
Zea berjalan cepat keluar dari rumah mewah yang membuat mood nya hancur seketika itu. Menarik lengan Azlan menuju dimana motor mereka terparkir. Dengan wajah yang tidak santai tentunya.
Sampai di depan motor metic miliknya, Zea langsung melepaskan cekalannya pada lengan Azlan.
"Kok di lepas sih? Udah nyaman padahal." Ucap Azlan dengan nada kecewa. Namun Zea tidak memedulikannya. Ia lebih memilih membereskan beberapa cup salad yang belum ia antar.
"Dia mantan Lo ya?" tanya Azlan.
Zea hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan Azlan. Bahkan ia berpura-pura tidak dengar. Dan memilih fokus pada cup pesanannya.
"Gue tahu dia mantan Lo. Tapi nggak masalah, yang jelas sekarang kan gue pacar lo." Ucap Azlan dengan senyum manisnya.
Zea menatap tajam ke arah Azlan.
"Najis banget pacaran sama cowok mesum kayak Lo." Tolak Zea mentah-mentah.
"Idih sok-sokan najis, buktinya tadi Lo ngerangkul gue. Dan ngakuin kalau gue cowok Lo ke mantan gila Lo itu." Balas Azlan sengit.
"Jangan terlalu percaya diri, gue ngomong gitu tadi karena terpaksa. Gue males aja dia ganggu gue lagi, dan kebetulan ada Lo apa salahnya gue manfaatin momen tadi."
"Kenapa Lo nggak manfaatin gue lebih dari itu?" pertanyaan Azlan membuat dahi Zea berkerut.
"Maksud Lo?" tanya Zea langsung. Tatapannya fokus pada Azlan.
"Ya kenapa kita nggak pacaran beneran aja? Kenapa cuma bohongan begini?" tanya Azlan lagi.
"Lo nembak gue ceritanya?" Azlan terkesiap. Sebenarnya bukan itu maksud dari ucapannya. Meskipun perasaannya ke Zea memang tidak perlu diragukan lagi.
"Menurut Lo?"
"Nggak romantis banget Lo nembak cewek, masa di depan jalan begini. Apalagi di depan rumah mantannya." Cibiran Zea membuat senyum Azlan tercetak jelas.
"Oh jadi Lo mau gue nembak romantis?" goda Azlan. Diikuti seringai liciknya.
"Nggaklah." Tolak Zea langsung.
"Lagian siapa yang mau pacaran sama Lo. Udah gila mesum lagi."
"Terima kasih atas pujiannya cantik," balas Azlan.
"Beneran gila Lo!!"
"Biar gila gini gue cowok Lo Ze,"
"Idih pede gila. Kapan gue nerima Lo, nembak aja belum main ngaku-ngaku cowok pula."
"Lo juga tadi ngaku kalau gue pacar lo."
"Kan udah gue bilang itu tadi cuma terpaksa." Ucap Zea penuh penekanan di setiap katanya karena geram dengan sikap Azlan yang membuat moodnya semakin buruk hati ini.
"Oke kalau gitu gue juga dengan terpaksa bakal ngasih tahu ke MANTAN Lo itu kalau kita ini nggak pacaran. Dan pastinya dia bakal ngejar-ngejar Lo lagi." Ancam Azlan dengan penekanan di kata mantan.
"Lo ngancem gue?" tuduh Zea langsung.
"Nggak, gue cuma mau meluruskan aja." Jawab Azlan santai.
Zea mendengus kesal. Kalau sampai Azlan mengatakan yang sebenarnya kepada Rio pasti pria itu akan terus menguntit Zea. Dan membuat hidupnya semakin tidak tenang. Bahkan akan lebih tidak tenang dibandingkan mendengarkan ocehan Azlan setiap harinya.
Azlan berjalan kembali menuju rumah Rio. Meskipun berjalan pelan tetapi ia sudah hampir sampai di gerbang rumah Rio.
"Oke gue mau," teriak Zeo. Dan berhasil membuat Azlan menghentikan langkahnya. Namun tetap membelakangi Zea.
"Mau apaan? Kalau ngomong yang jelas," teriak Azlan juga. Dengan posisi masih membelakangi Zea.
Zea mendengus kesal. Ingin rasanya menerjang Azlan langsung saat ini. Namun keadaan membuat dirinya harus mengurungkan niatnya itu.
"Iya gue mau jadi pacar beneran Lo." Ucap Zea pelan. Meski begitu Azlan masih dapat mendengarnya.
"Apa? Gue nggak denger?" kali ini Azlan sudah berbalik menatap Zea.
"Ngomong itu yang kuat." Ucapnya lagi dengan senyum penuh kemenangan.
"GUE MAU JADI PACAR LO!! PUAS!!" kaki ini dia mengatakannya dengan berteriak cukup kencang. Dan bersamaan dengan itu senyum Azlan semakin mengembang. Azlan berlari menghampiri Zea.
"Sangat puas sayang," ucap Azlan dengan nada menggoda. Kemudian mencoel sedikit hidung Zea.
Dibalas pukulan ringan di perut Azlan.
"Aisshh, gila sakit Ze. Parah Lo," ringis Azlan.
"Makannya nggak usah modus," ucap Zea sinis.
"Masa nyolek pacar sendiri di bilang modus,"
"Iyalah, pokoknya Lo nggak boleh modus-modusan ke gue paham."
"Jadi nggak boleh gandeng tangan atau rangkulan gitu?" tanya Azlan lirih.
"Nggak!!" jawab Zea cepat.
"Peluk dikit boleh lah ya?" tawar Azlan lagi.
"Nggak boleh," tegas Zea.
"Hem berarti cium boleh dong," Zea menatap tajam Azlan. Sedangkan yang di tatap hanya memberikan cengiran tanpa dosa miliknya.
"Gue botakin Lo sampe berani cium gue!!"
Azlan bergidik ngeri mendengar ucapan Zea. Tidak pernah membayangkan jika dirinya itu botak. Profesor bukan tuyul iya. Ya meskipun tidak mungkin ada tuyul sebesar dirinya.
"Udah ah buruan anterin gue, masih banyak pesenan yang harus gue anter."
"Baik-baik ngapa mintanya. Pacar aku yang paling ganteng anterin aku dong. Gitu kan enak dengernya," ucap Azlan.
"Idih najis!!"
"Udah ah buruan nggak usah drama!"
Azlan menghela napas pelan. Kemudian memakai helmnya lalu menaiki motor metic Zea yang mereka bawa. Tidak menunggu lama Azlan langsung menyalakan mesin motor itu.
"Hem Ze, jadi kita beneran jadian kan?" Azlan mencoba memastikan. Apakah dia tidak bermimpi saat ini.
"Hem," jawaban yang cukup singkat.
"Oke, kita jalan sekarang. Pegangan ke gue, entar Lo jatuh."
"Udah ah bawel amat Lo, buruan jalan!!" teriak Zea.
"Iya-iya," Azlan hanya mampu mengelus dada. Teriakan Zea tadi mampu memekakkan telinganya.
Serasa pacaran sama Tarzan gue. batin Azlan.
Azlan melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi. Tiba-tiba Azlan mendapatkan sebuah ide yang cukup bagus. Setelah memastikan jalanan cukup sepi Azlan memulai aksinya.
Citttttt
Azlan mengerem mendadak motornya. Membuat Zea yang tidak siap langsung menubruk tubuh Azlan dan sontak tangannya melingkar di perut Azlan. Dan bersamaan dengan hal itu sumpah serapah pun keluar dari mulut Zea untuk Azlan.
* * *
Sebenarnya Zea masih kesal karena kejadian rem mendadak yang dilakukan Azlan tadi. Sungguh modus yang begitu nyata di rasakan oleh Zea. Ingin menabok Azlan tetapi kasihan. Karena bagaimanapun hari ini Azlan sudah cukup baik karena menemani Zea mengantarkan semua pesanannya hingga selesai.
"Ze Lo laper nggak?" tanya Azlan sedikit berteriak. Karena saat ini mereka sedang berada di motor.
Zea memukul sekali helm Azlan. Kesal karena pria itu teriak-teriak memanggil namanya. Padahal tidak perlu teriak Zea juga dapat mendengarnya.
"Lo nggak ada lembut-lembutnya ke pacar sendiri kayanya ya Ze, kepala gue Lo pukul Mulu. Kalau ganteng gue hilang gimana, Lo mau tanggung jawab nikahin gue." Zea memutar bola matanya malas. Bosan mendengarkan celotehan tidak jelas Azlan yang sedari tadi tidak ada habisnya.
"Ogah bener!!"
"Lagian Lo teriak-teriak Mulu, gue nggak budeq kali."
"Iya-iya sorry, Lo laper nggak?" Azlan mengulang kembali pertanyaannya.
"Lumayan sih," jawab Zea seadanya.
"Kita makan dulu ya, gue tahu tempat makan enak deket sini." Ajak Azlan.
"Terserah, kan Lo yang bawa kendali. Gue mah di boncengin ngikut aja,"
Azlan tersenyum kemudian menggerakkan motor yang ia bawa menuju tempat yang pastinya akan disukai oleh Zea nantinya.
* * *
Mata Zea berbinar ketika menatap hidangan yang ada di hadapannya. Pepes ikan. Menu favoritnya. Sudah lama sekali Zea tidak melahap makanan ini. Terakhir kalinya dua tahun lalu ibunya yang membuatkannya. Masakan yang begitu ia rindukan.
"Ayo di makan Ze!" ucap Azlan. Kemudian mengambil mangkuk cuci tangan dan memberikannya kepada Zea.
Zea menerimanya kemudian mencuci tangannya. Tanpa menunggu lama Zea langsung melahap makanan di hadapannya itu. Azlan yang melihatnya hanya mampu tersenyum. Bahkan gadis itu sama sekali tidak malu-malu makan di hadapannya, berbeda dengan gadis lainnya yang pernah ia kencani. Dan hal berbeda lainnya, Zea terlihat lahap dengan menu sederhana itu lain halnya gadis lain yang pastinya akan meminta makanan luar yang pastinya dengan harga cukup mahal.
"Sumpah Lan, pepesnya enak banget." Ucap Zea, dengan mulut penuh dengan nasi.
"Habisin dulu makanannya, baru habis itu bicara." Tegur Azlan. Zea mengangguk paham.
Kemudian mereka menghabiskan makan mereka dengan diam. Zea menghabiskan dua piring nasi karena sangking laparnya. Sedangkan Azlan hanya menatap Zea saja sudah merasa kenyang.
"Ngelihatin gue terus, gue culek tuh mata." Sinis Zea. Sikap galaknya sudah kembali, mungkin karena energinya sudah kembali setelah makan.
Azlan terkekeh pelan. Sikap judes Zea bahkan tidak hilang ketika makan sekalipun. Inilah Zea yang sesungguhnya. Sisi lain Zea yang baru saja Azlan temui. Zea yang dingin tanpa ekspresi sekarang berubah menjadi wanita bermulut pedas bahkan cukup sadis. Tapi entahlah, Azlan selalu menyukai Zea seperti apapun dirinya.
"Lo nggak malu gitu makan banyak di depan pacar sendiri? Dimana-mana cewek tuh kan jaim gitu kalau lagi sama cowok, lah Lo ini makan sampe dua piring." Tanya Azlan.
"Sok-sokan jaim nggak kenyang. Lagian mumpung gratis juga, lumayan kan gue bisa penghematan." Jawab Zea tanpa ragu.
"Siapa bilang gratis," ucapan Azlan mampu menghentikan aktifitas makan Zea langsung.
"Maksud Lo?" tanya Zea dingin.
Azlan terkekeh pelan. Kemudian tersenyum hangat ke arah Zea.
"Makan aja sepuasnya, gue becanda tadi. Gue tahu Lo suka banget pepes ikan makannya gue ajak Lo kesini."
"Uhuk," Zea langsung terbatuk.
"Tahu dari mana Lo gue suka pepes ikan?"
"Apa yang nggak gue tahu tentang Lo coba," jawab Azlan bangga.
Zea memutar bola matanya malas. Ternyata rasa percaya diri pria di hadapannya ini terlalu tinggi. Zea harus berhati-hati dalam berbicara, jangan sampai karena pujian sedikit membuat pria ini menjadi sombong.
"Banyak," jawab Zea.
"Cuma Lonya aja yang kadang sok tahu," cibir Zea.
"Intinya gue peduli kan, seenggaknya gue ada usaha untuk cari tahu meskipun awalnya gue nggak tahu. Dan usaha gue itu berhasil, kan."
"Yalah ya terserah Lo aja,"
"Hem Ze, menurut Lo pepes ini gimana rasanya." Tanya Azlan.
Zea terdiam sejenak.
"Enak,"
Cukup singkat pemirsa.
"Udah gitu doang jawabannya?" sindir Azlan.
"Jadi Lo mau gue jawab apa? Kan emang ini pepes enak," balas Zea membenarkan jawabannya.
"Yalah ya terserah Lo," Azlan mengikuti jawaban Zea tadi.
"Oh iya Lan, Lo kenapa baik sama gue?" tanya Zea.
Azlan meneguk jus jeruknya hingga tandas sebelum menjawab pertanyaan Zea, setelah habis ia menatap Zea lekat.
"Gue nggak terima jawaban kalau Lo bilang sikap baik Lo ini karena kita sesama makhluk hidup. Alasan begitu basi tau nggak, banyak modus di dalamnya." Azlan terkekeh mendengar ucapan Zea. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu tentang dirinya, sampai-sampai ia mengatakan hal seperti itu.
"Jawaban gue simpel aja," ucap Azlan.
"Apa?"
"Karena gue suka sama Lo," jawabnya santai. Kemudian mengambil tisu lalu memberikannya kepada Zea.
"Lo makan belepotan," Zea menerima uluran tisu itu lalu mengelap sisa makanan yang menempel di sudut bibirnya.
Azlan sengaja tidak membersihkan sisa makanan di mulut Zea karena Azlan tahu Zea tidak akan suka dengan aksinya itu. Maka dari itu Azlan lebih memilih untuk memberikan tisu itu dan menyuruh Zea membersihkannya sendiri.
Zea masih menatap Azlan dengan tataoan datar, meski tangannya bergerak menyapu bersih sisa makanan yang ada di sudut bibirnya. Kemudian senyuman sinis terukir di wajahnya.
"Apa alasan Lo suka sama gue?" tanya Zea lagi.
"Emang suka sama seseorang itu harus ada alasannya, ya?" bukannya menjawab Azlan malah kembali memberikan pertanyaan kepada Zea.
"Gue nanya itu di jawab, bukannya malah nanya balik." Protes Zea. Azlan kembali tertawa melihat wajah kesal Zea.
Gadis itu meminum hingga habis jus melon miliknya. Mungkin karena kesal membuat dirinya menjadi haus.
"Karena Lo itu susah Ze," ucap Azlan.
Zea menatap Azlan dalam. Kemudian kembali bersuara.
"Gue tahu gue itu emang miskin, tapi bukan berarti itu jadi alasan Lo buat suka sama gue Lan. Lo suka atau kasihan?" nada bicara Zea kembali sinis.
"Aneh Lo," tambah Zea.
"Iya Ze gue itu suka sama Lo karena Lo itu susah,"
"Nggak usah di perje---"
"Susah untuk dilupain," potong Azlan cepat.
Zea terdiam, entah mengapa jawaban Azlan barusan mampu membuat degub jantungnya berdetak di atas normal. Ada apa ini? Kenapa jantung Zea kaya lagi dangdutan? Apa Zea punya penyakit jantung?.
"Lo itu beda Ze. Lo satu-satunya cewe yang gue temuin yang susah banget untuk gue lupain, wajah dingin dan sikap galak Lo terus aja berputar di otak gue. Bahkan gue berpikir gue udah gila karena terus senyum-senyum sendiri kalau nginget Lo, dan anehnya gue suka sama Lo sejak pertama kali ketemu." Jujur Azlan. Sebenarnya Azlan ingin menggenggam tangan Zea, hanya saja karena Azlan tahu Zea tidak akan suka, Azlan mengurungkan niatnya.
Ia lebih memilih untuk menatap Zea dengan dalam. Menunjukkan cintanya melalui mata. Azlan yakin dengan ini sudah lebih dari cukup.
"Gue jatuh cinta sama Lo sejak pandangan pertama Ze, jadi jangan salahin gue kalau gue mau memperjuangkan Lo."
"Tapi gue nggak bisa Lan," ucap Zea cepat. Zea membuang tatapannya ke arah lain.
"Kenapa? Karena masa lalu?" ucaoan Azlan berhasil membuat Zea kembali menatapnya.
"Tahu apa Lo tentang masa lalu gue," nada bicara Zea kembali sinis.
Azlan tertawa hambar. Menatap Zea dengan tatapan sulit untuk diartikan.
"Gue tahu semuanya Ze," jawab Azlan cepat. "Bahkan hal yang nggak lo sangka sekalipun," Azlan menghela napas berat. Kemudian kembali menatap Zea dengan tatapan yang begitu lembut.
"Kalau Lo belum bisa berdamai sama masa lalu Lo sampe kapanpun Lo nggak akan melangkah menuju masa depan lo Ze," Zea menatap Azlan tanpa ekspresi. Datar sepeti jalan raya. Dingin melebihi deretan es di kulkas.
"Masa lalu bukan untuk disesali ataupun di salahkan Zea. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Jangan membenci orang di masala lalu Lo, cobalah memaafkan mereka yang menyakiti. Bukan berarti Lo harus kembali bersama mereka, hanya saja dengan lo mencoba memaafkan semuanya akan berjalan lebih baik. Hati Lo akan lebih tenang, dan beban Lo akan berkurang." Entah mengapa ucapan Azlan menancap dalam ke hati Zea. Seperti tombak yang begitu di lihat langsung menancap tepat di lubuk hati terdalam.
Zea tahu selama ini dia sudah salah karena terlalu membenci masa lalunya. Bahkan orang-orang yang menghinanya di masa itu. Meski sudah mencoba untuk berdamai namun tetap saja itu sulit. Namun entah mengapa ucapan Azlan tadi mampu mengubah pola pikir Zea begitu saja.
"Ze, lupakan kenangan buruk itu. Setidaknya ingat hal baik yang pernah mereka berikan. Bukan untuk di ulang gue bilang kan, hanya saja untuk melepaskan rasa benci yang selama ini ada di hati lo."
"Dengerin gue, Lo emang belum buka hati Lo untuk gue, tapi gue mohon Ze biarin gue yang akan masuk dengan perlahan ke sana, Lo cukup menunggu aja dan kasih izin untuk masuk."
"Gue nggak peduli sepahit apapun masa lalu Lo. Yang jelas masa depan lo itu gue," ucap Azlan mantap.
Entah mengapa mata Zea memanas mendengar ucapan Azlan. Zea merasa dia tidak sendirian sekarang. Azlan berhasil mematahkan pertahanannya selama ini hanya dengan ucapan saja. Zea tidak tahu untuk berkata apa-apa lagi. Lidahnya keluh. Hanya air mata yang menetes.
Menyadari Zea menangis, Azlan langsung menghampiri Zea.
"Jangan nangis, gue selalu ada buat Lo." Mendengar ucapan Azlan begitu lembut. Membuat Zea tidak sadar langsung memeluknya.
"Gue takut Lan, gue takut." Ucap Zea di tengah isaknya.
"Jangan takut, gue selalu ada buat Lo. Gue janji,"
Zea melepaskan pelukannya.
"Makasih Lan, Lo baik banget sama gue. Maaf kalau gue belum bisa bales perasaan Lo."
"Gue akan tunggu,"
Zea hanya membalasnya dengan senyuman yang begitu manis.
"Mau janji satu hal sama gue?" tanya Azlan.
"Apa?"
__ADS_1
"Jangan pernah nangis lagi di depan gue?"
"Gue usahain,"
"Kalau Lo sampe nangis di depan gue lagi, gue bakal cium Lo." Mata Zea langsung membulat lalu memukul pelan perut Azlan.
"Dasar mesum!!" cibir Zea sembari menghapus sisa air mata yang masih ada di pipinya. Baru saja ia terharu dengan ucapan Azlan, langsung saja di buat kesal lagi.
"Lagian gue juga udah Lo peluk jadi cium boleh dong," Zea masih hendak mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Azlan namun sebuah notifikasi di ponselnya mengalihkan perhatiannya. Kali ini Azlan selamat.
Tukang tahu bulat
Lo lulus di sekolah musik dengan biasa gratis kak. Mereka suka sama Vidio Lo.
Besok Lo udah bisa masuk kelas.
Besok hari Minggu dong?
✓✓
Zea tersenyum singkat. Bukan karena berita yang di sampaikan Zeo di pesan itu. Akan tetapi karena nama Zeo yang belum ia ganti sampai sekarang.
"Kamu punya nomor tukang tahu bulat keliling?" tanya Azlan ketika mengintip percakapan Zea.
"Kamu?" heran Zea.
"Kenapa? Manggil kamu ke pacar sendiri kan nggak ada larangan." Jelas Azlan.
Zea membalasnya hanya dengan mengangkat bahunya saja.
"Itu siapa, kok tukan tahu ngechat kamu?" tanya Azlan lagi.
"Ini Zeo, bukan tukang tahu. Namanya aja begitu," jelas Zea. Di balas anggukan tanda mengerti dari Azlan. Kemudian Azlan membisikan sesuatu ke telinga Zea.
"Kalau nama aku di kontak kamu harus 'pacarku tersayang yang paling ganteng,"
Zea membelalakkan matanya. Menatap sinis ke arah Azlan.
"Mimpi kok sore-sore." Ucap Zea.
"Udah ah buruan bayar, gue tunggu di luar," Tanpa mendengar ucapan Azlan. Zea langsung melenggang menuju pintu keluar.
"Sabar Lan sabar, ngehadapi Zea memang harus ekstra sabar. Untung sayang, coba kalau nggak," gerutu Azlan.
"Lan cepetan," teriak Zea.
"Iya-iya,"
Kemudian Azlan memanggil salah satu pelayan kemudian membayar makanan mereka yang sudah habis sejak tadi. Setelah selesai, Azlan langsung berlari menyusul Zea ke parkiran rumah makan itu.
* * *
Zeo membuka pintu dengan pelan. Berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Kemudian masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap sudah seperti maling. Ia terus berjaga supaya tidak ada yang mengetahui dirinya tengah masuk ke dalam rumah. Apalagi Zea, jangan sampai Zea memergokinya.
"Kenapa lampu rumah di matiin sih, masih jam delapan juga," gumam Zeo. Kemudian berjalan mencoba mencari saklar lampu. Karena berjalan dalam keadaan gelap cukup sulit untuk dilakukan.
cklek
Lampu menyala dan bersamaan dengan itu mata Zeo membulat, ketika mendapati sosok wanita yang tengah duduk bersandar di sofa dengan tatapan tajam ke arahnya. Zeo menjenguk salivanya dengan susah payah. Entah mengapa tatapan yang diberikan Zea begitu mengintimidasi dirinya.
"Eh kak, Lo ngapain di situ?" tanya Zeo dengan cengiran tanpa dosa miliknya.
"Nunggu anak setan pulang, dan sekarang dia lagi diam-diam masuk rumah udah kaya maling,"
"Idih sadis bah, gue di kataiin anak setan. Gue anak setan dia apaan coba?" gumam Zeo yang pastinya tidak terdengar oleh Zea.
"Ngomong apaan Lo?" sinis Zea.
"Nggak kak, udah ah jangan marah-marah entar cantiknya ilang Lo. Gue capek mau mandi, bye." Zeo langsung lari ke dalam kamarnya kemudian menguncinya. Dia sama sekali tidak memedulikan teriakan Zea yang sudah seperti petir. Menyambar membuat jantung mau copot.
"Zeo gue nggak mau tau besok Lo harus jalani hukuman Lo." Hanya itu yang terdengar di telinga Zeo.
"Iya kak iya, aman." Balas Zeo dengan teriak juga dari dalam kamar.
"Awas kalok nggak gue botakain pala Lo," Zeo langsung memegang kepalanya. Rambut lebatnya yang indah akan di potong oleh Zea. Tidak akan, Zeo tidak akan membiarkannya.
"Gila, kakak gue udah mulai gila. Di apain sama Azlan sih tadi sampe gila begitu."
"Horor banget kalau sampe gue beneran di botakin sama kak Zea,"
Zeo menggeleng. Kemudian mengambil handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri itu lebih baik dilakukannya sekarang. Badannya terasa begitu lengket.
* * *
"Udah sana buruan masuk!!" suruh Zeo.
"Sabar ngapa sih, sibuk banget sih kaya cewe," cibir Zea.
"Lagian tinggal masuk aja susah vanget, Lo takut? Biar gue temenin." Ucap Zeo lagi.
"Nggak perlu, Gue bukan anak TK yang harus Lo anter kamana-mana." Kemudian Zea berjalan menuju gedung yang beberapa hari lalu ia datangi. Namun kali ini tidak hanya berdiri di depannya, Zea akan masuk ke dalam gedung itu.
Zea melangkahkan kakinya dengan santai. Suasana hatinya cukup baik hari ini. Apa yang diimpikannya akan segera terwujud.
"Gue mau ke lapangan futsal, kalau udah balik Lo telpon gue aja. Gue bakal jemput Lo, kak." Teriak Zeo.
"Oke," balas Zea singkat.
Zeo langsung menyalakan motornya kemudian pergi dari tempat itu.
Zea yang berjalan masuk ke dalam gedung itu sedikit bingung, pasalnya Ia lupa bertanya kepada Zeo dia harus kemana. Karena tempat ini begitu asing untuk Zea. Di tambah lagi tidak ada satu orangpun yang dapat Zea tanyai.
"Kamu Zea ya?" sapa Sorang wanita berhijab. Gamis biru muda yang melilit di tubuhnya terlihat begitu elegan.
"Eh iya," jawab Zea sedikit kikuk.
"Ayo ikut saya," ucapnya. Jika dilihat dari wajahnya, wanita itu terlihat lebih dewasa. mungkin umurnya beberapa tahun lebih tua dari Zea.
Zea mengikuti wanita berhijab itu dari belakang. Dia membawa Zea berjalan menuju sebuah kelas tertutup. Dia berhenti tepat di depan pintu ruangan yang Zea sendiri tidak tahu ruangan apa itu.
"Kamu masuk aja ke dalam, di sana kamu udah di tunggu beberapa mentor yang akan mengajar di sekolah musik ini. Masuklah, kamu sudah di tunggu." Zea mengangguk tanda mengerti.
Kemudian wanita itu pergi meninggalkan Zea yang mematung di depan pintu. Degub jantungnya mulai tidak stabil. Entah apa yang akan ia lihat di dalam sana. Zea tidak Tahu. Yang jelas Dia harus berani untuk masuk.
Zea menarik napas dalam. Berusaha menetralkan kegugupannya.
"Tenang Ze, semuanya akan aman." Ucap Zea meyakinkan dirinya.
Zea memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Namun pintu tidak terbuka. Apa Zea salah ruangan? Tetapi yang mengarahkan Zea ke ruangan ini kan wanita berhijab tadi. Zea tidak mungkin salah. Akhirnya Zea mengetuk pintu itu sekali lagi.
Dan ya, tidak lama setelah itu pintu terbuka. Menampilkan sosok gadis yang tidak asing bagi Zea.
"Lili," gumam Zea.
"Masuk!" ucap gadis itu dingin.
Zea terdiam. Ada yang aneh dari sikap Lili. Dia begitu dingin. Dapat dilihat dari cara dia berbicara dan tatapannya. Padahal waktu pertama kali Zea bertemu dengannya, dia terlihat begitu asik dan cerita. Bahkan pada saat itu Zea yang lebih terkesan dingin. Kenapa sekarang berpindah ke Lili.
Sudahlah, tidak ingin berpikir lebih lama tentang gadis itu Zea memilih untuk masuk.
"Perkenalkan diri kamu," ucap Lili. Entah mengapa ruangan ini menjadi horor ketika dia bersuara. Zea mengangguk menuruti.
Tadinya Zea mengira akan masuk ke dalam ruangan para siswa tetapi dia salah. Ini adalah ruangan para mentor. Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya
"Selama pagi semuanya," ucap Zea dengan ramah.
"Perkenalkan nama saya,"
"Gue tau nama Lo," ucap sebuah suara yang begitu familiar di telinga Zea. Zea menoleh ke arahnya. Sedikit terkejut bahkan heran. mengapa Azlan ada di ruangan ini?.
"Nama Lo Ai," ucap Azlan dengan senyuman manisnya.
Dahi Zea berkerut. Entah apa yang akan pria aneh itu ucapkan.
"Iya nama Lo Ai, ai love you." Jelasnya dengan senyuman yang sungguh manis.
Sungguh Zea sangat ingin menghujat Azlan saat ini juga. Jika saja dia sedang tidak ada di ruangan ini, mungkin sepatu Zea sudah melayang ke arah Azlan. Namun yang terjadi Zea hanya memberikan senyuman sebagai balasan. Entah itu senyuman malu-malu atau senyuman menahan kesal.
"Njirr parah Lo Lan, anak baru masa di gombalin." Ucap sebuah suara yang berasal dari laki-laki di sebelah Azlan. Dia berbicara cukup keras sehingga Zea masih dapat mendengarnya.
Zea menoleh ke arah Kiki, gadis itu hanya diam. Tidak bersuara. Wajahnya begitu datar, benar-benar tanpa ekspresi.
Zea sampai berpikir apakah dirinya sama dinginnya dengan Lili jika bertemu dengan orang lain.
"Tahu tuh, nggak ngerti tempat apa kalau mau godain cewek." Tambah pria lainnya. Zea hanya mampu menunduk. Antara malu dan kesal karena perkataan Azlan tadi.
Zea membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin Azlan mengakui hubungan mereka yang baru sehari itu dengan terang-terangan di hadapan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Idih ganas."
"Sekarang sama ABG,"
"Tahu tuh, anak SMA sekarang kecengannya,"
"Shuttt, nggak boleh sirik." Ucap Azlan santai.
"Tapi cantik kok Lan,"
Bisikan demi bisikan terdengar jelas di telinga Zea. Namu yang membuat Zea semakin kesal adalah Azlan yang tetap bersikap santai saja. Bahkan senyumannya terus mengembang. Benar-benar manusia tidak tahu malu.
"Maaf, saya permisi ke toilet sebentar." Pamit Zea.
Tidak menunggu izin dari para mentor itu, Zea langsung berlari meninggalkan ruangan itu.
"Lah cewek Lo pergi tuh Lan, ngambek kali " Ucap Roni.
"Yang ini pacar ke berapa Lan?" tanya Rima, karena memang berita tentang Azlan yang selalu go ya ganti pacar tidaklah berita baru.
"Gue lupa yang keberapa, tapi gue jamin ini yang terakhir." Ucap Azlan mantap kemudian bangkit dari duduknya.
"Serius? Tapi gue kok nggak yakin ya Kan. Playboy kayak Lo mau serius sama satu cewe," Ucap Doni.
"Gue bakal buktiin ke lo kalau ucapan gue tadi itu serius, dan Lo adalah orang yang harus jadi saksi di pernikahan gue nantinya." Ucap Azlan kemudian berjalan menuju pintu keluar.
"Kak Azlan mau kemana," tanya gadis yang menurut Zea itu Lili.
"Mau keluar sebentar," tanpa menunggu jawaban dari gadis itu Azlan langsung berlari keluar. Tentunya kalian tahu Azlan kemana.
Benar sekali. Azlan mengejar Zea.
Zea menghentikan larinya. Sebenarnya dia sedang tidak ingin ke toilet ataupun kemanapun. Alasan ke toilet tadi hanya alibi supaya dia dapat keluar dari kelas yang suasananya membuat udara di sekitar Zea menghilang.
"Toilet bukan ke sini arahnya sayang,"
Zea langsung menoleh ke sumber suara. Dia dapati Azlan yang tengah bersandar pada dinding dengan tangan dilipat di depan dada.
"Lo ngapain di sini?" heran Zea.
"Ngejar cewek gue yang lagi ngambek," jawab Azlan santai.
"Siapa yang ngambek?" tanya Zea semakin bingung.
"Lo lah, kan Lo lari keluar dari kelas. Apa coba kalau nggak ngambek itu?"
"Lo terlalu sok tahu Lan, Gue nggak ngambek. Gue nggak kaya cewek alay di luar sana yang dikit-dikit ngambek,"
"Hem bagus deh kalau begitu."
"Iya,"
"Jadi Lo ngapain keluar?" tanya Azlan penasaran. Jika bukan karena marah Zea keluar dari kelas lalu apa alasannya.
Zea duduk di sebuah kursi yang ada di dekatnya. Ternyata berdiri terlalu lama juga melelahkan. Apalagi menunggu cinta yang tidak kunjung terbalaskan. Pasti sungguh menguras tenaga.
"Gue keluar karna kesel sama Lo," dahi Azlan berkerut.
"Gue? Emang gue kenapa?"
"Lo nggak sadar apa, Lo tadi itu umumin status kita yang sebenarnya belum jelas ini di depan semua orang."
Azlan duduk di samping Zea, menatap gadis cantik itu. Wajah kesalnya sangat lucu menurut Azlan.
"Ze, emang gue salah ya ngakuin cewek sendiri di depan temen-temen gue?. Yang salah itu kalau ngakuin pacar orang sebagai pacar kita. Lagian gue ngelakuin itu buat antisipasi aja supaya temen-temen gue nggak ada yang deketin Lo. Cukup gue yang boleh Deket sama Lo, yang lain jangan. Bahkan kalau perlu Lo gue kasih segel. Milik Azlan Malik." Zea menoleh ke arah Azlan. Sungguh Zea tidak menyangka pria yang ia anggap gila ini akan mengatakan kalimat seperti itu. Cukup posesif menurut Zea. Namun entah mengapa hatinya berdesir mendengarkan kalimat yang baru saja Azlan lontarkan tadi.
"Emang Lo nggak malu ngakuin gue sebagai cewek Lo?" tanya Zea.
Azlan tersenyum lebar. Senyuman yang mampu membuat siapapun mimisan seketika. Namun tidak terlalu berefek pada Zea. Meski begitu Zea tetap merasa senang ketika melihat senyuman Azlan tadi. Seakan ada ketenangan yang diberikan oleh lengkungan itu.
"Kenapa gue harus malu Ze. Kalau suka itu nggak kenal mau kali, malah gue bangga. Lagian gue nggak peduli apa kata orang, asal tetep sama Lo gue udah bahagia."
Mati Zea. Kali ini pertahanannya runtuh. Ucapan Azlan mampu membuatnya melayang seketika. Azlan cukup manis menurut Zea.
Ya Allah tolong jantung Zea mau copot beneran. Batin Zea.
Azlan menyadari raut wajah Zea berubah menjadi gugub. Azlan mencondongkan tubuhnya ke arah Zea. Membuat Zea tersentak kaget. Namun lidahnya keluh tidak dapat berucap satu katapun. Azlan semakin mendekatkan tubuhnya, hingga jarak mereka semakin dekat. Bahkan deru napas Azlan yang teratur dapat Zea rasakan. Tatapan mata Azlan seakan mengunci Zea. Bola matanya yang coklat seakan membuat Zea tidak dapat berpaling sedetikpun. Wajah Azlan mampu menghipnotis Zea, membuat dirinya tidak lepas dari pandangan pria itu.
Azlan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Zea, hingga hidung mereka saling bersentuhan. Zea memejamkan matanya seketika. Namun tiba-tiba.
Prangggg....
Sebuah pot bunga pecah karena disenggol oleh seekor kucing. Zea langsung sadar akan posisinya yang cukup dekat dengan Azlan. Zea langsung bangkit dari duduknya.
Dalam hati Azlan ia sudah menyumpah serapah hewan bernama kucing yang mesti pun jelek tetap di panggil manis itu.
"Ekhemm gue mau balik ke kelas dulu." Zea bersuara memecahkan kecanggungan di antara mereka.
Namun masih selangkah Zea berjalan Ia kembali berbalik ke arah Azlan. Azlan menatapnya dengan tatapan tanya.
"Kenapa?" tanya Azlan.
"Salah jalan, kelasnya kan ke arah sana." Ucap Zea sedikit kikuk, tanpa ingin berlama-lama bersama Azlan yang sudah membuat Zea seperti orang kebingungan saat ini Zea memilih untuk berlari meninggalkan Azlan yang masih berdiri di tempat.
"Bodoh Lo Lan!! Hampir aja. Dasar ****!! baru aja Lo dapet kepercayaan Zea, masa iya mau Lo rusak gitu aja!!" Azlan terus merutuki dirinya yang hampir saja khilaf mencium Zea.
"Astagfirullah, ya Allah ampuni hamba mu yang gila ini." Ucap Azlan lagi.
Di sisi lain Zea terus berjalan menuju kelas yang ia masuki tadi. Di sepanjang jalan Zea terus menarik napas berusaha menetralkan degup jantungnya yang sudah seperti orang lari maraton. Ini semua karena Azlan. Pria itu, memang selalu saja membuat dirinya susah.
"Gue kayaknya harus ngehindari Azlan deh, ini semua demi kesehatan jantung gue." Gumam Zea. Kemudian terus melanjutkan langkahnya.
* * *
Di sisi lain seorang gadis tengah meremas sebuah kertas hingga bentuknya tidak lagi beraturan. Wajahnya yang penuh dengan emosi dan amarah terlihat jelas. Wajah putihnya sekarang memerah, serta keringat mulai membanjiri pelipisnya.
"Arrrgghhhhhh,"
"Kenapa lagi?" tanya seorang gadis lain ketika masuk ke ruangan itu.
"Ngapain Lo masuk ke ruangan gue?" ucap gadis tadi dengan tatapan tidak sukanya.
"Suka-suka gue, lagian ini dulunya juga ruangan gue. Selama gue nggak ada makannya Lo yang pegang. Jangan merasa semua ini milik Lo La, gue juga punya hak untuk semua ini." Ucap Lili tidak kalah sinis.
Ya gadis itu adalah Lili. Gadis cantik yang pernah Zea temui.
"Kenapa Lo emosi gitu. Karena Azlan lagi?" tebakan Lili tidak meleset bahkan sangat tepat sasaran.
"Kenapa sih Lo sebegitu cintanya sama tuh cowo, padahal udah jelas-jelas dia nggak pernah ngelirik Lo." Ucap Lili kesal. Pasalnya Kembarannya itu terus saja mengejar-ngejar Alzan. Dan bodohnya rela meninggalkan pacarnya hanya untuk Azlan. Padahal kebanyakan mantan pacar Lala itu tidaklah kalah tampannya dengan Azlan.
"Kalau Lo kesini cuma mau nyerocos nggak jelas mending keluar aja. Nambah kesel aja tahu nggak,"
"Emang Lo kesel kenapa sih, biasanya juga nggak begini banget." Heran Lili.
"Azlan ngakui pacarnya di depan semua mentor tadi. Dan parahnya dia mau nikahin tuh cewek. Sumpah gue kesel banget,"
"Oh," respon Lili.
"Lo kalau ngajak ribut jangan sekarang deh Li. Gue ngomong panjang lebar Lo cuman jawab begitu doang." Protes Lala semakin kesal.
"Lah baru sadar kalau ngomong panjang lebar di balas satu kata doang itu ngeselin banget. Selama ini Lo kemana aja, biasanya juga Lo begitu. Suka nggak sadar anak orang," Skak Lili.
"Udah ah percuma ngomong sama Lo, nggak pernah bikin mood gue berubah jadi lebih baik."
"Pokoknya gue nggak bakal biarin tuh cewek beneran nikah sama Azlan, nggak akan." Ucap Lala dingin.
"Gila kembaran gue, mau jadi pelakor kali ya." Gumam Lili.
"Cantik-cantik kok **** karena cinta," tambahnya lagi. Namun ucapan itu tidak dapat di dengan oleh Lala.
"Kalau perlu gue nggak akan biarin dia nyaman di sekolah musik ini."
"Nggak usah gila La, banyak cowok di luar sana ngantri untuk jadi cowok Lo. Jadi nggak perlu bersikap kekanak-kanakan."
"Lagian mereka udah pacaran. Nggak bagus jadi PHO di hubungan orang lain." Namun ucapan Lili hanya di anggap angin lalu oleh Lala.
__ADS_1
Cinta membuatnya buta. Sehingga tidak berpikir secara logika. Cinta hanyalah kosa kata namun yang merasakan mampu bertidak melawan dunia. Bahkan lagi dari jalur yang seharusnya. Dasar warga plus enam dua.
* * *
Zea merebahkan tubuhnya di sofa secara asal. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu lelah hari ini. Setelah pulang dari sekolah musik tadi Zea langsung ke ruko untuk membuat beberapa pesanan salad buah yang mendadak lalu mengantarkannya. Mending yang memesan itu rumahnya searah. Tetapi nyatanya tidak. Ibarat satu di Sabang dan satunya di marauke, membuat dirinya harus bolak balik mengitari Jakarta yang cukup macet pastinya.
Zeo masuk ke dalam rumah ikut duduk di samping Zea yang tidur telungkup.
"Ganti dulu sana kak," ucap Zeo.
"Entar lah Ze, gue capek masihan."
"Zea, Zeo kalian udah pulang." Itu suara Wirda, ibu tiri Zea dan Zeo.
Entah mengapa setelah ancaman Vidio itu Wirda bersikap baik sekarang. Entah karena takut akan ancaman Zeo atau memang wanita itu sudah sadar akan sikapnya selama ini. Intinya Zea tidak mau ambil pusing dalam hal itu, selama dia tidak merugikan Zea dan adik-adiknya, itu tidaklah jadi masalah.
"Iya," jawab Zea seadanya. Dibalas senyuman oleh Wirda. Kemudian ia kembali ke dapur.
"Hem Zeo Lo udah pulang. Gue mau minta tolong bisa?" itu suara Faira. Yang tiba-tiba datang dari arah dapur.
"Minta tolong noh di kantor polisi, jangan sama gue." Tolak Zeo mentah-mentah. Membuat Faira mengerucutkan bibirnya.
"Ze please kali ini aja. Tolongin gue,"
"Tolongin apaan sih. Ribet bener jadi cewe."
"Lo besok mau ya dinner sama temen gue Mira, kasihan dia sakit karena pengen banget jalan bareng Lo,"
Zea yang mendengar permintaan Faira langsung bangkit dari duduknya. Menatap iba ke arah gadis yang sedang memelas ke arah adik laki-lakinya itu. Ibarat anak kucing yang sedang meminta makan di rumah orang.
"Ogah bener, kenal juga nggak, main ngajak diner pula." tolak Zeo lagi.
Zea ingin ngakak tetapi nanti akan berkesan kejam. Ia lebih memilih diam dan fokus pada ponselnya.
"Ayolah Ze, please bantu temen gue!." Bujuk Faira lagi.
"Gue bilang nggak ya nggak, Lo ngerti nggak sih?. Lagian besok gue ada turnamen futsal dan gue nggak ada waktu untuk nurutin ajakan temen Lo itu."
Faira menghela napas. Zea yakin Faira kecewa karena Zeo menolak ajakannya.
"Emm kalau gue ajak dia nonton Lo main futsal, boleh kan?" tanya Faira hati-hati.
Zeo menoleh sekilas ke arah Faira. Kemudian bangkit dari duduknya.
"Selama dia nggak ganggu gue, dan nggak berisik gue nggak peduli." Kemudian Zeo berjalan meninggalkan Faira.
"Makasih Zeo," ucap Faira senang. Kemudian Dia bangkit dari duduknya lalu berlari ke kamarnya.
"Ze," panggil Zea.
Langkah Zeo terhenti, lalu ia menatap Zea dengan tatapan tanya.
"Gue mau ngomong, bisa duduk bentar?" ucap Zea lembut.
Zeo mengangguk, kemudian kembali duduk di sofa yang tadi ia duduki.
"Mau ngomong apa?" tanya Zeo to the poin.
"Gue tadi ketemu Lili di sekolah musik. Emm dia mentor disana, kenapa Lo nggak bilang." Zeo hanya diam tidak menjawab pertanyaan Zea.
"Tapi dia agak aneh sih Ze," ucap Zea lagi.
"Anehnya?" tanya Zeo langsung.
"Iya, dia aneh. Berubah jadi dingin kayak kulkas. Horor banget ngelihat wajahnya." Jelas Zea.
"Apa dia punya kepribadian ganda?" Zea berspekulasi.
"Itu bukan Lili kak, itu Lala kembarannya Lili." Jelas Zeo.
"Hah," kaget Zea.
"Iya, mantan gue."
"Hah!!!" pekik Zea lagi.
"Hah heh hah heh Mulu Lo." Cibir Zeo.
"Lo serius demi apa??"
"Lo pacaran sama kulkas begitu sejak kapan? Kenapa gue nggak tahu?"
"Idih sok-sokan ngeledek Lala muka kulkas, apa kabar sama Lo? Muka aspal gitu?" balas Zeo sengit.
"Santai kali bang ngomongnya. Jangan ngegas juga, mentang-mentang bahas MANTAN," ucap Zea dengan menekan kalimat mantan.
"Lagian sejak kapan Lo pacaran sama dia? Kok gue nggak tau?"
"Nggak lama sih, gue cuma pacaran tiga bulan sama dia. Dan sebulan yang lalu kita putus, emm lebih tepatnya gue yang mutusin sih." Jelas Zeo.
"Kenapa putus? Maksud gue itu gini. Lo pacaran itu adalah hal yang langka, gue yakin Lo macarin dia karena emang Lo bener-bener suka. Tapi kenapa putus?."
Zeo tertawa hambar, kemudian menatap sekilas Zea.
"Pacaran kalau berjuang sendirian itu capek, kak. Kalau seminggu aja dia cuek ke gue mungkin masih gue maklumi, tapi selama gue pacaran sama dia, gue nggak pernah dapet perhatian dari dia layaknya seorang pacar."
"Kalau gue yang terus memulai ada saatnya juga gue lelah, kan?. Kalau gue terus yang mengulurkan tangan tanpa ada uluran tangan dia itu sulit kak. Maka dari itu hubungan kami nggak bisa di pertahanan."
Zea merangkul bahu Zeo. Zea sedikit menyesal karena tidak mengetahui luka adiknya itu. Zea tahu Zeo masih sakit hati dalam hal ini. Tetapi hal itu tidak membuat dia untuk mengurungkan niatnya membatalkan rencananya untuk memasukkan Zea ke sekolah vokal yang dimiliki Lala. Yang notabenya adalah mantan kekasih Zeo.
"Sorry Ze, gue nggak tahu masalah ini," ucap Zea merasa bersalah.
"Nggak usah sok merasa bersalah gitu kali kak. Gue emang sengaja rahasiain masalah ini,"
"Lo tahu nggak ekspresi dia pas gue putusin?" tanya Zeo.
"Gimana emangnya?" tanya Zea penasaran.
"Kaya jalanan raya yang lurus tanpa tikungan,"
"Serius? Datar bener dong?"
"Iya. Bahkan pas gue putusin dia Nerima nggak dan nolak juga nggak. Diem aja tahu nggak Lo, kak. Kesel gue kalau ngingetnya sumpah."
"Sumpah Ze, gue pengen ngakak."
"Ngetawain orang yang lagi curhat dosa nggak ya?" tanya Zea sembari menahan tawanya.
Dan hal itu berhasil mendapat lemparan bantal dari Zeo. Dan bersamaan dengan itu tawa Zea pecah.
"Ejek aja teros!! Nyesel gue cerita sama Lo." Kemudian Zeo langsung bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamarnya.
"Idih ngambekan, kaya perawan aja Lo, Ze!!" Cibir Zea namun tidak dipedulikan oleh Zeo. pria itu sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Pantes aja tadi itu mukanya si Lala ketat bener kaya CD baru, udah gitu tatapannya horor kaya Falak," gumam Zea.
Tidak ingin mengambil pusing Zea memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, namun belum sempat Zea masuk ke dalam kamar ponselnya berdering. Nama Putri terpampang jelas di layar benda pipih itu.
"Halo, assalamualaikum. Ada apa put?"
"Gue di depan rumah Lo, bukain pintu Lo cepetan!"
"Lah ngapain Lo di depan rumah gue malem-malem begini?" heran Zea.
"Udah buruan keluar cepat!!"
"Iya-iya gue otw ke depan. Tunggu bentaran,"
Kemudian sambungan ponsel langsung di tutup oleh Putri. Zea langsung berjalan menuju pintu rumahnya dan membukanya.
Tampak Putri yang sedang berkacak pinggang dengan piama berwarna biru yang melekat di tubuhnya.
"Lo mau ngapain ke rumah gue malem-malem gini, bahkan masih pake piama gitu?"
"Siniin hape Lo!!" ucapnya kemudian meraih ponsel Zea.
"Ehh mau ngapain?" kaget Zea, namun percuma saja ponselnya sudah beralih ke tangan mungil Putri.
Gadis itu langsung membuka ponsel Zea, dan kebetulan Zea memang tidak pernah mengunci layar ponselnya. Putri sangat halal itu. Jadi hal yang mudah untuk dia melancarkan aksinya.
Putri langsung membuka salah satu app sosial media Zea. Kemudian membuka salah satu kontak yang terblokir di sana lalu membuka blokirannya.
"Ngapain sih?" tanya Zea lagi.
"Nah, udah selesai gue mau pulang dulu. Bye." Kemudian Putri pergi dari rumah Zea tanpa memedulikan Zea yang terus meneriakinya.
"Udah Lo tunggu aja, beberapa menit lagi bakal ada yang nelpon Lo, Gue capek mau istirahat. Gue balik Ze, Assalamualaikum." Kemudian Putri langsung masuk ke dalam mobilnya lalu melesat pergi dari rumah Zea.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu," jawab Zea.
"Kadang gue mikir gue kok di kelilingi orang-orang yang cukup tidak waras semuanya," Zea menghela napas, kemudian menutup kembali pintu rumahnya. Lalu berjalan menuju kamarnya. Rencana yang sempat tertunda tadinya.
Namun belum sempat Zea masuk ke dalam kamar, ponselnya kembali berdering. Dengan malas-malasan Zea kembali mengecek benda pipih yang selalu ia bawa itu.
Matanya membulat dan degub jantungnya kembali berpacu di atas normal ketika melihat nama siapa yang tertera di layar. Zea langsung masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas ranjang.
Cowok Mesum Gila
Nama itu terpampang cukup jelas di layar. Zea tahu benar siapa dia. Bahkan nama kontaknya belum sempat Zea ganti.
"Angkat nggak ya?" tanya Zea pada dirinya sendiri.
Begitu Zea ingin mengangkat panggilan itu, panggilannya itu lebih dulu mati.
"Syukur deh," helaan napas lega dari Zea.
Namun itu berlangsung hanya sebentar, karena dering dari panggilan telepon itu kembali berbunyi. Dan pastinya dari orang yang sama.
"Is mau apa sih dia nelpon malem-malem gini?" ucap Zea kesal.
Zea membiarkan ponselnya terus berbunyi tanpa mau mengangkatnya. Kesehatan jantungnya lebih baik jika dia melakukan hal itu.
"Kak Zea, handphone kakak bunyi." Teriakan Zia dari kamarnya terdengar cukup nyaring. Meskipun kamarnya berbatas tembok dengan kamar Zea tetap saja akan terdengar. Karena kamar Zea ataupun Zia tidaklah kedap suara.
"Iya dek," jawab Zea cepat. Kemudian mengangkat panggilan teleponnya.
"Hal---"
Belum sempat Zea berbicara orang di seberang sana sudah langsung menyambar seperti api saja.
"Halo sayang kamu udah sampe rumah kan? Kok telepon aku lama banget sih ngangkatnya, Kamu baik-baik aja, kan. Halo Zea kok diem aja sih. Halo, kamu masih disana kan?"
Zea menghela napas pelan. Berusaha untuk tidak menghujat pria yang sedang berbicara padanya ini. Karena bagaimanapun Azlan adalah pacarnya. Ya meskipun hatinya belum sepenuhnya menerima kenyataan itu.
"Assalamualaikum," ucap Zea menyindir.
"Eh iya heheh, assalamualaikum sayang."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu. Gue udah di rumah, ini mau bersih-bersih, ketunda gara-gara Lo nelpon tau nggak."
"Maaf lah sayang, aku nggak bermaksud buat ganggu kamu kok. Cuma aku nggak tenang aja pas kamu nggak mau aku anterin dan malah milih pulang sama Zeo. Jadi aku berusaha telpon kamu, tapi nggak bisa. Terus aku baru ingat kalau kamu masih blokir nomor aku. Jadi tadi aku suruh Putri untuk ke rumah kamu buat bilang buka blokirannya,"
Zea paham sekarang. Mengapa tadi putri datang dengan wajah kesal serta pakaian tidur yang cukup lengkap melekat di tubuhnya. Itu semua ternyata ulah Azlan. Sungguh laki-laki itu selalu membuat jengkel siapapun.
"Oh gitu, yaudah gue mau mandi. Dan gue baik-baik aja, lagian gue aman kali pulang bareng Zeo."
"Udah ah gue capek mau mandi terus tidur,"
"Hem padahal masih pengen ngobrol. Tapi yaudah nggak papa, sana gih mandi terus istirahat. Besok sekolah kan. Jangan pergi bareng Zeo, besok gue jemput."
"Nggak usah, gue bisa pergi sendiri." Tolak Zea langsung. Pasalnya dia tidak ingin kembali menjadi trending topik di sekolahnya hanya karena Azlan mengantarnya ke sekolah. Cowok yang gantengnya di atas rata-rata pasti akan cepet menjadi gosib di SMA nya. Bukan memuji Azlan sih, hanya memberikan fakta yang benar-benar terjadi.
"Gue nggak Nerima penolakan. Lagian gue pacar lo, dan kewajiban gue buat ngantar jemput Lo Ze. Udah deh sana bersih-bersih, habis itu langsung tidur ya. Assalamualaikum sayang,"
Azlan mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Zea.
"Dasar pemaksa," ucap Zea kemudian mencampakkan asal ponselnya.
"Tapi gue seneng sih. Untuk pertama kalinya gue di peduliin sampe segininya sama cowok selain Zeo."
"Makasih Lan," gumam Zea kemudian memejamkan matanya.
* * *
Dear hati
*Jangan lelah ya!!
Harus percaya yang namanya usaha tidak akan mengkhianati hasil
Harus yakin!!
Ini masih awal
Dan tentunya akan indah pada waktunya
Cinta akan merubah semuanya
kebekuannya akan meleleh dengan hangatnya perasaan yang membara ini
Terus berjuang
Jangan pernah tahu dengan apa yang sudah kamu mulai
Jangan pernah berhenti sebelum meraih tujuan itu*
Azlan tersenyum setelah membaca kembali penyatuan kata demi kata yang baru saja dia buat. Tidak bangga dengan hasil tulisannya hanya saja ia merasa sedikit lega ketika tulisan ini ia buat. Merasa sedikit masalah di hatinya telah tertuangkan pada tulisan itu.
"Sejak kapan Lo jadi puitis gini?" itu suara Azlina yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Azlan.
"Astagfirullah, kak." Pekik Azlan kaget. "Lo udah kayak setan aja, tiba-tiba muncul. Ngagetin sumpah!!" Azlina menyentil pelan kening Azlan.
"Lebay Lo." Cibir Azlina. Kemudian berbaring di ranjang Azlan.
"Gue numpang tidur, gue lagi nggak mood tidur di kamar gue Lan. Jangan ganggu gue, bentaran aja."
"Serah Lo deh. Asal jangan ngiler aja di bantal gue." Dan hal itu sukses membuat bantal Azlan melayang ke dirinya. Dan itu pastinya ulah dari Azlina.
"Gue nggak ngiler ya Ze,"
"Tahu dari mana Lo, kak? Kan Lo lagi tidur, mana mungkin Lo ngelihat diri Lo waktu ngiler."
Azlina menatap Azlan tajam.
"Gue beneran ngiler ya?" tanya Azlina serius.
"Iya," jawab Azlan cepat.
"Bodo amatlah. Lagian bantal Lo juga yang gue ilerin." Ucap Azlina Kemudian kembali tidur.
"Iss jorok banget sih Lo, kak."
"Bodo amat!!"
"Lagian iler cewek cantik juga pasti cantik,"
"Mana ada iler cantik kakakku," geram Azlan.
"Ada,"
"Nggak ada,"
"Ada Lan,"
"Nggak ada kak Azlina,"
"Yaudah kalau nggak ada iler yang cantik, gue ganti deh jadi iler antik, manatau jadi minat pemburu barang antik." Jelas Azlina lagi. Dan hal itu berhasil membuat Azlan kesal setengah mati. Mana ada iler antik. Bahkan iler anak sultan juga ya tetap iler. Nggak ada antik-antiknya. Mungkin iler kakaknya itu melebihi iler anak sultan.
"Serah Lo ah. Kesel gue ngomong sama Lo lama-lama."
"Untung kakak gue, kau nggak udah gue lempar ke Pluto sekarang juga." Gumam Azlan.
"Gue denger Lo Lan," ucap Azlina.
"Bodo amat bodo amat!!!"
Azlina hanya terkekeh geli melihat ekspresi kesal adiknya itu. Memang itulah yang ia cari ketika masuk ke kamar ini. Ia perlu sedikit hiburan.
Terima kasih sudah membaca cerita saya
jangan lupa untuk memberikan komentar dan sarannya ya
Tolong koreksi typo ya
__ADS_1
jangan lupa like episode ini
salam sayang Author