
Kamulah yang datang untuk menguatkan ku ketika aku terpuruk untuk kedua kalinya.
-Zea Praisa Ulya-
Marisa menatap tajam keempat anak yang sekarang ada dihadapannya, dengan Gibran yang duduk di sampingnya. Keempat anak yang ditatapnya sama sekali tidak membalas tatapannya, entah karena takut atau hal lain.
Marisa sengaja tidak memulai ucapannya, ia menunggu siapakah yang berani mengangkat kepala mereka terlebih dahulu. Namun ternyata suara Gibran lah yang memecah keheningan di antara mereka.
"Pada kenapa sih?" tanya Gibran heran. Aneh sekali menurutnya, semua orang mendadak diam setelah dirinya membicarakan mengenai Zea tadi. Apakah ada yang salah dengan gadis itu.
Namun bukannya menjawab pertanyaannya, semua orang yang ada di situ masih tetap diam sejak tadi.
"Mah ada apa sih?" tanya Gibran masih bingung kepada Marisa.
Bukannya menjawab Marisa hanya memberikan sikap acuhnya. Membuat Gibran menghela napas.
"Lan ada apa ini? Kenapa kalian mendadak diem semua, sih?" Gibran beralih pada Azlan.
Bukannya menjawab Azlan malah semakin diam. Azlan tahu ia sudah melakukan kesalahan karena membohongi Marisa, itu sebabnya ia tidak berani untuk bersuara kali ini. Karena Azlan tahu benar Marisa tidak pernah suka dengan kebohongan.
"Kamu diem terus papa coret dari kartu keluarga!!" ancaman Gibran sontak membuat keempat anak itu mengangkat kepalanya.
"Tega banget sih pah, masa ancamannya gitu, kalau Azlan di coret dari kartu keluarga Azlan jadi anak siapa? Anak monyet? Kan nggak lucu."
"Sekali ngomongin coret mencoret baru ngomong, tadi diem terus kaya orang sakit gigi." Cibir Gibran. Azlan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena bingung dengan sikapnya.
"Maaf sebelumnya," Zea bersuara, membuat Gibran maupun yang lainnya menoleh ke arahnya.
"Terutama untuk mama yang udah kita bohongi. Tapi jujur kita nggak bermaksud begitu kok," ucap Zea hati-hati.
"Bohong?" tanya Gibran semakin bingung.
"Siapa yang bohong?"
"Lan," panggil Gibran meminta penjelasan.
Wajah serius Gibran membuat Azlan pucat. Entah mengapa tatapan Gibran seperti ini membuat nyalinya menciut.
"Lina," Gibran beralih pada putri sulungnya. Namun sama halnya dengan Azlan, Azlina juga menunduk tidak berani menatap wajah Gibran.
Zea ingin bersuara kembali, berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Namun tiba-tiba saja tawa Marisa terdengar begitu nyaring. Sontak semua orang menatapnya heran.
"Sayang, kamu sehat?" tanya Gibran kepada istrinya. Aneh menurutnya, Marisa tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas.
Marisa berusaha menghentikan tawanya. Perutnya benar-benar terasa sakit karena menahan tawa sejak tadi. Wajah keempat anak dihadapannya saat ini terlihat begitu lucu karena tegang dan takut.
"Kalian lucu banget," ucap Marisa di sela-sela tawanya.
Azlan maupun yang lainnya semakin bingung.
"Mama nggak marah lagi?" tanya Azlan.
"Iya, kok tiba-tiba ketawa sih?" Azlina ikutan.
"Tapi apa yang lucu ya, kok mama ketawanya sampe segitunya?" bisik Zea, namun masih terdengar oleh Zeo.
"Ngelihat muka Lo mungkin kak," sontak Zea langsung memberikan tatapan tajam kepada Zeo.
"Becanda kak becanda, ya elah langsung di pelototi gue," Zea tidak mempedulikan bisikan Zeo yang nanti hanya membuat dirinya semakin naik darah saja. Zea beralih kembali menatap Marisa dan Gibran yang duduk di kursi seberang Zea.
"Muka kalian tadi itu lucu banget tahu nggak, kaya maling ketangkap basah,"
"Mah papa serius, ada apa sih? Kok kayaknya papa sendiri yang nggak ngerti apa-apa di sini," Marisa menatap suaminya lekat.
"Kamu mau tahu kenapa aku ketawa dan kenapa mereka semua diam?" Gibran mengangguk cepat sebagi bentuk jawabannya.
Marisa beralih menatap Zea, tersenyum hangat kepada gadis itu.
"Zea kamu bisa jelasin," Zea sedikit bingung sebenarnya. Namun menolak ucapan Marisa tidaklah mungkin. Zea memilih mengangguk, meskipun dengan sedikit ragu.
Azlan menoleh ke arah Zea. Tampak Azlan sedikit menghela napas, setelah itu Azlan berusaha tersenyum kepada Zea. Zea tidak membalasnya, Zea hanya menatap Azlan dengan tatapan datar.
"Maaf Om sebelumnya, karena udah buat bingung. Sebenarnya di sini kami semua udah salah, karena bohong sama mama mengenai hubungan Zeo dan kak Lina." Zea mulai menjelaskan apa yang terjadi.
"Sebenarnya Kak Lina sama Zeo itu bukanlah sepasang kekasih, mereka cuman pura-pura aja. Hal itu bukan karena kak Lina mau sengaja bohongi mama tapi semuanya kak Lina lakuin supaya mama seneng aja di hari spesialnya, Om."
Gibran tampak serius menyimak Zea yang sedang berbicara. Zea kembali ingin bersuara namun Gibran memotong ucapannya.
"Panggil saya Papa aja," Zea sedikit terkesiap, dan dengan sedikit ragu Zea mengangguk.
"Iya pah," jawab Zea dengan sedikit senyum ragu.
Azlan menyunggingkan senyuman mendengar permintaan Gibran barusan. Ternyata orangtuanya ingin Zea merasa lebih dekat dengan mereka.
Gibran beralih menatap Azlina. Sedangkan yang ditatap hanya memberikan cengiran tanpa dosa miliknya.
"Bener apa yang di bilang Zea?" Azlina mengangguk pelan.
"Astaga Lina," Gibran menghela napas. "Masa iya kamu jadiin Zeo yang umurnya jauh di bawah kamu sebagai pacar pura-pura sih, lagian dari wajah aja pasti mama udah bisa nebak kalau kalian itu bohong." Omel Gibran.
"Bener kata papah,"
"Sebenarnya mama udah tahu kalau Zeo itu sama kamu hanya pura-pura karena dengar ucapan kalian tadi, ya karena mama hargai usaha kalian jadi mama pura-pura percaya aja. Ya ngedrama sedikitlah," Ucapan Marisa mampu membuat Azlina dan yang lainnya terpelongo.
"Jadi mama udah tahu?" tanya Azlan untuk memastikan. Marisa mengangguk mantap.
"Yah gagal dong," keluh Azlan.
"Lo sih Lan, masa iya bocah di jadiin pasangan gue,"
"Gue nggak bocah juga kali kak," Akhirnya Zeo bersuara.
Marisa dan Gibran terkekeh pelan.
"Sama aja, Lo itu kan lebih muda dari gue jadi Lo masih bocah dibandingkan gue," Marisa hanya mampu geleng-geleng kepala melihat Azlina yang mulai mengomel. Sedangkan Zeo hanya diam pasrah, karena percuma jika disahuti Omelan Azlina akan semakin panjang dan membuat telinganya semakin panas.
"Terus Azlan dan Zeo pura-pura juga nggak?" Gibran mencoba memastikan kembali. Mendengar pertanyaan Gibran secara refleks Azlan langsung meraih tangan Zea, menyelipkan jari-jari Zea di sela-sela jarinya.
"Kita beneran pah, nggak bohongan sumpah." Azlan berucap mantap.
Gibran dan Marisa saling tatap dan tersenyum.
"Kok papah nggak percaya ya," Gibran mencoba menggoda Azlan.
"Azlina aja bohongin mama, bisa aja kan kamu juga bohongin mama, Lan." Marisa ikut bersuara.
"Nggak mah, kali ini Azlan serius. Zea pacar Azlan beneran, nggak bohongan." Jawab Azlan dengan mantap sekali lagi.
"Ya kan Ze, kita beneran pacaran kan?" Azlan meminta jawaban Zea untuk dukungannya.
Zea hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kamu mah ngomongnya selalu begitu, serius pah. Eh tahunya cuma bohongan,"
"Kali ini nggak pah,"
"Kamu yakin?"
"Banget malahan,"
Zea semakin pusing mendengar perdebatan antara anak dan ayah itu. Entah kapan berakhirnya. Terus saja memperdebatkan antara hubungan mereka. Entah karena Azlan yang sering memperkenalkan mantan pacarnya yang mungkin tidak terhitung lagi jumlahnya kepada Gibran atau karena masalah Azlina tadi yang membuat Gibran tidak mempercayai Azlan kali ini.
Zea mengambil jus jeruk miliknya tadi, kemudian meneguknya sedikit. Sama seperti Azlina dan Marisa, Zea juga hanya menjadi penonton tidak dibayar untuk aksi debat antara Azlan dan Gibran.
Namun tiba-tiba saja ponsel Zea berdering. Dengan cepat Zea langsung mengangkatnya. Membuat sedikit perhatian Gibran dan Azlan teralih kepadanya.
"Halo assalamualaikum Om, ada apa?"
"........."
Zea langsung terpaku ketika orang di seberang sana mulai berbicara, tubuhnya menegang seketika. Lidahnya terasa keluh untuk berbicara, matanya memanas. Dadanya bahkan terasa begitu sesak.
Azlan yang menyadari perubahan wajah Zea langsung mendekatinya.
"Ada apa Ze?" tanya Azlan lembut.
Tiba-tiba saja air mata Zea menetes, jatuh di atas pipi mulusnya. Bersamaan dengan ponselnya yang jatuh tepat di paha kanan Zeo. Tidak menunggu lama Zeo langsung mengarahkan ponsel itu ke telinganya, karena melihat sambungan telepon itu belum mati.
"Halo, Om ada apa?" tanya Zeo.
"Zea kamu kenapa nangis sayang?" Marisa terlihat sedikit panik ketika menyadari Zea menangis.
Zea tidak menggubris ucapan Marisa, tatapannya lurus dan terlihat kosong. Hanya air mata yang terus menetes.
"APA!!" pekikan Zeo membuat semua orang menatapnya, kecuali Zea.
"Ada apa Ze?"
"Iya Zeo ada apa?" Marisa semakin bingung begitupun mereka semua yang ada di tempat itu.
Zeo mengacak-acak rambutnya frustasi. Zeo menghela napasnya pelan. Kemudian menatap semua orang yang menatapnya dengan tatapan tanya. Zeo berusaha sekuat mungkin menahan emosinya saat ini.
"Ada apa Zeo, coba ngomong pelan-pelan." Kali ini Gibran bersuara.
Zeo menghela napas sekali lagi. Kemudian Zeo memeluk Zea dengan erat, tampak bahu Zea yang bergetar hebat setelah itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang, kak."
* * *
Zea berjalan dengan langkah lunglai saat ini. Tubuhnya yang di sangga oleh Azlan bahkan tidak sanggup untuk ia bawa berjalan. Hatinya begitu hancur, air matanya terus saja tumpah.
Berita yang ia dengar belum lama tadi. Membuat semua semangat Zea hilang. Bahagianya sudah tidak ada lagi saat ini.
Azlan yang melihat Zea begitu lemah seperti ini begitu tidak tega. Jalan Zea saja sudah seperti orang tidak bernyawa.
Wajahnya yang sudah sembab, karena menangis sejak tadi ketika di perjalanan menuju rumah sakit, membuat mata gadis itu menjadi sedikit bengkak. Zea memang tidak meraung-raung, namun tangis dalam diamnya membuat Azlan terasa teriris.
Azlan membantu Zea untuk membuka pintu ruang rawat. Dengan langkah begitu pelan Zea dan Azlan masuk ke dalam.
Begitu sampai di dalam ruangan, Zea hanya diam di tempat. Langkahnya terasa begitu berat. Matanya semakin memanas, bahkan tubuhnya semakin melemah. Bersuara saja ia tidak lagi sanggup. Tubuh yang beberapa jam lalu Zea masih dipenuhi alat rumah sakit kini sudah ditutupi oleh kain putih.
Azlan merangkul bahu Zea dengan lembut, kemudian membawa gadisnya itu mendekat ke tubuh yang sudah terbaring kaku di hadapannya.
Hanya ada Azlan dan Zea di ruangan ini. Tentunya dengan ayah Zea yang sudah tertidur untuk selamanya itu.
Zea masuk ke dalam ruangan ini setelah Zeo keluar untuk menenangkan Zia. Awalnya Zeo ingin menemani Zea, untungnya ada Azlan yang membuat dirinya tidak bingung untuk menenangkan siapa dulu.
Zea berjalan mendekati mayat Ayahnya. Zea membuka pelan kain penutup berwarna putih itu. Matanya kembali memanas ketika berhasil melihat dengan jelas wajah pucat ayahnya yang saat ini terlihat semakin memucat.
Zea menggigit jempolnya, berusaha untuk tidak teriak histeris karena menangis. Namun Tubuhnya tetap bergetar kuat karena tangisnya yang semakin hebat. Zea langsung memeluk Azlan, tubuh gadis itu begitu lemah saat ini. Zea mulai terisak di dada bidang Azlan.
Azlan hanya mampu mengelus bahu Zea untuk menguatkan gadisnya itu. Karena percuma berbicara nantinya hanya akan membuat Zea semakin pusing.
Zea mengendurkan pelukannya, kemudian menghapus kasar air matanya. Zea beralih pada ayahnya, air matanya kembali menetes. Zea mendekatkan tubuhnya ke tubuh ayahnya lalu mulai mengecup pelan pipi ayahnya yang terasa begitu dingin itu. Bahkan air mata Zea juga ikut jatuh di wajah pucat ayahnya itu.
Zea mulai limbung kebelakang, untungnya dengan sigap Azlan langsung menopangnya.
"Kenapa ya Lan? Kenapa gue bisa nggak seberuntung ini," Zea berkata dengan suara yang bergetar.
"Gue ini anak nggak berguna tahu nggak lo. Bahkan, di saat detik-detik ayah gue mau pergi untuk selamanya aja gue nggak ada di sampingnya."
"Gue nyesel Lan, gue nyesel hiksss,"
"Kenapa coba gue harus pergi tadi? Kalau aja gue nggak pergi, gue pasti masih sempat jumpa ayah dan ngomong sama dia." Isakan Zea kembali menjadi-jadi. Namun Zea tetap berusaha mengontrol emosinya.
"Gue benci sama diri gue sendiri Lan, Gue BENCI!!! Gue anak yang nggak berguna tahu nggak Lo, gue nggak pantes di anggap anak sama ayah."
"Bener kata Ayah, gue ini anak nggak tahu di untung," Azlan langsung memeluk Zea dengan erat. Zea hanya mampu membalasnya dengan lemah. Air matanya tidak hentinya terus mengalir .
"Lo nggak boleh ngomong begitu Zea, Ayah Lo nggak mungkin berpikiran begitu. Disini yang salah gue, bukan Lo. Gue yang ngajak Lo pergi, seharusnya gue nggak ngajak lo, di sini gue yang salah Zea bukan Lo. Jadi please jangan terus salahin diri Lo,"
Tiba-tiba saja seorang perawat datang menghampiri Zea dan Azlan.
"Apa benar adek ini bernama Zea, putri dari bapak Fahmi?" Zea mengusap pelan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Iya," jawab Zea semampunya.
Perawat itu tersenyum menguatkan.
"Ini ada surat buat kamu. Ini dari pak Fahmi, sebelum beliau meninggal beliau sempat menulis ini. Dan beliau meminta saya untuk memberikannya kepada putrinya yang bernama Zea," Zea masih menatap surat beramplop putih itu dengan tatapan datar, namun tidak lama setelah itu Zea mulai mengambilnya dengan tangan sedikit bergetar.
"Pak Fahmi tadi juga bilang kalau beliau sangat menyayangi putri sulungnya, karena dia adalah kebanggaannya." Hati Zea kembali teriris mendengar ucapan perawat itu. Isakan tangisnya kembali terdengar.
"Kalau begitu saya pamit keluar ya, kamu harus tetap semangat Zea. Karena ayah kamu begitu menyayangi kamu," Zea mengangguk cepat. Kemudian perawat itu berjalan keluar dari ruang rawat.
Zea menepis pelan tangan Azlan, kemudian berjalan mendekati ayahnya kembali.
"Maafin Zea ya yah, karena telat datang kesini. Seharusnya kita bisa jumpa tadi, terus ngobrol banyak. Tapi ternyata ayah lebih milih mau tidur lagi. Nggak papa kok Yah, Zea bakal ikhlasin ayah. Sama kayak waktu itu Zea ikhlasin bunda. Zea janji, Zea bakal jaga adik-adik untuk ayah. Ayah yang tenang disana ya, ayah pasti bahagia. Zea sayang ayah." Setelah mengatakan kalimat itu, Zea langsung mencium ayahnya lalu lari keluar dari ruangan.
Zea tidak tahan dengan semuanya. Lagi dan lagi. Dia harus merasakan lagi kehilangan. Zea berhenti tepat di depan pintu ruangan ayahnya. Dan seketika tubuhnya luruh ke lantai dan tangisnya semakin pecah. Meski ia menangis tanpa suara. Namun bahunya yang bergetar cukup hebat membuat siapapun yang melihat tahu bahwa Zea sedang tidak baik-baik saja.
Tiba-tiba sebuah lengan kekar memegang dua bahunya dari arah depan. Sontak Zea langsung menoleh, dengan wajah penuh dengan air mata.
"Om, ayah hikksss." Zea langsung memeluk Antoni. Antoni adalah orang yang mengerti Zea sepeti ayahnya sendiri selama ini.
"Kamu yang sabar ya sayang. Om sama Tante selalu ada buat kamu, Zeo dan juga Zia." Bisik Antoni lembut.
"Tapi Om kenapa, kenapa harus ayah Zea? Kenapa harus Zea lagi yang kehilangan? Kenapa om, kenapa?" suara Zea terdengar begitu parau. Tangisan yang ia tahan membuat suaranya menjadi serak.
Sedangkan Azlan yang melihat itu tidak dapat berbuat apa-apa. Lagi dan lagi Azlan merasa tidak berguna. Untuk kesekian kalinya ia melihat Zea menangis namun tidak dapat berbuat apa-apa.
"Zia dimana Om?" tanya Zea dengan sesenggukan.
"Dia udah di bawa ke rumah sama Zeo. Om mau ngurus kepulangan jenazah ayah kamu dulu. Kamu pulang aja sama Azlan duluan, ya." Zea menggeleng lemah.
"Zea mau pulang bareng ayah," Azlan tidak tahan lagi. Air matanya juga ikut menetes kali ini. Melihat Zea seperti itu hatinya terasa sakit, seakan sakit yang Zea rasakan ia juga ikut merasakannya.
Antoni mengangguk pelan, ia berusaha tersenyum. Antoni terus berusaha menahan air matanya. Dia harus tegar di hadapan Zea. Sebenarnya air matanya sudah ingin menetes sejak tadi. Bukan karena dia lelaki lemah tetapi kesedihannya begitu dalam kali ini.
Fahmi bukan hanya sekedar Abang ipar di dalam hidupnya. Fahmi adalah sahabat sekaligus sosok yang menjadi panutannya. Sahabatnya serta rekan kerjanya. Fahmi memiliki peran penting di dalam hidup Antoni sebenarnya.
"Yaudah kalau begitu, kamu bangkit dulu jangan duduk di lantai begini." Zea mengangguk lemah. Kemudian berusaha untuk bangun. Namun entah mengapa kepalanya terasa begitu berat. Bahkan pandangannya mulai menggelap sampai akhirnya Zea pingsan.
"Zea," pekik Antoni langsung.
Melihat Zea pingsan Azlan langsung menghampiri Antoni.
"Om biar saya aja yang bawa Zea," ucap Azlan. Antoni mengangguk kemudian menyerahkan keponakannya kepada Azlan.
"Kamu anterin Zea ke rumah ya Lan, biar jenazah ayahnya om yang urus." Ucap Antoni dibalas anggukan oleh Azlan.
Setelah itu Azlan langsung menggendong Zea dan membawanya menuju mobilnya. Azlan hanya berharap apa yang ia lakukan kali ini benar.
* * *
Zea menatap lurus ke depan, wajahnya yang begitu murung membuat siapapun melihatnya menjadi tidak tega. Wajah cantiknya yang sempat ceria kini kembali menjadi wajah datar tanpa ekspresi.
Zea duduk diam di pinggir kolam berenang dengan dua kakinya ia biarkan terkena air kolam berenang. Matanya memandang jauh entah kemana.
Pemakaman ayahnya baru saja selesai, setelah itu Zea tidak lagi menangis namun dia menjadi lebih pendiam dan selalu menyendiri seperti ini. Zea kembali berbeda saat ini. Tanpa Zea ketahui ada yang melihatnya dari jauh.
"Zea," lirihnya. Kepalanya terasa begitu sakit ketika mengucap nama itu.
"Apa gadis itu Zea? Jika dia benar Zea, dia pasti tahu siapa aku." Gumam wanita itu lagi. Wanita itu mulai melangkah mendekati Zea. Zea tidak menyadari itu. Wanita itu meski ragu namun pasti ia hampir dekat dengan Zea. Siapa sangka sebuah lengan menariknya hingga membentur tembok.
"Apa yang kamu lakukan?" desis si pemilik lengan tadi.
"Aku hanya ingin menemuinya." Ucap wanita itu jujur dengan sedikit getaran di tangannya ia menunjuk ke arah Zea.
"Kamu gila!!"
"Itu akan membahayakan mu, jadi aku mohon tetap di tempatmu, demi keamananmu." Ucap pria itu.
"Tapi aku,"
"Aku tidak menerima penolakan," wanita itu langsung menunduk dalam. Matanya entah kenapa berkaca-kaca. Ada rasa perih ketika pria di hadapannya ini melarangnya untuk menghampiri gadis yang tengah duduk di tepi kolam berenang itu. Wanita itu tidak tahu apa yang ia rasakan. Yang dia tahu hatinya terasa sedih. Seakan merasakan hal yang sama dengan gadis yang ia lihat tadi.
Menyadari wanitanya menangis, pria itu langsung memeluknya erat.
"Maafkan aku, jangan menangis. Ini semua demi keamananmu, ada waktunya kamu akan keluar dari tempat ini. Tapi tidak untuk sekarang, jadi lebih baik ikuti perkataan ku," seru pria itu. Wanita itu hanya mengangguk lemah dalam pelukan pria yang ia cintai itu.
Di sisi lain Zea masih tetap pada posisinya, berulang kali Zeo sudah mengajaknya untuk beranjak dari tempat itu namun ia tetap menolaknya.
Tempat ini adalah tempat favoritnya dan bundanya dulu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di tempat ini. Dan tempat ini juga menjadi tempat Zea ketika merasa sedih dan tidak enak hati.
"Ekhhmm," sebuah deheman membuat Zea menoleh.
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Azlan langsung duduk di samping Zea.
Keheningan terjadi di antara mereka. Azlan tahu Zea masih belum mau berbicara banyak, di tambah lagi keadaan hatinya yang pasti terasa begitu hancur. Namun itulah tugas Azlan sebenarnya, menghibur Zea ketika terpuruk seperti ini.
"Maaf," ucap Azlan lirih. Membuat Zea menoleh sekilas.
"Gila!!" Azlan terkekeh. Zea menyebutnya gila. Biasanya ia selalu tidak suka, namun kali ini sebutan Zea itu membaut hatinya senang.
"Iya,"
"Aneh,"
"Iya."
"Anak setan,"
"Gue anak mama Ze," Zea tersenyum getir.
"Gue udah nggak punya mama ataupun papa,"
Ucapan Zea membuat Azlan teriris, lagi-lagi ia salah dalam berbicara.
"Maafin gue," Azlan kembali meminta maaf.
"Bukan Lo yang nyabut nyawa ayah atau bunda gue, tapi Tuhan jadi nggak perlu terus-terusan minta maaf."
"Tapi gue udah salah karena ngajak Lo pergi," ucap Azlan menyesal.
"Gue bisa aja nolak lo kan, tapi buktinya gue nerima dan mau Lo ajak. Jadi nggak sepenuhnya salah Lo. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, semuanya udah takdir." Zea mantap Azlan singkat kemudian kembali menatap air kolam renang.
"Gue emang sedih Lan. Bahkan gue hancur dan gue nggak tahu akan balik lagi kayak dulu lagi atau nggak, tapi bukan berarti gue harus nyalahin Lo, kan dalam hal ini."
"Jangan ngomong gitu Ze. Ingat, gue selalu ada untuk Lo. Kapanpun dan di saat apapun itu. Gue sayang sama Lo," Zea menatap Azlan. Kali ini cukup lama. Gadis itu berusaha menunjukan senyuman manisnya. Namun tetap saja kesedihannya dapat tertangkap jelas dari manik matanya yang coklat itu.
"Makasih Lan,"
Azlan mengangguk palan, kemudian menurunkan kakinya ke kolam berenang, mengikuti apa yang Zea lakukan sejak tadi. Zea melirik sekilas namun setelah itu ia kembali fokus pada tatapan kosongnya.
"Lo tahu nggak Ze,"
"Nggak." Jawab Zea cepat.
Azlan terkekeh kecil, kemudian mengecek pelan rambut Zea yang tergerai bebas.
"Gue belum selesai ngomong,"
"Oh, yaudah lanjutlah."
"Lo tahu nggak tiga hal yang datang ke hidup kita tanpa permisi?" Zea menoleh sekilas. Kemudian menatap lurus kembali.
"Maling,"
Jawab Zea asal. Sontak Azlan kembali terkekeh.
"Bukanlah,"
"Terus apaan dong. Kan maling nggak pernah izin mau maling, kalau dia izin pasti ketangkep satpam di pos ronda."
"Lagian yang datang tanpa izin itu ya udah pasti pencuri atau maling, gimana sih Lo." Tambah Zea lagi.
Azlan hanya dapat menghela napas mendengar jawaban ajaib dari Zea barusan.
"Ada tiga hal yang datang ke hidup kita tanpa permisi, semua itu adalah takdir, rezeki, dan maut."
Zea langsung menoleh ke arah Azlan. Menatap lekat manik mata pria itu.
"Yang namanya kematian itu udah di atur oleh-Nya sang pencipta alam semesta. Kita nggak ada yang tahu,"
"Iya gue tahu Lan, itu sebabnya gue berusaha ikhlas." Tiba-tiba Zea menyandarkan kepalanya di pundak Azlan.
"Gue pinjem bahu Lo bentar," ucap Zea.
Awalnya Azlan menegang karena kaget oleh sikap Zea, namun sedetik kemudian Azlan menetralkannya kembali. Bersikap biasa saja, supaya gadisnya itu tetap nyaman bersandar di bahunya.
"Nggak usah minjem, bawa pulang aja gue kasih kok," ucap Azlan dengan nada bercanda. "Ikhlas malah," tambah Azlan lagi.
Zea terkekeh pelan, kemudian mencubit pelan perut Azlan membuat Azlan sedikit meringis.
"Makasih ya Lan," bisik Zea.
"Untuk?"
"Semuanya,"
"Emang semuanya itu apa? Kulkas? Lemari? Atau tempat tidur?" seketika Zea langsung mengangkat kepalanya dari bahu Azlan, kemudian menatap tajam pria itu.
Sedangkan Azlan hanya memberikan tatapan tanpa dosa miliknya.
"Pis sayang, jangan marah dong. Tanduknya entar keluar loh,"
Zea membulatkan matanya. Sekali lagi Azlan memancing emosinya. ingin rasanya Zea mencincang Azlan kali ini juga.
Cup
Untuk kedua kalinya Zea membulatkan matanya. Baru saja Zea merasakan benda kenyal menempel sekilas di pipi kirinya.
"Lo," geram Zea.
"Iya gue, kenapa?"
__ADS_1
"Makin ngeselin aja sih," protes Zea.
"Kan gue udah pernah bilang, semuanya nggak ada yang gratis. Kalau cuma terima kasih doang nggak berkesan. Dan kalau gue minta Lo yang cium pasti nggak bakal mau, yaudah gue aja yang cium Lo." Untuk kesekian kalinya kepala Zea terasa ingin meledak. Azlan semakin membuat emosinya naik turun saja.
Bunuh orang dosa nggak sih?
Jika tidak sedang dalam keadaan berduka seperti ini, sudah dapat dipastikan Zea dan Azlan akan beraksi seperti tom and Jerry. Kejar-kejaran seperti anak kecil.
"Ze," sebuah suara membuat Zea dan Azlan langsung menoleh secara refleks.
"Putri,"
Putri langsung mendekati Zea, bahkan memeluk sahabatnya itu. Tanpa penolakan Zea pun menerima pelukan hangat sahabatnya itu.
"Maafin gue ya Ze," ucap putri lirih. Gadis itu mulai menangis.
"Gue telat kesininya," Zea mengendurkan pelukannya.
Putri menatap sendu kepada sahabatnya itu. Putri tahu benar Zea sedang berusaha menutupi kesedihannya.
Putri beralih menatap Azlan.
"Apa?" tanya Azlan langsung.
"Gue boleh minta waktu berdua sama Zea sebentar Kak, gue pengen ngomong sama Zea."
"Gue nggak mungkin ngelarang dua sahabat yang mau ngobrol, kan? Jadi kalian ngobrol aja sepuasnya." Putri dan Zea mengangguk kemudian Azlan pergi dari tempat itu.
"Ze,"
"Hem,"
"Lo baik kan?" Zea memicingkan matanya.
"Kalau ditanya begitu gue pasti bakal jawab sedang tidak baik-baik aja, karena gue baru aja kehilangan seorang ayah. Gue hancur Put, gue terpuruk. Tapi dari semua itu gue sadar, kalau yang tercipta di bumi ini hanyalah bersifat sementara nggak ada yang abadi. Termasuk umur seseorang, jadi dari hal itu gue berusaha untuk ikhkasin Ayah." Putri langsung memeluk Zea kembali. Sikap tegar Zea seperti ini yang putri takutkan. Sikap merasa baik-baik saja yang merubah Zea menjadi pendiam.
"Ze please jangan gini, Lo nggak sekuat itu. gue tahu Lo butuh sandaran." Zea tidak merespon putri. Gadis itu hanya menatap kosong ke depan.
"Ze, gue nggak mau Lo balik jadi sedingin dulu lagi. Gue tahu Lo begitu kehilangan, tapi jangan jadikan hal itu yang membuat gue kehilangan sosok sahabat gue, gue nggak mau Ze gue nggak mau." Tangis putri sudah pecah. Gadis itu terus menangis di pundak Zea. Sedangkan Zea masih sama, gadis itu masih menunjukan wajah tanpa ekspresi miliknya.
"Gue nggak papa put, Lo tenang aja.Gue tetap sahabat lo yang akan selalu ada buat Lo," Zea melepaskan pelukan putri. Dengan cepat Ze langsung berdiri lalu berjalan meninggalkan Putri.
Zea tahu Putri mengikutinya.
"Biarin gue sendiri put, gue perlu waktu." Setelah mengatakan itu Zea kembali melanjutkan langkahnya.
Sedangkan putri kembali menangis hebat. Untuk pertama kalinya dia di abaikan oleh Zea. Bahkan ini pertama kalinya Putri melihat Zea seperti itu. Zea terlihat begitu hancur kali ini. Putri tahu benar hal itu. Apa salahnya jika Putri ingin Zea membagi lukanya, karena ia adalah sahabat Zea. Namun Putri merasa Zea tidak akan menginginkan hal itu.
Tubuh putri bergetar dan mulai luruh ke lantai.
"Sayang," Diana menghampiri putrinya.
"Mah, Zea mah hiks." Putri menangis di pelukan Diana. Rasanya begitu sakit ketika Zea bersikap seperti itu padanya.
"Zea begitu hancur mah. Zea berubah menjadi sedingin itu, Putri takut mah." Isak putri lagi.
"Tenang sayang, Zea nggak papa.Kamu jangan nangis terus, Zea pasti akan baik-baik aja ya. Kamu harus semangati Zea, jadi kamu jangan nangis gini dong, jelek tahu kamu kalau nangis," Putri berusaha menghentikan tangisannya. Dengan sesekali membuka kacamatanya yang penuh dengan air mata.
Maaf udah buat Lo seperti itu put. Tapi rasa ini, rasa sakit ini biarlah gue yang merasakannya sendiri.
* * *
Zea duduk di tepi ranjang dengan tatapan masih sama datarnya. Rambutnya yang tergerai kali ini sudah ia ikat dengan asal. Zea mendengar sebuah notifikasi di ponselnya. Dengan gerakan pelan Zea langsung membukanya.
AZLAN ❤️
Gue di depan pintu kamar lo
Zea memicingkan matanya ketika membaca pesan Azlan barusan.
Ngapain Lo di situ?
✓✓
Jadi satpam??
✓✓
Bukain pintunya atau gue dobrak?
Zea berdecak membaca pesan Azlan ini. Zea kembali mengetikan sesuatu di benda pipih miliknya untuk menjawab pesan Azlan.
Silahkan aja, bukan rumah gue juga
✓✓
Setelah mengirim pesan itu Zea langsung waspada. Lagipula centang dua yang ada di bawah pesan itu kini sudah berubah warna menjadi biru. Menandakan Azlan sudah membacanya.
Zea waspada dan berjaga-jaga jika Azlan benar-benar mendobrak pintu kamarnya. mengingat Azlan adalah orang yang tidak main-main dengan ucapannya.
Namun bukan suara dobrakan yang Zea dengar melainkan suara kenop pintu. Tidak lama setelah suara itu pintu kamar Zea terbuka lebar, memperlihatkan Azlan yang tersenyum lebar juga. Zea menatap tajam ke arah Azlan.
"Lo kok bisa masuk? Pintunya kan gue kunci," sergah Zea langsung.
Azlan tersenyum simpul kemudian mengangkat tangan kirinya yang memegang sebuah kunci kamar.
"Karena gue punya ini, jadi nggak perlu ngedobrak." Jawab Azlan dengan bangganya.
Zea tahu yang Azlan pegang adalah kunci cadangan pintu kamarnya. Dan yang memegangnya sudah pasti Fida. Zea yakin pria di hadapannya itu pasti yang memintanya.
Azlan berjalan mendekati Zea lalu duduk di tepi ranjang tepat di samping Zea. Azlan merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih.
"Apaan nih? Uang bulanan?" tanya Zea langsung.
Azlan terkekeh pelan. Kemudian menyentil pelan hidung Zea, membuat gadis itu berdecak.
"Belom waktunya gue ngasih Lo uang bulanan, entar kalau Lo udah kasih gue jatah tiap hari gue pasti bakal kasih Lo uang bulanan plus bonus malahan,"
Plak
Zea memukul kening Azlan cukup kuat.
"Otak Lo makin nggak beres,"
Tidak memedulikan Azlan yang masih meringis Zea langsung menarik amplop putih itu. Zea merasa tidak asing dengan kertas yang ia pegang sekarang.
"Itu surat yang di kasih suster di ruangan almarhum ayah Lo tadi pagi. Jatuh di mobil gue pas Lo pingsan." Ucap Azlan menjawab apa yang ada di pikiran Zea.
Tanpa berpikir lagi Zea langsung membuka amplop itu. Ternyata ada tiga lembar kertas di dalamnya. Sepertinya keras ini adalah surat. Zea langsung mengambil salah satu kertas yang bertuliskan namanya, tidak menunggu lama Zea langsung membukanya lalu membaca isi surat itu. Sedangkan Azlan hanya memperhatikan Zea dengan serius.
**To:Kesayangan Ayah, Zea❤️
Assalamualaikum sayang. Kamu apa kabar? Tentu baik-baik aja kan. Oh iya, mungkin ketika kamu baca surat ini ayah udah nggak ada lagi di samping kamu, Zea. Tapi kamu nggak boleh sedih ya, karena ayah selalu ada di hat kamu.
Zea, maafkan ayah ya kalau selama ini sering nyakitin hati kamu. Maaf karena sering bersikap tidak adil sama kamu.
Kamu jangan salah faham sama ayah ya sayang. Ayah ngelakuin itu bukan berarti ayah nggak sayang sama kamu. Ayah sangat sayang sama kamu karena kamu adalah cinta pertama ayah dan bunda. Kamu kesayangan kami.
Zea, maaf jika kehadiran ibu tiri mu membuat kamu menjadi tidak nyaman. Maafkan ayahmu ini.
Tetapi asal kamu tahu sayang, ayah menikah lagi bukan karena tidak mencintai bunda kamu lagi, bukan itu alasannya sayang.
Ada pekerjaan yang harus ayah kerjakan waktu itu dan hal itu membuat ayah harus pergi dalam waktu yang lama. Ayah tidak ingin kalian tidak terurus atau bahkan kesepian, itulah alasan yang membuat ayah menikah lagi.
Namun ayah salah dalam hal ini. Ibu tiri kalian membuat ayah tidak adik kepada anak-anak ayah. Maafkan ayah sayang, maaf.
Ayah mau kamu selalu bahagia ya sayang. Kamu harus bahagia ada atau tanpa ayah di sisi kamu.
Jaga adik-adikmu, mereka masih membutuhkan kamu Zea.
Ada hal yang juga harus kamu tahu Zea, bahwa adikmu Zia memiliki saudara kembar**.
Air mata Zea yang tadinya mengalir kini berhenti ketika membaca tulisan itu. Zea menatap Azlan sekilas. Ternyata pria itu juga menatap Zea dengan tatapan bingung, Azlan juga ikut membaca isi surat itu. Namun setelah itu Zea kembali melanjutkan membaca.
Ayah sudah berusaha mencarinya, namun tidak ayah temukan. Cari dia. Dia memiliki tanda lahir yah sama seperti Zia di tengkuknya.
**Setelah kamu temukan, jaga mereka baik-baik. Jangan terlalu mempercayai orang terdekat, karena bisa jadi mereka musuh dalam selimut.
Satu hal lagi yang harus kamu tahu, BUNDAMU MASIH HIDUP.
Cari secepatnya, bunda membutuhkan mu. Ayah selalu sayang padamu, Assalamualaikum**.
Sontak mata Zea langsung membulat. Tubuhnya seketika melemas, bahkan kertas yang ia pegang jatuh dari genggamannya. Apa yang ia baca barusan begitu sulit untuk dipercaya. Bundanya yang sudah dua tahun dikabarkan meninggal ternyata masih hidup. apa itu mungkin?.
"Ze, Lo baik, kan?" tanya Azlan was-was ketika melihat wajah Zea yang begitu pucat.
"Lan, bunda gue Lan. Bunda gue masih hidup," ucap Zea sedikit histeris.
"Hah, maksudnya?"
"Iya Lan, Lo baca ini baca ayah nulis ini," Zea memberikan surat itu pada Azlan dengan isakan tangis yang tidak lagi ia tahan.
"Gue nggak boleh sedih lagi, gue harus cari bunda. Bunda masih hidup," ucap Zea dengan menghapus kasar air matanya.
"Lan bunda gue masih hidup, kita harus cari bunda sekarang Lan ayo Lan." Zea menarik Azlan.
"Ze, tenang Zea tenang,"
"Gue akan tenang kalau udah ketemu bunda. Ayo Lan temenin gue cari bunda."
"Ze tenang dulu tenang,"
"Lo dari tadi ngomong tenang mulu, kalau Lo nggak mau nemenin gue yaudah gue bisa cari sendiri," Zea berjalan meninggalkan Azlan. Namun Azlan tidak membiarkan hal itu terjadi. Azlan mengejar Zea, kemudian menarik Zea ke dalam pelukannya.
"Lepasin gue Lan," ucap Zea berusaha untuk melepaskan pelukan Azlan yang cukup kuat.
"Gue mau cari bunda, lepasin gue Azlan." Teriak Zea.
"Gue akan bantu Lo, tapi nggak sekarang Zea." Azlan melepaskan pelukannya, lalu menangkupkan tangannya di pipi Zea.
"Ayah Lo baru aja meninggal, dan nggak mungkin Lo pergi dari rumah sekarang Ze, Lo harus tetap di rumah,"
"Tapi Lan,"
"Lo tetap di rumah," ucap Azlan penuh penegasan. Melihat Azlan seperti itu nyali Zea menciut. Dia bungkam dan memilih kembali duduk di tepi ranjang tidurnya.
* * *
Beberapa jam lalu ketika di rumah sakit.
Seorang suster tengah mengecek keadaan pasiennya. Mengganti cairan infus yang telah habis dengan cairan yang terisi penuh. Mata suster itu teralih pada jari tangan pasien yang mulai bergerak, ia beralih melihat mata pasien dan ternyata kelopak mata itu perlahan terbuka.
Mata pasien melihat ke segala arah mencoba menyesuaikan cahaya lampu yang begitu terang dengan retinanya. Terlalu lama tertidur mungkin membuat pandangannya terasa gelap ketika membuka mata.
"Pak Fahmi, apa bapak bisa dengar saya?" suster itu berusaha memancing interaksi dari pasien.
Pasien mengangguk lemah.
"Baiklah pak, saya akan memanggil keluarga bapak." Ucap suster itu.
"Sus," cicit pasien dengan suaranya yang terdengar begitu lemah.
"Saya nggak yakin saya akan bertahan lama sus," suster itu memicingkan matanya.
"Bapak jangan bicara seperti itu, bapak baru saja sadar. Saya harus panggil dokter dan memberitahukan hal baik ini kepada keluarga bapak, mereka pasti senang,"
Pasien yang merupakan Fahmi itu menggeleng lemah.
"Apakah anak-anak saya ada di luar?" tanya Fahmi.
"Maaf pak, sepertinya mereka baru saja pergi. Saya tidak tahu mereka kemana tapi tadi saya melihat mereka berpakaian rapi," Fahmi tersenyum hambar.
"Kalau begitu jangan beritahukan kepada kerabat saya yang ada di luar kalau saya sudah sadar sus, saya tidak ingin bertemu siapapun kecuali anak-anak saya."
"Tapi pak bukannya yang di luar itu adalah dokter Fida, adik dari dokter Aisyah, Almarhumah istri bapak." Ucap sang suster lagi.
"Kamu mengenal Almarhumah istri saya?" tanya Fahmi dengan senyuman tipis.
"Tentu pak, siapa yang tidak mengenal dokter cantik yang begitu ramah seperti dokter Aisyah." Ucap suster itu dengan semangatnya.
Fahmi kembali tersenyum.
"Bahkan saya dapat mengenali anak perempuan bapak karena dia begitu mirip dengan dokter Aisyah." Tambah suster itu.
Senyuman Fahmi semakin lebar.
"Sus bisa tolong saya," ucap Fahmi.
"Tentu pak, apa yang bisa saya bantu?" suster itu tersenyum ramah.
"Boleh saya minta kertas dan pena sus,"
"Tentu pak, akan saya ambilkan." Suster itu langsung pergi dari ruangan itu sebentar lalu kembali lagi dengan membawa sebuah kertas dan bolpoin.
"Ini pak," ucap Suster itu seraya memberikan benda yang ia pegang kepada Fahmi.
"Dokter akan datang sebentar lagi, bapak tetap harus diperiksa dahulu." Fahmi mengangguk.
Setelah itu Fahmi mulai menggerakkan jarinya untuk memegang bolpoin berwarna hitam itu, untuk ia gunakan menulis di selembar kertas putih yang Suster tadi berikan padanya.
Tidak lama setelah itu dokter datang dan memeriksa keadaan Fahmi. Sebelumnya suster telah memberitahukan apa yang Fahmi katakan tadi, karena ingin pasien baik-baik saja Dokter Fito mengikutinya saja. Dokter Fito memeriksa keadaan Fahmi lalu mengatakan kepada suster untuk terus mengawasinya, karena kondisi Fahmi masih naik-turun, Dokter Fito takut jika Fahmi tiba-tiba drob lagi nantinya. Setelah itu Dokter Fito keluar dari ruang rawat Fahmi.
Fahmi yang telah selesai menulis di kertas kosong tadi langsung merapikan bolpoinnya lalu melipat kertasnya beberapa kali, setelah itu ia berikan kepada suster yang bernama Novi itu.
"Tolong berikan ini nanti kepada Putri saya, namanya Zea. Katakan padanya bahwa saya sangat menyayanginya." Suster Novi langsung menerima kertas itu.
"Baiklah pak," ucap Suster Novi. Tiba-tiba saja.
Cklek
Pintu ruangan terbuka. Seorang pemuda seumuran dengan Fahmi tengah berdiri di ambang pintu. Tatapan matanya menggambarkan keterkejutannya. Perlahan pemuda itu berjalan mendekat ke ranjang tempat Fahmi berbaring.
Fahmi mengisyaratkan kepada suster Novi untuk menyimpan kertas yang baru saja ia berikan tadi.
"Fahmi, kamu udah sadar." Ucap pemuda itu tidak percaya.
Awalnya Fahmi memberikan wajah datar dan dingin namun sedetik kemudian ia tersenyum hangat. Mungkin ekspresi datar dan dingin Zea itu ia warisi dari ayahnya ini.
"Antoni,"
"Ya Allah, Alhamdulillah. Semuanya harus tahu hal ini," Antoni hendak melangkah keluar namun Fahmi memanggilnya.
"Tolong jangan beritahu orang lain dulu. Aku mau bicara denganmu Antoni, kemarilah." Antoni sedikit bingung namun ia tetap melangkah mendekati Fahmi.
"Suster keluar sebentar tidak masalah kan, aku ingin berbicara dengan adik iparku terlebih dahulu." Ucap Fahmi dibalas anggukan oleh suster Novi.
"Baiklah saya tinggal kalau begitu," ucap suster Novi sopan kemudian dia berjalan keluar dari ruang rawat Fahmi.
Sepeninggalnya suster Novi Fahmi langsung menatap Antoni.
"Toni, kamu sudah aku anggap seperti adik ku sendiri. Kamu adalah sahabatku dan juga rekan kerja ku."
Antoni mencoba tersenyum.
"Antoni bisakah kamu menolong ku?"
"Apa yang bisa ku bantu untukmu?" tanya Antoni langsung.
"Kamu begitu menyayangi putriku Zea, kan?" Antoni mengangguk.
"Tolong jaga dia dan juga adik-adiknya, jadilah ayah untuknya menggantikan ku." Antoni membulatkan matanya.
Antoni langsung mendekatkan dirinya pada Fahmi. Memegang tangan Fahmi yang terasa dingin.
"Apa yang kamu katakan? Mereka tetap anak-anakmu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu untuk mereka. Lagipula kamu sudah sadar Fahmi, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Antoni berusaha menyemangati.
Fahmi menggeleng lemah, air matanya menetes.
"Aku tidak akan lama lagi hidup di dunia ini. Aku mohon titip anak-anakku."
"Jangan katakan itu ku mohon," kali ini Antoni yang mulai panik. Ada rasa takut menjalar kuat di hatinya.
"Jika kamu pergi siapakah yang akan menjaga Zea? Melatih Zeo dan yang menghibur Zia?" Antoni mulai terisak.
Fahmi memegang punggung tangan Antoni.
"Jika dulu kamu yang menitipkan Aisyah padaku hari ini aku menitipkan anak-anaknya padamu." Antoni kembali terisak. "Sayangi mereka seperti anakmu sendiri,".
"Mereka sudah tidak memiliki siapapun kecuali kamu Toni, Aisyah sudah pergi lebih dulu dan kini aku akan menemuinya." Fahmi berusaha tersenyum. Padahal rasa sesak yang begitu hebat mulai menjalar di dadanya. Fahmi berusaha menahannya.
"Tolong Fahmi bertahanlah untuk anak-anakmu, mereka masih membutuhkanmu." Antoni menggeleng pelan.
"Mereka masih memiliki kamu, paman terbaik mereka."
"Tolong jaga mereka ya,"
"Lindungi mereka dari psikopat itu," Antoni sedikit terkejut dengan kalimat terakhir yang Fahmi ucapkan.
Setelah mengatakan itu Fahmi menghembuskan napas terakhirnya.
"Fahmi, Fahmi nggak---nggak mungkin. Fahmi jangan pergi. Sus--suster," Fahmi histeris memanggil suster Novi.
Mendengar teriakan Antoni yang cukup keras Suster Novi langsung masuk dan memeriksa Fahmi. Setelah itu suster menatap sendu Antoni lalu menggeleng lemah.
"Nggak sus nggak mungkin. Fahmi bangun please," air mata Antoni tidak tertahan lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia tidak akan sanggup memberitahukan hal ini kepada keponakannya.
Zea yang pernah hancur karena kehilangan harus kembali terguncang. Zeo akan semakin dingin, dan Zia? Gadis itu akan kembali murung. Semua bayangan kehancuran hati keponakannya berkelebat hebat di pikiran Antoni. Tubuhnya perlahan luruh ke lantai.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa harus secepat ini?"
Tiba-tiba saja pintu ruang rawat terbuka. Fida yang melakukan itu langsung terkejut ketika melihat pemandangan di ruangan itu.
Suaminya yang acak-acakan tengah terduduk lesu di lantai.
"Mas ada apa?" tanya Fida panik. "Kamu kenapa?" Fida menghampiri suaminya lalu merangkulnya lembut.
"Fahmi sayang, Fahmi." ucap Antoni lirih.
"Kenapa, ada apa dengan mas Fahmi?" tanya Fida semakin panik.
"Fahmi meninggal,"
"APA!!"pekikan itu berasal dari Zia yang berdiri di depan pintu. Sontak Fida dan Antoni menoleh.
Zia yang mendengar kalimat yang begitu menusuk hatinya itu langsung berlari ke ranjang ayahnya. Memeluk tubuh ayahnya yang mulai kaku itu. Zea menagis sejadi-jadinya.
"Ayah bangun ayah. Ayah nggak meninggal, kan? Om Toni pasti bohong. Ayah nggak ninggalin Zia kan yah. Bangun dong yah, Zia nggak mau di tinggal lagi hiksss," Antoni langsung bangkit dari duduknya lalu memeluk Zia dan berusaha menenangkannya.
"Ayah kenapa pergi sih. Waktu itu bunda yang pergi, sekarang ayah yang pergi. Kenapa sih yah? Ayah mau nyusulin bunda? Kenapa nggak ngajak Zia, sih? Zia juga mau ikut biar ketemu bunda, Zia kangen bunda. Zia kangen ayah juga. Bangun yah bangun."
"Tenang sayang, tenang." Antoni semakin memeluk erat Zia.
"Kenapa om kenapa? Kenapa Zia harus kehilangan lagi?"
* * *
Antoni menatap lurus ke depan. Tatapannya terfokus pada empat buah pohon bunga mawar yang beberapa hari lalu ditanam oleh Zea. Mawar itu terlihat begitu indah. Kelopaknya yang lebar membuat siapapun yang memandangnya tidak ingin berpaling.
"Kamu ngapain di sini?" suara Fida membuyarkan pandangan Antoni yang tadinya fokus pada mawar beralih ke arahnya.
"Melihat bunga mawar," jawab Antoni cepat.
Fida berdecak pelan. Wajahnya langsung berubah kesal.
"Bukankah kamu tahu aku tidak suka mawar, bahkan orang yang menyukai mawar sekalipun." Ucap Fida dingin.
Antoni tidak bergeming. Ia hanya menatap Fida cukup lama.
"Aku hanya melihatnya sayang, tidak menyukainya. Tenang saja," sahut Antoni akhirnya.
Fida bersikap acuh.
"Kita tidak ada yang tahu, bisa jadi dari melihat berubah menjadi suka." Setelah mengatakan itu Fida berjalan meninggalkan Antoni.
"Jika kamu tidak suka mawar mengapa mengizinkan Zea untuk menanamnya di sini?" ucapan Antoni sukses membuat Fida menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu ku jelaskan, kamu tahu alasannya." Kemudian Fida kembali melanjutkan langkahnya.
Antoni terkekeh pelan, kemudian kembali menatap pohon-pohon mawar itu.
"Ternyata Zea masih jadi kelemahan mu sayang," Antoni tersenyum penuh arti.
Antoni masih memandangi mawar itu cukup lama.
"Kamu benar, terlalu lama memandang mawar itu aku semakin menyukainya."
* * *
Zea menyisir rambutnya dengan cukup lambat. Semangatnya semakin tidak ada sekarang. Bahkan untuk berangkat ke sekolah saja ia malas sebenarnya. Namun mengingat dirinya sebentar lagi ujian Zea harus tetap sekolah hari ini.
Hari ini adalah hari ketiga setelah meninggalnya Fahmi, dan hari ini hari pertama Zea masuk sekolah begitupun adik-adiknya setelah kejadian itu.
Jika ditanya sedih, sudah pasti. Hancur? Bahkan begitu hancur. Zea seakan hilang arah kali ini. Semangatnya tidak ada lagi. Namun setelah tadi malam Zia mendatanginya dan menyemangatinya lagi Zea kembali semangat. Setidaknya harapan untuk bangkit itu ada karena Zia. Bahkan untuk makan Zea tidak akan mau jika bukan karena Zia.
Setelah selesai merapikan rambutnya Zea langsung mengambil tasnya lalu keluar dari kamarnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.
ZEO
Gue nggak bisa bareng kak, ada urusan mendadak.
Zea menghela napas pelan. Sudah biasa mendapatkan pesan seperti itu dari Zeo. Zea tidak membalas pesan Zeo, dia cukup membacanya saja.
Belum sempat Zea memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, benda pipih itu kembali berbunyi. Zea langsung melihatnya.
***AZLAN ❤️
Gue tahu hari ini lo masuk sekolah. Gue jemput Lo, dua puluh menit lagi gue sampe. Jangan rindu dulu ya sayang😍❤️***
__ADS_1
Zea tersenyum kecil. Setidaknya Azlan mampu menambah semangatnya sedikit. Meskipun pria itu begitu menyebalkan menurut Zea, namun dia juga yang selalu ada ketika Zea membutuhkan sesuatu.
Zea mengetikan sesuatu di ponselnya untuk membalas pesan Azlan.
Oke. Gue tunggu, dan gue nggak pernah rindu sama Lo!!!
✓✓
Yakin?
Bahkan tidak sampai dua detik Azlan sudah membalas pesan Zea.
Ya.
✓✓
Entar gue menghilang dicariin
Dih kurang kerjaan
✓✓
**Lo menghilang kayak Pluto yang hilang tanpa jejak juga gue nggak PEDULI!!!
✓✓
PACAR GUE SADISSSSSSS**
Zea terkekeh membaca pesan Azlan. Terlihat sekali pria itu kesal karena Zea.
Untung sayang😍❤️😌
Zea tersenyum malu. Zea sedikit tersipu dengan ucapan Azlan barusan.
Tidak ingin terlambat karena terus-terusan membalas pesan Azlan, Zea memutuskan untuk langsung turun menuju meja makan. Zea yakin semua orang sudah menunggunya untuk sarapan, tentunya kecuali Zeo.
* * *
Zea berjalan menuruni anak tangga, sontak semua orang yang ada di meja makan meliriknya sekilas. Zea dapat melihat Antoni tengah menikmati roti bakar di piringnya, Zia dan Rara tengah asik melahap nasi goreng yang Zea yakini masakan Fida. Sedangkan Fida sendiri tengah memegang pisau roti, sepertinya dia baru selesai memotong roti untuk ia sajikan di meja makan pagi ini.
Zea menatap Fida cukup lama. Ada banyak yang ia pikirkan tentang Fida kali ini. Namun Fida tidak menyadari hal itu.
"Umm, Zea sarapan dulu." Ucap Antoni di tengah-tengah sarapannya. Zea mengangguk dan tersenyum singkat kepada Antoni, setelah itu ia duduk di samping Zia.
"Pagi kak Zea," ucap Zia dan Rara berbarengan. Zea tersenyum singkat kepada keduanya.
"Pagi juga,"
"Kamu mau sarapan apa Ze?" tanya Fida lembut.
"Roti selai sarikaya aja Tante," jawab Zea.
Fida tersenyum kemudian mengambil selembar roti kemudian mulai mengoleskan selai selai sarikaya di atasnya.
Setelah selesai, Fida langsung memberikannya kepada Zea. Zea pun langsung menerimanya.
"Ze kamu berangkat sekolah sama siapa? Zeo tadi pamit duluan katanya ada urusan mendadak." Tanya dan ucap Antoni.
"Sama Azlan om," jawab Zea sembari mengunyah rotinya.
Antoni mengangguk sembari tersenyum.
"Kamu udah lama pacaran sama Azlan?" pertanyaan Antoni sukses membuat Zea menghentikan aktivitas mengunyahnya.
"Belum om, palingan baru beberapa bulan ini aja," jawab Zea kemudian mulai meneguk segelas susu di hadapannya.
"Sepertinya Azlan anak yang baik, om juga kenal betul keluarganya." Zea menoleh kepada Antoni.
"Dan kalian terlihat begitu cocok ya kan sayang," ucap Antoni meminta persetujuan Fida.
Zea hanya menunjukan cengirannya saja.
"Iya, Tante lihat juga Azlan itu setia banget sama kamu Ze, kemanapun dia selalu ada."
Zea menghela napas pelan. Telinganya terasanya begitu panas mendengarkan Om dan tantenya memuji-muji Azlan. Mereka tidak tahu saja bagaimana emosinya Zea ketika bersama manusia itu.
Keselek-keselek dah tuh anak setan, masih pagi udah di gosipin. Ucap Zea dalam hati.
"Iya Tante," apa lagi yang dapat Zea katakan selain mengiyakan. Toh Azlan sudah mendapatkan hati Antoni dan Fida.
"Iya Om, Tante, bang Azlan itu baik banget. Kemaren aja dia beliin Zia boneka rusa, tapi dia nggak bilang bonekanya dari dia. Bang Addar bilang boneka itu dari ayah, padahal kan kemaren itu ayah lagi sakit," Zia ikutan bersuara.
Bahkan adik gue yang bontot juga ikut nimbrung dan beargumen sekarang.
"Serius?" tanya Antoni antusias.
"Iya om, Zia serius."
"Terus kamu tahu dari mana kalau yang ngasih kamu boneka itu bang Azlan?" Tanya Antoni.
"Bang Zeo yang bilang. Katanya bang Azlan ngasih itu supaya Zia nggak sedih karena ayah sakit,"
"Iya pah bang Azlan itu baik banget," kali ini Rara yang bersuara.
Semua orang yang ada di meja makan langsung menoleh ke arahnya, termasuk Zea.
"Emang kamu udah pernah ketemu sama bang Azlan?" Fida bersuara.
Rara menggeleng pelan. Gadis kecil itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Semua orang terkekeh melihat tingkah Rara.
"Lucu banget sih anak papa, masa belum pernah ketemu udah bisa nyimpulin orang itu baik atau tidak," ucapan Antoni sukses membuat Rara memanyunkan bibirnya.
"Papa ih ngeselin. Rara itu nggak lagi ngelucu tauk, lagian Rara ngomong gitu karena kemarin Zia ngasih Rara boneka rusa yang paling gede, jadi karena boneka itu dari bang Azlan Rara anggap dia itu baik." Jelas Rara panjang lebar.
Antoni dan Fida hanya mengangguk dan mengiyakan saja ucapan Putri mereka.
Tiba-tiba saja sebuah kelakson terdengar dari luar. Zea yakini itu pasti Azlan.
"Om, Tante, Zea berangkat dulu ya Azlan udah di depan kayanya,"Zea meneguk habis susunya kemudian berjalan menyalami Antoni dan Fida satu persatu. Setelah itu beralih pada Zia dan Rara untuk ia cium pipi mereka masing-masing.
"Kakak berangkat dulu ya dek, kamu yang rajin belajarnya biar bisa jadi dokter," Ucap Zea kepada Zia kemudian mengelus lembut pucuk kepalanya.
"Siap laksanakan ibu ratu," Zea terkekeh kecil mendengar jawaban Zia. Kemudian ia beralih mengambil tasnya yang tergeletak manis di samping kursinya lalu ia melangkah menuju pintu keluar.
"Pah punya kakak kayaknya enak ya," celetuk Rara.
"Uhuk," Fida tiba-tiba tersedak. Dengan cepat Antoni langsung memberikannya minum.
"Pelan-pelan makannya mah," peringati Antoni. Fida hanya mengangguk saja.
"Kak Zea kan juga kakak kamu Ra," ucap Antoni.
"Iya Rara, kak Zea itu kakak Rara juga dan bang Zeo Abang Rara juga. Kan kita sepupuan," sahut Zia sembari meneguk susunya.
"Bedalah pah, Mereka kan kakak dan Abang Zia. Rara pengen punya sendiri," rengek Rara.
"Nanti kita beli kakak sama Abang ya Pah, Mah."
"Uhuk," kali ini Antoni dan Fida tersedak berbarengan. Sedangkan Zia sudah terkekeh mendengarkan ucapan sepupunya itu.
Fida dan Antoni saling tatap bingung harus menjawab apa.
"Nggak ada yang jual kakak-kakak Rara," Antoni berusaha berbicara.
"Pokoknya Rara nggak mau tahu, Rara mau kakak dan Abang baru titik,"
Fida hanya mampu mengelus dada mendengarkan permintaan cukup ajaib dari Putri semata wayangnya barusan.
Dimanakah mereka harus mencari kakak baru?. Apakah ada pabrik yang memproduksinya?. Terkadang Antoni dan Fida pusing sendiri menghadapi permintaan Rara yang semakin lama semakin aneh dan tidak masuk akal.
* * *
"Cantik," ucap Azlan dengan senyum manisnya ketika Zea masuk ke dalam mobilnya.
"Makasih," jawab Zea singkat.
"Dih perasaan muji Lo,"
"Terus muji siapa coba, kan yang baru masuk mobil itu gue." Balas Zea sengit.
"Gue muji seragam Lo, bukan Lo."
Zea menoleh ke arah Azlan. Pria di sampingnya ini mungkin sudah gila. Seragam yang sudah hampir satu tahun Zea kenakan masih ia katakan cantik. Sudah kucel dan berlumut yang ada. Sebenarnya Zeo sudah ingin membelikan Zea seragam baru namun Zea menolaknya dengan alasan dia tidak akan lama lagi lagi sekolah jadi tidak perlu seragam baru.
"Mata Lo buta kayaknya,"
"Lah serius Ze, yang cantik itu seragamnya. Berhubung Lo yang pake, jadi Lo kelihatan cantik deh," sahut Azlan langsung.
Pipi Zea sedikit merona dengan pujian Azlan barusan. Namun Zea pura-pura memakai earphone untuk menutupi rona di wajahnya.
"Ngeles aja Lo kek bajaj," cibir Zea.
Azlan terkekeh sebentar, kemudian menyalakan mobilnya dan mulai melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Hemm Ze,"
"Iya,"
Meskipun Zea memakai earphone gadis itu tetap dapat mendengar Azlan. Karena Zea menggunakannya dengan volume kecil.
"Mulai besok gue kayaknya nggak bisa deh anter jemput Lo," Zea menoleh sekilas mendengar ucapan Azlan.
"Emang selama ini gue minta lo buat anter jemput gue? Nggak kan, jadi itu bukan jadi masalah." Di bibir berkata seakan tidak peduli padahal di dalam hati Zea bertanya-tanya mengapa Azlan mengatakan hal itu. Mau kemanakah pria itu?.
Azlan tersenyum kecut.
"Iya juga ya Ze, kok gue ngerasa gue yang jadi pemaksa di sini yah?" sahut Azlan dengan nada yang sulit untuk Zea deskripsikan.
Entah mengapa Zea merasa sedikit menyesal berkata seperti itu kepada Azlan.
"Tapi gue kan ngelakuin itu karena cinta, jadi wajar dong," ucap Azlan lagi. Dan hal itu membuat lengkungan manis di bibir Zea tercetak jelas.
"Mulai besok gue udah masuk kuliah lagi Ze, dan waktu gue pasti bakal habis untuk kuliah dan tugas."
Zea menoleh ke arah Azlan.
"Lan Lo itu berhak melakukan apapun, dengan izin atau tanpa izin gue sekalipun. Meskipun gue pacar Lo, gue nggak berhak ngatur waktu Lo. Lagipula kesibukan kuliah itu wajar kali,"
Azlan tersenyum singkat. Entah mengapa jawaban Zea membuat moodnya menjadi lebih baik hari ini.
"Oke, thanks pacar." Zea terkekeh.
"Pacar?"
"Iya dong, Lo kan pacar gue. Emang salah?" sahut Azlan langsung.
"Nggak Lo nggak pernah salah," Azlan tersenyum puas kemudian meraih tangan Zea untuk ia genggam.
"Ehh, apa-apaan ini?" Zea sedikit terkejut tadinya.
"Gue pinjem bentar," sahut Azlan langsung.
"Dikira barang maen pinjem aja," protes Zea tidak terima.
"Iya dong, Lo kan barang berharga di hidup gue,"
"Dih modusan Lo kek isi celengan ayam Zia," celetuk Zea.
"Emang isinya apaan?" tanya Azlan penasaran.
"Receh tahu nggak Lo!!!" Zea langsung menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Azlan.
"Masih pagi juga udah berubah jadi Tarzan,"
"Bodo amat, bodo amat!!"
"Wak amat nggak bodoh Ze, malahan dia pinter. Buktinya anaknya aja ada sembilan,"
"Terus apa hubungannya sama bodoh Azlan," geram Zea.
"Ya ada lah Ze. Itu tandanya Wak amat itu pinter, pinter buat anak tepatnya."
Plak
Zea memukul jidat Azlan. Mungkin jika dihitung ini sudah lebih dari kesepuluh Zea memukul jidat Azlan dengan tangannya.
"Otak Lo perlu diobati sumpah. Makin nggak bener aja,"
"Dih orang ganteng mah bebas,"
"Terus gue peduli!!"
"Harus dong Lo kan pacar gue,"
"Tau ah Lan, gelap hidup gue ngomong sama Lo,"
"Enak tuh gelap, kan bisa ehem-ehem." Sontak Zea membulatkan matanya.
"DASAR MESUM LEVEL NAGA!!!
Azlan langsung menutupi telinga sebelah kirinya dengan tangan kirinya. Teriakan Zea mampu menusuk hingga ke gendang telinganya.
Bisa habis aset gue, yakali Azlan ganteng jadi tuli.
* * *
"Apa!!"
Sontak Lili langsung menutup mulut Zeo karena teriak terlalu keras.
"Suara Lo kecilin dikit," Lili memperingati.
"Lo nggak bohong sama apa yang Lo bilang?" Zeo mengecilkan suaranya.
Lili menggeleng cepat.
"Gue nggak pernah bohong sama Lo Ze," ucap Lili lagi untuk meyakinkan.
"Lala itu nekat ketika menginginkan sesuatu, dan gue kasih tahu hal ini supaya Lo berhati-hati aja. Karena nyawa kak Zea itu dalam bahaya," Zeo mengangguk mengerti.
"Dia terlalu berambisi sama kak Azlan. Itulah alasan dia mau ngehabisi kak Zea, bahkan juga orang yang melindunginya, termasuk gue." Ucap Lili dengan nada cemas.
Wajah ketakutan gadis itu terlihat jelas. Bahkan untuk menghindari yang merupakan kembarannya itu dia harus berbohong kepada orangtuanya.
Lili menginap di rumah Tantenya yang memang sudah menganggap dirinya seperti putrinya sendiri dan rela tidak pulang ke rumahnya barang sekalipun hampir dua minggu lamanya. Semenjak kejadian di sekolah musik ia hampir saja ditusuk pisau oleh Lala, hal itu membuat Lili tidak ingin berjumpa dengan gadis itu lagi. Bahkan membayangkan wajah Lala saja membuat Lili bergidik ngerih.
"Makasih ya Li karena kak Zea Lo jadi begini, kalau aja Lo nggak ngeretas rekaman cctv di sekolah musik, pasti Lo nggak bakal di kejar-kejar Lala begini." Ucap Zeo sedikit tidak enak.
Lili menggeleng lemah, kemudian tersenyum singkat. Senyuman yang begitu menenangkan menurut Zeo.
"Nggak papa Ze, Lo nggak usah merasa bersalah begitu. Gue ngelakuin ini semua juga karena gue nggak mau Lala terus-terusan ngelakuin hal jahat seperti itu."
Ting....ting
"Udah bel," ucap Zeo. Lili mengangguk.
"Yaudah kita masuk ke kelas aja dulu, ngobrolnya nanti lagi." Lili beranggapan.
Zeo mengangguk menyetujui. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka masing-masing. Tentunya hal tersebut sebentar lagi akan menjadi berita hangat di SMA Darma Putra.
Zeo yang merupakan most wanted di sekolah tentu selalu menjadi perbincangan terlaris di perkumpulan gosib di tiap koridor kelas. Dan kali ini topiknya sudah pasti mengenai dirinya yang berbarengan dengan Lili ketika berangkat sekolah tadi, dan berita kali ini tentunya berbeda dari biasanya. Bagaimana tidak, hal ini adalah pertama kalinya. Zeo memang cukup hamble kepada siapapun namun tidak pernah ada yang tahu Zeo itu pernah pacaran sekalipun, yang mereka tahu Zeo tidak pernah akrab kepada wanita manapun. Dia bersikap hanya sekedar saja, Zeo tidak pernah bergandengan dengan wanita manapun tentunya Zea menjadi pengecualian. Hanya Zealah satu-satunya perempuan yang berani merangkul ataupun menggandeng Zeo, tentu saja karena Zea adalah kakak Zeo. Selain Zea tidak ada perempuan lainnya.
Namun kali ini, Zeo tengah berjalan dengan begitu nyaman beriringan dengan seorang gadis. Bahkan semua orang tahu gadis itu adalah Lili, siswi baru di SMA Darma Putra. Mereka terlihat begitu akrab dan serasi. Membuat kaum hawa meronta-ronta karena terbakar api cemburu.
* * *
Zea berjalan memasuki pekarangan sekolah dengan langkah santai. Sesekali ia melihat ke sekeliling yang masih dipenuhi dengan siswa yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Berbagai kegiatan mereka lakukan, mungkin mereka menunggu bel masuk.
Berbagai pemandangan yang tentunya berbeda-beda ketika Zea melewati koridor kelas sebelas ini. Zea memang harus melewati koridor kelas sebelas untuk sampai di koridor kelas dua belas. Ada kelas yang terlihat sepi dari luar tetapi di dalam kelas seperti orang tauran. Rame banget. Ada yang ngobrol dan bercengkrama ria ri depan kelas mereka. Ada yang berselvi. Ada yang kejar-kejaran. Dan ada satu kelas yang Zea lewati itu begitu sunyi dan senyap. Padahal bel masuk belum terdengar. Zea berusaha mengintip sebentar.
Matanya memicing ketika melihat aoanyang ada di dalam.
"Pagi kak Zea," ucap sekarang adik kelas.
Zea menatapnya datar.
"Pagi," jawab Zea dengan wajah tetap sama. Datar. Tanpa ekspresi.
"Kak Zea makin cantik aja deh," Zea menarik sedikit sudut bibirnya.
"Terima kasih." Setelah mengatakan hal itu Zea langsung melanjutkan langkahnya. Tidak ingin mendengar pertanyaan dan pernyataan yang Zea tidak tahu sepanjang apa yang nantinya adik kelasnya itu berikan.
Namun yang membuat Zea geleng-geleng kepala adalah keadaan kelas yang baru saja Zea lihat tadi. Mereka terlihat begitu hening dan senyap meskipun banyak siswa di dalam kelas itu. Ternyata seisi kelas itu tengah nobar, alias nonton bareng. Pasti salah satu di antar mereka yang membawa infokus lalu menggunakannya untuk ketertiban kelas. Sungguh kelakuan yang aneh menurut Zea tetapi tetap kompak.
* * *
"Yakin nggak mau makan dulu?" tanya Azlan udah yang kesekian kalinya kepada Zea dengan tatapan masih fokus pada kemudinya.
"Nggak Lan, gue mau langsung pulang aja." Jawab Zea seadanya.
Sedikit Aneh menurut Azlan. Zea berbicara dengan nada santai seperti ini adalah hal yang begitu aneh.
"Ze, Lo sehat kan?" tanya Azlan ingin memastikan apa yang ada di pikirannya.
"Sehatlah, emang gue kelihatan kaya orang sakit apa?" kali ini Zea gantian bertanya.
"Iya,"
"Serius? Muka gue pucet ya? Atau kantung mata gue udah kaya panda?"
Azlan melirik Zea sekilas dengan serius.
"Otak Lo kayaknya yang agak sakit Ze,"
Sontak Zea langsung memukul jidat Azlan.
"Sembarangan kalau ngomong, otak gue sehat yah, yang ada otak Lo yang perlu dibenerin, biar nggak sengklek." Azlan terkekeh. Zea terlihat lebih baik jika sedang mode mengomel seperti ini.
"Nah ini nih baru Zea, ngomel-ngomel. Kalau diem kaya tadi mah bukan,"
"Apaan sih gaje banget."
"Lagian Lo aneh sih, tumben-tumbenan nggak mau makan. Biasanya urusan makan paling cepet," sindir Azlan.
"Gue lagi males makan di luar, gue pengen cepat-cepat sampe rumah. Kalau Lo mau pesenin go food gue sih nggak nolak." Azlan tersenyum lebar.
Azlan mengacak lembut rambut Zea.
"Oke, gue pesenin apa sih yang nggak buat Lo." Zea tersenyum singkat namun masih dapat Azlan lihat.
"Kita makan di rumah Lo aja ya,"
"Rumah om gue kan, bukan rumah gue. Gue cuma numpang." Sahut Zea memperbaiki ucapan Azlan.
"Iya-iya maksud gue itu tadi."
"Terus Lo mau makan apa?"
"Terserah," jawab Zea.
Oke kali ini Azlan harus berpikir, jawaban terserah dari seorang cewek biasanya akan mengarahkannya ke hal-hal tidak baik. Namun Azlan tetap berpikir positif.
"Pizza, mau?"
"Nggak suka pizza,"
"Terus mau apa, dong?"
"Ya terserah,"
Azlan menghela napas dalam. Jawaban ambigu yang membuat Azlan pusing kali ini.
Zea menjawab terserah tetapi sekalinya Azlan menyarankan sesuatu dia menolaknya namun ketika ditanya lagi dia mau apa, gadis itu kembali menjawab terserah. Sungguh perempuan begitu sulit untuk dimengerti.
"Oke kita mau makan seefood atau nasi Padang?" tanya Azlan.
"Terserah Lo,"
"Oke kita makan seefood aja," putus Azlan.
"Tapi gue nggak suka seefood, Lo juga tau kan." Zea sedikit marah
Azlan kembali menghela napas. Zea sedang pms mungkin. Moodnya begitu sulit untuk di tebak. Kalau sudah begini, Azlan lebih baik mengalah saja. Jangankan Azlan yang memilih diam, tembok di tabrak Zea kalau lagi pms temboknya yang minggir.
"Gue tabrakin juga nih mobil,"
"Lo mau bunuh gue,"
"Nggak!!"
"Terus maksudnya ngomong gitu apaan coba?"
"Aku ah Ze, salah mulu gue."
"Angkat tangan ke kamera," seru Azlan.
Sedangkan Zea menatap Azlan dengan tatapan sulit untuk di artikan
"Gila!!!"
**Jangan lupa bahagia hari ini 😊
Maaf Author up nya suka lama ya😁
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa beri komentar kalian
__ADS_1
Maaf jika masih ada typo dimana-mana**.