Zeazlan

Zeazlan
Pertemuan


__ADS_3

Bunyi klakson yang bersahutan terdengar jelas, sahutan beberapa orang mesti hanya bisikan kecil tetap saja terdengar jelas ditelinga. Ditambah terik mentari yang sedang dalam puncaknya.


Zea mengelap keringat yang mulai mengalir di pelipisnya.


"Kapan sih lampu hijaunya," keluh seseorang di sebelah Zea. Dia menaiki motor Ninja biru. Meski memakai helm tetap saja terlihat dari gerak-geriknya yang terburu-buru.


Tinnnn


Pria itu kembali membunyikan klaksonnya.


"Lama banget sih!" pekiknya.


"Sabar kali mas, semua orang juga pengen cepat. Tetapi ikuti aturan," ucap seorang wanita di sebelah Zea. Wanita itu tampak lebih dewasa dari Zea, mungkin berumur bekisar 23 tahun.


"Remaja zaman sekarang, maunya cepat saja. Tidak punya sopan santun," tambah wanita itu lagi.


Pria itu hanya menatap datar wanita di sebelah Zea itu. Dan Zea hanya diam saja tidak berniat untuk ikut-ikutan.


Tidak lama kemudian lampu hijau menyala. Semua orang langsung melajukan kendaraannya tanpa kecuali Zea.


Zea melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Menuju sebuah komplek perumahan tidak jauh dari rumahnya. Tidak perlu lama akhirnya Zea sampai di tempat tujuannya.


"Sepertinya ini rumahnya," gumam Zea.


Kemudian Zea berjalan menuju gerbang rumah itu. Rumahnya tidak terlalu besar, namun tetap saja terlihat mewah. Tampak juga dua buah mobil mewah di bagasi rumah itu. Dan Zea tahu satu mobil itu adalah mobil milik pemesan salad buahnya. Jadi sudah pasti Zea berada di rumah yang tepat.


"Assalamualaikum," teriak Zea dari luar gerbang. Namun tidak ada sahutan.


Zea kembali mengucapkan salam, namun hal yang sama terjadi. Zea menekan tombol bel rumah yang ada di sebelah kiri gerbang. Tidak lama seorang satpam datang.


"Non Zea ya?" tanya satpam itu.


Zea mengerutkan alisnya. Satpam itu mengetahui namanya? Karena Zea merasa baru pertama kali bertemu dengan satpam itu. Aneh.


"Bapak kok tahu nama saya?" tanya Zea penasaran.


Satpam itu tersenyum hangat.


"Tentu saja non. Tadi den Rio bilang bawa akan ada temannya yang datang dan namanya itu Zea," jelas Satpam itu, yang bernama Adi. Zea membaca nametagnya.


Sudah gue duga. Batin Zea.


"Masuk aja non!" suruh pak Adi.


"Nggak usah pak. Saya buru-buru, jadi saya titip saja pesanan Rio sama bapak," ucap Zea lembut.


"Maaf non, tapi tadi den Rio bilang kalau non sudah datang di suruh masuk dulu," tolak pak Adi.


"Tapi pak---"


"Sekali lagi maaf non, saya tidak bisa membantah perintah den Rio," sela pak Adi langsung.


Zea menghela napas pelan. Sampai sebuah suara mengalihkan pandangannya.


"Kamu udah Dateng Ze? Kenapa nggak masuk aja? Malah ngobrol sama Mang Adi di sini," tanya Rio. Kemudian menghampiri Zea.


"Hmm gue buru-buru," jawab Zea cepat. "Tadinya gue mau nitipin pesenan lo sama satpam lo. berhubung o udah ada, ini pesenannya." Zea memberikan bungkusan salad buah itu kepada Rio. Rio langsung menerimanya.


"Tapi uang gue di dalam, gue ambil bentar ya." Zea mengangguk. Kemudian Rio langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Saya permisi non," pamit Adi.


Zea hanya mengangguk dan tersenyum singkat.


Tidak lama Rio kembali dengan membawa selembar uang seratus ribu kalau memberikannya kepada Zea.


Zea langsung menerimanya. lalu memasukkannya ke dalam dompetnya dan mencari beberapa uang pecah untuk kembalian.


"Kembaliannya ambil aja," seakan mengerti gerak-gerik Zea.


"Terima kasih," ucap Zea.


Kemudian Zea berjalan hendak menuju motornya yang terparkir di depan rumah Rio. Namun gerakannya terhenti karena cekalan tangan seseorang.


Mata Zea menatap datar lengannya yang di pegang oleh Rio. Jangan lagi !.


Rio langsung melepas cekalannya.


"Maaf," seakan mengerti tatapan tidak suka Zea.


"Gue nggak bermaksud mau nahan lo. Tapi gue pengen lo ke rumah gue bentar aja," mohon Rio.


"Gue nggak bisa. Gue banyak pesenan," tolakan langsung terucap dari bibir Zea.


"Bukannya ada reseler lo yang bisa anter,"


"Gue cuma pengen Lo masuk bentar aja," ajak Rio lagi. Dan sekali lagi Rio memegang lengan Zea.


"Lo di rumah sama siapa?" tanya Zea datar.


Rio tersenyum singkat. Namun senyuman itu, tidak dapat tertebak maksudnya.


"Gue di rumah sama mama,"


Zea menatap Rio dalam. Penuh kebohongan.


"Gue nggak bisa. Gue harus pergi." Zea menghempas kasar tangan Rio. Kemudian berlari menuju motornya. Kali ini Rio tidak lagi menahannya.


Seperginya Zea, terlihat Rio mengepal kuat tangannya sampai kukunya memutih.


"Arrgggghhhh!!!" teriak Rio.


"Ada apa den?" tanya Adi yang langsung lari begitu mendengar suara majikannya.


"Nggak papa. Pergilah!" ucap Rio dingin.


Tanpa menunggu lama Adi langsung meninggalkan Rio yang terlihat emosi.


"Lagi-lagi lo nolak gue Zea. Tapi gue nggak akan menyerah untuk dapetin lo, kita lihat aja nanti!"


Kemudian Rio masuk ke dalam rumahnya.


 


***


 

__ADS_1


Zea menggenggam kuat lengannya. Lengan bekas cekalan Rio tadi. Zea membasuhnya dengan air lalu mengoleskan sabun. Kemudian membersihkannya kembali dengan air.


"Brengsek!!" gumam Zea emosi.


"Kenapa lo pegang tangan gue? Kenapa harus lagi?" tanpa terasa air mata Zea mengalir. Namun langsung di hapus kasar olehnya.


"Gue nggak boleh nangis! Lo kuat Ze, lo kuat," Zea menyemangati dirinya. kemudian


"Bahkan air dan sabun tidak cukup untuk membersihkan bekas ini." Ucap Zea.


"Kalau perlu pakai tanah sekalian," ucap seseorang tiba-tiba.


Zea langsung menoleh dan mendapati Zeo tengah bersandar di dinding degan tangan menyilang di dada menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Lo kira najis!" balas Zea. Kemudian mengelap tangannya yang basah dengan tisu hingga kering.


"Bukannya dia lebih dari najis," sindir Zeo.


"Gue tahu kak. Lo nggak perlu tutupi apa yang udah terjadi barusan,"


"Dia cuma pegang tangan gue. Dan nggak lebih," ucap Zea dingin.


"Kenapa? Lo berharap lebih?" ucap Zea lagi.


Zea melotot mendengar ucapan Zeo barusan. Apa maksud dari perkataan adiknya itu.


"Gue udah pernah bilang, jangan lagi berurusan dengan pria itu. Baik itu masalah sekolah ataupun dagangan, gue tahu Lo hanya bersikap layaknya sebagai penjual dan pembeli tapi ******** itu akan berspekulasi lain. Dan gue benci itu,"


Setelah mengatakan kalimat yang mampu membuat Zea mematung Ze langsung keluar dari toilet.


Memang tadi Zeo melihat Zea datang ke lapangan futsal dengan wajah tidak biasa, dan anehnya Zea langsung masuk ke dalam toilet. Hal itu tidak biasa Zea lakukan. Tanpa menunggu lama Zeo langsung mengikutinya, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi sampai ia mendengar suara Zea yang samar-samar. Zeo berusaha menguping ucapan Zea di dalam toilet. Mendengar ucapan Zea membuat emosinya naik tanpa menunggu lama Zeo langsung menghubungi salah satu temannya untuk menanyakan sesuatu dan informasi yang didapatkannya membuat emosinya meluap.


Sedangkan Zea, gadis itu hanya bingung bagaimana mungkin Zeo mengetahui apa yang sedang dia kerjakan tadi? Apakah Zeo mengikutinya? Itu tidak mungkin. Karena Zeo sudah ada di lapangan futsal sejak tadi siang.


Zea menghela napas kasar, memikirkan semua hal ini hanya membuatnya pusing.


Zea meraih dompetnya kemudian keluar dari toilet. Zea langsung kembali ke motornya dan mengambil pesanan teman-teman Zeo di dalam kotak khusus yang melekat di bagian belakang motornya. Lalu membawanya ke tempat dimana Zeo and team berkumpul.


Melihat Zea yang datang sontak semua tatapan mengarah kepadanya. Tentunya tatapan itu membuat Zea risih.


"Biasa aja kali ngelihatnya. Gue tahu gue cantik." ketus Zea kemudian melanjutkan langkahnya. Mereka yang mendapat perlakuan pedas dari Zea hanya mampu mengalihkan pandangan atau bersikap pura-pura tidak tahu.


"Cantik-cantik judes amat,"


"Tahu tuh, gimana mau laku."


"Siapa coba yang mau sama cewek galak begitu,"


Bisik-bisik tetangga mulai terdengar. Namun ucapan mereka terdengar bukan seperti bisikan lebih tepatnya sindiran. Namun Zea hanya membalasnya dengan sikap tidak peduli. Toh bukan urusan mereka Zea laku atau tidaknya.


Di sisi lain Zeo yang melihat kakaknya hanya mampu tersenyum singkat.


"Kakak lo masih aja judes ya Ze. Makin ngeri gue," ucap Bobi sembari meneguk air mineral miliknya.


"Tahu tuh udah kaya singa keluar kandang aja, siapa yang ngelihat dia pasti langsung di tendang," tambah Seno.


"Singa cantik lebih tepatnya," Romi ikut-ikutan.


"Kalian baru aja ngehina kakak gue loh," ucap Zeo dingin.


"Hehe becanda brother. Kita bukan ngehina cuma sedikit menyamakannya saja sama singa," dan ucapan Romi tadi berhasil mendapatkan lemparan botol air mineral dari Bobi.


"Sakit bancet!!" pekik Romi.


"Bodo! Lagian itu mulut lemes bener kaya cewe," cibir Bobi.


"Suka-suka gue mulut-mulut gue, kenapa lo yang sewot," balas Romi tidak terima.


"Gue nggak suka,"


"Ada apa ini? Lo nggak suka apa Bob?" tanya Zea yang sudah ada di tempat Zeo and team istirahat.


Romi menoleh, sungguh ia sangat mengagumi wanita yang ada di hadapannya ini.


"Gue kan sukanya sama kakak, jadi jelas gue nggak suka sama tuh bocah," jawab Bibi sembari menunjuk Romi.


"Kalo lo suka gue, homo dong pea," timpal Romi lagi.


"Sudahlah ribut Mulu dari tadi, nggak malu apa dilihatin sama Kaka Zea," akhirnya Seno bersuara.


"Udah biasa kali Sen," balas Zea. kemudian memberikan pesanan salad itu kepada Zeo.


"Ini guys pesenan kalian," kemudian ketiga teman Zea mendekat dan mengambil salad mereka masing-masing.


Tanpa menunggu lama, mereka langsung menyantap salad itu dengan lahapnya.


"Umm yummy, salad kak Zea memang selalu mantulll," ucap Romi di sela-sela makannya.


"Pelan-pelan aja makannya Rom," peringati Zea. Hanya dibalas anggukan olehnya.


"Manisnya pas," tambah Seno.


Zea hanya tersenyum kecil. Bahkan sangat kecil sampai tidak terlihat oleh orang lain. Namun Zeo tahu itu.


"Kalau gue sih ngerasa kemanisan," Bobi bersuara.


"Benarkah? Berarti kamu nggak suka manis dong," Zea langsung bertanya.


Bobi tersenyum singkat. Menelan buah yang masih ia kunyah. Gue suka kak, malah suka banget apalagi ini buatan lo. Batin Bobi.


"Gue suka manis kok kak. Cuma ini salad manisnya nambah dua kali lipat karena ngelihat kakak,"


Zea menatap Bobi datar. Apa ini? Bobi menggombal di depannya. Sungguh satu hal yang memuakkan bagi Zea. Namun Zea tidak ingin memperlihatkan rasa tidak sukanya itu tetapi tidak juga merespon ucapan Bobi.


Zeo hanya menahan tawanya melihat tidak adanya reaksi kakaknya ketika diberi gombalan oleh sahabatnya itu.


"Gue balik Ze. Kalau lo udah siap latihan telpon aja, entar gue jemput. Gue masih harus nganter pesanan." Zeo hanya membalas ucapan Zea dengan acungan jempol saja.


Tanpa menunggu lama Zea langsung pergi meninggalkan Zeo dan teman-temannya.


Melihat Zea yang sudah jauh. Sontak tawa Zea pecah.


"Lo baru aja ngegombali es batu?" cibir Zeo.


"Hahahah," Seno dan Romi masih tertawa melihat ekspresi wajah Bobi yang kalah malu.


"Ejek aja terus. Kawan jatoh bukannya di tolong ini malah di ledekin," kesal Bobi.

__ADS_1


"Gue udah pernah ngingetin kali Bob, dapetin hati Kak Ze itu susah. Lo aja yang ngeyel" ucap Zeo.


Kemudian menutup cup bekas salad buah miliknya yang telah habis lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Gue kan cuma usaha Ze. Lo seharusnya sebagai sahabat itu ngedukung,"


"Gue udah dukung dan udah restuin lo sama kak Ze. Lo nya aja yang kurang usaha," balas Zeo.


"Mungkin gombalan lo terlalu receh,"


"Masa iya lo gombalin kak Ze pake bahasa salad ini nambah manis dua kali lipat karena ngelihat kakak. Lo kata kak Zea gula." cibir Romi. Meniru gaya bicara Bobi tadi. Bobi langsung melempar Romi dengan botol mineral milik Zeo. Namun Romi berhasil mengelak kali ini.


"Anda kurang beruntung," ucap Romi remeh.


Sontak tawa mereka kembali pecah melihat wajah cemberut Bobi. Dan hal itu membuat Bobi semakin kesal.


"Baru kali ini gue ngelihat Sorang playboy galau gara-gara gagal modusin cewek," tambah Seno lagi.


"Terus aja ledekin. Gue bakal buktiin kalau kak Zea bakal gue dapetin," ucap Bobi kemudian bangkit dari duduknya menuju lapangan futsal.


"Idih ngambek," ucap Romi.


Namun tidak dipedulikan oleh Bobi.


"Kayak cewek lagi pms aja lo," tambah Seno lagi.


"Biarkan sana anak perawan lagi ngambek," kemudian Romi dan Seno kembali tertawa.


Sedaangkan Zeo hanya menatap punggung kakaknya yang semakin mengecil. Kapan lo akan buka hati kak?.


 


***


 


Zea mendengus kesal. Lagi-lagi ia mendapat tatapan penuh dari semua orang. Dari tatapan kagum sampai tatapan benci. Inilah menjadi alasan mengapa Zea sangat malas jika harus datang ke lapangan futsal Zeo. Tatapan orang-orang yang tidak di kenal begitu membuat Zea risih. Zea berjalan cepat menuju parkiran motor, sungguh ia ingin cepat pergi dari situasi intimidasi ini. Namun tiba-tiba.


Bruk


Seorang menabrak Zea, dan karena hal itu tubuh Zea tidak terkendali dan oleng sudah pasti dia akan jatuh ke tanah. Zea menutup matanya.


Namun apa ini? Zea tidak merasakan sakit. Malahan dia merasakan ada tangan yang menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Zea membuka matanya perlahan.


Terlihat seorang pria yang tersenyum manis kepadanya.


"Aaaaaa lepasin gue," pekik Zea.


Dengan cepat pria itu langsung melepas tubuh Zea, dan alhasil bokong Zea menyentuh tanah.


"Auuu pantat gue sakit," ringis Zea. Kemudian Zea langsung bangkit dari duduknya.


"Lo gila ya, lo jatuhin gue tiba-tiba. Lo kira pantat kue besi apa?" omel Zea.


Pria itu hanya tersenyum singkat.


"Malah senyam-senyum, lo kira gue tertarik sama pesona lo yang biasa aja gitu,"


"Dengan lo ngomong gitu itu tandanya lo udah tertarik sama gue," jawabnya enteng.


"Idih pede gila lo," cibir Zea. "Minta maaf kek, udah salah juga."


"Sorry cantik, gue nggak sengaja nabrak lo. Tapi tenang aja gue bakal tanggung jawab kok, apa ada yang luka?" tanya pria itu.


"Nggak perlu," sinis Zea. " Makannya jalan tuh pake mata," tambah Zea.


"Jalan itu pake kaki cantik,"


"Nama gue bukan cantik, jadi stop panggil gue cantik," Zea semakin kesal dengan pria itu. Karena sungguh tidak sopan karena memanggil Zea sesukanya saja.


"Tapi gue lebih suka panggil lo cantik," balas pria itu.


"Karena lo emang cantik," tambah pria itu lagi. Lalu mengedipkan sebelah matanya.


Zea menarik napas dalam. Mencoba mengontrol emosinya. Sungguh tatapan mata pria itu sangat memuakkan baginya.


"NAMA GUE ZEA BUKAN CANTIK. JADI STOP PANGGIL GUE CANTIK," ucap Zea menggebu-gebu.


Pria itu tersenyum puas. Kemudian memegang tangan Zea, seperti bersalaman.


"Gue Azlan," ucapnya.


Kemudian pergi dari hadapan Zea. Zea hanya mematung di tempat. Sialan!!. Batin Zea.


 


***


 


"Ze lihat tuh kakak lo kenapa marah-marah gitu?"


Ucapan Seno menarik perhatian Zeo. Zeo langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Seno.


"Itu bukannya bang Azlan ya?" tanya Romi.


"Kenapa kak Zea marah-marah sama bang Azlan?" tanya Romi lagi. Namun tidak ada yang menjawab karena tidak ada yang tahu. Namun tatapannya mengarah ke Zeo.


"Lo nanya gue? Gue nanya siapa? Buyut lo," bukannya menjawab Zeo malah mengajak ribut dengan ucapannya itu.


"Lo kan adiknya makannya gue tanya lo," ucap Romi membela dirinya.


"Lo juga tahu kan Rom gue dari tadi di sini bareng kalian. Ya mana gue tahulah kakak gue kenapa ribut sama bang Azlan," jawab Zeo seadanya.


Kemudian Zeo berjalan masuk ke dalam lapangan futsal, karena waktunya mereka latihan kembali.


"Lo nggak susulin Ze?" tanya Seno.


"Nggak perlu. Kak Zea bisa ngurus dirinya sendiri," jawab Zeo.


Seno dan Romi hanya mengangguk paham. Lalu mengikuti kapten mereka ke dalam lapangan.


**Semoga kalian suka dengan ceritanya:-)


maaf kalau masih banyak typo yang bertebaran


jangan lupa untuk berkomentar

__ADS_1


salam sayang Author


@Ailierisa**


__ADS_2