
Zea menatap kosong piring berisi nasi di hadapannya. Bahkan nasinya sama sekali tidak ia sentuh. Entah mengapa yang terjadi pada dirinya satu hari ini membuat nafsu makannya hilang.
Zia melahap salad yang dibawakan Zea tadi. Menikmati setiap sentuhan saus salad dengan lidahnya. Zea memang membuatkan salad itu untuk Zia dan Zeo. Karena Zia memintanya sebelum Zea pergi ke ruko tadi.
"Dimakan nasi Lo kak! Jangan di aduk-aduk terus," suara Zeo memecahkan keheningan diantara ketiganya.
Zea menatap Zeo sekilas.
"Gue nggak selera makan," balas Zea apa adanya.
Zea meletakkan sendok makannya. Kemudian beranjak dari duduknya. Namun sebuah cekalan menghentikan langkahnya.
"Kak Ze belum makan sedikit pun, makan dulu kak," ucap Zia pelan.
Zea tersenyum singkat kepada adik perempuannya itu.
"Kakak udah kenyang dek."
"Kakak kenyang makan apa. Nasinya aja belom berkurang sedikitpun," ucap Zia.
Kemudian Zia menari tangan Zea untuk duduk lagi, lalu mengambil alih piring Zea dan mulai menyuapkan nasi ke mulut kakaknya itu.
"Aa ayo buka mulut kakak," perintah Zia.
Zea menghela napas pelan. Jika Zia sudah seperti ini dia tidak mungkin mampu menolaknya. Zea membuka mulutnya lalu mulai mengunyah nasi itu, entah mengapa nasi dan sayur yang Zea makan terasa hambar. Mungkin karena perasaannya yang saat ini juga sedang tidak dalam keadaan baik.
Zeo tersenyum singkat melihat tingkah Zia. Dia tahu Zea tidak akan pernah menolak permintaan Zia.
"Sudah dek, kakak kenyang. Kakak ke kamar duluan ya," kemudian Zea beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju kamarnya.
"Eh tapi kak,"
Panggilan Zia tidak di hiraukan oleh Zea. Karena hal itu Zia merasa sedih.
"Jangan sedih dek. Kak Zea capek, makannya nggak nafsu makan. Sudah kamu cepetan habisin saladnya, setelah itu langsung ke kamar ya," ucap Zeo lembut. Zia mengganggukkan kepalanya, menuruti perkataan Zeo.
Zeo menatap piringnya yang sudah kosong, meneguk air untuk menghilangkan sisa nasi yang masih melekat di sela-sela giginya.
Lo kenapa kak?. Batin Zeo.
* * *
Zea membuka buku pelajaran, mengecek apakah ada tugas yang harus dia selesaikan. Beginilah kegiatan Zea setiap harinya, setelah pulang berjualan seperti ini, Zea langsung mengerjakan tugas sekolahnya. Karena hanya di malam hari seperti inilah waktunya yang ada untuk mengerjakan tugas sekolah. Hari ini untung saja dia hanya berjualan sampai jam tujuh malam, terkadang Zea harus lembur sampai jam sepuluh malam hanya karena banyaknya pesanan. Dan sampai di rumah harus lagi mengerjakan tugas sekolahnya. Zea tidak pernah mengeluh, yang dia tahu jikalau dia mengeluh hanya akan membuat dirinya semakin lelah dan malas untuk mengerjakan pekerjaannya. Maka dari itu Zea selalu menyiapkan tugas sekolahnya di rumah. Meski harus begadang setiap harinya.
Zea menarik buku pelajarannya, mulai menuliskan catatannya yang masih banyak lagi. Sesekali Zea menguap karena kantuknya yang mulai datang. Sampai akhirnya Zea terlelap di meja belajarnya dengan wajah menimpa tangannya.
Cklek, suara pintu terbuka. Tidak lama sosok Zeo terlihat masuk ke dalam kamar Zea.
Zeo berjalan mendekati Zea yang telah tertidur pulas di meja belajarnya. Zeo menepuk pelan bahu Zea.
"Kak Ze," panggil Zeo lembut.
"Kak, Lo kok tidur di sini? Bangun kak, pindah ke tempat tidur," Zeo sedikit mengguncang tubuh Zea.
Tetapi yang empunya badan tetap saja terlelap. Sepertinya kak Zea sangat capek hari ini. Batin Zeo.
Zeo lebih memilih untuk menggendong kakaknya menuju tempat tidur. Melihat wajah kakaknya yang tampak begitu lelah membuat Zeo mengurungkan niatnya untuk membangunkan Zea.
Setelah meletakan Zea ke tempat tidurnya dengan lembut Zeo mengambil selimut bergambar tayo milik kakaknya itu, lalu menyelimuti Zea dengan hati-hati. Zeon tidak ingin Zea terbangun karena terganggu dengan pergerakannya. Akan tetapi yang membuat Zeo heran, sejak kapan Zea memiliki selimut bergambar tayo? Bukankah kakaknya itu suka Doraemon? Kenapa sekarang jadi tayo?. Sudahlah itu tidak penting, yang jelas Zeo ingin Zea istirahat dengan nyenyak malam ini.
Zeo kembali ke meja belajar Zea. Tanpa ragu Zeo langsung membereskan beberapa buku serta alat tulis yang masih berserakan. Tanpa sengaja Zeo melihat sebuah kertas yang tertulis sebuah kalimat. Dan kalimat itu mampu membuat mata Zeo memanas seketika. Zeo menarik kertas itu pelan, karena terselip di dalam buku.
Zea kangen bunda
hanya tiga kata yang tertulis. Namun memiliki banyak maksud dan tujuan. Banyak kesedihan dan kepahitan yang menjadi dasar mengapa tulisan ini sampai ada. Zeo melipat kertas itu lalu memasukkannya ke dalam kantong training yang ia pakai.
Zeo kembali membereskan buku-buku Zea Setelah selesai, Zeo kembali menghampiri Zea. Mengelus lembut pucuk kepala Zea, lalu mengecup singkat kening kakaknya itu.
"Mimpi indah kak," bisik Zeo pelan di telinga Zea.
"Gue sayang sama Lo," tambah Zeo.
Zea menggeliat karena bisikan Zeo. Entah Zea mendengarnya, atau saat ini dia sedang bermimpi. Entahlah Zeo tidak tahu, yang jelas Zeo berharap Zea sedang mimpi indah saat ini.
Zeo langsung keluar dari kamar Zea. Sampainya di luar, Zeo kembali membuka kertas yang dia lipat tadi. Rasa sedih langsung menyelimuti dirinya.
"Gue juga kangen bunda kak."
Kemudian Zeo berjalan menuju kamarnya, tanpa lupa menutup pintu kamar Zea terlebih dahulu.
* * *
"Assalamualaikum," teriak seorang pria ketika masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"
"Tumben pulang cepat. Biasa juga subuh sampe rumah," cibir Azlina melihat adiknya yang baru saja pulang itu.
"Gue cepat pulang salah gue lama lebih salah. Serba salah hidup gue kayaknya," kemudian pria itu langsung duduk di sofa ruang tamu dan menyandarkan tubuhnya dengan kasar. Lelah, itu yang di rasakan ya saat ini.
"Lo kan emang selalu salah," tambah Azlina lagi.
Azlan menatap sinis kakaknya itu.
"Mah, kak Lina tuh. Ngeselin banget," adu Azlan kepada Ayu. Ibu mereka.
"Ck, bocah Lo. Dikit-dikit ngadu," balas Lina lagi.
"Lina Azlan." Tegur Ayu. Karena kedua anaknya itu sangat menggangu dirinya yang tengah asik menonton sinetron di televisi.
Azlan membuang wajahnya ke arah lain. Sangat malas melihat wajah kakaknya ketika tubuhnya lelah seperti ini. Sungguh memancing emosi. Mending mancing ikan, di goreng kenyang. Kalau emosi? kenyang nggak masuk rumah sakit iya. Karena darah tinggi.
"Kak tolong ambilin minum!" ucap Azlan dengan senyum mautnya.
"Giliran ada maunya baru Lo senyum-senyum," cibir Azlina.
"Lo cantik deh kak. Cantik banget malahan, gue lihat cantik Lo nambah sembilan puluh persen dari terakhir kali gue lihat Lo,"
"Tolong dong kak, gue haus banget." Azlan merayu Azlna, dengan wajah dibuat seimut mungkin.
"Muka lo menjijikkan. Gue udah cantik dari lahir kali, Lo baru sadar." ucap Azlina pedas. Dengan pandangan tetap fokus ke layar laptopnya.
"Bi Idah ambilin minum untuk Azlan." teriak Azlina. Memanggil asisten rumah tangga di rumahnya.
"Kamu ngapain teriak-teriak Lina? Bi Idah kan pulang kampung. Ngapain di panggil-panggil?." Tegur Ayu. Ketika mendengar putrinya yang berteriak memanggil asisten rumah tangga mereka.
"Tau Lo kak. Amnesia? Kan bi Idah udah pulang dari kemarin, anaknya di kampung sakit. Kalau ada bi Idah gue juga nggak akan minta tolong Lo," tambah Azlan ikut-ikutan.
Azlina mendengus kesal. Menatap tajam Azlan. Namun yang ditatap hanya senyam-senyum tidak jelas.
Azlina terpaksa bergerak mengambilkan minum untuk adiknya itu.
Tidak lama Azlina datang membawakan air mineral untuk Azlan. Namun Lina melihat adiknya itu masih saja senyum-senyum sendiri. Sudah seperti orang gila.
Azlina menyentil pelan jidat Azlan.
"Auu sakit kak," keluh Azlan.
"Lebay Lo! Gue sentil pelan kali," ucap Azlina membela dirinya.
"Sama aja sakit juga," ucap Azlan tidak terima.
"Lagian lo udah kaya orang gila. Senyum-senyum sendiri, geli gue lihatnya."
"Bukannya selama ini Lo selalu ngatain gue gila? Jadi kenapa heran?" bukannya menjawab pertanyaan Azlina, Azlan malah memberikan pertanyaan. Iya juga sih. Batin Azlina.
"Kebiasaan orang Indonesia, ditanya malah nanya balik," gerutu Lina.
"Tapi gue bangga jadi anak Indonesia," ucap Azlan dengan bangganya. Tentu dengan senyuman yang sama seperti tadi.
"Tuh kan, Lo gila beneran," Azlina bergidik ngeri melihat adiknya yang terus-menerus senyum-senyum sendiri.
"Gue nggak gila kali. Gue cuma lagi seneng aja kak," ucapan Azlan membuat Lina mengerutkan alisnya.
"Seneng karena hal?"
__ADS_1
"Lo menang tanding futsal?"
"Atau menang togel?" tanya Lina.
"Astagfirullah kak. Suuzon Lo sama adik sendiri," jawab Azlan cepat. "Lagian kalau menang togel juga gue nggak akan bilang sama Lo." tambah Azlan.
"Huh dasar Lo pentolan rujak. Gue kira adik gue alim juga kagak mau mainin begituan," cibir Azlina kesal.
"Udah ah kok malah bahas togel. Lagian yang buat gue seneng hari ini bukan masalah menang futsal ataupun menang togel," ungkap Azlan.
"Lalu?" Azlina beralih ke sofa di sebelah Azlan. Sungguh dia sangat penasaran dengan hal ini.
"Gue bahagia karena--" ucapan Azlan sengaja ia gantung.
Azlina tidak melepas tatapannya dari Azlan. Menandakan bahwa dia menunggu lanjutan dari ucapan Azlan. Entah mengapa Azlina sangat penasaran. Karena memang wajah Azlan tidak seperti biasanya. Jika biasanya Azlan pulang dengan wajah kusut karena lelah tetapi hari ini wajahnya berseri-seri sekali. Dan hal itu menjadi pertanyaan besar untuk Azlina.
"Nungguin ya?? Hahahaha," ledek Azlan.
Azlina langsung melempar bantal yang ia pegang ke wajah Azlan.
Azlan masih juga tertawa. Wajah penasaran Azlina membuat tawanya tidak dapat berhenti. Sedangkan Lina hanya menatap kesal Azlan. Sungguh adik TERLAKNAT. Awas aja Lo. Geram Azlina.
Azlan menarik napasnya pelan, berusaha mengontrol dirinya. Setelah merasa tenang, dan tawanya tidak akan pecah lagi Azlan menatap Azlina sekilas.
Tampak jelas Azlina sangat kesal pada dirinya.
"Cie ngambek," ejek Azlan lagi. Azlina membuang wajahnya ke arah lain. Azlan tersenyum. Sungguh kakaknya itu seperti anak-anak di bawah lima tahun jika sedang kesal seperti ini.
"Mau denger cerita gue nggak?"
"Nggak perlu, nggak berminat lagi," ketus Azlina. Azlan hanya tersenyum lagi mendengar jawaban kakaknya.
"Gue tadi jumpa sama cewek," ucap Azlan santai.
Azlina menoleh sekilas. Namun sekian detik pandangannya kembali pada ponselnya yang sejak tadi ia pegang.
"Bukannya setiap Lo main futsal pasti jumpa cewek? Ucapan Lo nggak jelas banget," tampak Azlina yang semakin kesal.
"Tapi dia beda kak. Dia mirip sama sikap Lo," ucapan Azlan menarik perhatian Lina. Buktinya Azlina langsung menatap serius Azlan.
"Maksud Lo?"
"Iya, dia cewek aneh yang baru kali ini gue temuin," jelas Azlan.
"Jadi maksud Lo gue aneh?"
"Eh bukan gitu kak,"
Mati gue, salah ngomong. Gumam Azlan.
"Dia beda sama cewek lain. Dia mirip sama Lo Kaka, di puji bukannya seneng malah marah-marah. Dan entah kenapa gue seneng lihatnya," jelas Azlan.
"Oh itu makannya Lo suka banget buat gue marah ya?" tanya Azlina.
"Iya," jawab Azlan seadanya.
"Bukannya gue pernah bilang sama Lo kak. Kalau suatu hari nanti gue punya cewek gue pengen cewek gue itu kaya Lo. Nggak sok jaim, tampil apa adanya dan pastinya ngomong juga begitu. Meski kadang ucapannya pedas melebihi rawon petir,"
Azlina tertegun mendengar ucapan Azlan. Heran mendengar ucapan adiknya itu yang menjelaskan tipe cewek idamannya. Apalagi yang di ceritakan ya tadi lebih banyak keburukan, apalagi dengan patokan ke dirinya.
"Sejak kapan ada rawon petir?" heran Azlina.
"Sejak tadi," jawab Azlan langsung.
"Cewek yang gue temui tadi marah-marah karena gue panggil dia cantik. Padahal gue manggil dia karena emang dianya cantik, bukan karena gombal atau modus," jelas Azlan lagi.
"Mungkin dia ngira Lo modus kali makannya dia marah," Azlina berpendapat.
"Cewek mah gitu. Di puji marah padahal hatinya seneng," cibir Azlan.
"Gue nggak ah, biasa aja." balas Azlina ketus.
"Tapi gue sukanya begitu sih. Nggak sok-sokan suka di puji hanya karena mau terlihat kalem. Padahal aslinya bar-bar."
"Nggak ada sih, cuma pengen cerita aja,"
"Tapi kok gue jadi kepikiran cewek itu aja ya kak?" Azlinaa menoleh ke arah Azlan.
"Lo suka sama dia berarti." Azlina berspekulasi.
"Sok tau Lo kak. Gue aja baru jumpa tadi masa iya langsung suka,"
"Jadi menurut Lo adanya istilah cinta pada pandangan pertama itu gimana?"
"Gitu aja heboh sendiri,"
"Kalau suka kejar. Kalau ragu nggak usah memulai. Jangan sampe hanya ada rasa penasaran Lo buat cewek itu jatuh cinta smaa Lo dan akhirnya Lo tinggalin karena Lo nggak cinta cuma ambisi aja karena penasaran. Perasaan cewek itu bukan untuk di permainkan tapi untuk di jaga Lan. Gue ngomong gini karena gue tahu kerjaan Lo selama ini cuma mainin perasan cewek. Inget Lan, Lo punya gue sebagai kakak. Dan gue juga cewek, seharunya sebelum Lo permainkan hati mereka Lo inget ada kakak Lo yang sama-sama punya perasaan seperti mereka."
Entah mengapa ucapan Azlima menusuk sampai ke hati Azlan. Azlan menatap sendu Azlina.
"Sorry kak. Kalau selama ini gue jadi playboy yang nggak ada faedahnya. Gue sadar gue salah," ucap Azlan menyesal.
"Minta maaf jangan sama gue. Gue bukan korban Lo." jawab Azlina pedas.
Namun perkataan itu memanglah benar. Seharusnya Azlan meminta maaf kepada para mantannya yang hanya menjadi mainan untuknya. Karena Azlan tidak benar-benar mencintai mereka.
"Lagian lo fokus aja sama kuliah. Nggak usah mikirin cewek mulu,"
"Gue nggak pernah mikirin cewek kak. yang ada cewek yang mikirin gue."
"Sombong amat bapak," cibir Azlina kesal.
"Lah kenyataan," balas Azlan santai.
"Buktinya tadi Lo baru aja bilang kalau Lo mikirin cewek," sindir Azina. "Apaan itu? Coba di jelaskan," ejek Azlina.
"Itu dia yang jadi masalah, gue juga heran baru kali ini gue kebayang wajah cewek sampe segininya. Bahkan pas main futsal tadi wajah dia nggak hilang-hilang dari ingatan gue,"
"Lebay Lo," ucap Azlina.
Azlina beranjak dari duduknya.
"Eh mau kemana kak?" cegah Azlan. " Gue belum selesai ngomong," ucap Azlan merengek.
"Udah ah gue ngantuk denger dongengan Lo." Azlina berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti, Azlina berbalik.
"Kalau lo beneran suka sama tuh cewek perjuangin tapi kalau cuma penasaran aja gue saranin jangan. Kasihan hati tuh cewek nantinya. Dan sebelum Lo kejar dia, Lo harus pastiin perasaan Lo itu tetap atau hanya sementara," ucap Azlina kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Azlan merenungi ucapan kakaknya tadi. Apa benar perasaan aneh ini hanya sementara? Memang iya sih dia baru bertemu sekali, tidak mungkin langsung jatuh cinta.
"Lan, gendong Mama ke kamar. Mama ketiduran, kayaknya kecapekan," ucap Azlina dari pintu kamarnya.
Azlan melirik ke arah Mamanya duduk tadi. Ternyata benar mamanya sudah terlelap disana. Yang awalnya mamanya menonton televisi sekarang pemandangannya lebih terlihat bawah televisi yang menonyon mamanya. Pantas saja mama Azlan tidak bersuara ketika Azlan dan Azlina berdebat tadi. Azlan tersenyum singkat, kemudian melangkah mendekati mamanya.
"Kok gue nyium bau-bau tidak sedap ya?" gumam Azlan sendiri.
Azlan mencium dirinya sendiri.
"Hmm, bau banget badan gue. Lupa tadi kan keringatan. Malah belum mandi lagi," Azlan lebih memilih untuk masuk ke kamarnya dahulu dan membersihkan diri. Karena tidak mungkin dia menggendong mamanya dalam keadaan yang bau keringat seperti ini. Kalau tahu kanjeng ratu bisa kena ceramah seribu ayat dirinya.
Tanpa menunggu lama Azlan langsung membersihkan dirinya. Lalu mengganti pakaian, setelah itu baru Azlan memindahkan mamanya ke kamar.
Azlan hanya tinggal bertiga dengan Mama dan kakaknya saja di rumah yang terbilang cukup besar ini. Papa Azlan sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan pesawat. Karena itu, Azlina kakak Azlan lah yang menggantikan posisi sang papa di kantor. Meneruskan bisnis papanya. Meskipun sebenarnya Azlina tidak mau karena memang seharusnya Azlan lah yang mengurus dan menggantikan posisi papa nya. Hanya saja karena umur dan keadaan Azlan yang belum siap itu sebabnya Azlina lah Yang harus mengurusnya dahulu sampai Azlan benar-benar siap untuk memegang semuanya.
Lina bernama lengkap Azlina putri adalah satu-satunya kakak Azlan. Azlan begitu termotivasi dengan sosok kakaknya itu. Wanita tangguh dan pekerja keras. Dapat dilihat dari keadaan kantor papanya yang sekarang dia pimpin berkembang cukup pesat. Bahkan Azlan sampai berpikir jika dirinya yang ada di posisi kakaknya tidak mungkin dapat sepesat itu kemajuannya. Itu jugalah menjadi alasan mengapa kriteria perempuan yang Azlan suka itu sama seperti kakaknya. Atau setidaknya sedikit mirip dengan kakaknya. Karena menurut Azlan Kakaknya itu adalah perempuan yang sempurna, walaupun dia tau sebenarnya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sungguh beruntung laki-laki yang mendapatkan kakaknya. Selain cantik dan baik, dia juga perempuan yang tangguh dan tidak pantang menyerah serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Dan jikalau nanti ada yang menyakiti hati kakaknya, makan dia akan berurusan dengan Azlan Malik.
* * *
Azan subuh berkumandang dengan lantangnya. Membangunkan para manusia yang masih terlelap dalam tidur dan hanyut pada mimpi masing-masing. Zea mematikan alarm yang sejak tadi sudah berbunyi. Bahkan sebelum azan subuh berkumandang.
Zea bangun dari tidurnya, mencoba mengumpulkan nyawanya yang saat ini masih mengambang. Setelah benar-benar sadar, Zea menatap kamarnya. Sedetik kemudian Zea menatap meja belajarnya yang sudah rapi.
"Bukannya tadi malam gue masih nyatat ya? Kapan pindah ke tempat tidurnya?" heran Zea.
Zea berjalan ke pintu kamarnya. Dia melihat pintunya ternyata tidak di kunci.
__ADS_1
"Oh iya gue lupa kunci pintu. Palingan juga Zeo yang pindahin ke kasur," gumam Zea.
Kemudian Zea mengambil sisir untuk merapikan rambutnya yang sudah seperti singa. Setelah tersisir rapi, Zea langsung mengikat asal rambut panjangnya.
Setelah itu Zea langsung ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Memang di rumah mereka hanya kamar Zea dan ayahnya yang memiliki kamar mandi pribadi di kamar, entah apa alasannya Zea juga tidak tahu. Yang jelas Zea hanya menikmatinya saja, meskipun hanya sebuah kamar mandi.
Zea membersihkan dirinya, setelah itu ia langsung mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya. Zea menunaikan sholat subuh dengan khusuk dan tenang.
Setelah selesai sholat Zea langsung merapikan alat sholatnya. Kemudian merapikan tempat tidurnya. Setelah merasa semuanya sudah rapi, Zea langsung keluar kamar.
Dan seperti biasa Zea langsung menuju kamar adik-adiknya. Pertama kali yang Zea datangi adalah kamar Zeo. Namun belum sempat pintu kamar Zeo terketuk, pintu itu sudah terbuka sendiri.
"Astagfirullah," sontak Zea kaget.
"Kenapa lo kak?" heran Zeo.
"Kaget gue," jawab Zea sembari mengelus dadanya. Lalu menetralkan keterkejutannya.
"Biasa aja kali tuh muka. Tegang amat kayanya," ucap Zeo.
Zea menatap datar adik laki-lakinya itu. Kalau bukan adik sendiri mungkin sudah di slending oleh Zea.
"Untung jantung gue ciptaan Tuhan kalau ciptaan manusia udah copot kali. Lo sih, keluar tiba-tiba," omel Zea karena kesal dengan Zeo, bukannya meminta maaf malah menghina.
"Lebay Lo. Lagian lo sih, ngapain juga tiba-tiba di depan pintu? Hem,"
"Gue mau bangunin Lo subuh lah," ucap Zea cepat.
"Gue udah balik dari masjid kali. Lagian lo mau bangunin gue jam segini. Keburu waktu subuh habis kak." Cibir Zeo.
"Emang sekarang jam berapa?" pertanyaan yang muncul dari mulut Zea.
"Jam enam," jawab Zeo santai.
"What!!!."
"Apa Lo bilang jam enam? Mati gue, kita bisa terlambat ke sekolah." Zea mulai panik. Zea langsung ke kamar Zia untuk membangunkan adiknya. Ternyata adiknya masih memakai mukenanya, dan duduk di atas sajadah mungkin Zia masih berdoa. Zea langsung menutup pelan pintu kamar Zia.
"Ze gue ke dapur dulu ya. Mau buat sarapan," ucap Zea. Namun gerakannya terhenti karena Zeo menahannya.
"Apaan Ze, gue mau buat sarapan." Ucap Zea.
"Lo ngapain buat sarapan cepat banget?" heran Zeo.
"ya iyalah, udah jam enam tahu Lo nggak mau sekolah apa?" tawa Zeo pecah mendengar ucapan Zea.
"Malah ketawa. Gue serius juga, kok ngeselin sih jadi adik. Eh tapi Lo emang selalu ngeselin sih," ucap Zea. Kemudian melepas cengkraman Zeo.
Zeo mengentikan tawanya.
"Lo sehat kak? Atau amnesia?"
"Banyak pikiran kali Lo ya, sampai segitu lupa nya." Zeo berpendapat.
"Maksud Lo apaan sih. Nggak jelas tahu," ucap Zea cemberut.
Cklek. Pintu kamar Zia terbuka. Menampilkan Zia yang ceria dengan kaos serta training yang ia pakai.
"Kamu mau kemana dek?" tanya Zea heran.
"Joging," jawab kedua adiknya bersamaan.
Zea menatap Zeo dan Zia bergantian. Zea tidak sadar bahwa pakaian mereka memanglah pakaian untuk joging, kenapa Zea tidak sadar sejak tadi. Tapi kenapa mereka memakai pakaian joging bukannya pakaian sekolah?.
"Lo lupa kak? Ini kan hari Minggu, Lo mau sekolah sendirian?."
Zea terdiam. Merutuki dirinya. Apa yang dia pikirkan kenapa sampai lupa sama hari begini. Bukankah umur Ze masih terlalu mudah untuk dikategorikan sebagai lansia.
"Oh iya gue nggak inget." ungkap Zea, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yaudah kalian joging aja. Kakak mau buat sarapan,"
"Lo nggak mau ikut?" tawar Zeo.
"Nggaklah, gue buat sarapan aja di rumah." tolak Zea.
"Udah sarapan kita beli aja di jalan entar. Lo ikut ya, sesekali juga." bujuk Zeo.
"Tapi Ze kalau sarapan aja beli itu---"
"Pemborosan?" potong Zeo cepat.
"Udahlah sesekali juga kak."
"Nanti guelah yang beli sarapannya, pake uang gue." bujuk Zeo lagi.
"Tapi,"
"Udah ah nggak ada tapi-tapian, buruan Lo ganti sana," Zeo langsung mendorong pelan Zea masuk ke dalam kamarnya lagi.
Zea hanya menghela napas pelan, percuma saja menolak Zeo. Tidak akan mampu Zea lakukan.
"Baiklah, apa salahnya ngabisin waktu sama mereka," gumam Zea kemudian mengganti pakaiannya.
Yang tadinya Zea memakai daster Doraemon kini menjadi setelan baju olahraga Yang memang biasa Zea pakai untuk joging. Zea mengambil sepatu sportnya dari rak sepatu. Lalu keluar dari kamar, menuju ruang tamu. Tampak Zea dan Zia sudah lengkap dengan sepatu mereka juga.
"Cepetan pake sepatu Lo," ucap Zeo memerintah.
"Iya-iya, sabar ngapa?" ucap Zea sedikit dengan nada kesal.
Tanpa menunggu lama Zea langsung memakai sepatunya.
Zia langsung menggandeng tangan Zea.
"Ayo kak," ajaknya.
"Iya sayang, pelan-pelan aja jalannya." Zia langsung menarik Zea keluar rumah. Diikuti Zeo di belakangnya.
Memang sudah Zeo dan Zia rencanakan sejak tadi malam, bahwa mereka akan mengajak Zea joging hari ini. Selain untuk olahraga mereka juga ingin menghibur Zea.
"Ze kalau kamu kunci pintunya gimana mama sama Faira kalau mau kekuar?" tanya Zea, ketika melihat Zeo mengunci pintu rumah mereka.
"Mereka kan punya kunci cadangan," jawab Zeo santai.
"Kunci cadangannya ada sama gue." Ucap Zea.
"Lah kok bisa sama Lo?"
"Iya kemaren itu gue yang pegang karena mereka kan jarang pulang ke rumah." jelas Zea.
"Sekarang kuncinya dimana?" tanya Zeo.
"Gue letakkan di atas kulkas sih. Takutnya mereka nggak ngelihatnya."
"Yaudahlah kak. Nggak usah terlalu Lo pikirin, lagian kalau mereka niat nyari pasti dapet. Mereka punya hp pasti digunain. Tinggal telpon gue atau Lo kan beres." jelas Zeo.
"Tapi hp gue di kamar, lupa bawanya." ucap Zea lagi.
"Gue bawa hp," ucap Zeo.
Padahal tidak. Zeo berbohong. Bukan bermaksud sengaja hanya saja hari ini Zeo ingin menghabiskan waktu bersama saudaranya, kalau dia membawa ponselnya. Secara tidak sengaja pasti nanti dia akan larut dalam mode diamnya. Yaitu fokus pada ponselnya saja. Zeo tidak mau itu.
"Gue mau full time sama kalian hari ini." Gumam Zeo.
"Ze ayo," teriak Zea yang mulai menjauh.
"Iya ayo bang, malah ngelamun." tambah Zia lagi.
"Iya," sahut Zeo.
Kemudian berlari mengikuti kedua saudaranya itu. Menyamakan langkanya dengan Zea dan Zia. Bukan hak sulit untuk mengejar ketertinggalannya. Karena lari adalah rutinitasnya sehari-hari.
Jangan lupa like dan kasih komentarnya ya:-)
Maaf kalau typo masih banyak bertebaran
__ADS_1