
Jika ditanya siapakah pengisi hatiku? Maka jawabanku adalah Zeo dan Zia.
-Zea Praisa Ulya-
"Andai kamu tahu! Bahwa aku adalah tahu," seorang anak lelaki dengan hikmatnya memulai puisinya.
"Maka kamu akan tahu bahwa aku sebenarnya tahu, Dan---"
"Eh stop!!"
Sebuah suara menghentikan pria itu melanjutkan ocehannya mengenai tahu dan tahu untung saja tidak tahu dan terigu.
"Apaan sih lo kak? Belum selesai gue bacanya,"
"Dan kamu mulai tahu--" lanjutnya.
"Di tambah tepung terigu bumbui dengan garam sedikit, jadilah bakwan tahu," potong wanita itu cepat.
Wanita itu tidak lain adalah Zea Praisa Ulya, kakak tertua dari dua orang adiknya yaitu Zeo Erstio dan Zia Prailisa.
"Gue lagi baca puisi yang berjudul andai kamu tahu, bukan lagi mau masak bakwan tahu," ucap Zeo dengan wajah serta kalimat penuh penekanan.
"Gila lo lama-lama!" tambahnya lagi.
"Lo yang saraf!! Lagian puisi apaan pake tahu-tahuan segala? Nggak sekalian aja pake tempe, bakso, cabe, bawang!!" cibirnya kesal kemudian beranjak dari duduknya menuju dapur.
"Lo kata gue mau nyambel,"
"Yaudah ganti aja tuh judul jadi sambal tahu!!" ledek Zea dengan tawa yang meledak-ledak.
"Nggak sekalian aja tahu bulat digoreng dadakan dua ribu rupiah," umpat Zeo dengan mengikuti gaya bicara yang biasa dilakukan penjual tahu bulat yang biasa berjualan keliling di komplek rumahnya.
Zea berbalik, kemudian berbicara stengah berbisik.
"Cocok Ze, sana gih jualan lo!!" suruh Zea.
"Ogah!!" jawabnya cepat.
"Puisi ini adalah sebuah perumpamaan dan ungkapan, lo nggak bakal ngerti, karena ini menyangkut masalah hati," jelas Zeo.
Zea menatap Zeo muak, seakan ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Sok-sokan ngomongin hati! Perasaan yang gue denger dari tadi bahasa tahu dan tahu. Sekalian aja tuh jualan tahu bulat kan lumayan dapet duit," cerca dan saran Zea.
"Gue terlalu ganteng untuk jadi tukang tahu bulat,"
"Gimana nanti kalau dagangan gue udah habis sebelum waktunya? Lo mau tanggung jawab?" tuding Zeo. Dengan wajah mendekat ke wajah Zea.
"Muka lo nggak usah deket-deket juga!!" Zea mendorong kasar wajah Zeo dari hadapannya.
"Empet gue ngeliatnya!" umpat Zea.
"Gantengan juga kambing si Ucup sebelah rumah," tambah Zea lagi.
"Setan lo!! Masa gue di samain sama kambing,"
"Lo adiknya setan dong!!" balas Zea.
"Lo kakaknya kambing dong," balas Zeo tidak mau kalah.
"Jadi kambing setan dong!!!" ucap mereka bersamaan, dan disaat itu juga tawa mereka pecah.
Begitulah kedua saudara ini, mereka memang selalu bertengkar tetapi di balik setiap perdebatan serta pertengkaran yang terjadi ada kasih sayang mereka satu sama lain yang begitu erat. Karena mereka sama-sama mengerti bahwa saudara tidak akan pernah meninggalkan saudaranya dalam situasi apapun.
"Oh iya Ze, bola lo yang di keranjang udah gue jual semua," ucap Zea tiba-tiba.
Dan berhasil membuat tawa Zeo berhenti seketika.
"Jadi lo malingnya, kak?" tanya Zeo datar.
Tatapan mematikan mulai terpancar dari bola mata coklat Zeo, seakan siap menerkam mangsa yang ada di hadapannya.
"Gue nggak maling kok!! Gue udah izin sama lo, tapi---"
"Tapi apa?" potong Zeo langsung.
"Tapi bohong!! Hahahaha,"
Tawa Zea kembali pecah. Sungguh pemandangan yang sangat Zea sukai yaitu ketika melihat wajah kesal Zeo.
"Sumpah lo ya!!" geram Zeo.
Habislah kertas coretan puisi Zeo bertebaran ke lantai akibat lemparannya yang hendak mengarah ke Zea, namun tidak tepat sasaran. Karena Zea sudah lebih dahulu melarikan diri.
"Eh apa-apaan Lo?"
"Beresin kertas-kertas hina lo ini! Jangan nyampah!!" perintah Zea. Karena apa? Zea baru saja selesai membereskan rumah.
"Males!! Balikin bola gue dulu cebong!!" rengek Zeo.
"Udah gue jual kambing sawah!!" balas Zea .
"Terus uangnya kemana?" tanya Zeo. Memastikan apakah benar Kakaknya yang telah menghabiskan semua aset pribadi miliknya tanpa sisa sedikitpun.
"Udah gue beliin beras," jawab Zea asal dengan tangan meraih sapu.
"Beras doang?" tanya Zeo lagi.
"Iya," jawab Zea seadanya.
"Ya Allah, tega bener lo kak," keluh Zeo sendu.
"Gue lebih nggak tega kalau lo sama Zia nggak makan," ucap Zea. Ia menghentikan aktivitas menyapunnya.
"Maksud lo?"
"Lo tenang aja!! Aset lo nggak ilang, cuma gua gadein aja!" jelas Zea.
"Lagian siapakah yang mau nyuri barang buruk kaya begitu!" cerca Zea lagi.
Zeo menatap kesal Zea.
__ADS_1
"Lo bukannya izin, malah ngehina barang-barang gue," ucap Zeo kesal.
"Udah nggak usah banyak omong! Beresin kertas-kertas alay lo ini!!"
Kemudian Zeo memilih untuk membereskan kertas-kertas miliknya demi menyelamatkan telinganya dari amukan singa di hadapannnya itu. Ya memanglah salahnya karena tadi Ia yang meminta Zea mendengarkan dirinya membaca puisi, padahal Ia Tahu sendiri bahwa kakaknya itu sangatlah tidak suka dengan hal yang berbau romantisme.
Ketika Zea hendak duduk bersantai di ruang tamu, meluruskan badan serta merenggangkan otot-ototnya, Zeo datang bersama dengan puisi gila miliknya itu.
Jangankan puisi amburadul seperti itu, puisi indah yang terukir dengan kata-kata manis saja Zea ingin sekali muntah mendengarnya, bukan karena Zeo yang membacanya ataupun yang membuatnya. Hanya saja, memang Zealah yang sangat tidak suka mendengar kata-kata ataupun puisi tentang percintaan, bahasa anak zaman sekarang sering didengar bucin alias budak cinta.
Gadis remaja berusia tujuh belas tahun itu lebih memilih untuk fokus dalam usaha serta pendidikannya dan tidak pernah ingin merasakan cinta. Entah apa yang membuatnya begitu benci dengan perasaan itu atau bahkan sangat anti dengan rasa tersebut. Karena yang Ia tahu cinta hanya akan membuat dirinya sesat dan lari dari jalan serta tujuannya.
Karena kebahagiaan serta kecukupan kebutuhan hidup adik-adiknya adalah prioritasnya saat ini.
Ibunya telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil satu tahun lalu, menyisakan pilu yang mendalam untuk Zea begitupun kedua adiknya. Namun demikian, Zea tetap berusaha terlihat tegar dan ceria di hadapan kedua adiknya. Zea juga berusaha menjadi penyemangat dan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja di hadapan keduanya. Dan mereka tinggal merekalah keluarga yang Zea miliki saat ini.
Lalu dimanakah ayah Zea?. Ayah Zea masih hidup. Hanya saja ayahnya sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Jikalau pun pulang, tetap saja Zea dan kedua adiknya tidak pernah ayah Zea pedulikan. Dia selalu sibuk dengan dunia barunya.
Setelah Ibunya meninggal, Ayah Zea menemukan wanita baru dan menikahinya. Ya, Zea dan kedua adiknya tinggal bersama ibu tiri dan saudara tiri mereka. Hanya saja ibu tiri dan saudara tiri mereka itu sering pergi menginap di hotel atau berlibur ketika ayah Zea pergi ke luar kota.
Mungkin inilah yang menjadi alasan Zea sangat membenci dengan perasaan cinta. Sebuah rasa yang membuat ayahnya menjadi manusia bodoh, sehingga lupa akan jalan dan tujuannya bersama anak-anaknya. Melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Dan meninggalkan Zea serta dua adiknya.
Entahlah, hanya Zea yang tahu alasan dirinya membenci satu kata sakral itu.
Zeo Erstio, satu-satunya anak laki-laki yang terlahir dari rahim Ibu Zea. Berumur satu tahun di bawah Zea membuat mereka sering sekali terjadi pro dan kontra atau dapat dikatakan adu mulut. Meski demikian, apapun yang keluar dari mulut keduanya itu bukan karena mereka saling membenci ataupun ingin saling menjatuhkan, tetapi itulah menjadi suatu bentuk kasih sayang di antara keduanya serta suatu bentuk penopang antara satu sama lain. Karena terkadang rasa sayang antara kakak beradik itu tidaklah terucap dengan kata-kata yang manis, tetapi dapat dilihat dari tindakan dan tingkah laku yang mereka tunjukkan.
Brak
Suara pintu rumah ditutup. Sontak Zea melihat ke sumber suara.
Menampilkan sosok gadis kecil dengan rambut kuncir kuda serta wajah muram, seakan segudang kesedihan tengah melanda dirinya.
Melihat wajah adiknya yang tampak kurang baik, Zea langsung menghampirinya.
"Ada apa? Kok mukanya sedih gitu?"
Zea menatap adiknya lekat, dengan memegang lembut bahu mungilnya itu.
Tiba-tiba saja Zia langsung memeluk erat tubuh Zea. Tangis Zia mulai pecah. Zea mulai panik dengan situasi ini.
"Ada apa Zia? Kenapa nangis?"
"Ayo cerita sama kakak! Ada apa?" tanya Zea lembut.
Zeo yang menyadari adiknya sedang kurang baik, langsung mendekat kemudian menggendong Zia.
Membawa Zia duduk di kursi ruang tamu.
Kemudian Zeo mendudukkan Zia di samping Kanan dirinya, lalu diikuti oleh Zea yang duduk di sebelah Zia. Sehingga gadis kecil itu berada di tengah-tengah saudaranya.
"Sekarang tuan putri boleh cerita apa yang terjadi!" ucap Zeo dengan lembut.
Zia yang menunduk mulai menatap Abangnya itu sekian detik tetapi setelah itu Ia kembali menunduk.
"Yah!! tuan putri masa bisu," ejeknya.
Dan berhasil mendapat pelototan tajam dari Zea.
"Ayo cerita!"
"Tadi Zia kan main sama temen-temen," Zia mulai membuka suara dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Main apa? Lompat tali? Tali lompat atau lompat pagar?" sambung Zeo cepat.
Dan berhasil membuat Zia tertawa seketika.
"Bang Ze, Zea nggak main itu," elaknya dengan suara serak serta sesenggukan akibat menahan tangis. Sepertinya Zia sudah menahan tangisnya sejak di tempat bermain tadi. Entah apa yang telah terjadi.
Zea sangat khawatir dengan keadaan adiknya itu. Semenjak ibu mereka meninggal, Zia sangatlah terpukul. Pribadinya yang ceria berubah menjadi pendiam. Zia lebih suka murung dan menyendiri. Zea dan Zeo selalu berusaha mencairkan suasana ketika Zia dalam kondisi sedih. Contohnya seperti sekarang ini.
Zia Prailisa, berusia sembilan tahun dan saat ini Ia duduk di kelas tiga sekolah dasar. Memiliki pribadi yang cerita dan sopan terhadap orang yang lebih tua. Ia juga termasuk siswi berprestasi di sekolahnya. Namun semenjak ibu mereka meninggal, Zia begitu sedih dan terpukul. Keceriaannya menghilang seketika. Hanya murung dan melamun yang selalu ia lakukan, dan hal itu membuat Zea dan Zeo sangat khawatir.
Zea dan Zeo berusaha untuk mengembalikan senyum adiknya itu, meskipun dengan melakukan hal konyol dan hal-hal yang tidak dapat dikatakan wajar atau hal tersebut tidak biasa di lakukan oleh seorang Zeo ataupun Zea.
Misalnya seperti kebiasaan Zeo yang setiap pagi ketika bangun dan keluar dari kamar menuju kamar mandi, Ia hanya memakai kolor saja dengan handuk yang menggantung di lehernya, dengan tangan menggaruk-garuk perut ataupun bokong.
Dan hal itu mampu membuat Zia tertawa di setiap pagi. Awalnya hal tersebut tidaklah sengaja dilakukan oleh Zeo karena kebetulan pada saat itu Zeo salah makan makanan dan akibatnya banyak bentol-bentol yang tumbuh dan berkembang di bagian perut serta bokongnya, Zeo berusaha mengurangi rasa gatalnya dengan menggaruk perutnya dengan mata masih terpejam. Zeo berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan hal itu mampu membuat Zia tertawa hingga terpingkal-pingkal. Zeo sedikit terkejut melihat Zia yang tertawa lagi setelah sekian lama selalu murung. Zeo berinisiatif untuk terus melakukan kebiasan menggaruk itu di setiap pagi. Dan berhasil. Di setiap pagi Zia akan tertawa ketika melihat Zeo menggaruk perutnya. Sebenarnya hal itu begitu memalukan bagi Zeo. Namun karena tingkah seperti itu dapat mengembalikan senyuman Zia, maka Zeo tidak akan ragu untuk melakukannya dan alhasil tingkah tersebut menjadi kebiasaan Zeo di setiap paginya.
Karena di setiap ujian pasti ada jalannya. Di setiap musibah pasti ada hikmahnya. Karena sesungguhnya dimana ada kesulitan disitulah ada kemudahan.
Dan, bentol-bentol Zeo menjadi awal senyuman untuk Zia.
"Walaupun harus menjadi seperti orang bodoh, itu akan tetap aku lakukan demi untuk melihat senyuman di wajah Zia,"
Kalimat itulah yang selalu terngiang di ingatan Zea. Kata-kata Zeo yang mampu membuat Zea menjatuhkan air mata setiap mengingatnya. Dan menjadi pendorong dirinya untuk selalu semangat demi kehidupan kedua adiknya itu.
"Ada apa Zia? Cerita aja! Atau perlu kakak panggil NN dulu baru kamu mau ngomong?"
Dahi Zeo berkerut, tidak paham dengan ucapan Zea.
Zia menatap kakaknya bingung.
"NN?" tanya Zeo.
"Iya NN, mau kakak panggilkan NN?" tanya Zea lagi kepada Zia.
Dan Zia semakin bingung, tetapi saat ini Ia tangisnya sudah berhenti.
"Apaan tuh, NN?" Zeo mulai penasaran.
"Lo nggak tau?" pekik Zea.
"Nggak!"
"Sama, gue juga!"
"An--"
"Apaan? Mau ngomong apa? Hah?" serbu Zea langsung.
"Ng--gak,"
__ADS_1
"Itu tadi gue mau bilang an... anyaman nya itu bagus,"
Alibi Zeo sembari menunjuk salah satu hasil anyaman Zea yang terpampang di dinding.
"Halah bacotan lo. Sejak kapan lo muji karya gue?" sindir Zea.
"Sejak... sejak tadi," jawab Zeo cepat. Zeo berharap Zea tidak akan mengamuk setelah ini.
"Dasar lo!!"
"Lagian lo sih," tuduh Zeo tiba-tiba
"Emang gue kenapa?"
"Ya lo ada Gilaknya. Maksud lo bilang mau manggil NN itu apaan coba?"
"Suka-suka gue dong! Mulut-mulut gue," balas Zeo.
"Ya gue tau ta--"
"Bang Zeo sama kak Zea kapan selesai ributnya?" suara Zia menghentikan ucapan Zeo.
"Nunggu lebaran monyet!!" jawab keduanya bersamaan.
"Oh nunggu lebaran monyet ya? Masih lama dong? Kalau gitu Zia tidur dulu aja ya, ngantuk banget ni waaoooo," tawar Zea, dengan mulut terbuka karena menguap.
Kemudian Zia berjalan menuju kamarnya dan.
Brak, suara pintu kamar tertutup.
meninggalkan Zea dan Zeo yang saling bertatapan.
"Kok Zia pergi sih?" tanya Zeo.
"Lo sih! Ngajak ribut mulu," Zea menyalahkan Zeo.
"Kok nyalahin Gue? Lo yang mulai, ngapain coba pake bawa si NN-NN itu," balas Zeo tidak terima.
"Apaan coba NN. Nongkrong-nongkrong? Atau numpak naga? Atau nanas banget?" ucap Zeo menggebu-gebu.
"Kok lo yang nge gas, sih?"
"Lo sih mancing emosi mulu, mancing tu ikan jadi berguna bisa dimakan. Nanas juga gue lama-lama," tambah Zeo lagi.
"Itu panas somplak!!" ucap Zea membenarkan.
"Itu maksud gue, panas." Ralat Zeo.
Kemudian Zea beranjak dari duduknya. Kemudian mengambil sapu yang sempat Ia pegang tadi.
"Mau kemana lo?" tanya Zeo.
"Mau ngitungin beras pake sempoa," jawab Zea asal.
"Emang nggak capek?" tanya Zeo setengah tidak percaya.
"Ya capek lah, **** banget sih lo,"
"Lo nggak lihat gue megang apa?"
"Sapu," jawab Zeo polos
"Jadi?"
"Lo mau nyapu?" tanya Zeo.
"Nggak!!! Mau nguras sumur!!" jawab Zea emosi.
"Emang bisa?" tanya Zeo lagi.
Sungguh Zeo menguras kesabaran Zea saat ini.
"Lo pernah ngerasain makan keripik sambil dislending sapu terbang," tanya Zea mulai geram.
"Belum sih!! Emang gimana rasanya? Kayanya enak tuh makan kripik," jawab Zea seenaknya. Dan sangat memancing emosi Zea.
Sepertinya macan betina akan mengamuk.
"ZEOOOOOO!!!"
Zea hendak melempar sapunya.
"Tunggu dulu kak!! NN itu apa sih? Dari tadi lo nggak jawab,"
"No name," jawab Zea.
"Hah!! Maksud lo nggak ada nama gitu?"
Zea mengangguk.
"Jadi Lo nggak kenal dong," dan Zea mengangguk lagi sebagai jawaban dari pertanyaan Zeo.
"Lo bilang begitu tadi cuman alasan aja supaya Zia cerita, kan?" tanya Zeo lagi. Dan Zea kembali menjawabnya dengan anggukan.
"Lo tahu nggak, kak?" tanya Zeo serius.
Dan Zea hanya menggeleng.
"Adik nenek sepupunya saudara kakeknya si Romi, kemaren meninggal karena setiap ditanya cuma ngangguk sama geleng-geleng doang,"
Zea mencerna ucapan Zeo sekian detik.
"Lo doain Gue mati? Zeo!!! Awas lo ya!!"
Sebelum situasi sapu terbang benar-benar terjadi, Zeo sudah terlebih dahulu kabur dari tempat kejadian. Layaknya maling yang lari tanpa meninggalkan jejak, tetapi tidak seperti doi yang pergi setelah singgah bukan karena ingin menetap.
happy reading semuanya-:)
selamat datang di cerita pertama saya
jangan lupa kasih komentarnya ya😊
__ADS_1
terima kasih