Zeazlan

Zeazlan
Sarapan


__ADS_3

Sinar mentari belum muncul tetapi Zea sudah bangun dari tidurnya. Bergerak menuju kamar mandi. Untuk sekedar membasuh wajahnya yang terdapat banyak bercak-bercak pulau disana.


Setelah selesai membersihkan wajahnya serta menyikat gigi. Zea bergegas keluar kamar kemudian mengetuk pintu kamar yang berada tepat di depan kamarnya.


Tok... tok... tok.... Bunyi ketukan pintu.


"Zeo. Lo udang bangun?"


"Zeo,"


"Zeo bangun! Udah subuh. Buruan sholat, keburu habis waktu," teriak Zea dari depan pintu.


Sedangkan Zeo yang mendengar teriakan Sea bukannya bangun malah kembali menarik selimutnya lalu melanjutkan tidurnya.


Zea terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Zeo. Berusaha membuka pintu kamar adiknya itu. Namun sialnya. Pintu kamar Zeo dikunci.


"Zeo bangun!! Lo nggak bangun gue dobrak pintu kamar ini. Atau nggak gue tabrakan pake motor sekarang," ancaman Zea membuat Zeo membuka selimutnya.


"Iya-iya. Gue udah bangun. Masih pagi juga udah teriak-teriak kek Tarzan." Cibir Zeo dari dalam kamarnya.


"Ngomong apaan lo?" sinis Zea. Merasa kalau Zeo sedang menggunjingnya.


Cklek.


Zeo keluar dari kamarnya dengan wajah orang yang baru saja bangun tidur. Zeo mengucek matanya beberapa kali. Berusaha menyadarkan nyawanya sepenuhnya.


"Kebiasaan banget sih lo. Nggak denger azan subuh apa? Padahal alarm udah gue setel jam stengah lima tahu nggak. Masih juga lo bangun lama." Omel Zea.


Zeo memutar bola matanya malas. Baru saja dia bangun tidur sudah harus mendengarkan kakaknya yang mengomel tidak jelas seperti ini.


"Masih pagi kak. Lo udah ngomel seribu ayat aja. Nggak capek apa?" sinis Zeo.


Kemudian Zeo berjalan dengan langkah gontai karena masih mengantuk. Dengan tangan yang menggaruk perut kecilnya.


Cklek


Pintu kamar Zia terbuka. Zia yabg melihat penampilan Zeo yang sangat berantakan langsung tertawa.


"Bang Zeo kayak orang-orangan sawah," ucap Zia di sela tawanya.


Zeo hanya diam. Memilih berjalan terus menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kamu udah bangun. Udah sholat subuh?" tanya Zea. Kemudian berjalan mendekati Zia yang masih berdiri di depan pintu kamar.


"Ini masih mau sholat. Zia tadi denger kak Zea teriak-teriak bangunin Bang Zeo. Makannya Zia udah bangun sebelum kak Zea bangunin." Jelas Zia.


Zea tersenyum hangat kepada Zia. Kemudian mencubit pelan pipi Zia yang chuby itu.


"Yasudah ayo ambil wudhu! Kak Zea hari ini nggak sholat soalnya lagi libur." Ucap Zea.


Zia mengangguk paham. Kemudian Zia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah itu Zia berlari menuju mushollah pribadi di rumah mereka kemudian melaksanakan sholat berjamaah bersama Zeo.


"Loh kak Zea mana?" tanya Zeo.


"Kak Zea lagi libur," jawab Zia dengan senyuman kecilnya.


Zeo hanya mengangguk paham. Kemudian Zeo memulai sholat berjamaah mereka.


Sebenarnya hari biasanya Zeo melaksanakan sholat subuh di masjid. Ya meskipun harus dengan teriakan maut dari Zea dahulu untuk membangunkannya. Hanya saja karena hari ini Zea sedang libur sholat menyebabkan dirinya sedikit kesiangan bangun dan hasilnya Zeo juga ikut kesiangan. Untungnya waktu sholat subuh masih ada. Jadi mereka masih bisa melaksanakannya di rumah. Karena jika Zeo harus ke masjid lagi. Sudah pasti Zeo ketinggalan sholat berjamaah.


Di lain tempat Zea sudah bergulat dengan pisau dan bumbu dapur. Zea menyiapkan sarapan pagi untuk kedua adiknya makan hari ini.


💙💙💙


"Tumis kangkung dan tempe goreng lagi?" ucap Zeo. Tatapannya menunjukkan rasa tidak suka.


Zea menghentikan kunyahan nasi di mulutnya. Menatap tajam Zeo.


"Kenapa? Nggak suka?" sinis Zea.


Zeo menghela napas pelan. Kemudian mengambil nasi ke atas piringnya diikuti dengan kangkung dan tempe goreng yang terlihat begitu coklat hanya saja tidak sampai hangus itu.


"Nggak," jawab Zeo ketus.


"Kalau lo nggak suka, nggak usah dimakan.  Gue cuma mampu beli ini doang," ucap Zea dingin.


"Seharusnya Lo bersyukur masih bisa makan. Bukan ngeluh begitu," tambah Zea lagi.


"Gue nggak ngeluh, kak." Ucap Zeo membela diri.


"Lo emang nggak ngeluh tapi ucapan lo tadi udah menggambarkan kalau lo nggak suka makan beginian. Lo bosen? Sama Ze. Gue juga. Tapi gue cuma mampu beli ini. Gue juga pengennnya lo sama Zia makan enak."


Zea menghentikan aktifitas makannya. Menuang air minum ke dalam gelas kemudian meneguknya kasar.


"Gue udah kenyang. Gue duluan," ucap Zeo. Kemudian Zeo melangkah pergi dari meja makan.


Zea menatap piring Zeo yang masih berisi nasi. Sepertinya Zeo belum memakan cukup banyak nasinya. Zia khawatir Zeo akan kelaparan di sekolah jika tidak makan. Tapi percuma meminta Zeo untuk makan lagi. Sepertinya Zea terlalu banyak bicara tadi, membuat Zeo merasa kesal.


Zeo menatap Zia yang memakan nasinya dengan pelan. Mungkin Zia juga merasa bosan dengan menu makanannya pagi ini.


"Kenapa Zi? Kamu bosen juga sama sayurnya?" tanya Zea lemah.


Zia hanya diam. Kemudian menatap Zea sekilas. Setelah itu Zia menatap nasi di piringnya laku menghabiskannya dengan cepat.


Zea hanya mampu menelan ludah melihat Zia makan dengan seperti itu. Zia antara kerasukan setan kelaparan atau memang Zia yang rakus.


Setelah nasi di piringnya habis. Zia meneguk air putih di hadapannya dengan sekali tegukan saja.


"Kamu laper apa doyan Zi?" heran Zea.


Zia menatap datar Zea.


"Sebenernya Zia bosen sih sayurnya kangkung terus tiap hari. Tapi, kalau Zia nggak makan Zia pasti kelaparan di sekolah. Kalau Zia lapar pasti nggak fokus belajar. Kalau nggak fokus belajar gimana Zia mau pintar? Kalau Zia nggak pintar Zia nggak akan bisa jadi dokter dong. Kan nggak asik kalau begitu." Jelas Zia dengan senyuman tulusnya.


Zea mengelus lembut rambut adiknya yang terikat rapi ke belakang itu.


"Belajar yang bener ya. Supaya besok jadi orang yang sukses," ucap Zea lembut. Dengan senyuman tulus di wajahnya.


"Siap ibu komandan," jawab Zia cepat.


Zea hanya tertawa singkat mendengar ucapan Zia.


💙💙💙


"Bang Zeo cepetan!!" Teriakan Zia terdengar jelas. Meskipun saat ini Zia sudah berada di luar rumah.


"Iya, sebentar," balas Zeo cepat.


Zeo melihat Zea yang tengah mencuci tangannya. Sepertinya Zea telah selesai membereskan piring-piring kotor bekas mereka sarapan tadi.


Zeo mendekati Zea, kemudian menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Zea.


Dahi Zea berkerut. Menatap tanya Zeo.


"Apa ini?" pertanyaan yang langsung ke luar dari mulut Zea.


"Uang," jawab Zeo seadanya.


Zea memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Manusia baru lahir sampe udah tua bangka juga tahu Zeo kalau ini uang. Maksud gue ini uang apa," sinis Zea.


Zea menatap datar Zea.


"Ini uang seratus ribu. Mata uang Indonesia," jawab Zeo jujur.


Zea berkacak pinggang.


"Siapa juga yang bilang ini  uang Jakarta," ucap Zea kesal.


"Eh somplak! Jakarta masih Indonesia ****," ejek Zeo dengan memukulkan uang itu ke kening Zea.


Zea memikirkan sebentar kata-kata yang baru saja dia keluarkan.


"Emang gue tadi ngomong apaan?" tanya Zea berlagak lupa.


"Tahu ah. Bodo amat. Ini ambil uangnya. Bisa lo pake untuk belanja, gue bosen makan kangkung tiap hari."


Zeo meletakkan paksa uang itu ke tangan Zea.


Kemudian Zeo meraih tasnya yang tergeletak manis di meja makan. Lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Tunggu Ze," panggil Zea.


"Apaan lagi? Kurang?" tanya Zeo. "Kalau kurang entar sore gue tambahin, kalau sekarang gue cuma ada itu." Jelas Zeo.


"Bukan-bukan. Bukan kurang. Lo dapet uang sebanyak ini dari mana? Lo kan masih sekolah, sama sekali nggak kerja. Jangan-jangan lo--"


"Suuzon banget sih lo sama gue, kak. Itu uang halal seratus persen." Potong Zeo cepat.


"Terus ini uang dari mana? Lo kan nggak kerja." desak Zea.


Z


eo menghela pelan. Sudah ia duga dari awal. Kakaknya itu akan menginterogasinya dalam hal ini.


"Udah pake aja!"


Kemudian Zeo meraih tasnya bergerak menuju pintu keluar rumah mereka.


"Ze," panggil Zea serius.


Sang empunya nama langsung menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke sumber suara.


"Gue tahu kita lagi susah. Tapi bukan berarti Lo harus nyuri apalagi nyopet untuk dapet uang sebanyak ini. Dosa Zeo! Lo mau mati masuk neraka? Gue sih ogah,"


Mendengar ucapan Zea yang panjangnya melebih sungai Nil. Zeo hanya menghela napas untuk kesekian kalinya.


"Lo kebanyakan bacain nyiyiran netizen sih. Ketularan kan jadinya." Balas Zeo sinis.


"Enak aja lo. Gue serius juga," Zea tidak terima. Berjalan mendekati Zeo.


"Uang siapa ini Ze?"


"Lo itu nggak kerja. Gimana mau dapet duit. Apa salah gue curiga terus nanya begini?"


Zeo menarik napas dalam. Tidak harusnya memang dia menutupi semuanya dari Zea. Karena hanya akan memperlambat waktunya untuk pergi ke sekolah.


"Hobi gue di bayar kak. Jadi, itu semua uang halal. Lo nggak usah khawatir gue nyuri ataupun nyopet, gue nggak sepicik itu kali." Jelas Zeo.


Kemudian berjalan meninggalkan Zea yang mematung.


"Hobi? Dibayar! Maksudnya?" Zea bertanya-tanya sendiri.


"Hobi apaan Ze?" teriak Zea. Karena Zeo sudah jauh dari tempat  Zea berdiri.


Meskipun berjarak dengan Zea, Zeo masih dapat mendengar teriakan Zea yang seperti petasan cabai menurut Zeo.


"Oh," jawab Zea. Kemudian Zea memikirkan jawaban Zeo beberapa kali. Ketika sadar bahwa adiknya itu menipu Zea langsung mengejar Zeo keluar.


Sampainya di depan pintu. Zeo sudah berada di atas motornya dan siap untuk meluncur.


"Kak," panggil Zia. Sambil menyodorkan tangannya.


Tanpa menunggu lama Zea langsung menyambutnya.


"Bukan salaman Kak," keluh Zia. Dengan wajahnya yang cemberut.


"Lah jadi apaan?" heran Zea.


"Uang saku," cengir Zia terlihat jelas.


Zea menghela napas pelan.


"Uang aja kamu cepat Zi. Berangkat sekolah itu pamitan dulu baru minta uang," dengan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu lalu diberikan kepada Zia.


"Makasih Kak," senyum Zia mengembang.


"Di cepetan! Abang sama kak Zea udah hampir telat ini," teriak Zeo dari motornya.


"Iya bang," jawab Zia langsung.


Kemudian Zia berpamitan kepada Zea lalu mencium pipi kakaknya itu.


"Zia berangkat kak. Assalamualaikum,"  teriak Zia dari atas motor.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"


"Ze, habis nganter Zia jangan lupa Lo jemput gue!." Peringati Zea. Karena Zea tidak mau kena hukuman lari lapangan lagi karena terlambat masuk sekolah akibat Zeo yang melupakan dirinya.


"Siap ibu ratu. Tenang aja!" jawab Zeo sambil mengedipkan satu matanya.


"Jijik gue sumpah!" balas Zea. Ingin rasanya Zea memuntahkan isi perutnya melihat wajah Zeo seperti itu.


"Lo sih nggak ngerti. Cewek mah kalok udah gue kedipin sekali aja langsung klepek-klepek," ucap Zeo bangga.


"Iya keracunan virus dari Lo makannya begitu." Sinis Zea.


"Lo aja yang----"


"Bang kapan berangkatnya?" potong Zia.


"Oh iyaiya. Kita berangkat tuan putri!! Pegangan dong!!" ucap Zeo sambil menarik tangan Zia ke pinggangnya.


"Cepetan Zia nanti telat!!" Imel Zia lagi.


"Siap laksanakan tuan putri,"


Kemudian motor Zeo melaju menuju sekolah Zia. Sekolah Zia tidak terlalu jauh dari rumah mereka tetapi mengingat Zia yang sering sakit, Zea tidak tega jika Zia harus berangkat sekolah jalan kaki bersama teman-temannya. Itu sebabnya Zia setiap berangkat sekolah di antar oleh Zeo.


Beberapa menit setelah kepergian Zeo. Sebuah mobil terparkir di pekarangan rumah Zea.


Seorang wanita yang sangat Zea kenali turun dari mobil itu. Dengan menarik sebuah koper serta banyak kantong belanjaan. Jika dilihat dari jumlahnya sepertinya belanjaan itu tidak untuk satu orang. Tetapi entahlah, Zea tidak peduli itu.


"Dimana Zeo?" tanya wanita itu.


"Salam dulu mah," tegur Zea.


Padahal Zea sangat berharap tidak bertemu dengan wanita ini. Moodnya berubah seketika. Zea berharap hari ini keberuntungannya akan tetap ada, meskipun baru saja bertemu dengan wanita iblis di hadapannya ini. Meski begitu Zea tetap berusaha bersikap Tah dengannya. Ya, wanita itu adalah ibu tiri Zea.

__ADS_1


"Iya-iya. Assalamualaikum," ucapnya terpaksa.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"


"Dimana Zeo?"


"Dia ngantar Zia ke sekolah," jawab Zea seadanya.


"Harus di antar ya? Kan bisa jalan bareng temannya yang lain," ketus Mirna. Ibu tiri Zea.


"Nggak bisa mah," jawab Zea seperlunya.


Mirna berdecak. Tahu bahwa anak tirinya itu tidak akan berkata banyak untuk menjawab pertanyaannya.


"Mana kunci rumah?" tanya Mirna.


Zea memberikan kunci cadangan yang memang biasa di gunakan ibu tirinya itu. Hanya saja kunci itu tertinggal olehnya ketika pergi tiga hari lalu. Untung saja dia bertemu dengan Zea hari ini. Kalau tidak dia akan terlihat seperti orang bodoh karena tidak dapat masuk ke dalam rumah. Memikirkan hal itu membuat Zea ingin tertawa.


"Ketawain orang tua dosa nggak sih ya Allah?" tanya Zea dalam hati.


Mirna langsung masuk ke dalam rumah, dengan menarik koper dan beberapa tas belanjaanya yang cukup banyak itu.


Sedangkan Zea hanya memainkan ponselnya yang sebenarnya sama sekali tidak ada notifikasinya. Zea sengaja melakukannya hal itu. Dalam hatinya sudah ingin sekali tertawa lepas melihat Mirna yang kesulitan membawa barang-barangnya yang sangat banyak itu.


Setelah Mirna berhasil masuk ke dalam rumah dengan sejumlah barang-barang miliknya itu. Datang sebuah mobil Avanza tepat di halaman rumah Zea.


Dahi Zea mengerut, melihat seorang gadis cantik turun dari dalam mobil. Gadis itu memakai seragam sekolah. Tetapi jika dilihat dari seragamnya sepertinya gadis itu satu sekolah dengan Zea. Namun mengapa Zea sama sekali merasa wajahnya sangat asing. Apa mungkin dia siswi baru?.


"Assalamualaikum kak," ucapnya sopan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu," jawab Zea sama sopannya.


"Siapa ya?" tanya Zea.


"Oh kenalin Aku Lili, teman Zeo." Ucapannya memperkenalkan diri. "Zeonya ada?" tanyanya.


Tidak mungkin dia murid baru. Karena dia sudah kenal dengan Zeo.


"Ada," jawab zea cepat. "Eh nggak ada," ralat Zea.


Tampak sekali Zea yang bingung. Entah karena gerigi berbicara dengan gadis secantik Lili atau memang Zea yanh sedang tidak fokus.


"Jadi, ada atau tidak?" Lili mengulang dan mempertegas pertanyaannya.


"Ada, tapi Zeo masih ngantar adiknya ke sekolah," jelas Zea.


"Masih lama nggak?" tanyanya lagi.


"Mungkin sebentar lagi dia udah balik. Tunggu aja!" jawab dan ucap Zea seadanya.


"Oh yaudah kalau gitu aku titip ini ya kak," Lili memberikan sebuah kotak bekal kepada Zea.


"Nanti, tolong kasihin ke Zeo ya!. Bilang aja ini ucapan terima kasih. Tapi kakak jangan bilang nama aku ya!" ucapnya kemudian Lili kembali dengan berlari kecil ke dalam mobilnya.


"Pamit duluan ya kak, assalamualaikum,"


Teriaknya dari dalam mobil yang kacanya ia buka sedikit. Dengan senyuman yang manis sekali menurut Zea.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"


"Mungkin salah satu fans Zeo," pikir Zea. Karena memang cukup sering gadis memberikan makanan ke rumahnya, ya alasannya hanya karena ingin bertemu Zeo. Dan ingin cari perhatian dengan Zea. Yang memang berstatus sebagai kakak Zeo.


Tetapi yang anehnya gadis tadi hanya memberikan titipannya lalu pamit pergi tanpa mau menunggu  untuk bertemu dengan Zeo. Padahal cewek lainnya akan rela menunggu berjam-jam hanya ingin bertemu Zeo meskipun nantinya hanya di cuekin oleh Zeo. Satu perbedaan yang dapat Zea tangkap dari hadis cantik tadi.


Tidak lama dari kepergian Lili, datang seorang gadis lagi. Tetapi gadis yang satu ini membuat Zea beristighfar ketika ia datang.


"Assalamualaikum kakak ipar," teriakannya begitu nyaring. Bahkan mampu memecahkan gendang telinga.


Zea menutup telinganya, kemudian menjawab salam gadis itu.


"Zeo mana kak?"


Sudah Zea duga. Pasti kedatangan Mak lampir satu ini tujuannya hanya Zeo.


"Masih nganter adik ipar ya?" belum sempat Zea menjawab hadis itu sudah menjawab sendiri pertanyaannya.


"Iya. Lagian ngapain nanya sih, kalau udah tau juga," ketus Zea.


Ya memanglah Zea seperti itu kepada semua gadis yang mendekati adiknya. Sebenarnya hal tersebut bukan sepenuhnya karena Zea ingin melakukannya hanya saja Zeo lah yang memintanya agak galak kepada mereka, supaya Zeo dapat sedikit lebih terbebas. Karena sedikit banyak pasti mereka takut pada Zea yang galak, dan hal tersebut menguntungkan bagi dirinya.


Zea melihat Zeo yang sedang duduk di motornya tepat di bawah pohon di seberang rumah mereka. Zea tahu adiknya itu tidak akan datang sebelum wanita rempong di hadapannya ini pergi. Dan jika di turutin wanita ini akan tahan menunggu berjam-jam hanya untuk bertemu Zeo.


"Heheh nggak papa sih kakak ipar. Basa-basi aja. Entar kalau aku nggak ngomong di kira sombong heheh," ucapnya dengan cengiran yang sulit untuk Zea artikan.


"Udah sana Lo berangkat sekolah aja. Zeo masih lama," sebenarnya tidak ada niatan Zea untuk mengusir. Hanya saja jika di turutin maka dia akan terlambat.


"Nggak ah kak. Aku mau tunggu Zeo dulu. Aku mau ngasih ini, kue buatan aku," ucap gadis itu yang ternyata namanya Firda. Zea baru tahu ketika melihat nametagnya di bajunya. Yang tadinya tertutup rambut.


"Udah kuenya titip ke kakak aja, nanti kakak sampein. Kamu buruan ke sekolah aja, entar telat loh." Zea berusaha membujuk Firda lagi.


Sedangkan Zeo di seberang sana hanya menyilang dada menunggu Zea yabg sedang menghadapi satu fans nya.


"Firda, udah belum sayang?" teriak seorang wanita paruh baya dari dalam mobil. Ternyata gadis itu naik mobil. Mengapa Zea tidak melihatnya tadi?.


"Tuh sana! Ibu lo udah manggil. Keburu telat nanti," tambah Zea lagi.


Dia tampak bingung. Mungkin di satu sisi dia ingin bertemu dengan Zeo tetapi di sisi lain dia takut terlambat.


"Ayo sayang! Nanti kamu telat loh," teriak ibu Firda lagi dari dalam mobil.


"Iya mah,"


"Yaudah deh kak, aku titip kuenya ya. Kasihan ke Zeo ya! Bilang ini kue dari Firda yang paling cantik. Ini kuenya Firda buat khusus buat calon suami. Buatnya pake cinta loh. Jangan kakak yang makan, harus Zeo ya!" 


Sedangkan Zea yang mendengarkan ucapan Firda hanya mengangguk saja.


"Yaudah kakak ipar aku pamit


duluan ya, assalamualaikum."


Kemudian Firda berlari menuju mobilnya, dan mobil itu melaju pergi dari halaman rumah Zea.


Drrtt... Drrtt...


Drrttt....


Ponsel Zea bergetar. Tanpa menunggu lama Zea langsung mengangkatnya.


"Gimana? Udah aman, kan?" suara di seberang sana.


"Buruan kesini, gue udah telat bambankkkk," teriak Zea.


Kemudian sambungan telepon terputus. Zeo di ujung sana hanya cekikikan melihat kakaknya yang murka karena ulahnya.


Terima kasih sudah baca sampai part ini:-)


Jangan lupa vote and comen ya


Baca terus ceritanya

__ADS_1


Salam hangat Author_


@Ailierisa


__ADS_2