali ini Zeo mampu menyadari aksinya bahkan dalam keadaan mata tertutup.


Zea kembali melakukan serangan tepat pada dada Zeo namun dengan cepat Zeo menghindar. Dan kali ini Zeo yang hendak melakukan serangan pada bahu Zea dengan cepat Zea langsung menggerakkan tangannya untuk menangkis serangan Zeo. Namun sayang itu hanyalah tipuan. Memaafkan keadaan itu Zeo langsung menyerang perut Zea. Membuat Zea mundur kebelakang.


"Auuu sshhh Ze, Lo curang ihhh." Zeo membuka ikat kepalanya. Zeo dapat melihat wajah kesal Zea dengan jelas kali ini.


"Apaan sih, orang udah kalah juga." Balas Zeo apa adanya.


"Au ah kesel gue sama Lo," Zea langsung berlalu meninggalkan Zeo lalu duduk di sebuah kursi kayu yang memang ada di taman.


"Lonya aja yang lemah, pake nyalahin gue. Aneh," cibir Zeo kemudian ia melanjutkan latihannya.


Sedangkan Zea hanya memberikan wajah mengejeknya pada Zeo.


Zea menatap sekitar. Melihat bunga-bunga mawarnya yang kemarin baru di antar oleh seorang tukang kebun.


"Kenapa Azlan nggak nganter bunga itu sendiri sih, kenapa harus nyuruh orang coba?" gumam Zea dengan suara kecil. "Aneh!!!" tambahnya.


"Hei Zeo, latihan?" suara Antoni membuat Zeo maupun Zea menoleh.


"Eh iya Om, udah balik joging?" gantian Zeo yang bertanya.


"Iya nih," jawab Antoni kemudian ia berjalan mendekati Zeo.


"Zia sama yang lainnya kok belum balik Om?" tanya Zea menyadari Antoni hanya sendirian.


"Mungkin sebentar lagi balik, tadi Tante kamu ketemu temennya biasalah ibu-ibu." Jawab Antoni.


"Oh gitu," Antoni mengangguk.


"Oh iya Ze, mau latihan bareng?" tawar Antoni.


"Boleh om, udah lama juga nggak latihan sama Om." Jawab Zeo antusias.


"Zea, nggak mau ikut?" tanya Antoni.


"Nggaklah Om, Zea jadi penonton aja." Tolak Zea langsung.


"Dia mah kalau kalah ngmbek om, kayak cewe."


Antoni mengerutkan alisnya.


"Jadi menurut Lo gue ini apa, hah? Gue ya cewe Zeo, Lo kira gue waria!!!!" pekik Zea langsung ketika mendengar ucapan Zeo barusan.


"Lo bukannya macan ya, kak???" bukannya takut Zeo malah menggoda Zea.


"Gue makan juga Lo lama-lama, kesel gue!!."


Antoni hanya terkekeh pelan melihat kedua keponakannya itu yang terus beradu mulut.


"Tuh kan Om baru juga di bilang macan, udah mau makan aja." Ucap Zeo pada Antoni.


Sedangkan Zea hanya memberikan wajah kesalnya saja.


"Zeo sudah jangan di goda terus kakak kamu, udahlah ayo kita latihan." Ucap Antoni melerai.


* * *


Zea mengguling gulingkan tubuhnya. Entah sudah berapa kali Zea melempar ponselnya secara asal lalu mengambilnya lagi dan begitu seterusnya. Dan alasan dia melakukan itu hanyalah karena satu hal. Menunggu kabar seseorang. Sudah hampir seminggu Zea seperti ini. Bertingkah seakan malas melakukan apapun. Bahkan makan juga ia tidak nafsu. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya. Zea sendiri bahkan tidak mengetahuinya.


Katakanlah Zea gengsi untuk menghubungi lebih dulu, namun tidak dapat di pungkiri hatinya resah. Ada sesuatu yang kurang dirasakannya.


Zea kembali mengambil ponselnya yang tergeletak tidak berdaya di bawah kakinya.


Zea mencoba menghubungi sebuah nomor namun jangan dikira itu Azlan. Tentu tidak, Zea tidak menghubungi nomor Azlan. Gadis itu terlalu gengsi.


"Halo Put, Lo dimana?" tentu kalian tahu siapakah yang Zea hubungi.


"Gue di apartemen kak Lina, emang kenapa?"


Jawab suara di seberang sana.


"Berdua doang?" tanya Zea memastikan.


"Iya, emang kenapa Ze? Lo mau ke sini?"


"Nggak deh, gue mager." Tolak Zea langsung.


"Oh oke. Lo nggak malmingan apa?"


"Nggak!!! Pacar gue hilang!!!" jawab Zea ngegas.


Tidak menunggu jawaban dari Putri, Zea langsung mematikan sambungannya.


Zea kembali menidurkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Padahal dia tidak melakukan hal berat. Bahkan hanya tidur dan tidur yang terus Zea lakukan. Dari pulang sekolah hingga makan malam Zea terus berada di kamarnya. Bahkan makan malam sampai Bi Siti yang harus membawakannya.


Bukan Zea mendadak manja. Hanya saja untuk melangkah keluar saja dia enggan.


"Kak Ze," panggil Zeo dari balik pintu.


Zea sedikit tersentak.


"Apa!!!" ucap Zea sedikit menyentak.


"Dih ngegas mulu, heran gue."


Tampak Zea menghela napas pelan.


"Apaan Zeo," kali ini nada bicaranya mulai merendah.


"Ngedate yukkk!!" ajak Zeo.


"Dih dasar jomblo, ngedate ngajak gue." Bukannya menerima ajakan Zeo, Zea malah mencibirnya.


"Mau kagak?" ajak Zeo lagi.


"Nggak ah gue males,"


"Yah masa gitu. Lagian gue ngajak Lo karena Lo nggak pergi bareng bang Azlan kak."


Zeo berjalan masuk ke dalam kamar Zea.


"Gue males aja."


"Kok Lo tumben nggak pergi?" tanya Zeo heran.


"Entah," jawab Zea acuh.


"Berantem?"


"Nggak,"


"Putus?"


"Nggak?"


"Terus kenapa, nggak mulu." Zeo yang kesal jadinya.


"Ya nggak tahu, dianya aja yang nggak ada kabar." Jawab Zea seadanya.


Zeo menghela napas.


"Kalau dia nggak ngasih kabar, Lo lah yang ngabarin kak."


"Dih ogah!!!" tolak Zea langsung.


Sedangkan Zeo mulai terkekeh melihat tingkah kakaknya. Gengsinya terlalu tinggi. Padahal mah butuh.


"Yaudah tahankan aja terus begini,"


"Issa Ze,"


"Yaudah coba aja telfon nggak usah sok gengsi. Lagian cuma telfon doang."


Tampak Zea sedang berpikir.


"Yaudah deh gue keluar bareng Zia sama Rara kalau gitu, Lo istirahat aja di rumah." Zea mengangguk. Sedangkan Zeo sudah berlalu keluar kamar.


Zea menatap layar ponselnya, kemudian membuka app WhatsApp lalu mensecrooll layar ponselnya, mencari nama Azlan di sana.


Tidak lama setelah itu. Zea memberanikan diri untuk menekan gambar sebuah gagang telepon di layar itu. Menandakan ia menyambungkan panggilan kepada Azlan.


Tidak lama setelah itu foto dirinya dan Azlan terpampang jelas di layar ponselnya. Senyuman Zea tercetak jelas.


Jantung Zea sedikit berdegub kencang. Menunggu kalimat memanggil di layar itu berubah menjadi berdering.


"Cuma nelpon doang kali Ze, kok deg-degan begini sih." Gumam Zea sendiri.


Namun ada hal yang membuat Zea membulatkan matanya. Bahkan langsung meletakan ponselnya ke kasur.


AZLAN ❤️ sedang berada di panggilan lain


"Sial!!!"


Zea langsung mematikan ponselnya lalu meletakkannya secara asal.


Tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting menurutnya. Zea langsung menarik selimutnya lalu mencoba untuk tidur.


"Azlan sialan!!!" gumam Zea dalam mata terpejam.


Padahal Azlan tidak melakukan apapun. Tetapi melihat Azlan sedang menghubungi orang lain padahal Zea sedang menunggu panggilan telepon ataupun pesan darinya membuat Zea kesal setengah mati.


* * *

__ADS_1


Zea merasakan ponselnya bergetar berulang kali. Dengan mata tertutup ia berusaha meraihnya lalu mengangkat panggilan telepon itu. Zea tahu persis nada suaranya.


"Halo," ucap Zea dengan suara sedikit parau karena stengah sadar.


"Halo Ze Lo tadi nelpon gue ya, sori gue tadi lagi nelpon orang."


Zea dapat mendengar suara Azlan di seberang sana. Namun rasa kesal Zea masih ada.


"Lo siapa?" tanya Zea.


"Gue Azlan."


"Azlan siapa?"


"Azlan pacar Lo lah,"


"Maaf anda salah sambung," Zea langsung mematikan teleponnya. Ia maish kesal dengan Azlan.


Belum lama Zea meletakan ponselnya, benda pipih itu kembali berbunyi. Zea berdecak sekali.


"Halo apaan Lan?" ucap Zea ketus.


"Oh Lo udah ngenalin gue, pacar Lo yang paling ganteng."


Zea menghela napas. Berusaha mengatur emosinya.


"Iya gue tahu ini Lo. Udah ah Lan gue ngantuk mau tidur."


"Okeoke, jangan marah-marah Ze."


"Yaudah tidur sana, mimpi indah sayang."


Azlan langsung mematikan panggilan teleponnya. Sedangkan Zea masih terpaku dengan ucapan Azlan beberapa detik tadi.


Senyum Zea mengembang. Hatinya sedikit lega kali ini. Entah apa yang terjadi. Namun suara Azlan begitu berefek pada tubuhnya.


Zea memejamkan matanya dengan memeluk ponselnya erat. Setidaknya hatinya sudah membaik. Dan dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


* * *


Zea cukup kesal hari ini. Wajahnya terus ditekuk bahkan beberapa kerikil ia tendangi ke segala arah.


Bagaimana tidak, dia lagi-lagi harus dibuat menunggu oleh Azlan. Dan kali ini begitu lama.


Azlan dan Zea berencana untuk joging bersama. Dan Zea menyetujuinya, entah angin dari mana tanpa paksaan apapun dari Azlan Zea langsung mengiyakannya. Dan hal itu tentulah suatu keajaiban.


Zea bangun pagi untuk bersiap-siap melakukan aktifitas yang ia janjikan bersama dengan Azlan. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya sendiri menuju taman depan komplek perumahannya karena mereka berjanji bertemu di sana. Namun sudah hampir satu jam Zea menunggu Azlan belum juga muncul. Dan lebih parahnya lagi, Zea melupakan ponselnya sehingga ia tidak dapat menghubungi Azlan.


"Gue benci sama Lo Lan, sumpah!!!!" Zea menendang sebuah botol minuman secara asal dan hal itu tanpa sengaja mengenai kepala seorang tukang becak dayung.


"Aduh!!! Siapa nih yang numpuk kepala gue pake botol??? Dikira kepala gue tong sampah apa??!!!!"


Zea langsung membulatkan matanya.


"****** gue!!"


Zea berjalan ragu mendekati si tukang becak itu.


"Eh Om maaf ya, Zea nggak sengaja tadi." Ucap Zea dengan nada pelan.


Tukang becak itu langsung menoleh ia arah Zea. Awalnya ia hendak ingin mengomel namun tidak jadi. Wajah sendu Zea membuat dirinya tidak tega.


Ternyata Zea benar-benar merasa bersalah karena melakukan itu, dan membuat matanya secara tidak sadar berair.


"Eh nggak papa kok neng, kepala Bapak nggak papa." Ucap Tukang becak itu menenangkan Zea.


"Neng jangan nangis, yang kena botol kan kepala bapak, kenapa neng yang nangis." Bapak itu tersenyum ramah.


Zea membalasnya dengan senyuman juga. Entah mengapa tukang becak ini mengingatkan Zea kepada Ayahnya.


"Tapi kan yang nendang botolnya tadi itu Zea Om, jadi Zea yang salah." Tukang becak itu kembali tersenyum.


"Panggil Bapak aja neng,"


"Oh iya neng mau kemana?"


Pertanyaan Bapak itu membuat Zea kembali ingat dengan rasa kesalnya.


"Niatnya mau joging pak tapi gajadi," jawab Zea sembari menghapus air matanya.


Bapak itu menyadari perubahan raut wajah Zea. Hanya saja bapak itu tidak ingin bertanya lebih lanjut karena takut Zea nantinya merasa tidak suka.


"Yaudah kalau gitu bapak jalan duluan ya neng," Zea mengangguk kemudian membiarkan bapak itu mendayung becaknya menjauh darinya.


Zea menatap punggung bapak tukang becak itu hingga menghilang.


"Hemm jadi kangen ayah." Ucap Zea kembali sedih.


* * *


Zea melangkah masuk ke dalam halaman rumah. Dengan wajah ditekuk serta jalan sudah seperti orang malam bergerak saja.


"Ze, kenapa?" Antoni menatap Zea heran. Tidak biasanya Zea sepeti itu.


"Nggak papa Om," Jawab Zea tanpa menoleh ke arah Antoni. Dia terus berjalan masuk ke dalam rumah. Tubuhnya sudah ingin dibaringkan sejak tadi.


"Biasa lah Om, galau." Zeo yang menyahut dari belakang Antoni.


"Zea bisa kalau juga rupanya," ucap Antoni salut.


Zeo terkekeh ringan.


"Ya bisalah Om, apalagi kak Zea cewe galaunya malah lebih lebay."


"Bukannya kamu bilang Zea itu macan," sindir Antoni.


Zeo kembali terkekeh.


"Iya om, macan betina lebih tepatnya," keduanya tertawa puas.


* * *


Zea melangkah menaiki anak tangga dengan langkah cukup cepat kali ini. Entah mengapa ia ingin cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya lalu membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.


Namun karena tidak hati-hati Zea sedikit terjungkal ke dinding membuat dirinya menyentuh sebuah foto dan membuat foto itu miring ke kanan. Namun siapa sangka, tiba-tiba saja dinding itu bergeser sedikit. Membuat sebuah celah, seperti sebuah pintu.


Karena penasaran Zea langsung bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam ruangan itu.


Tentunya tidak lupa menutup pintu itu kembali.


Zea dibuat terperangah dengan apa yang ia lihat. Bagaimana tidak, sebuah ruangan cukup besar dengan begitu banyak senjata di dalamnya ada di rumah ini.


Entah sejak kapan. Bahkan dulu ketika ia masih menempati rumah ini Zea tidak mengetahui ruangan ini ada di rumah ini.


"Ruang rahasia," gumam Zea.


Zea mendengar sebuah derap langkah. Sepertinya ada seseorang yang menaiki tangga. Namun Langkahnya terhenti di tengah. Dia tidak melangkah hingga ke lantai dua. Dengan cepat Zea langsung bersembunyi di balik sebuah tembok.


Dan tiba-tiba saja pintu yang Zea masuki tadi kembali terbuka, Zea dapat melihat ada seseorang yang masuk keruangan ini.


Matanya membulat ketika melihat siapa yang masuk.


"Tante Fida," gumam Zea pelan.


Fida berjalan dengan santai menuju sebuah etalase. Zea dapat melihat di dalam etalase itu banyak tersimpan pisau bahkan senjata api. Entah jenis apa itu. Zea tidak mengerti tentang pistol. Dia memang dapat menggunakannya, namun untuk mengenali jenisnya Zea tidak ingin.


Tiba-tiba saja.


Sreettt


Mata Zea membulat, ia bahkan menutup mulutnya.


Zea dapat melihat Fida melempar pisau itu dengan cukup cepat dan tepat sasaran.


Di ujung sana sudah ada sebuah boneka dengan pisau yang menempel di lehernya. Ralat, bukan menempel tetapi menancap tepat di leher boneka itu.


Zea tahu benar jika boneka itu adalah manusia, maka manusia itu tidak akan selamat. Fida menancapkan pisaunya tepat sasaran.


Setelah melakukan itu tampak Fida tersenyum puas. Sedangkan Zea hanya diam, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Setelah puas dengan apa yang ia lakukan akhirnya Fida keluar dari ruangan ini.


Zea masih bingung dengan apa yang ia lihat barusan.


"Tante Fida ahli dalam bermain pisau, sejak kapan?" pertanyaan yang begitu besar ada di pikiran Zea.


Yang Zea tahu Fida adalah orang yang tidak suka kekerasan. Begitu lembut kepada siapapun. Namun aneh menurut Zea. Ketika Fida memiliki kemampuan bermain pisau sehebat itu.


Zea jadi ingat kejadian lima tahun lalu dimana dirinya menemukan seekor kucing tergeletak tidak berdaya di halaman rumah almarhum kakeknya. Banyak sekali tusukan pisau di tubuh hewan tidak berdosa itu, membayangkannya kembali saja membuat dirinya langsung bergidik ngerih.


Anehnya setelah ia melihat kucing itu, Zea melihat Fida sedang mencuci tangan dengan memegang pisau yang berlumuran darah. Sejak saat itu Zea mulai menjauh dari Fida. Selain aneh menurutnya, juga untuk berjaga-jaga jika memang Fida yang melakukannya.


* * *


Zea berbaring di tempat tidurnya. Otaknya terus berputar mengingat apa yang ia lihat tadi. Semuanya masih membingungkan. Begitu banyak pertanyaan di otaknya.


Tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Zea langsung mengeceknya.


ZEO


Gue ngelihat bang Azlan di cafe ZA


DIA BARENG CEWE✌️


Tanpa berkata apapun Zea langsung bangkit dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamarnya.


Zea turun dengan langkah cepat lalu memakai sepatunya dengan buru-buru.


"Mau kemana Ze?" tanya Fida heran.


Pasalnya keponakannya itu sejak pulang joging hanya tiduran di kamar dan kali ini terlihat sedang terburu-buru.


"Ada urusan mendadak Tan," jawab Zea sembari mengikat tali sepatunya. "Oh iya Zea pinjem motor Tante bentar ya," tanya Zea meminta izin.


"Yaudah, itu kuncinya di laci lemari tv. Kamu hati-hati bawa motor." Zea mengangguk. Kemudian ia mengambil kunci dari dalam laci setelah itu berlari menuju garasi.


"Kak Zea mau kemana," tanya Zia ketika melihat kakaknya sedang membawa motor. Gadis kecil itu teriak dari atas balkon kamarnya dan Rara.


"KAK ZEA," teriak Zia sekali lagi. Karena tadi Zea tidak mendengarnya.


Zea menoleh ke arah Zea.


"Ada apa Zi?" tanya Zea bingung kenapa adiknya memanggilnya.


"Kak Ze mau kemana?" Zia mengulang pertanyaannya.


"Ada urusan bentar," jawab Zea seadanya.


"Zia boleh ikut?" tanya Zia hati-hati.


"Bukan nggak boleh dek, tapi kak Zea mau membasmi makluk, jadi Zia nggak usah ikut ya. Jadi anak baik aja di rumah."


Tampak wajah kecewa di wajah Zia. Zea menyadari itu.


"Nanti kak Zea beliin es krim deh," senyuman Zia langsung mengembang.


"Rasa vanila, dua ya kak." Zia langsung antusias.


"Siap, aman tuan putri."


Setelah mengatakan kalimat itu, Zea langsung memakai helmnya lalu melajukan motornya. Menuju Cafe ZA yang Zeo katakan tadi. Zea memang sempat mengetahui cafe itu baru aja dibuka beberapa Minggu lalu. Jadi Zea tahu persis dimana tempatnya.


* * *


Sampainya di depan cafe ZA, Zea langsung membuka helmnya. Tanpa menunggu lama Zea langsung masuk ke dalam cafe tersebut. Matanya langsung menyisir seluruh ruangan cafe yang terlihat mewah ini.


Matanya terhenti ketika menangkap sosok yang memang tengah ia cari. Azlan sedang duduk di sana, dengan dua gadis di samping kanan dan kirinya. Gadis itu merangkul Azlan dengan mesra. Bahkan dari Azlan sendiri Tidka terlihat risih sama sekali.


Zea menghela napasnya.


"Cari mati tuh bocah,"


Zea langsung masuk ke dalam cafe. Mendekati Azlan yang masih belum menyadari kehadiran Zea. Zea berhenti tepat di samping Azlan. Tangan Zea ia silangkan di dada.


Zea berusaha menahan emosinya.


"Eh Azlan aku mau dong sekali-kali di ajak liburan." Ucap gadis di sebelah kiri Azlan.


"Boleh,"


"Serius?" tanya perempuan itu antusias.


"Iya,"


"Aku juga dong," gadis di sebelah kanan ikut-ikutan.


"Emang mau liburan kemana kalian berdua?"


Mata Zea membulat. Dia tidak salah dengar Azlan menanyakan hal itu kepada dua gadis di sampingnya.


"Ke Bali kayaknya seru deh,"


"Iya, ke Bali aja Lan." Gadis lainnya beranggapan.


Ke neraka lebih pas deh kayaknya buat kalian cewe gatel.


"Boleh," jawab Azlan lembut.


Ingin sekali Zea memotong lidah Azlan kali ini juga.


Zea menghela napas cukup dalam. Mencoba menetralkan emosinya. Setelah dirasa emosinya sudah stabil Zea langsung memulai aksinya.


"Ekhhmm mba dan masnya mau pesan apa?" Zea berpura-pura bertanya seperti waiters pada umumnya.


"Kita udah pesan mba," jawab Azlan tanpa menoleh. Tatapannya fokus pada ponselnya." Sedangkan dua gadis itu sedang fokus bergelanyut manja di lengan kekar Azlan.


Sumpah yah nih cewek pengen gue patahin tuh tangan. Gue aja pacarnya nggak pernah nempel begitu. Zea emosi setengah mati.


"Maaf mas mau pilih dibotakin atau disunat habis???"


Tubuh Azlan langsung menegang. Ia langsung menoleh ke sumber suara. Matanya membulat tanda terkejut. Azlan melepas tangan dua gadis itu dari tangannya


"Ze--zea." Cicit Azlan.


Zea langsung berjalan ke hadapan Azlan. Tentunya juga di hadapan dua gadis selingkuhannya itu.


"Iya ini gue, kenapa? Kaget? Hah!!!" nada bicara Zea terdengar begitu dingin. Bahkan tatapannya begitu menusuk mata.


"Lan siapa dia?" tanya gadis di samping kiri Azlan. Sontak Zea langsung menatap gadis itu, membuat dia sedikit menunduk.


"Udah kalian nggak usah banyak tanya, mendingan sekarang kalian pergi aja." Ucap Azlan kepada dua gadia itu.


Karena ucapan Azlan, dua gadis itu langsung mengambil tasnya dan hendak berdiri.


"Mau kemana? Gue nggak ada yang suruh kalian pergi. Tetap di tempat!!!" nada suara Zea terdengar begitu dingin.


"Ze," panggil Azlan lembut.


Zea menatap Azlan tajam. Emosinya meluap kali ini.


"Apa? Lo mau jelasin apa?" serbu Zea langsung.


"Tadi pagi gue tungguin Lo buat joging, Lo nggak Dateng Lan. Dan sekarang gue lihat Lo lagi mesra-mesraan sama dua cewek ini. Apa lagi yang mau Lo jelasin? Hah!!!."


"Nggak perlu suruh dua cewek ini pergi, biar gue yang pergi dari sini. Bahkan dari hidup Lo!!!" Ucapan Zea terdengar begitu serius.


Wajahnya memerah bahkan matanya juga. Zea langsung keluar dari cafe itu. Berlari sebisa mungkin. Namun ternyata Azlan mengejarnya dan saat ini ada di sampingnya.


"Ze gue bisa jelasin, semuanya nggak seperti yang Lo lihat sumpah Ze!!!"


"Nggak perlu bersumpah Lan, semuanya udah jelas."


"Ze Lo harus percaya, gue cuma cinta sama Lo beneran." Azlan berusaha meraih tangan Zea. Namun gadis itu menepisnya secara kasar.


Zea terkekeh hambar.


"Cinta Lo bilang??!"


"Ucapan Lo barusan itu kaya orang yang ketangkep basah selingkuh!!!"


"Zea gue nggak selingkuh," tolak Azlan cepat.


"Terus itu tadi apa hah???"


"Cewek itu ngerangkul Lo, terus ngajak Lo liburan dan parahnya Lo mau. Lo kira gue nggak denger,"


"Terus kalau gue liburan dan mesra-mesraan sama mereka apa masalahnya sama Lo, hah?? Lo emang pacar gue Ze? Tapi apa yang Lo kasih sama gue? Perhatian? Kasih sayang? Nggak sama sekali. Gue itu cuma boneka yang selalu nurutin Lo, Ze. Wajar gue cari perhatian cewe lain, karen apa? Gue nggak dapetin semua itu dari Lo!!!"


Ucapan Azlan barusan sukses membungkam Zea.


"Gue ngejar Lo dan berusaha untuk dapetin hati Lo Ze, tapi apa yang gue dapet? Omong kosong doang. Gue selalu habisin waktu gue buat Lo, tapi apa yang Lo bales? Lo selalu ngeluarin kata-kata kasar Lo ke gue. Bahkan sisi lembut Lo yang Lo tunjukin ke Roby itu nggak pernah Lo kasih ke gue. Gue emang pacar Lo tapi di sini gue nggak pernah Lo anggap ada,"


Air mata Zea mulai mengalir.


"Terus sekarang Lo nangis? Buat apa Zea? Air mata Lo nggak berarti apa-apa. Rasa sakit gue jauh lebih dalam dari pada kesedihan Lo kali ini."


"Jadi Lo nyesel pacaran sama gue??" Zea memberanikan diri untuk bersuara. Tubuhnya mulai bergetar karena menahan isaknya.


Ucapan Azlan begitu menusuk hatinya.


"Menyesal? Gue nggak pernah nyesal Zea. Tapi gue lelah!!! Gue lelah sama semuanya. Gue lelah berjuang tapi nggak pernah Lo anggap, Gue lelah selalu ada tapi nggak berarti di hidup Lo. Bahkan gue nggak ngabarin Lo selama seminggu, Lo santai aja kan. Dan gue lihat Lo baik-baik aja. Padahal asal Lo tahu Ze, gue nahan itu semua udah sesak napas karena mau mati." Azlan menjeda ucapannya. Dia mengacak frustasi rambutnya.


Zea tidak sanggup lagi. Zea ingin menangis kali ini. Namun tidak ingin siapapun melihatnya. Zea memilih berlari meninggalkan Azlan.


"Zea Lo mau kemana??" teriak Azlan.


"Lo kira dengan Lo pergi semuanya selesai??? Nggak Ze!!!"


"Lo itu egois!!!"


Zea tidak mempedulikan teriakan Azlan lagi. Hatinya begitu sesak. Zea terduduk di jalan. Zea memukul-mukul dadanya yang begitu perih. Azlan tidak tahu apa yang Zea rasakan selama seminggu ini. Zea terus uring-uringan seperti orang kehilangan akal. Namun Zea terus berusaha menutupinya. Karena hanya itulah yang dapat Zea lakukan. Menutupi apa yang ia rasakan. Tanpa ingin memberi tahu siapapun.


"Kenapa sesakit ini? Kenapa? Kenapa Azlan jadi gitu? Kenapa??"


"Azlan yang nggak pernah marah sama gue kenapa jadi begitu. Apa gue salah selama ini? Apa gue bener-bener egois??" tangisan Zea semakin pecah. Entah apa yang membuatnya begitu merasakan sakit kali ini.


Zea yang tidak pernah memikirkan ucapan orang lain tentang dirinya kali ini merasakan begitu sakit. Ucapan Azlan seakan seperti tombak yang menusuk hingga ke dasar hatinya sehingga membuat air matanya tumpah dengan seketika.


"Lo bener Lan Gue egois,"


* * *


Zea berjalan melewati gundukan tanah dengan nama berbeda itu dengan langkah lunglai. Air matanya tidak henti-hentinya mengalir. Bahkan hingga ia berada tepat di samping makan ayahnya. Bukannya berhenti, air matanya malah semakin mengalir.


Zea terduduk di atas tanah. Matanya sembab, tatapannya kosong menatap lurus ke makam yang masih tanah itu.


"Assalamualaikum yah," Zea menahan isaknya. Dia mencoba untuk tidak menangis lagi.


"Zea datang yah, ayah apa kabar? Maaf ya yah, Zea belum bisa temukan bunda dan kembaran Zia,"


"Yah Zea sedih nih yah. Zea ngelakuin salah lagi. Coba aja ayah masih ada hem, pasti Ayah akan mengingatkan Zea. Yah Zea udah jahat Lo yah, Zea nyakitin hati Azlan. Zea selalu gantungin perasaan dia. Padahal dia selalu baik sama Zea."


"Zea jahat kan yah, padahal Zea tahu sendiri gimana rasanya berjuang sendirian dalam suatu hubungan, tapi Zea ngebuat Azlan ngelakuin itu. Dan akhirnya sekarang Azlan udah lelah. Dia nyerah yah, dia udah nggak mau lagi jagain Zea."


"Zea juga nggak bisa maksa dia kan yah, kalau dia mau cari cewek lain juga nggak papa. Tapi Zea jujur sama ayah, Zea udah sayang sama Azlan yah. Mungkin Zeo bener, Zea terlalu gengsi untuk mengakuinya."


"Semoga aja Azlan bisa bahagia ya yah, meski nggak sama Zea."


Zea kembali terisak. Ia memeluk makan ayahnya. Tangisannya sulit untuk di hentikan. Hati Zea benar-benar hancur. Sampai akhirnya Zea terlelap di atas makam ayahnya.


Tidak lama setelah itu Seorang pemuda mendekat menghampiri Zea.


Pemuda itu membopong tubuh Zea dengan lembut. Tatapannya tidak lepas pada gadis cantik di gendongannya. Setelah sampai pada mobilnya, Pemuda itu langsung meletakan Zea dengan lembut ke dalam mobil, tidak ingin tidur gadis itu terganggu. Setelah itu Ia memakaikan sabuk pengaman Zea dengan hati-hati. Dirasa Zea sudah cukup aman, pemuda itu langsung masuk ke dalam mobil tepatnya duduk di sebelah Zea.


Pemuda itu menatap Zea cukup lama. Menyelipkan anak rambut Zea ke telinganya, supaya pemuda itu dapat dengan jelas melihat wajah cantik Zea.


Senyuman tercetak jelas di bibir pemuda itu.


Maaf Zea, gue selalu sayang sama Lo.


* * *


Zea membuka matanya pelan. Mencoba untuk memperjelas penglihatannya yang sedikit kabur karena bangun tidur. Zea sedikit mengerutkan dahinya. Zea bangkit dari tidurnya lalu duduk bersandar di ranjangnya.


"Kok gue ada di kamar? Tadi kan gue di makam." Zea bertanya pada dirinya sendiri.


"Udah bangun kak? ini makan dulu." Suara Zeo membuat Zea menoleh ke arahnya.


"Apaan itu?" tanya Zea langsung.


"Bubur kacang merah kesukaan Lo," wajah Zea langsung ceria.


Zea langsung menyerbu mangkuk bubur yang Zeo bawa lalu melahap isinya.


"Bubur aja Lo cepet," cibir Zeo.


"Oh iya Ze, gue kan tadi di makam ayah kok bisa ada di kamar sih?" tanya Zea pada Zeo. Pasalnya ia bingung mengapa dirinya ada di sini.


"Lo nanya gue? Gue nanya siapa? Rumput yang bergoyang?"


"Gue serius Zeo," rengek Zea.


"Gue juga serius kak. Tadi sih Tante Fida bilang katanya Lo ditemuin mang Ucup si penjaga makan tergeletak di atas makan ayah, jadi mang Ucup yang nganterin Lo kesini."


"Eh serius??" ucap Zea tidak percaya.


"Jadi menurut Lo, gue gitu yang gendong Lo bawa ke rumah kak. Dih kurang kerjaan,"


"Jahat bener sih jadi adik,"


"Nggak kak nggak becanda," ucap Zeo sembari mengacak-acak rambut Zea.


"Terus mang Ucup bawa gue pake apa?" tany Zea lagi sembari menikmati buburnya.


"Keranda,"


"Uhukkk," Zea langsung terbatuk mendengar jawaban Zeo.


Sedangkan Zeo sudah lari lebih dulu keluar dari kamar Zea sebelum mendapatkan amukan dari Zea.


"DASAR ADIK TERLAKNAT LO!!!!"


* * *


Zea meletakan mangkuk buburnya yang telah kosong di atas meja di samping tempat tidurnya. Ia beralih menatap ponselnya mengecek mungkin akan ada pesan dari seseorang di sana. Namun harapannya hanyalah sebuah harapan. Dan hal itu hanya membuatnya semakin sakit.


Zea meletakan ponselnya itu di atas meja. Kemudian Ia turun dari ranjangnya berjalan menuju kamar mandi. Zea ingin membersihkan diri.


Setelah beberapa menit melakukan aktifitas di kamar mandi. Zea langsung memakai pakaiannya lalu mengambil sebuah mukena di dalam lemari serta sajadahnya.


Zea memulai aktifitas ibadahnya dengan khusuk. Dari mulai takbir hingga salam.


Setelah selesai sholat. Zea menatap lurus ke arah sajadah. Air matanya kembali menetes. Tidak dapat ia kendalikan. Zea mulai terisak, bahkan tubuhnya kembali bergetar.


Untuk kedua kalinya ia payah hati. Namun kali ini dia yang mematahkannya.


Brakkk


Pintu kamar Zea dibuka secara tergesa-gesa.


Zea langsung menghapus air matanya dengan cepat lalu menatap Zeo bingung. Karena suara itu berasal dari Zeo yang membuka pintu dengan tiba-tiba.


"Kak Ze, gawat." Ucapan Zeo membuat dahi Zea semakin bergelombang.


"Ada apa sih?" tanya Zea bingung.


"Bang Azlan kak, bang Azlan."


Zea langsung terpaku mendengar nama Azlan.


"Ada apa sama Azlan?" tanya Zea berusaha untuk tenang.


"Bang Azlan kecelakaan,"


"APA?????"


**Maaf telat up ya🙏


Semoga suka episode ini 😊

__ADS_1


Salam sayang dari Author yang suka up lama😁😁😁😍**


__ADS_2