Zeazlan

Zeazlan
Untuk Zea


__ADS_3

Aku merasa mimpiku sudah terkubur cukup dalam, namun Zeo membongkarnya dan memberikan harapan itu lagi.


-Zea Ulya Praisa-


Zea menatap datar pria di hadapannya itu. Entah mengapa ingin sekali menendangnya lalu mencampakkan dirinya ke laut. Supaya Tidka bertemu lagi dengan dirinya. Sudah tiga kali Zea bertemu dengan Azlan kurang dari dua puluh empat jam. Hello? Apakah bumi sesempit ini? Kenapa harus manusia menyebalkan ini yang selalu Zea temui.


"Nggak usah segitunya ngelihatin gue. Entar jatuh cinta." Goda Azlan dengan senyuman cerianya.


"Idih!! Nggak akan." Tolak Zea cepat.


"Sekarang emang iya, kan Lo nggak tau besok? Bisa aj kan Lo kejedot kreta api terus jatuh cinta sama gue." Ucap Azlan asal.


Hal itu membuat Zea membulatkan matanya.


"Lo doain gue dapet musibah?" pekik Zea.


"Ya nggaklah,"


"Terus itu apaan?"


"Emang gue bilang apa?" tanya Azlan balik.


"Lo doain supaya gue jatuh cinta sama Lo."


"Aamiin," balas Azlan.


Zea semakin kesal dengan sikap Azlan. Kesabarannya mulai habis.


"Lo ya, benar-benar buat gue kesel dari tadi."


"Jangan marah-marah aja cantik. Entar cantiknya hilang." Goda Azlan lagi. Sungguh melihat wajah kesal Zea menjadikan kesenangan tersendiri baginya.


"Bodo amat!!!"


"Amat jangan di panggil-panggil, dia masih jualan siomay."


"Au ah, nyebelin banget Lo."


Azlan hanya tertawa puas melihat wajah murka Zea. Cantiknya bertambah dua kali lipat ketika marah menurut Azlan.


Azlan berjalan mendekati Zea yang sedang bersilang dada. Menyadari pergerakan Azlan Zea tubuh Zea langsung tidak santai, hal itu dikarenakan posisi Azlan yang semakin mendekat ke tubuhnya. Dia tidak dapat menghindar karena tubuhnya terkunci oleh gerbang gedung ini.


"Lo mau ngapain?" tanya Zea pelan. Zea berusaha menguasai kegugupannya. Entah mengapa jantungnya mulai berdegup di atas normal kali ini.


Ya Allah jantung Zea kenapa? Kok kenceng banget detaknya? Nih cowo mesum denger nggak ya? Kalau sampai denger mati banget pasti gue. Gerutu Zea dalam hati.


Azlan menyadari Zea yang gugup karena sikapnya. Azlan menikmati wajah Zea yang mulai memerah, entah mengapa pemandangan ini lebih lucu dibandingkan Mr Bean yang ada di televisi.


Zea sedikit menahan tubuh Azlan yang mulai menempel padanya. Bahkan saat ini tangan Zea sudah berada di atas dada bidang Azlan. Zea menutup matanya, entah mengapa hal itu secara refleks ia lakukan.


Azlan menatap dalam wajah Zea, yang saat ini matanya Zea pejamkan. Azan terkekeh ringan.


"Lo ngapain merem? Ngira kalau bakal gue cium?" ucap Azlan, tetapi lebih terdengar seperti cibiran.


Sontak Zea langsung membuka matanya. Lalu mendorong kasar tubuh Azlan agar menjauh dari dirinya. Namun yang terjadi malah Azlan yang kurang keseimbangan sehingga terhuyung ke belakang diikuti dengan Zea di atasnya karena Azlan menarik tangan Zea.


Zea tidak merasa sakit karena tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Azlan. Zea membuka matanya perlahan, dan Zea mendapati wajah Azlan tepat di depan wajahnya. Tetapi bukan wajah marah yang Azlan berikan melainkan wajah teduh. Entah mengapa wajah Azlan membuat Zea seakan terhipnotis, sehingga tidak sadar dengan posisi dirinya dan Azlan yang tersungkur di tanah.


Sama halnya dengan Azlan, ia begitu menikmati wajah cantik Zea. Entah mengapa wajah ini membuat dirinya candu dan menagih. Bahkan wajah inilah yang sudah membuat dirinya tidak tidur semalaman karena terus memikirkannya. Wajahnya yang putih, bola mata kecoklatan, bulu matanya yang lentik bak semut beriring serta pipi chubby nya yang menambah keimutan wajah gadis di hadapannya ini. Bahkan Azlan tidak merasakan berat sedikit pun ketika tubuhnya di timpa oleh Zea, karena terlalu sibuk menatap wajah cantik gadis ini.


"Cantik," gumam Azlan.


"Gue suka sama Lo Zea."


Ucapan Azlan tadi menyadarkan Zea sepenuhnya. Entah mengapa kata sakral itu membuat sakit di hatinya kembali terbuka. Padahal sudah seharusnya Zea tidak lagi mengingat luka itu.


Zea langsung bangkit dari posisinya yang terlihat tidak baik itu. Kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Entah mengapa dadanya mulai terasa sesak. Matanya mulai memanas. Namun Zea harus menahannya, jangan sampai cairan bening itu lolos dari tempatnya.


Azlan bangkit dari tidurnya. Menatap Zea yang memunggunginya. Dia sadar apa yang baru saja dia katakan. Namun itulah kenyataannya. Dia memang menyukai Zea. Sejak pertama kali mereka bertemu. Yaitu ketika di lampu merah. Ketika dirinya yang tidak sabaran menunggu lapu merah, Azlan melihat Zea disana. Namun pada saat itu Zea tidak berkomentar apapun tentang apa yang sudah dirinya lakukan. Dia hanya diam, bahkan terlihat tidak peduli. Entah dia tidak peduli atau memang sengaja tidak ingin peduli dengan orang lain. Dan rasa suka itu kembali tumbuh ketika Azlan bertemu Zea di lapangan futsal. Zea yang terburu-buru sampai menabrak dirinya, pada saat itu Azlan dapat melihat jelas wajah cantik gadis itu yang mampu membuatnya tidak tidur semalaman karena memikirkannya. Dan karena terus kepikiran akhirnya Azlan sengaja mengikuti Zea joging bahkan sampai ke tempat ini.


"Maaf kalau kata-kata gue buat Lo marah. Tapi gue cuma ngomong apa adanya." Ucap Azlan.


Zea hanya diam. Bahkan untuk berbalik badan saja ia tidak sanggup.


"Gue suka sama Lo Ze. Mungkin ini terlalu cepat untuk di ungkapkan. Tapi asal Lo tahu gue bukan tipe orang yang suka memendam apa yang gue rasa, itu makannya gue ngomong langsung sama Lo,"


"Gue ngomong gini bukan untuk minta jawaban Lo kok. Gue tahu kalau gue suka sama Lo, bukan berarti Lo juga harus suka gue kan?"


"Gue akan tunggu Lo suka sama gue Ze. Dan gue bakal buktiin kalau gue bisa buat Lo suka sama gue."


"Jangan terlalu percaya diri." Akhirnya Zea kembali bersuara.


Azlan tersenyum mendengar suara lembut Zea. Meski saat ini terdengar sangat dingin. Melebihi deretan es di kulkas kantin futsal.


Azlan mendekati Zea. Dan pemandangan yang membuat Azlan terkejut adalah ketika melihat gadis di hadapannya itu menangis. Kenapa Zea menangis? Apakah ungkapan darinya membuat Zea sedih?. Azlan mulai panik.


"Ze Lo nangis? Kenapa nangis sih?"


"Lo nangis karena gue bilang gue suka Lo ya? Kan gue cuma berusaha jujur aja, kalau Lo nggak suka sama gue juga nggak masalah


Tapi please jangan nangis,"


Zea menghapus air matanya yang memang sudah mengalir sejak tadi. Entah kenapa cairan bening itu keluar dari jalurnya. Entah ini tangisan sedih atau senang. Zea bahkan tidak tahu sama sekali.


"Gue pengen sendiri. Lo pergi aja, tinggalin gue sendiri." Ucap Zea dingin. Bahkan Ebih dingin dari tadi. Ucapan itu seakan Tidka ingin ada penolakan sama sekali.


"Tapi Lo kan,"


"Tinggalin gue sendiri!!" bentak Zea, kali ini emosinya mulai memuncak.


Zea menarik napasnya dalam, berusaha mengontrol emosinya.


"Gue mau sendiri, mending Lo pergi sekarang. Atau gue nggak mau ketemu Lo lagi sampai kapanpun." Ucap Zea dengan tatapan kosong ke depan.


Mendengar ucapan Zea yang lebih seperti ancaman bagi Azlan membuat nyali Azlan menciut. Azlan lebih memilih mengalah lali pergi meninggalkan Zea sendiri.


"Oke, gue pergi. Lo baik-baik disini ya. Assalamualaikum." Kemudian Azlan berjalan menjauhi Zea. Keluar dari pekarangan gedung itu.


Tidak lama dari kepergian Azlan tadi, Zeo datang dengan membawa selembar kertas.


"Kak," panggilnya.


Zea menoleh, menatap adiknya yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Lo kenapa?" melihat wajah Zea yang sedikit kusut bahkan matanya mulai sembab karena menangis tadi.


"Gue?"


"Gue kenapa?" tanya Zea balik. Zea tidak ingin Zeo tahu apa yang baru saja terjadi. Bukan ingin menutupi tapi jika Zeo tahu maka dipastikan akan terjadi baku hantam setelah kejadian ini.


"Mata Lo sembab banget,"


Lo juga tahu kan gue nangis tadi." Ucap Zea mengingatkan.


"Iya sih. Tapi kok kaya baru nangis ya." Heran Zeo. Kemudian mengusap pelan pipi mulus Zea.


"Tuh kan lembab. Lo habis nangis kan, kak?"


"Kenapa nangis sih? Nggak habis apa tuh air mata nangis mulu." Omel Zeo.


Zea mengerutkan mulutnya. Menunjukkan kekesalannya karena ucapan Zeo.


"Ini keinget Ze. Lo sih lama banget, jadi gue sampe berkeringat di sini." Alibi Zea.


"Ya sorry. Tadi temen gue ngajak ngobr dulu, kan nggak enak kalau gue tinggal langsung." Jelas Zeo.


Kemudian Zeo memberikan sebuah kertas kepada Zea.


"Apa ini?"


"Formulir," jawab Zeo datar.


Zeo menarik Zea untuk berjalan menuju motor mereka terparkir.


"Formulir apaan?" tanya Zea.


"Udah isi aja, besok kasih ke gue." Perintah Zeo.


"Lo mau daftarin gue jadi TKW Ze? Gue belum tamat kali Ze, masih sekolah juga. Main daftar-daftar aja. Lagian gue nggak punya paspor."


Zeo menghentikan langkahnya. Membuat Zea menubruk pelan tubuh adiknya itu, lalu kemudian menatapnya kesal.


"Lo kok berhenti mendadak sih? Kalau mau berhenti kasih kode dulu apa nggak bisa sih," omel Zea.


"Lo sih nyerocos aja. Mulut udah kaya mercon rame bener." Cibir Zeo lagi


"Namanya juga cewek. Wajar aja kali."


"terserah Lo mah. Gue kan selalu salah."


"Bagus deh kalau sadar diri,"


"Terus ini formulir apaan sih?" tanya Zea masih penasaran.


Zeo menatap intens kakaknya itu. Membuat Zea bergidik ngeri.


"Mata Lo kaya setan, serem banget." Ucap Zea sembari mengusap wajah Zeo kasar dengan wajahnya.


"Lo kakaknya setan," balas Zeo.


"Idih, emang Lo adik gue?"


"Siapa juga yang bilang Lo kakak gue."


"Oh jadi gitu,'


"iya,"


"Yaudah."


Dan akhirnya mereka saling diam. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut satu sama lain. Zeo terus berjalan menuju motornya diikuti Zea dibelakangnya.


Setelah sampai ke tempat dimana mereka memarkirkan motor itu. Zeo merogo saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah brosur dari sana. Lalu memberikannya kepada Zea.


"Apa ini?" tanya Zea.


"Baca dulu, baru nanya." Ucap Zeo, kemudian duduk di atas motornya.


Zea langsung membaca brosur itu, Zea memicingkan matanya. Berusaha memahami isi dari brosur itu.


"Maksudnya apaan sih ini. Nggak ngerti gue." Tanya Zea lagi. Padahal sebenarnya Zea malas membaca brosur itu, bukan karena tidak mengerti hanya saja moodnya sudah sangat buruk sejak tadi. Alhasil Zea menjadi malas melakukan apapun.


Zeo menghela napas. Memakai helmnya sebentar.


"Itu brosur penerimaan siswa untuk sekolah musik. Dan kenapa gue kasih Lo formulir nya, karena gue mau daftarin Lo ke sekolah ini." Jelas Zeo.


Mata Zea membulat tidak percaya. Dia terkejut sekaligus senang. Zea langsung menubruk tubuh Zeo, memeluk erat adiknya itu.


"Lo serius kan Ze. ini bukan prank, kan?" lirih Zea. Kali ini Zea kembali menangis lagi.


Mendengar ucapan kakaknya itu, Zeo tertawa ringan.


"Ya nggaklah." Zeo melepas pelukan Zea. Kemudian memegang bahu kakakanya itu.


"Kan gue tadi udah janji bakal ngasih tau Lo sesuatu yang pastinya buat Lo seneng kak. Dan inilah yang mau gue tunjukin. Bukannya Lo emang dari dulu pengen sekolah musuh."


Zeo tersenyum singkat, namun sedetik kemudian senyumannya berubah menjadi tatapan sendu. Zeo menyadari perubahan mimik wajah kakaknya itu.


"Kenapa? Lo nggak seneng, kak?" tanya Zeo.


"Bukan gitu Ze, gue seneng kok. Bahkan seneng banget, karena ini yang gue pengen dari dulu. Tapi,"


"Tapi kenapa?"


"Bukannya sekolaj ini pasti mahal biayanya." Tanya Zea lirih.


"Gue nggak mau nyusahin Lo Ze, dengan biaya itu."


Zeo menatap dalam Zea. Tersenyum hangat kepada kakak perempuannya itu.


"Lo tenang aja Kak. Gue punya cara gimana Lo bisa masuk dan sekolah musik ini gratis."


Zea mengerutkan keningnya.


"Maksud Lo?" tanya Zea bingung.


"Iya kak, sebenernya sekolah ini baru aja di buat dan sekolah ini kebetulan milik temen gue dan saat ini mereka sedan melakukan promosi untuk sekolah mereka. Sebenernya sekolah ini sudah berdiri beberapa tahun sih, dan karena kemarin adalah anniversary berdirinya sekolah musik ini, mereka membuat sebuah promosi yaitu untuk siapapun yang mau masuk ke sekolah ini tanpa biaya. Dan salah satu prosesnya ya dengan ngisi formulir ini." Jelas Zeo panjang lebar, sedangkan Zea hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Ngangguk doang, paham nggak?" protes Zeo.


"Paham. Terus setelah ngisi formulir harus ngapain lagi?' tanya Zea.


"Pertanyaan bagus."

__ADS_1


"Lo harus buat sebuah Vidio dimana di situ Lo sedang mainin alat musik." Jelas Zeo


"Dan terakhir ngumpulin vidionya itu lusa. Jadi Lo harus segera buat visinya." Tambah Zeo.


"Gue buat Vidio mainin alat musik. Gue cuma bisa maen piano dan gitar, itu juga masih dalam tahap belajar. Gimana dong?" ucap Zea khawatir.


"Nggak papa, seenggaknya coba aja buat vidio sebaik mungkin. Gue percaya kemampuan Lo udah cukup baik kak. Apa salahnya di coba kan, meski sekarang lo jarang pegang tuh alat musik, gue yakin kemampuan Lo nggak mungkin hilang."


"Terus gue harus maen piano atau gitar?" tanya Zea. "Menurut Lo?" Zea meminta pendapat Zeo.


"Gue rasa lebih baik piano."


"Kenapa piano?" tanya Zea.


"Karena di jaman sekarang ini, dari sepuluh orang anak lajang lima belas yang bisa maen gitar. Dan cewe juga udah banyak yang pandai maen gitar, jadi menurut gue kalau Lo maen gitar itu udah biasa dilihat dan pastinya bakalan ngurangi nilai Lo dan kesempatan supaya bisa masuk ke sekolah musik itu sangat tipis."


Zea menatap Zeo datar. Tanpa ekspresi, namun sedetik kemudian senyum di wajah Zea terukir. Dan entah mengapa hati Zeo menghangat melihat senyuman manis dari kakaknya itu.


Gue harap senyuman itu terus ada di wajah Lo kak. Batin Zeo.


"Tumben Lo pinter Ze."


"Gue emang pinter dari orok kali kak. Lo aja nggak sadar. Udah ah buruan naik, Lo kan mau belanja. Udah mau sore ini."


"Nyesel gue muji."


"Muji-muji aja kali kak, jangan ada penyesalan."


"Tapi mah emang gitu sih," Zeo menjeda ucapannya.


"Penyesalan selalu datang di akhir, kalau di awal itu namanya pendaftaran." Ucap Zeo tidak jelas.


Zea memukul pelan helm Zeo.


"Ngomong apaan, sih? Kagak jelas tahu nggak." Cibir Zea.


"Emang sulit sih memperjelas hubungan yang tidak pasti. Apalagi kalau cuma bertepuk sebelah tangan." Tambah Zeo lagi.


"Sekali lagi Lo ngomong kalimat nggak jelas itu Ze, siap-siap aja gue tendang terus gue karungi." Ancam Zea.


"Sadis bener Lo kak," Kemudian Zeo mulai menyalakan motornya.


"Bodo amat!!"


Zeo hanya tersenyum mendengar ucapan Zea.


Zeo menarik tangan Zea supaya melingkar di perutnya.


"Pegangan!! Nanti Lo terbang pula karena gue balap."


"Lo balap, gue slending Lo jadi belacan." Ancam Zea lagi.


"Sadis bener sih kak. Cewe mah harusnya lemah lembut."


"Suka-suka gue." Ketus Zea. " Udah ah ayo buruan jalan!!" teriak Zea.


"Kagak usah teriak-teriak juga kali. Kita nggak di hutan dan Lo juga bukan Tarzan, kak."


"iya-iya."


Kemudian Zea mempererat pelukannya kepada Zeo lalu meletakan kepalanya di bahu Zeo. Entah mengapa Zea merindukan saat-saat sepeti ini, dimana dahulu sering ia lakukan terhadap ayahnya. Bahu ayahnya yang sering menjadi sandaran untuknya. Namun saat ini bahu itu hanyalah angan-angan Zea saja. Tetapi Zea bersyukur saat ini dia memiliki Zeo yang dapat menjadi pengganti sandaran itu. Bahu yang dulu kecil dan lemah itu sekarang terlihat kuat dan kekar. Cukup kuat untuk menopang dirinya dikala lelah.


"Gue sayang sama Lo Ze." Bisik Zea pelan. Namun masih terdengar oleh Zeo meskipun Ia memakai helm. Zeo hanya tersenyum mendengar bisikan halus dari kakaknya itu.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak tadi. Tangan pria itu terkepal kuat melihat Zea yang begitu dekat dengan Zeo.


"Sialan!!!" Umpatnya.


* * *


"Assalamualaikum," ucap Zea melengking. Suaranya yang cukup memekik itu membuat Zeo mengusap-usap telinganya.


"Lo makan apaan sih kak? Suara udah kaya toa masjid," cibir Zeo.


"Berisik," sinis Zea.


"Idih, tatapannya mematikan!" Zeo bergidik ngeri. Memilih diam, dam memegang erat kantongan plastik yang berisi beberapa buah di dalamnya. Mereka memang sengaja pergi ke pasar untuk belanja beberapa buah, supaya Zea tidak terlalu terburu-buru jika ada pelanggan yang memesan saladnya di pagi hari. Terkadang ada juga pelanggan yang memesan di pagi hari, dan katena hal itu Zea harus bangun cukup pagi untuk menyiapkannya. Meski jam tidurnya harus menjadi korban, Zea tetap bersyukur setidaknya dengan inilah dirinya masih bertahan hidup hingga saat ini.


"Assalamualaikum," ulang Zea sama melengking nya dengan yang pertama.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu," ucap seorang wanita yang cukup berumur. Zea kenal siapa wanita ini. Dia adalah asisten rumah tangga di rumah pamannya, yaitu Antoni.


"Bu Jum, Zia ada di dalam kan?" Zea bertanya untuk memastikan.


"Iya non. Masuk aja!" ucap perempuan yang di panggil Bu Jum itu mempersilahkan.


Zea dan Zeo melangkah masuk ke dalam rumah yang terbilang cukup mewah ini. Rumah dimana dirinya dulu sering sekali bermain dan bercengkrama dengan keluarganya, sayangnya rumah ini sudah tidak lagi miliknya. Yah, rumah ini adalah rumah keluarga Zea, namun semenjak ibu Zea meninggal banyak hal yang berubah. Baik dari pekerjaan ayahnya, gaya hidup bahkan sampai perekonomian keluarga yang menyebabkan rumah ini harus dijual karena ayahnya yang bangkrut. Alhasil Zea harus pindah ke rumah yang lebih kecil dan menetap hingga saat ini. Dan ketika saat itulah ayahnya mencoba memulai lagi apa yang sudah hilang, dan usahanya cukup baik dan menghasilkan hasil yang baik. Tetapi itu hanya sementara Zea dan adiknya rasakan, keadaan membaik itu berakhir bersamaan dengan datangnya dua manusia yang saat ini menguasai rumahnya, harta ayahnya bahkan diri ayahnya juga. Miris sekali jika dipikirkan, ayahnya yang berjuang untuk anak-anaknya tetapi tidak sedikitpun anak-anaknya merasakannya.


Zea mendudukkan dirinya di sebuah sofa di ruangan itu, semerbak harum mawar menyeruak di hidungnya. Dia tahu benar bahwa Tantenya sangat menyukai harum bunga indah namun berduri ini. Seperti hidupnya terlihat indah oleh orang lain, namun sebenarnya penuh duri dan kepahitan. Karena Zea adalah orang yang begitu pintar untuk menutupi semua masalahnya. Katakanlah dia pandai memanipulasi keadaan tetapi hanya dengan cara itu dia dapat menipu semua orang agak mereka percaya bahwa dia sedang baik-baik saja. Dan hal itu berhasil. Namun tidak dengan Zeo, dia sangat hapal apa yang kakak perempuannya itu rasakan.


"Kok sepi banget? Bu Jum om sama Tante belum pulang ya?" tanya Zeo kepada asisten rumah tangga pamannya itu.


"Belum den, mungkin sebentar lagi pulang." Jawabnya.


"Den Zeo sama non Zea mau minum apa?" tawar Bu Jum.


"Eh nggak usah Bu. Kalau haus nanti Zea bisa ambil sendiri, oh iya Zia dimana ya?" Zea bertanya karena sedari tadi ia melihat keadaan di rumah ini, namun tidak ia temui adik perempuannya itu.


"Ada non, di kamarnya neng Rara." Jawab Bu Jum.


"Yaudah saya mau nemuin mereka dulu," kemudian Zea bangkit dari duduknya. Berjalan menuju kamar adik sepupunya itu.


"Lo mau kemana Ze?" tanya Zea melihat Zeo juga bangkit dari duduknya.


"Dapurlah, kemana lagi? Gue laper." Jawab Zeo seadanya, lalu melenggang pergi menuju tempat dimana makanan tersedia.


Zea hanya menggut-manggut mendengar ucapan adiknya. Lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.


Sampainya di pintu kamar Rara, ditandai adanya nama gadis itu yang terpampang jelas di depan pintu, dengan beberapa hiasan berwarna pink di sekitarnya. Zea tahu adik sepupunya itu sangat menyukai warna pink.


Tok tok


"Zia, kamu di dalam?" ucap Zea di sela ketukannya.


"Dek," panggil Zea lagi.


Tidak lama pintu kamar terbuka. Zia yang melihat kakaknya langsung memeluknya. Diikuti dengan Rara yang melakukan hal yang sama.


"Eh eh," kaget Zea


Zea sedikit berlutut untuk menyamakan tingginya dengan dua adiknya itu.


"Maaf ya, tadi kakak lagi ada urusan." Ucap Zea. " Kamu nungguin lama ya?" sesak Zea.


"Tapi nggak papa kok, kan Zia di sini sama Rara. Jadi nggak kesepian." Ucap Zia dengan senyuman, tidak ingin melihat wajah kakaknya sendu.


Zea langsung ikut tersenyum.


"Iya dong, kan ada Rara di sini kak. Jadi Zia nggak akan kesepian." Tambah Rara. Zea kembali tersenyum. Kemudian mencubit kecil hidung Rara.


"Makasih ya, udah mau temenin Zia,"


"Seharusnya Rara yang bilang makasih, kan Zia yang temenin Rara di sini. Kalau nggak ada Zia pasti Rara di rumah hanya berdua sama Bu Jum. Karena mami papi lagi pergi." Tolak Rara.


"Iyaiya."


"Kalian udah makan?" tanya Zea. Keduanya mengangguk bersamaan.


"Terus tadi kalian ngapain di kamar? Sedang bermain sesuatu?" tanya Zea.


Keduanya kembali mengangguk bersamaan. Entah mengapa sangat lucu melihat kedua gadis kecil ini begitu kompak ketika mengangguk.


"Main apa?" tanya Zea lagi.


"Main penyihir dan putri," Rara menjawab


"Iya kak, Zia jadi putrinya dan Rara jadi penyihirnya. Tapi penyihir baik." Kali ini Zia yang bersuara.


"Penyihir baik?"


"Iya kak, karena Rara kan selalu baik sama Rara jadi dia itu penyihir baiknya Zia supaya bisa ngalahin penyihir jahat." Jelas Zia.


"Terus siapa penyihir jahatnya?" tanya Zea penasaran.


Zia terdiam sejenak, terlihat dia sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Penyihir jahatnya ada di rumah kita,"


Zea mengerutkan alisnya. Namun sekian detik Zea paham siapa maksud dari perkataan Zea.


"Kakak boleh ikut main?" tanya Zea.


"Boleh," jawab keduanya kembali kompak.


"Terus kakak jadi apa dong?" tanya Zea lagi.


Tampak keduanya sedang berpikir.


"Umm Zia tahu kakak jadi apa. Kakak jadi ibunya Zia aja. Jadi ibu ratu nya putri. Karena Kak Zia itu pengganti bunda bagi Zia. Dan Zia rasa peran kakak pas kalau jadi bunda Zia." Usul Zia. Namun perkataan adiknya itu membuat Zea membisu. Zea tahu adiknya itu begitu merindukan sosok yang sama dirinya rindukan juga.


Kami semua rindu bunda. Batin Zea.


* * *


Zeo melangkahkan kakinya dengan santai, sesekali ia bersiul memecahkan keheningan yang ada di dapur. Dengan santainya ia menuangkan air mineral yang ada di meja ke dalam gelas lalu meneguknya hingga tandas.


Zeo melihat ke arah kolam berenang yang tidak jauh letaknya dari dapur. Ia melihat ada seorang perempuan yang duduk disana. Ditandai dengan rambut hitamnya yang tergerai indah. Namun Zeo merasa sosok itu tidak asing.


Zeo berjalan mendekati sosok itu, ia berjalan mengendap-endap supaya sosok itu tidak menyadari kehadirannya. Semakin lama, jaraknya semakin dekat dengan sosok itu. Namun sebuah suara mengalihkan perhatiannya.


"Assalamualaikum, Rara Mami pulang."


Zeo menoleh kembali ke sosok yang ia lihat tadi. Namun apa yang terjadi? Sosok itu menghilang. Zeo langsung lari ke tempat dimana sosok itu berdiri.


"Huh, kenapa hilang? Siapa perempuan itu? Kenapa cepat banget hilangnya," ucap Zea bingung.


Zeo melihat ke sekitar kolam berenang, namun tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Bahkan Zea sedikit mendongak ke kolam berenang, siapa tahu sosok itu bersembunyi di dalam air. Namun nihil. Sosok itu sama sekali tidak ada.


"Kok gue jadi merinding ya, apa yang gue lihat tadi hantu?" Zeo bergidik ngeri. Namun logikanya seakan mengatakan bahwa itu bukanlah hantu atau jenis makhluk halus lainnya.


"Tapi gue ngerasa nyata banget ngelihat nya. Gue yakin tadi itu bukan hantu." Yakin Zeo.


Kemudian teriakan Zea yang begitu menusuk telinga. Tanpa menunggu lama dan tidak ingin melihat singa mengamuk Zeo langsung berjalan memenuhi panggilan kakaknya.


* * *


Zeo berjalan menuju ruang tamu dengan langkah cepat. Ia tahu jika Zea sudah meneriakinya pasti ada hal yang tidak baik.


Zeo terdiam ketika melihat Zea yang saat ini sudah menangis tersedu-sedu di pelukan Fida. Fida mengedipkan matanya seraya mengangguk. Mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja.


"Nangis aja sayang, nggak papa. Mungkin dengan nangis beban kamu akan sedikit berkurang." Zea semakin mengeratkan pelukannya kepada Fida.


Fida adalah adik satu-satunya dari almarhumah ibu Zea. Wajah Fida dan ibu Zea begitu mirip bahkan sama persis, hanya sebuah lesung pipi yang membedakannya. Dan hal itu dimiliki oleh Fida, Tante Zea.


Zea sangat jarang mengunjungi Fida dan Antoni. Bukan karena tidak ingin. Hanya saja, Zea tidak mau tangisnya akan pecah ketika bertemu dengan Fida. Sosoknya begitu mengingatkan Zea dengan ibunya yang saat ini sudah tidak lagi bersama. Hangatnya pelukan Fida sama persis dengan pelukan ibunya. Zea rindu pelukan ini, bahkan sangat merindukannya. Namun hal itu bukannya membuat Zea semakin senang karena adanya sosok kedua dari ibunya. Namun membuat dirinya semakin enggan bertemu dengan Fida. Entah karena dia lelah menangis atau karena hal lain.


Zea menghapus kasar air matanya. Membenarkan bajunya yang sedikit bergeser.


"Ze ayo pulang." Ucap Zea dingin.


"Hah," Zeo gelagapan.


"Tente baru aja pulang, masa kamu sama Zeo mau pulang juga. Kan kita baru juga ketemu Zea." Ucap Tidak lembut. Jujur dia sangat merindukan keponakan kesayangannya ini.


Semenjak kakaknya meninggal pribadi Zea yang ceria dan manja berubah drastis. Gadis remaja itu menjadi lebih dingin bahkan cuek. Kemandiriannya berkembang pesat. Namun sulit untuk mendapatkan hatinya saat ini.


"Udah malem, nanti mama nyariin kami." Tolak Zea mentah-mentah.


Antoni melihat keponakannya itu hanya menghela napas. Dia tahu benar Zea begitu keras kepala saat ini. Sudah untuk di luluhkan.


Sebenaya alasan Antoni mengajak Zia untuk menemani putri mereka hanya untuk mempertemukan istrinya dengan keponakannya ini. Namun sepertinya Zea tidak menyukai hal itu.


Dapat dilihat dari awal ketika mereka pulang, wajah tidak nyaman Zea terlihat jelas. Seakan ingin pergi sejak tadi. Namun rasa sakitnya mungkin terlalu besar membuat tangisnya tidak tertahan lagi.


"Ze tunggulah sebentar. Kita makan malam bersama dulu." Tawar Antoni.


"Nggak usah om. Zea dan Zeo udah makan tadi," tolak Zea lagi. Saat ini nada bicaranya begitu dingin. Bahkan Zeo dapat merasakan dinginnya ucapan kakaknya itu seakan tidak ingin lagi ada ajakan untuknya.


Antoni menatap istrinya sayu. Seakan mengatakan, bersabar lah.


"Yasudah kalau begitu, Tante tidak bisa memaksa kalian untuk tetap disini. Mama kalian pasti sudah menunggu dan khawatir." Ucap Fida.


Zea hanya tersenyum getir. Namun hanya sekilas, tidak ada yang melihatnya.

__ADS_1


Khawatir? Bahkan kami pergi dari rumah itu selamanya juga mereka tidak akan peduli.


Fida dan Antoni memang tidak tahu kelakuan jahat ibu tiri Zea. Karena Zea selalu menutupinya dan memberikan sikap bahwa mereka bahagia. Meski adanya orang baru yang menggantikan posisi ibu mereka.


Meski Zea tidak pernah menceritakan apa yang mereka alami. Fida tahu, kehidupan keponakannya itu tidak baik-baik saja. Dapat dilihat dari pribadi Zea yang semakin lama semakin berbeda. Bahkan sangat berbeda jauh ketika ibunya masih ada dulu. Zea seakan menyimpan luka yang begitu dalam, namun enggan untuk berbagi.


"Ze, panggil Zia di kamar Rara. Gue tunggu di depan." Kemudian Zea beranjak dari tempatnya berdiri. Menuju pintu keluar. Tentunya dengan berpamitan dengan Antoni dan Fida. Meski Zea itu dingin tetapi sopan santun masih ia terapkan.


Sampainya di luar rumah tubuh Zea kembali bergetar tanda ia menangis lagi. Namun dengan cepat Zea menghapus matanya karena tidak ingin siapapun melihatnya.


Tetapi siapa sangka ada sepasang mata melihat dirinya yang menangis tadi. Dia menatap sendu ke arah Zea. Dan Zea tidak menyadari jika dirinya sedang diperhatikan.


Maaf!!.


* * *


Azlan menghempas kasar tubuhnya. Berbaring di kasur king size-nya. Tubuhnya begitu gerah bahkan juga hatinya. Dinginnya AC seakan tidak berpengaruh sedikitpun.


"Aaaarggggghhh,"


"Gue kenapa sih?" ucap Azlan kesal.


Duduk secara spontan.


"Kenapa hari gue sesak ya, ngelihat Zea akrab banget sama cowok lain."


"Aaaaaaa," Azlan teriak frustasi.


Pintu kamar terbuka.


"Lo ngapain teriak-teriak Lan? Mau jadi Tarzan?" tanya Azlina yang hanya menunjukkan kepalanya dari balik pintu.


Azlan menatap Azlina dengan tatapan membunuh.


"Santai kali tuh mata! Lo kira gue takut, gue siram pake air mandi cicak tekejot kantong Lo,"


"Sadis banget Lo jadi kakak."


"Emang sejak kapan gue jadi kakak yang baik?" balas Azlina.


"Bodo amat ah kak. Gue lagi males berdebat, lagi nggak mood."


"Kek cewe pms aja Lo, nggak mood," cibir Azlina. Kali ini dia masuk ke dalam kamar Azlan. Lalu berbaring di tempat tidur adiknya itu.


"Gue serius kak,"


"Idih mau di seriusin, emang gue cewe apaan." Azlan menatap tajam kakaknya.


Azlina hanya tertawa puas karena berhasil membuat adiknya ini kesal. Moment yang begitu langka.


"Lagian Lo kenapa pake teriak-teriak, kedengaran sampe kamar gue tahu nggak."


"Masa," ucap Azlan tidak percaya.


"Kamar gue kan kedap suara."


"Lo lupa, alat kedap suaranya kan udah di lepas."


Azlan hanya menatap Azlina datar. Ya percuma saja dia merespon lebih, toh Azlina sudah mendengar apa yang dia teriaki tadi. Sepertinya Azlan memang sudah mulai tua. Hal kecil saja dia lupakan.


Yah namanya juga hal terlupa, pastinya juga hal kecil. Krena hal yang begitu besar tidak akan mungkin terlupakan.


Sama seperti dia, jika kamu sudah dilupakannya berarti dirimu bukanlah hal besar lagi di hidupnya. Jadi berhentilah berharap.


Azlina menatap lekat adik laki-lakinya itu.


"Lo kenapa? Ada masalah?"


Azlan hanya diam.


"Tentang cewe kemaren lagi?" tanya Azlina lagi. Seakan paham dengan pikiran adiknya.


"Hmm,"


"Kenapa lagi sama tuh cewek?" entah mengapa Azlina jadi banyak bertanya kali ini.


"Kepo Lo kak,"


Azlina menghela napas pelan.


"Lan gue kakak Lo, gue halal banget Lo itu gimana. Lo nggak pernah-pernahnya galau karena cewek."


Azlan melirik kakaknya sekilas. Ternyata Azlina lebih tahu dirinya bahkan dibandingkan dirinya sendiri.


"Gue tadi lihat Zea bareng sama cowo lain, gue lihat dia bahagia banget dan pastinya akrab juga." Azlan mulai bercerita.


"Lo cemburu?" tebak Azlina langsung.


"Entahlah kak, gue bahkan bingung sama perasaan gue." jelas Azlan dengan mata terpejam.


"Emang yang Lo rasain gimana?" tanya Azlina.


"Sesak, sakit, kesel. Mau marah tapi nggak tahu ke siapa."


Tawa Azlina langsung pecah mendengar penuturan Azlan.


"Kok malah ketawa sih. Bikin makin kesel aja. Nyesel gue cerita tadi." Azlan mendengus kesal.


"Ciee ada yang cemburu hahahah. Jatuh cinta ternyata adik gue." Tawa Azlina kembali pecah.


Kemudian Azlina beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar Azlan. Namun sebelum Ia keluar ia menatap Azlan sebentar. Tatapannya kembali serius.


"Kalau Lo beneran cinta, perjuangin! Jangan jadi pecundang yang cuma berdiam diri di kamar karena galau."


"Kalau Lo lihat dia bareng sama cowo, Lo pastiin dulu siapa cowok itu. Bisa aja kan adiknya atau sepupunya. Kalau memang cowoknya, tetap kejar kalau beneran cinta."


"Selama janur kuning belum melengkung, masih banyak jalan untuk Lo dapetin dia. Intinya berjuang." Kemudian Azlina pergi dari kamar Azlan meninggalkan adiknya yang terperangah mendengarkan kata-katanya tadi.


"Itu tadi yang ngomong beneran kakak gue?"


"Kesambet setan apaan dia?"


"Gue dengeeerrr ya Laaaannnn," teriak Azlina dari luar. Namun dapat terdengar oleh Azlan.


"Ternyata tembok juga punya telinga," gumam Azlan dengan suara yang sangat pelan. Takut Azlina mendengarnya lagi.


* * *


Zea berjalan pelan setelah turun dari motornya. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu lelah. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena beberapa hal yang ia lalui hari ini begitu menguras emosinya, sehingga tenaganya begitu terkuras.


Zea membuka pintu rumah mereka.


"Nggak di kunci," heran Zea.


"Mungkin mereka nemuin kunci cadangannya." Ucap Zeo yang berdiri di belakang Zea dengan Zia yang ia gendong ala bridal style. Zia tertidur di motor sejak di perjalanan pulang tadi. Mungkin gadis kecil itu juga lelah.


"Mungkin aja," jawab Zea.


"Kak," panggil Zeo.


Zea menoleh ke arah Zeo.


"Itu mobil siapa?" tanya Zeo. Sembari menunjuk sebuah mobil Lamborghini berwarna hitam yang terparkir di halaman rumahnya.


"Gue harap mereka nggak bawa laki-laki hidung belang ke rumah kita," desis Zea.


"Kalau sampai mereka berani ngelakuin hal itu, berarti mereka udah bosan tinggal di rumah ini."


Kemudian Zeo dan Zea masuk ke dalam rumah mereka. Namun pemandangan di ruang tamu membuat Zea terpaku. Terlihat dua manusia lawan jenis sedang bermesraan dengan menyuapi makanan satu sama lain. Dan hal itu membuat Zea merasa jijik. Bukan karena siapa orang yang melakukannya, hanya saja tempat yang mereka gunakan untuk bermesraan ini adalah rumahnya. Dan Zea tidak suka itu.


"Lo, ngapain disini?" bentak Zeo. Ketika menyadari ada dua manusia di ruang tamu.


Pria itu menatap tajam Zeo.


"Emang salah dateng ke rumah pacar sendiri." Ucapnya santai.


"Pacar?"


"Iya, gue sama Rio udah pacaran. Kenapa kalian nggak suka hah?" Faira bersuara.


"Biasa aja kali. Nggak perlu ngegas juga ngomongnya, nggak takut apa tuh urat di leher keseleo," cibir Zea. Faira menahan emosinya, berusaha tetap bersikap kalem di hadapan Rio.


Dasar muka dua. Batin Zea.


"Ze, bawa Zia ke kamarnya." Ucap Zeo memerintah.


"Tapi kak," seakan khawatir dengan keadaan Zea jika bersama dengan dua manusia itu.


Zea memejamkan matanya sekali. Mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. Zea tahu adik laki-lakinya itu khawatir dirinya akan sakit hati. Dan yang jelas hal itu tidak akan terjadi.


"Yang ambilin minum dong," pinta Rio manja. Dengan suara yang terdengar menjijikkan bagi Zea.


"Kamu haus? Yaudah sebentar ya, aku ambil dulu." Kemudian Faira pergi menuju dapur.


Zea hendak berlalu meninggalkan Rio yang sendiri, namun tangannya di cekal oleh pria itu.


Zea menatap tajam ke arah Rio. Kemudian menghempaskan dengan kasar.


"Jangan sentuh gue!!" ucap Zea dingin. Kemudian meninggalkan Rio yang mencoba memanggil namanya dengan pelan. Tidak mungkin dia akan berteriak keras, pasti Faira akan mendengar suaranya.


"Ini sayang minumnya," ucap Faira dengan nampan berisi minuman di tangannya.


Rio kembali duduk. Lalu meminum jus jeruk yang di bawa Faira hingga tandas tak tersisa.


"Sayang, kamu haus banget kayanya." Ucap Faira heran.


"Iya," jawab Rio singkat.


Entah mengapa penolakan-penolakan Zea setiap harinya, membuat diriya merasa gerah. Emosinya sering tidak terkendali hanya karena Zea.


Niatnya berpacaran dengan saudara tiri Zea hanya untuk membuat Zea cemburu dan kembali lagi ke pelukannya. Namun apa yang ia lihat tadi, membuat dirinya tidak yakin bahwa Zea masih mencintainya.


Apakah luka yang kuberikan begitu dalam? Sehingga tidak ada penyembuhnya?.


* * *


Di dalam kamar Zea membaringkan dirinya ke tempat tidur. Setelah membersihkan diri ia ingin langsung tidur. Entah mengapa hari ini menjadi hari yang paling tidak ia suka. Intinya dia ingin tidur cepat hari ini.


Namun belum lama ia memejamkan matanya ponselnya bergetar.


Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.


Maaf untuk yang kedua kalinya.


Dan pesan itu sukses membuat Zea semakin lelah. Siapa orang pengiriman pesan ini. Kenapa dia selalu mengirim pesan permintaan maaf? Sungguh membingungkan.


Sebuah pesan muncul lagi, dari nomor yang sama.


Lo cantik kalau lagi kesel


Lo juga cantik kalau lagi marah


Apalagi kalau lagi berkeringat dan kehausan cantik Lo nambah 90%


Apalagi pas Lo nggak mau minum satu botol sama gue😂😂😁


Zea membulatkan matanya, dia tahu benar siapa pengirim pesan ini.


DASAR COWOK MESUM GILAA!!!


✓✓


Zea menghela napasnya pelan. Baru saja ia ingin mendengarkan pikiran, sudah datang saja pesan yang memancing emosinya.


Ponselnya kembali bergetar. Dan jelas dari nomor yang sama. Namun kali ini adalah sebuah panggilan. Dengan cepat Zea langsung mengangkatnya.


"LO NGGAK PUAS APA BUAT GUE KESEL DAFI PAGI, KENAPA SAMPE RUMAH LO TAMBAH BUAT GUE KESEL,"


"*Santai cantik, jangan teriak-teriak kasian telinga gue."


"Tapi gue terharu tahu nggak, Lo langsung ngenalin gue tadi*."


"YA JELASLAH, COWOK MESUM KATAK LO UDAH KEBACA CARA NGIRIM PESAN."


"Udah kali neng, jangan teriak-teriak. Entar cantiknya hilang loh."


"BODO AMAT!!"


Kemudian Zea langsung mematikan ponselnya dan mencampakkannya asal. Zea lelah dengan hari ini. Dia perlu istirahat.


Gue harap besok bisa lebih baik dari hari ini. Harapnya dalam hati.


**Hai semuanya, terima kasih sudah baca sampai ke part ini.

__ADS_1


Maaf kalau masih banyak typo yang bertebaran.


Terus baca lanjutannya ya. Terima kasih**.


__ADS_2