Zeazlan

Zeazlan
Fans Zeo


__ADS_3

-Happy reading-


"Ini titipan dari si Firda dan ini dari cewek nggak tau gue namanya, dia cuma bilang ini sebagai ucapan terima kasih," Zea memberikan titipan dari dua gadis tadi kepada Zeo. Mereka sudah sampai di sekolah, dan saat ini berada di parkiran sekolah. Dan pastinya dengan tatapan kagum para cewek di sekitar ke arah Zeo. Awalnya Zea merasa risih akan tetapi Zea sudah terbiasa dengan semuanya, karena hal tersebut adalah makanan sehari-hari untuknya jika bersama Zeo. Terkadang Zea berpikir apakah adiknya seganteng Lee min hoo? Sampai-sampai hampir semua cewek di sekolah mengaguminya.


"Udah deh kak, lo bawa aja!"


ucap Zeo sembari merapikan rambutnya yang hitam di kaca spion motor matic miliknya itu.


"Kebanyakan, ada dua kotak ini. Dan isinya sama-sama brownis. Enek gue makannya,"


"Yaudah, gue bawa satu."


"Di makan, jangan lo buang!" peringati Zea.


"Gue nggak suka brownis kan lo juga tau kak. Entar gue kasih sama anak-anak futsal aja," ucap Zeo dengan senyum manisnya.


"Lo latihan futsal lagi hari ini?" tanya Zea.


"Iya, Minggu depan ada turnamen futsal antar sekolah. Nanti lo pulang sendiri bisa kan, soalnya gue pulang langsung ke lapangan futsal,"


"Lo latihan nggak di lapangan futsal sekolah?" heran Zea. Karena sekolah mereka memang memiliki fasilitas olahraga yang lengkap. Mengapa harus latihan di lapangan luar. Jika ada yang gratis kenapa harus memilih bayar. Ya itu pemikiran Zea yang memang realistis.


"Nggak,"


"Ada lawan yang ngajak main di luar. Ya hitung-hitung latihan lah," jelas Zeo. Kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas. Membuka salah satu aplikasi yang tertera di layar benda pipih itu. Tidak lama, munculah  sebuah notifikasi. Zeo pangsung memperlihatkan sebuah room chat miliknya dengan seseorang yang diberi nama kecebong Arab kepada Zea.


Alis Zea berkerut. Ingin tertawa dengan nama yang tertera di layar. Namun melihat isi pesannya membuat Zea mengurungkan niatnya.


"Mau pesan berapa?" tanyanya.


"Bentar gue tanya,"


Zea mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Tujuh porsi aja. Toping keju lima, coklat dua," jelas Zeo. "Yang coklat jangan pakai strauberi," tambah Zeo lagi.


"Oke,"


"Kapan mau di antar?" tanya Zea.


"Sekarang,"


"Hah!!" kaget Zea.


"Ya nggaklah. Gue juga tahu lo masih di sekolah."


"Sore aja. Jam biasa gue latihan," jelas Zeo.


"Oke. Gue yang nganter ke tempat latihan atau lo yang ambil?" tanya Zea.


"Anter aja," jawab Zeo cepat.


"Tapi gue Mager,"


"Niat jualan kagak neng? Masa apa-apa mager," cibir Zeo. "Malu sama umur," tambahnya.


"Lo aja ngapa yang ngambil," Zea mulai memelas.


Melihat Zea seperti itu sebenarnya membuat Zeo ingin muntah seketika. Jika tidak memikirkan bawa wanita ini adalah kakaknya mungkin Zeo sudah meninggalkannya sejak tadi.


Zeo menghela napas pelan.


"Gue nggak sempat kak. Gue nanti latihan full sampe malam," alasan Zeo.


"Yaudah deh. Parah lo jadi adik," ucap Zea kesal.


"Yang ikhlas dong mbak jawab iya nya," goda Zeo. "Sambil senyum gini ini," Zeo memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Sedangkan Zea hanya memberikan tatapan datarnya.


"Udah ah jangan begitu ngelihatinnya. Gue tau gue ganteng,"


"Iss najis!!" pekik Zea.


"Najis begini adik lo juga kali,"


"Siapa? Lo? Adik gue? Sejak kapan?"ucap Zea, seakan tidak mengakui Zea. Ya tentunya dengan nada bercanda.


"Wahai Tuhan ku tak layak ke syurgamu," Zeo mulai bernyanyi.


"Mulai gila adik gue," cibir Zea.


"Lah lo mulai amnesia, adik sendiri di lupakan. Jahat lo kak,"


"Dilupakan itu sakit tahu, apalagi pas sayang-sayangnya," tambah Zea, mulai bucin.


"Jijik gue denger kalimat lo,"


"Udah ah, pesenan nya cuma tujuh aja kan?" tanya Zea memastikan lagi.


"Iya kakak gue yang paling cantik," ucap Zeo dengan nada terpaksa.


"Jangan ngegas juga bambank!!" balas Zea tidak terima.


Zea menghela napas pasrah. Berdebat dengan Zea tidak akan ada habisnya.


"Gue nggak ngegas. Udah ah kesel gue lama-lama," ucap Zeo kemudian mulai berjalan meninggalkan Zea.


"Ze," panggil Zea lagi.


"Apaan lagi?" jawab Zeo mencoba bersabar.


"Lo yang ambil ya? Please!"

__ADS_1


"Sesekali gitu bantu gue. Soalnya gue males kalau ke tempat lo latihan. Di serbu cabe-cabean, stress gue lama-lama," keluh Zea.


"Justru itu gue mau lo dateng kak. Supaya gue dapat terhindar dari para cecabai itu,"


"Bahasa lo cecabai," cibir Zea. "Enak di lo nggak enak di gue. Habis suara dan tenaga gue untuk ngebuat mereka diem. Gue yang sesama cewek kadang malu tau nggak lo, kek nggak ada harga dirinya gitu, ngejar-ngejar cowok sampe segitunya. Apalagi modelannya kaya lo Ze. Ogah bener,"


"Kenapa jadi lo yang sewot. Mereka aja biasa aja." Balas Zeo.


"Zeo,"


"Hanny!!"


"Suamiku!"


"Ze sayang,"


Baru saja di ceritakan sudah ada saja para fans Zeo yang datang.


"Tuh kan, baru juga di ceritain,"


"Mati gue!" ucap Zeo.


"Gue nggak ikut-ikutan. Selamat mengurusi para cecabai itu," kemudian Zea melarikan diri. Karena jika Zea berlama-lama di tempat itu sudah pasti dia akan mendapat malapetaka dari para cewek yang menggemari adik laki-lakinya itu.


"Eh kak. Tunggu gue," teriak Zeo.


Dengan langkah cepat Zeo juga berlari. Namun di arah yang berlawanan dengan Zea.


*  * *


Sampainya Zea di kelasnya. Ternyata sudah ramai dengan para manusia yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Dari yang ngerjain tugas, main handphone, ngerumpi, tik tokan, sampai tidur di kelas. Zea tidak peduli itu. Tujuannya adalah satu tempat disana, yaitu deretan paling pojok bangku nomor dua.


"Pagi Ze," sapa Rio. Ketua kelas Zea. Lelaki yang sangat dia hindari namun apa boleh buat, mereka sekelas sudah pasti akan bertemu setiap harinya. Zea berusaha bersikap biasa saja bahkan terkesan cuek.


"Pagi," balas Zea seperlunya.


"Kamu sudah siap pr Fisika?" tanya Rio basa-basi.


"Sudah," jawab Zea cukup singkat padat dan jelas maknanya.


Rio menghela napas. Mungkin dia sadar bahwa Zea sedang tidak ingin berbicara banyak dengannya.


"Oh iya Ze, lo masih jualan salad buah?" ternyata Rio masih belum menyerah.


"Masih. Kenapa? Lo mau beli?"


Rio tersenyum menang. Ternyata harus dengan membahas masalah dagangannya dahulu baru gadis di hadapannya itu mau berbicara lebih dari satu kata kepadanya.


"Hmm... boleh deh, gue pesen dua ya yang keju. Antar ke rumah bisa?"


Sekarang gantian Zea yang menghela napas. Sebenernya Zea sangat tidak ingin berurusan dengan Rio. Tetapi pria satu ini terus saja mencari cara supaya berinteraksi dengan Zea. Tetapi tidak masalah lah bagi Zea. Yang penting dia pesan salad buah miliknya.


Zea memang mulai merintis berjualan salad buah dari kelas sebelas. Selama ibunya meninggal dan ayahnya yang menikah lagi, dari penghasilan dia jualan lah dia membiayai hidup dirinya dan dua adiknya. Dari dirinya yang masih menjadi reseller sampai owner. Cukup banyak rintangan dalam melewatinya. Tetapi Zea banyak bersyukur saat ini bisnis saladnya cukup maju, dan dia juga sudah memiliki sepuluh reseller tetap. Ya meski begitu Zea tetap sering turun tangan untuk mengantar pesanan salad buahnya.


Tuh kan singkat lagi. Batin Rio.


"Oke aku tunggu ya. Kalau bisa sebelum Maghrib ya," jelas Zeo.


"Iya," dengan terpaksa Zea memberikan senyuman kepada Rio. Dan hal itu sangat berefek pada Rio yang memang menyukai Zea. Senyum Zea itu sangat langka, bahkan lebih langka dari badak bercula satu. Dan momen seperti ini seharusnya diabadikan atau bahkan di dokumentasikan.


"Zea," panggil seorang gadis.


Dia putri, teman sebangku Zea sekaligus sahabatnya dari SMP hingga sekarang.


"Kamu siap Fisika Ze? ****** gue!! Belum siap lagi. Udah mau bel masuk juga. Gimana ya?" Putri mengeluarkan buku serta pena nya dengan buru-buru seperti di kejar-kejar setan.


"Udah. Kamu belum siap, kan?" tebak Zea. Dan hal itu sudah pasti benar. Memang sahabat Zea yang satu ini akan sangat panikan jika menyangkut tugas yang belum selesai. Tetapi tetap saja tugas itu tidak dia kerjakan di rumah. Terkadang Zea bingung dengan sifat dan sikap sahabatnya itu.


"Ini," Zea memberikan buku fisika miliknya.


"Makasih Ze. Lo sahabat terbaik gue sumpah," ucap putri dengan tangannya yang menyalin di buku. Memindahkan jawaban Zea ke buku miliknya.


"Giliran gini aja lo bilang gue sahabat," cibir Zea.


"Nggak ah. Kan Lo selalu jadi teman terbest gue,"


"Serah mah. Tuan putri mah bebas,"


"Gue putri Ze. Bukan tuan, jadi jangan panggil tuan putri. Gue bukan bapak-bapak sampe di panggil tuan," putri terus berbicara tanpa melihat Zea di sampingnya.


"Serah lo ah. Kesel gue," pasrah Zeo.


Zea mengeluarkan kotak brownis pemberian salah satu fans Zeo yang Zea ingat namanya Lili.


"Apaan tu?"


"Brownies," jawab Zea.


"Tumben beli beginian," sindir Putri.


"Nggak kerjaan gue beli brownis sampe sebanyak ini. Ambil, kalo lo mau." ucap Zea. Sembari memasukan sepotong brownis ke dalam mulutnya.


Putri menghentikan tulisannya lalu mengambil satu potong brownis. Namun sebuah amplop kecil terjatuh dari tangannya.


"Ze apaan ini,"


Zea melirik sekilas.


"Biasalah. Ini brownis dari fans Zeo." Jelas Zea.


"Boleh gue baca?" tanya Putri.


Zea mengangguk. Sekian detik Zea berpikir.

__ADS_1


"Jangan put!!" Putri menghentikan aktivitasnya yang hendak membuka amplop kecil berwarna biru muda yang sepertinya berisi surat itu.


"Kenapa?" heran Putri. Karena memang sudah biasa jika putri membaca surat-surat kecil dari para penggila Zeo.


Zea mengambil alih amplop kecil itu kemudian memasukkannya ke dalam saku.


"Yang ini berbeda?" tebak Putri.


Zea tersenyum, tenyata sahabatnya itu mampu mengetahui maksud ucapannya tanpa harus menjelaskannya lagi.


"Sepertinya begitu. Gue lihat ada perbedaan dari gadis itu dengan gadis-gadis lain yang suka sama Zeo," jelas Zea. " Itu makannya gue mau Zea sendiri yang baca ini," tambah Zea.


"Its okey. Gue boleh tahu namanya?" tanya Putri hati-hati.


"Lili. Namanya Lili, dia sekolah di SMA kita. SMA Turia."


"Lili?" dahi Putri mengerut. "Setahu gue di SMA Turia nggak ada yang namanya Lili deh,"


Putri mengatakan hal tersebut bukan tanpa alasan. Karena Putri adalah bendahara OSIS di SMA Turia. Jadi nama-nama siswa-siswi di SMA ini pasti setidaknya pernah dia baca di absen setiap kelas ataupun ketika berbicara dengan setiap bendahara kelas.


"Gue nggak mungkin salah Put. Gue yakin banget dia pake seragam SMA kita," tambah Zea lagi menyakinkan.


"Anak baru mungkin," tebak Putri.


"Gue sempat berpikir juga sih,"


"Tapi nanti gue coba cari tahu aja supaya kita nggak tebak-tebakan begini,"


"Itu lebih baik sih."


"Assalamualaikum,"


Keadaan kelas yang tadinya ricuh mendadak diam ketika sebuah salam dari seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk. Dia Bu Evi, guru fisika yang terkenal dengan ketegasannya. Serta suaranya yang melebih oktaf delapan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu," jawab anak-anak murid bersamaan.


"Sudah selesai tugas yang ibu berikan?" tanyanya dingin.


"Sudah Bu," jawab para siswa sebagian.


"****** gue Ze. Belum kelar juga tugasnya,"


Putri langsung cepat-cepat menulis sisa tugas yang belum selesai dia kerjakan.


"Lo sih ngomong aja,"


"Lo yang ngajak gue ngomong ya Ze,"


"Kenapa lo mau? Lagian lo pantang di pancing cerita, langsung aja nyamber. Dasar personilnya lambe turah," cibir Zea.


"Stttt... Ze. Gue lagi fokus, Jan ganggu," perintah Putri.


"Putri Anggika, kedepan! Kerjakan nomor satu," suara dingin Bu Evi seakan menjadi Sambaran petir untuk putri.


Tubuh putri menegang, bingung harus bagaimana.


"Udah sana kerjain aja ke depan. Lagian lo udah kelar kan ngerjain nomor satu nya," ucap Zea.


"Tapi Ze---"


"Putri kamu dengar nggak?? Ke depan ini bilang!!"


"Astagfirullah,"


"Ya Allah selamatkan Putri ya Allah. Jangan sampe putri di makan Bu Evi," human Putri.


"Bu Evi makan nasi Put, dia nggak doyan makan lo yang kurus kerempeng begitu,"


"Putri cepat," ucap Bu Evi lagi.


"Diam!!" bentak Putri.


"Apa kamu bilang? Diam? Kamu tidak sopan sama ibu ya putri,"


Padahal Putri mengatakan hal itu kepada Zea kenapa harus Bu Evi yang baper.


"Bukan gitu Bu, itu tadi anu bu--"


"Anu apaan?" Bentak Bu EVi langsung.


"Itu anu bu--"


"Ikut ibu ke kantor!!."  Potong Bu Evi langsung.


Kemudian Bu Evi  berjalan keluar kelas. Diikuti oleh putri di belakangnya.


Putri hanya menghela pasrah. Susah menghadapi guru yang lagi bad mood batinnya. Murid salah sedikit bawaannya langsung ke guru BK atau bahkan kepala sekolah.


"Sorry Put," ucap Zea merasa bersalah.


"Nggak usah merasa bersalah Ze. Bukan salah lo, Bu Evi aja yang lagi baperan hari ini. Lagi pms kali ya,"


"PUTRI," teriak Bu Evi lagi.


"Iya Bu iya,"


"Tuh kan baru juga di bilang udah teriak-teriak aja, kek orang hutan. Kalau bukan Tante gue udah gue slending,"


"Hus nggak boleh gitu," ucap Zea.


"Yaudah Ze, gue duluan. Nanti  ratu macan ngamuk pula, susah nanganinya nggak ada pawangnya soalnya,"


Zea hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Setiap hari pasti ada saja kesalahan yang dilakukannya. Dari terlambat masuk sekolah, tidak selesai tugas, ngisengin adik kelas bahkan guru muda. Putri juga pernah salah masuk ruang ganti, dia masuk ke ruang ganti baju cowok. Entah dia lupa atau memang sengaja masuk Zea tidak tahu itu. Dan alhasil ruangan BK laah tempat dia berakhir dari setiap tingkah jahil yang dia lakukan.

__ADS_1


Meski begitu gadis itu tetap santai saja. Ya Zea tahu itu, tentu saja dia santai dan tidak panik di bawa ke ruangan BK ataupun kepala sekolah. Karena sekolah mereka adalah milik kakek putri. Dan guru tidak akan berani membawa Putri ke ruangan BK kecuali Bu Evi, tantenya sendiri.


__ADS_2