Zeazlan

Zeazlan
Putri dan Zea


__ADS_3


Ini visual Putri ya.



Ini tentunya sudah tahu ya. Zea dengan seragam sekolahnya.


Selamat membaca. Happy reading.


* * *


Zea keluar dari kamarnya lalu turun ke dari lantai dua menuju meja makan. Zea dapat melihat semua orang tengah duduk di meja makan, kecuali Zeo. Mungkin adiknya itu masih sibuk di kamarnya. Senyum Zea terukir jelas melihat momen langka ini. Dia sungguh bahagia sekarang.


Zea seakan melihat keluarganya kembali lengkap. Ya, meskipun suasana tidak akan seperti dulu. Kondisi dimana ayahnya masih hidup. Namun kehadiran Antoni membuat Zea kembali merasakan kasih sayang seorang ayah.


"Pagi Bun," sapa Zea kepada Aisyah.


Aisyah yang melihat keadaan Zea jauh lebih baik di bandingkan kemarin, langsung menyunggingkan senyuman. Dia bahagia melihat Zea sehat seperti ini.


"Pagi sayang, sarapan dulu ya." Ucap Aisyah. Zea mengangguk.


"Pagi Om, pagi Rara, Zia." Zea menyapa yang lainnya.


"Pagi kak Zea," balas Zia dan Rara bersamaan.


"Pagi Ze. Oh iya, kamu yakin mau sekolah hari ini?" tanya Antoni sedikit khawatir. Pasalnya Zea baru siuman kemarin.


"Yakin Om. Zea kan udah mau ujian akhir sekolah Om, kebanyakan libur entar nggak lulus." Jawab Zea apa adanya.


"Bukannya sekolah kamu milik kakek Azlan, kan?" tanya Antoni.


"Ze kamu mau nasi goreng atau roti?" itu suara Aisyah.


"Roti aja Bun," mendengar jawaban Zea, Aisyah langsung memberikan sepotong roti dengan selai coklat kesukaan Zea.


"Iya Om, emang kenapa." Zea menjawab pertanyaan Antoni.


"Ya kan ada doi nggak mungkinlah nggak lulus," goda Antoni.


Zea menatap datar Antoni, sedetik kemudian senyumnya mengembang.


"Azlan itu pacar Zea om, bukan alat buat kelulusan sekolah." Balas Zea tegas. Setelah itu ia mulai memakan rotinya.


"Anak bunda, udah gede ternyata." Zea tersenyum.


Tidak lama setelah itu, seorang anak laki-laki turun dengan terburu-buru menuju meja makan.


"Selamat pagi semuanya," tentu saja laki-laki itu adalah Zeo.


Zeo meneguk susu milik Zea hingga tandas tanpa permisi, seenaknya saja.


"Eh susu gue," protes Zea.


Zeo tidak mempedulikan protesan Zea, dia beralih pada Aisyah lalu mencium tangan wanita itu. Setelah itu beralih pada Antoni.


"Nggak sarapan dulu Ze?" tanya Aisyah.


"Nggak sempat Bun, Zeo udah telat. Entar sarapannya di sekolah aja." Zeo beralih pada Zia dan Rara. Dia mencium pipi masing-masing gadis kecil itu.


"Ih bang Ze, bukannya izin. Kebiasaan." Zia marah, sedangkan Rara hanya tersenyum melihat itu.


"Yaudah Bun, Zeo berangkat ya."


"Eh enak aja, susu gue gimana?" ternyata Zea masih tidak terima dengan tingkah Zeo tadi.


"Halah kak, buat lagi juga bisa kan. Lagian susunya juga nggak ada nama Lo, jadi gue berhak loh ya minum." Jawab Zeo dengan entengnya.


Zea masih hendak membalas ucapan Zeo, Aisyah sudah lebih dulu memberikan segelas susu lagi pada Zea.


"Eh Bun,"


"Udah, ini susu kamu. Pagi-pagi jangan ribut, apalagi di depan makanan nggak baik."


Zea menghela napas pelan. Untung saja ada bunda, jadi Zeo selamat. Kalau tidak, habis tuh anak.


"Yaudah gue berangkat ya, kak Zea yang cantik."


"Eh tunggu Ze," instruksi Zea.


"Apaan lagi?" kesal Zeo. "Gue nggak bareng Lo hari ini, kan gue udah bilang dari tadi malam, kak."


"Dih siapa juga yang minta bareng,"


"Terus apaan?"


"Lo naik apa ke sekolah?" tanya Zea.


"Motorlah, ya kali naik kerbau."


Zea meraih kunci mobilnya yang ada di dalam tas, setelah itu ia lempar ke arah Zeo. Zeo dengan gesit langsung menangkapnya.


"Bawa mobil gue aja, gue tahu Lo mau jemput Lili kan?" Zeo langsung tersenyum.


"Tahu aja Lo."


"Ya iyalah, Zea." Ucap Zea bangga.


Setelah menerima kunci mobil itu, Zeo kembali melanjutkan langkahnya.


"Eh Ze," panggil Zea lagi.


"Apa lagi?" Zeo berusaha sabar.


"Salim dulu dong," Zea mengulurkan tangannya.


Zeo menatap sebentar Zea.


"Bukan muhrim,"


Zia dan Rara yang melihat itu langsung tertawa. Sedangkan Zeo, sudah pasti dia melarikan diri sebelum singa betina ngamuk.


Zea langsung kembali berbalik menatap rotinya. Menghabiskannya dengan rasa kesal. Tidak mungkin juga Zea mengumpat saat ini.


CUP


Tiba-tiba saja Zea merasakan kecupan singkat di pipinya. Dan ternyata itu Zeo.


"Bye-bye kak Zea. Gue berangkat, assalamualaikum."


Aisyah dan Antoni yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala saja.


"Bun Zeo sakit keknya. Rada-rada soalnya." Bisik Zea serius.


"Zea, adik kamu juga itu loh." Peringati Aisyah.


"Habisnya masih pagi udah bikin kesel."


"Oh iya, sejak kapan kamu punya mobil?" tanya Aisyah.


"Oh itu ulang tahun kemaren Tante Fida dan Om Antoni yang kasih," jawab Zea jujur.


Aisyah langsung menatap Antoni, meminta jawaban pada pria itu. Antoni menjawabnya hanya dengan sekali anggukan saja.


Tiba-tiba saja Zeo kembali lagi ke meja makan. Dan hal itu membuat semua orang terkejut bukan main.


"Astagfirullah, Lo ngapain balik lagi?" tanya Zea kaget.


"Gue ngucap salam bukannya di jawab, jawab dulu."


"He eh."


Semua orang yang ada di situ menatap bingung Zeo.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu Zeo sayang," itu suara Aisyah.


Mendengar jawaban lembut dari Aisyah, Zeo langsung tersenyum. Dia tidak berkata lagi dan langsung meluncur menuju pintu keluar.


"Tuh kan, beneran perlu di obatin Zeo Bun. Makin aneh,"


"Udah Ze, cepet habisin rotinya entar telat loh. Soal Zeo mah nggak usah di pikirin." Antoni akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Eh iya Om."


Setelah rotinya habis, Zea langsung meneguk susunya hingga habis.


Tiba-tiba saja ponsel Zea berbunyi. Zea langsung mengangkatnya.


"Halo,"


"Gue udah sampe simpang rumah Lo,"


"Oke, gue tunggu di depan rumah."


Setelah mengatakan itu Zea langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Zea berangkat ya Bun, Assalamualaikum." Zea langsung menyalami Aisyah dan Antoni bergantian. Tidak lupa juga Zea mencium Rara dan Zia, sama seperti Zeo tadi.


* * *


Zea dan putri berjalan menuju koridor kelas. Setelah berhasil datang ke sekolah tepat waktu dan tidak terlambat membuat Zea merasakannya lega. Hal ini merupakan suatu keajaiban bahkan suatu sejarah baru. Karena berangkat bersama putri tidak akan pernah tepat waktu. Bahkan selalu terlambat.


"Kenapa?" tanya Putri pada Zea.


Zea tersenyum lebar.


"Nggak, nggak papa."


"Muka Lo sedikit mencurigakan," Putri menatap Zea penuh selidik.


Dengan cepat Zea menepuk pelan jidat Putri.


"Lebay Lo!!"


Setelah melakukan itu, Zea langsung berjalan cepat meninggalkan Putri.


"Woi Ze, tungguin." Teriak Putri.


Tidak ingin tertinggal lebih jauh, akhirnya Putri sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dan langkah Zea.


"Di tinggalin Mulu gue, gimana coba nggak jomblo." Zea menoleh ke arah Putri.


"Lo sih, alay."

__ADS_1


"Yang penting kan, cantik." Ucap Putri dengan bangganya.


"Cantikan juga gue," balas Zea tidak mau kalah.


"Dih, kata siapa?"


"Azlan,"


"Yah, Kak Azlan mah kalau di suruh nentuin cantikan Lisa black pink atau Lo, dia mah pasti milih Lo." Cibir Putri. Zea langsung terkekeh.


"Dia kan udah dibutakan oleh cintanya sama Lo Ze, jadi yang cantik mah cuma Lo. Yang lain oplas,"


"Lebay Lo," Zea terkekeh mendengar ucapan Putri.


"Lo sih nggak percaya,"


Putri menoleh ke arah pintu gerbang. Putri melihat sosok yang membuat dirinya tersenyum jahil.


"Ze, ikut gue bentar." Ajak Putri.


"Kemana?"


"Udah ikut aja dulu." Tidak menunggu jawaban Zea, Putri langsung menarik tangan gadis itu.


* * *


"Ekhemm,"


Deheman cukup keras yang memang sengaja Putri buat.


"Ngapain sih put?" desis Zea. Zea sedikit bingung dengan tingkah aneh sahabatnya ini.


"Udah, Lo diem aja." Balas Putri.


Mendengar sebuah suara yang tidak asing baginya, Samudra langsung menoleh.


"Kalian ngapain di situ?" suara Samudra terdengar begitu berat.


Zea menelan salivanya. Di dalam hati Zea sudah merutuki Putri karena harus berurusan dengan guru killer satu ini. Padahal sudah jelas mereka datang tepat waktu tadinya.


Kalau sudah begini membangunkan singa tidur namanya. Apalagi melihat tatapan dingin Samudra. Begitu menyeramkan.


Zea mewanti-wanti supaya Putri tidak terlambat menjemputnya sejak tadi malam, semua itu karena Zea tidak ingin berurusan dengan Samudra.


"Berdiri," jawab Putri dengan santainya. Bahkan gadis itu sama sekali tidak menunjukan ekspresi takut.


Tampak Samudra menghela napas berat. Sebelumnya ia meminta satpam untuk menutup gerbang karena bel masuk tinggal beberapa menit lagi. Setelah itu ia berjalan mendekati Zea dan Putri.


Zea hanya mampu menahan napasnya. Sedangkan putri hanya bersikap biasa saja.


"Anak TK juga tahu kalau kalian itu sedang berdiri. Maksud saya itu apa yang kalian lakukan di sini?" Ucap Samudra lagi masih dengan nada dingin.


"Udah ah Put, yuk kita ke kelas aja." Ajak Zea pelan. Ingin mencari jalan aman saja.


"Sstt Ze, diem aja." Putri beralih pada Samudra.


"Bapak Samin yang baik dan rendah hati. Suka-suka saya dong mau ngapain di sini," balas Putri seenaknya.


Zea menyikut lengan Putri. Memberi peringatan pada gadis itu.


"Kamu mau saya hukum, Putri?" Samudra berusaha untuk bersabar.


"Hukum? Saya kan nggak buat kesalahan pak. Lagian bapak bilang kemarin nggak akan hukum saya lagi kalau saya nggak terlambat hari ini. Dan bapak lihat saya tidak terlambat datang ke sekolah tercinta ini, kan Pak Samin?"


Putri sengaja menekankan nama Samin kepada Samudra.


Samudra menatap Putri datar. Ekspresi pemuda itu sungguh sulit untuk di artikan.


"Kamu masuk ke kelas sekarang, atau saya hukum?" Samudra mulai meninggikan suaranya.


"Udah ah put, ayo ke kelas."


"Bentar Ze, Lo kalau mau duluan aja."


Zea hanya berdecak saja. Tidak mungkin juga Zea meninggalkan Putri dan Samudra berdua saja. Karena Zea tidak yakin putri akan mengalah dengan gurunya yang satu ini. Terkadang Zea bingung menghadapi sifat sahabatnya ini.


"Bapak tidak bisa hukum saya lagi sekarang," ucap Putri tegas.


Samudera mengerutkan dahinya. Namun ia tidak bersuara.


"Bapak udah janji kemaren, tidak akan hukum saya lagi kalau hari ini saya tidak terlambat datang ke sekolah. Jadi, sebagai guru bapak harus memberikan contoh yang baik. Ya salah satunya dengan menepati janji."


"Kapan saya janji sama kamu?" tanya Samudra langsung.


"Kemarin lah, kapan lagi? Bapak pikun?"


Samudra menghela napas sekali, sebelum memulai untuk berkata lagi.


"Saya nggak pernah janji sama kamu Putri. Saya cuma bilang kalau kamu nggak terlambat ke sekolah kamu nggak akan saya hukum seperti kemarin, dan karena hari ini kamu tidak terlambat. Ya kamu tidak dapat hukuman."


"Yaudahlah pak, sama aja juga."


"Tapi kalau besok kamu terlambat lagi, hukuman tetap berlaku." Ucap Samudra mengakhiri. Setelah itu ia berjalan berlalu meninggalkan Putri yang berdecak.


"Woi pak, nggak asik ah. Masa hukumannya terus berlaku." Teriak Putri.


"Udah ah put, ayo ke kelas." Ajak Zea untuk kesekian kalinya.


Mendengar itu, Putri langsung berdecak kesal. Tidak mungkin Putri mau lagi menerima hukuman dari Samudra. Meskipun tidaklah berat, tetap saja hukumannya begitu menyebalkan.


"Emang Lo di hukum apaan sama pak Sam, kemarin?" tanya Zea penasaran.


"Ngoreksi tugas siswa," jawab Putri tak ikhlas.


"Enak dong," Putri langsung membulatkan matanya.


"Enak? Enak apaan? Yang ada kesel." Putri melangkah menuju koridor kelas. Diikuti Zea di belakangnya.


"Kok kesel sih? Cuma meriksa tugas siswa kan nggak capek Put. Dari pada lari lapangan, kan?" ucapan Zea langsung membuat putri menghentikan langkahnya. Putri menatap Zea datar.


"Lo mau gue mati muda karena lari lapangan," Zea terkekeh.


"Ya nggak lah, becanda juga. Serius banget," Zea menarik lengan Putri untuk melanjutkan langkah mereka.


"Lagian Lo itu harusnya berterima kasih sama pak Sam, karena dia ngehukum Lo cuma meriksa tugas siswa. Karena dia tahu keadaan Lo," jelas Zea.


"Lo belain pak Samin, Ze? Sumpa Lo tega!!" ucap Putri dramatis.


"Mulai lagi alaynya."


"Habisnya Lo sih pake belain guru ngeselin itu. Kan gue kesel jadinya."


"Emang Lo kesel kenapa sih?" Zea sedikit merasa penasaran dengan sahabatnya ini.


"Kesel aja, ya karena hukuman dia itu gue jadi harus ngelihat muka dia yang menyebalkan tingkat dewa itu. Mending kalau ganteng, ini muka kayak tembok begitu, enek yang ada gue." Putri meluapkan kekesalannya.


"Hus nggak baik begitu. Lo sering denger cerita benci jadi cinta kan?" Zea menarik turunkan alisnya.


"Ya terus hubungannya sama gue apa, Zeze??"


"Ya manatau Lo sekarang benci sama pak Sam, besok atau mungkin lusa berubah jadi cinta."


Setelah mengatakan itu Zea langsung berjalan lebih cepat meninggalkan Putri.


"DIH ZEA, AMIT-AMIT!!!!! OGAH GUE SAMA MUKA TEMBOK BEGITU!!!"


Zea yang mendengar teriakkan Putri hanya cekikikan saja. Sedangkan orang-orang yang melihat putri seperti itu, memberikan tatapan yang berbeda-beda.


Mungkin saja sebagian dari mereka menganggap Putri mulai kehabisan obat. Atau mungkin berpikir kalau gadis itu perlu diruqyah, karena teriak-teriak di pagi hari seperti orang kerasukan setan.


* * *


Setelah bel masuk berbunyi, Zea dan putri langsung masuk ke dalam kelas. Karena sebentar lagi jam pelajaran pasti akan di mulai. Mengingat mata pelajaran yang akan Zea ikuti di jam pertama adalah pelajaran seni budaya. Dimana guru yang akan membawanya adalah Bu Afni, wali kelas mereka.


Zea merasakan sebuah getaran di saku bajunya. Ternyata getaran itu berasal dari ponselnya.


Zea langsung mengambil benda pipih itu dan mengecek sebuah notifikasi yang tertera di layar ponselnya.


AZLAN โค๏ธ


Ini Aku berangkat ke bandara. Kamu pasti udah di sekolah kan. Belajar yang rajin ya sayangโฃ๏ธ


Dengan cepat Zea langsung membalas pesan Azlan barusan.


**Iya, kamu hati-hati ๐Ÿ˜Š


โœ“โœ“


Hati-hati doang ๐Ÿ™„


Hati-hati sayang. Cepet balik yah๐Ÿ˜Š


โœ“โœ“


Siap ibu komandan๐Ÿ‘


Aku mau nelpon, bisa**?


"Selamat pagi anak-anak," tiba-tiba saja Bu Afni sudah masuk ke dalam kelas.


Dengan cepat Zea kembali mengetikan sesuatu pada ponselnya. Jangan sampai Azlan menelponnya di saat seperti ini.


Nggak bisa Lan. Bu Afni udah masuk kelas


โœ“โœ“


Zea dapat melihat Bu Afni mulai mengabsen para murid satu persatu.


**Yaudah nggak papa. Belajar yang bener, biar bisa jadi calon ibu yang baik buat anak-anak kita entar.


Dih emang udah yakin kalau gue bakal jadi istri Lo?


โœ“โœ“


Yakin lah.


Heh kok Lo sih๐Ÿ˜’


Terlalu percaya diri huh


โœ“โœ“


Biarin

__ADS_1


โœ“โœ“


Ya kalau kamu nggak di jadiin istri aku. Ya aku aja yang jadi suami kamu๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜


Apa bedanya bambank๐Ÿคจ


โœ“โœ“


Aku Azlan sayang bukan bambank


Bodo amat!!! Kesel gue!!


โœ“โœ“


Tapi sayang, kan**?


"Zea Praisa Ulya." Zea langsung tersentak kaget mendengar namanya di panggil.


"Sa.. saya Bu." Jawab Zea sedikit bingung.


"Kamu baik-baik saja Zea?" tanya Bu Afni lembut.


"Iya Bu, saya baik."


"Oke kalau begitu kita lanjutkan pelajaran ya. Anak-anak buka buku paket kalian halaman enam puluh." Bu Afni menginstruksikan.


Putri menyenggol lengan Zea, membuat gadis itu menoleh.


"Lo kenapa? Tumben lama nyahut pas lagi diabsen," tentu saja Putri tahu itu. Karena tidak biasanya Zea seperti itu.


Tidak perlu lama, Zea langsung menunjukan layar ponselnya. Dimana nama Azlan sudah tertera di sana.


Pemuda itu sekarang sudah melakukan panggilan telepon karena Zea tidak membalas pesannya tadi, sebab Zea menjawab panggilan Bu Afni.


"Gila kakak gue," Putri hanya geleng-geleng kepala.


Zea langsung menolak panggilan itu. Namun bukan Azlan namanya jika mudah menyerah.


Mengetahui kalau Bu Afni yang masuk di kelas Zea membuat Azlan terus menerus menelepon gadis itu. Karena Azlan tahu benar kalau Bu Afni adalah guru yang paling baik di SMA Darma Putra. Bahkan Bu Afni adalah satu-satunya guru yang tidak pernah marah apalagi menghukum siswa. Jadi Azlan memanfaatkan kesempatan itu.


Jika Zea tidak mengangkat panggilannya Azlan tidak akan pernah berhenti.


"Ck, masih nelpon juga?" tanya Putri kesal. Pasalnya dia merasa risih karena getaran ponsel Zea yang memang Zea letakan di atas meja.


"Iya," jawab Zea seadanya.


"Siniin handphone Lo." Perintah Putri.


"Jangan aneh-aneh Put," peringati Zea.


Tidak mempedulikan ucapan Zea, Putri langsung mengambil handphone gadis itu. Bahkan mengangkat panggilan teleponnya.


Putri dapat mendengar suara Azlan yang langsung menyahut di seberang sana.


"Eh Lo nggak tahu apa, yang punya hp lagi belajar hah? Nelpon tuh tahu waktu, jangan seenaknya aja. Sekali lagi Lo telpon nomor ini, gue sunatin Lo!!"


Mendengar celotehan Putri barusan, semua orang yang ada di dalam kelas langsung menatap Putri dan Zea.


Zea hanya mampu menutup wajahnya karena ulah sahabat barusan. Zea cukup malu sekarang.


"Ada apa Putri? Kamu nelpon siapa?" itu suara Bu Afni.


"Nggak tahu Bu, orang iseng. Dari tadi nelponin aja, kalau nggak Putri jawab kaya tadi takutnya penipuan." Jawab Putri asal.


Bu Afni hanya manggut-manggut saja. Toh bukan urusan dia juga.


"Yasudah, kamu kembali fokus belajar. Dan ponsel kamu boleh di simpan sekarang."


"Baik Bu," jawab Putri sopan.


"Lo gila Put," bisik Zea.


"Setidaknya setelah gue bersikap gila barusan, Lo jadi tenang kan?"


"Iya juga sih,"


"Bilang makasih dong,"


"Makasih putri,"


"Sama-sama Zea. Teraktir boleh lah istirahat entar."


"Dih sultan minta gratisan," cibir Zea.


"Sesekali ngga masalah, kan?"


"Oke,"


"Mie ayam dua porsi,"


"Serius? Emang habis?" tanya Zea memastikan.


"Habis, gue lagi bad mood jadi perlu makan banyak."


"Oke."


Keduanya tersenyum bersama. Setelah itu mereka kembali fokus kepada penjelasan Bu Afni.


* * *


"Mau langsung pulang Ze?" tanya Putri. Kali ini mereka sudah berada di dalam mobil Putri.


"Ada saran, mau kemana gitu?" Zea membalasnya dengan pertanyaan juga.


"Kemana ya, gue lagi nggak pengen apa-apa sih sebenarnya." Putri bingung harus memberi saran kemana.


"Gimana kalau ke rumah Lo. Gue juga kangen sama tante Diana." Saran Zea.


"Oke, kita otw ke rumah gue." Ucap Putri semangat. Zea hanya tersenyum singkat melihat putri seperti itu.


Momen seperti ini sudah begitu jarang ia lakukan. Menghabiskan waktu bersama dengan Putri.


Semuanya terhalang oleh Zea yang sibuk dengan jualannya. Apalagi setelah mengenal Azlan, Zea lebih sering menghabiskan waktu dengan Azlan dibandingkan Putri.


Meski begitu, Zea tahu Putri tidak akan pernah marah. Karena dialah dalang dari kedekatan Zea dan Azlan.


"Oh iya Ze, gimana hubungan Lo sama kak Azlan?" tiba-tiba saja Putri bertanya tentang hal berbau personal seperti ini.


"Ya gitu. Semakin baik sih, emang kenapa?"


"Nggak papa. Jawab Putri cepat. " Gue denger dari mana, kak Azlan hari ini ke Singapura ya?" tanya Putri.


"Iya, katanya ada sesuatu yang mau dia urus gitu. Bareng papahnya juga sih," jawab Zea seadanya.


Putri tidak menjawab, dia memilih untuk fokus pada kemudinya saja.


"Lo tahu nggak Put, kira-kira Azlan ngurusin apa di Singapura ya?" kali ini Zea yang bertanya.


"Persisnya sih gue nggak tahu Ze. Yang gue tahu sih, Om Gibran emang punya cabang perusahaan di sana. Dan gue rasa, kak Azlan yang bakal ngurusin,"


Zea langsung menoleh ke arah Putri.


"Lo serius?" tanya Zea masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iyalah, masa gue bohong sama Lo."


Zea langsung diam. Yang ada di pikirannya kali ini, jika Azlan benar-benar mengurus perusahaan Gibran yang ada di Singapura. Otomatis Zea dan Azlan akan berjauhan. Dan hal itu begitu tidak Zea sukai. Zea juga tidak mungkin ikut dengan Azlan ke Singapura nantinya.


"Eh Ze, coba lihat itu!" Suara Putri membuat lamunan Zea buyar. Zea langsung mengikuti arah telunjuk Putri.


"Itu bukannya Faira, ya?" mata Zea membulat ketika melihat apa yang Putri katakan tadi.


"Iya Out, itu Faira. Eh tapi kok dia gemukan ya?" Zea sedikit ragu.


"Coba cek aja dulu!" Putri langsung menepikan mobilnya. Setelah itu keduanya langsung kuat dari mobil.


Namun sebelum mereka mendekati wanita yang mereka anggap Faira itu, wanita itu sudah pergi lebih dulu.


Zea menyapu ke sekitar halte tempat mereka berhenti itu. Namun wa iya yang mereka lihat tadi tidak ada.


"Kok nggak ada ya Ze?" Putri masih celingukan mencari Faira.


"Tapi apa beneran tadi itu, Faira Put?" Zea sedikit ragu.


"Gue emang pake kacamata Ze, tapi gue nggak mines. Emang Lo pernah ngelihat gue salah ngenalin orang?" Ucap Putri sewot.


"Iya juga sih. Tapi kok nggak ada coba Fairanya?"


"Ya mungkin aja dia tadi ngelihat kita lebih dulu, terus kabur." Secara logika mungkin saja seperti itu.


"Kenapa harus kabur?" pertanyaan Zea cukup polos kali ini.


"Lo lupa, dia kan udah gadein rumah Lo Ze. Ya mungkin aja dia ngira Lo mau nuntut dia dan mamanya."


"Oh iya juga ya, padahal gue nggak ada niatan begitu sama sekali."


Putri menghela napas sekali.


"Ya kan otak Lo sama dia beda, jadi wajar. Udah ah, yuk balik ke mobil aja. Besok kita cari lagi di sini," Putri langsung menarik lengan Zea.


Dia dalam mobil Zea menatap Putri serius.


"Ngapain ngelihatin gue segitunya?" Putri menyalakan mobilnya dan mulai melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Lo habis kerasukan setan ngegas ya Put. Ngegas mulu gue lihat,"


"Emang ada?"


"Kali aja ada,"


Putri hanya tersenyum singkat menyikapi ucapan Zea. Sedangkan Zea memilih fokus pada pikirannya.


Zea sedang memikirkan ucapan Putri tadi mengenai Azlan. Tetapi sedetik kemudian pikirannya tentang Faira yang sempat ia lihat beberapa saat tadi memenuhi pikirannya.


Apa bener tadi itu Faira ya?.



Zea dan Zia.


**Hai guys, maaf lama update nya. Episode ini cuma sempat nulis segini ya, semoga suka๐Ÿ˜Š.


Jangan lupa beri komentar ya**.

__ADS_1


__ADS_2