
Ariella keluar dari ballroom hotel. Dia hanya diam bahkan ketika Jack menuntun Ariella menuju lift khusus dan lift yang bergerak naikpun hanya diisi dengan keheningan.
Ting! Pintu Lift terbuka. Mereka keluar dari lift. Jack berjalan di depan, menuju sebuah kamar di lantai 73 hotel Wston itu.
“Ini kamar yang akan anda gunakan nona” Jack menunjuk sebuah kamar bernomor 0212. Kamar dengan nomor yang sama seperti tanggal hari ini. Tanggal dua bulan Desember.
“Terima kasih, Jack” Ariella menatap ke arah Jack yang undur diri.
Pintu terbuka. Gadis itu langsung masuk dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
“Sial, ini lebih sulit dari yang ku bayangkan” gadis itu bergumam. Tangannya melepaskan beragam jepit yang ada dirambutnya. Membuat rambut hitam itu tergerai dengan bebas. Ariella terdiam dengan mata yang tertuju pada langit-langit kamar.
Tak lama ia menyadari sesuatu, segera gadis itu menatap ke seluruh penjuru ruangan. Sebuah kamar suits hotel dengan satu kasur dengan fasilitas yang lengkap. Di atas kasur terdapat hamparan bunga mawar yang dibentuk love. Cukup untuk membuatnya bergindik membayangkan hal yang tidak mungkin dan yang pasti tidak akan dilakukannya.
CKLEK
Suara pintu terbuka sontak membuat Ariella menoleh. Mederick keluar dari pintu kamar mandi menggunakan bathrobe yang terikat pada bagian pinggang namun tidak menutupi dada bidang pria itu.
__ADS_1
“Sudah selesai menatapiku” suara maskulin itu kembali memasuki pendengaran Ariella dengan nada menggoda. Gadis itu dengan beralih menatap wajah Mederick yang menampilkan senyum miring andalannya.
“Salahmu yang menggunakan bathrobe seperti itu” ucap Ariella
Mederick mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan mendudukkan dirinya tepat di sofa. Berhadapan dengan Ariella. Pria itu memainkan ponselnya, tak menghiraukan Ariella yang kini menatapnya dengan mata melotot.
“Bisa tolong kenakan pakaianmu? Bagaimanapun aku wanita normal” Mederick menatap sekilas sebelum kembali pada ponsel digenggamannya. Merasa terabaikan Ariella mendengus kesal
Ting
Suara notifikasi ponsel Ariella berbunyi. Ia melihat sebuah notifikasi lalu tersenyum lebar kearah Mederick.
“100 juta bukan apa-apa bagiku” Mederick menyahut dengan senyum angkuhnya.
“Oh baguslah. Mungkin dalam waktu singkat kau akan menghabiskan lebih dari 10 Milyar hanya untuk isterimu ini”
“Tidak masalah” Jawab Mederick.
__ADS_1
“Oh iya, apa kita akan tidur satu ranjang?” Ariella bejalan ke arah kasur yang berada dikamar itu. Memang kasur itu berukuran king size tapi tidak mungkinkan mereka tidur disatu tempat yang sama apalagi dengan rangkaian bunga mawar itu. Ariellla menoleh kebelakang karah Mederick yang menyandarkan dirinya di dinding kamar hotel. Sepasang mata abu gelap itu menatap kearahnya dengan intens. Ah tidak lebih tepatnya pada belahan belakang gaunnya yang menampakan punggung putih gadis itu.
“Kau tidak melupakan bahwa ini malam pertama kita kan?” ucap Mederick setelah menciptakan keheningan yang menegangkan.
“Daripada malam pertama lebih baik menyebutnya sebagai malam pengantin”
Masih dengan tatapan yang tertuju pada belahan dipunggung Ariella. Mederick bergerak maju dengan tatapan predator yang seakan siap untuk menerkam mangsanya.
“Aku mau mandi” Seru Ariella, Ia bergerak cepat menuju kamar mandi. Untunglah gaun yang digunakannya bukan tipe gaun yang memerlukan bantuan untuk dibuka. Hanya perlu melepaskan kaitan pada bagian leher saja.
Setelah gaun itu terlepas. Ariella berendam di bathup membiarkan tubuhnya ditenggelamkan oleh busa dengan wangi menenangkan itu. 10 menit sudah cukup bagi Ariella untuk berendam. Ia bangkit dari bathup itu meraih handuk mandinya lalu melangkah keluar.
Pandangannya menyusur keruangan hotel kala tidak melihat Mederick
“Derick” Ariella bersuara agak nyaring. Tak ada jawaban membuat sudut bibirnya terangkat.
Lupakan soal malam pertama atau malam pengentin. Lagipula mereka menikah dengan sebuah perjanjian. Ariella melangkah menuju walk in closet. Ia menatap beberapa lembar pakaian lalu tersadar.
__ADS_1
“Sial, aku lupa kalau tidak memiliki baju” ucap Ariella kesal.
To be continuee💗