
Ariella menyelesaikan acara mandinya penuh kekesalan karena seorang Mederick Winston. Pria itu meninggalkan jejak merah yang sangat sulit untuk Ella hilangkan.
Dengan gaun putih polos dengan model turtleneck selutut yang melekat ditubuhnya, ia menuruni tangga, perutnya terasa lapar karena tidak makan apapun sejak semalam.
Suara tapak kaki Ella yang terbalut flat shoes itu menimbulkan suara yang mengisi kesunyian mansion. Ariella mengamati mansion milik Mederick, rasanya begitu sepi.
Ella sadar jika mansion ini berbeda dari tempat pertama ia bertemu dengan Mederick. Tak ada penjaga atau pelayan disini. Bahkan Jack dan Anna, pelayan paruh baya yang ia temui sebelumnya juga tidak ada.
Ketika Ariella ke dapur, dia dikagetkan dengan sosok wanita yang terlihat cukup berumur berdiri membelakanginya, sedang memasak.
“Hello” Sapa Ella membuat wanita tersebut berbalik. Wanita itu menatap kagum pada Ariella, tapi segera ia tutupi dan menunduk hormat.
“Anda ingin sarapan nyonya?” tanya wanita itu
Nyonya? Ah Ariella ingat sekarang ia sudah menjadi Nyonya Winston, bukan lagi nona Ariella.
“Iya, bibi …”
“Tesa Moore, nyonya” Ucap wanita itu
“Salam kenal bibi Tesa, panggil aku Ella saja”
“Tapi nyonya..”
“Aku tidak nyaman dipanggil nyonya” lagipula aku hanya menjadi nyonya sementara. lanjut Ariella dalam hati.
“Mederick sudah pergi?” tanya Ariella
“Tuan sudah berangkat sekitar 1 jam yang lalu, Nyonya”
“Sudah ku bilang jangan panggil aku nyonya bibi”
“Tapi saya tidak bisa nyonya” Ariella menghela nafas pelan
“Panggil aku nona saja” akhri Ariella, Tesa mengangguk
“Baik nona Ella” Sahutnya dengan senyum tipis
“Emm…Jadi bisakah aku sarapan? Aku lapar” Ariella terkekeh diakhir ucapannya.
__ADS_1
“Astaga, maafkan saya nona. Silahkan duduk dulu saya akan menyiapkan sarapan nona”
“Terima kasih”
Ariella duduk dikursi meja makan. Meja makan besar yang terdiri dari 12 kursi, sangat cocok untuk jamuan keluarga besar namun sayangnya kini Ariella hanya menikmati makanannya sendiri.
Hampir 10 menit kemudian barulah Tesa muncul dari dapur dengan mendorong sebuah troli makanan.
“Silahkan Nona” Ucap Tesa setelah menata makanan di meja
“Terima kasih” Ariella meraih garpu dan memakan pasta yang diberikan oleh Tesa dengan mata yang menatap sekeliling. Mansion Mederick benar-benar sepi.
“Tuan bilang nona akan keluar jadi tuan memerintahkan pengawal untuk menjaga nona” ucap Tesa setelah melihat Ariella selesai makan. Ariella terdiam, Ia teringat balck card yang diberikan Mederick. Ia dapat mengunakan kartu itu untuk membeli apapun.
“Jika aku ingin membeli perusahaan Darwin, kemana aku harus pergi?” tanya Ariella dengan senyum tipis. Tesa menatap Ariella tak percaya.
“Perusahaan Darwin tidak dapat dibeli nona kecuali jika perusahaan itu pailit…” jawab Tesa. Ariella mengangguk ia sudah menduga Darwin corp belum akan dijual karena perusahaan milik Andrew itu sedang sukses karena Mederick menanam saham disana. Tunggu, itu dia.
“Apa bibi tau siapa saja pemilik saham Darwin Corp?” Tanya Ariella
“Setau saya selain keluarga Darwin, Tuan Mederick juga memiliki saham di perusahaan itu” Jawab Tesa. Ariella melebarkan senyumnya, rencananya akan jauh lebih mudah jika Mederick membantunya.
“Belanja” Jawab Ella, dia menatap kea rah tesa “Bibi, tolong temani aku belanja yaa” Sambungnya
“Baik nona”
Ariella berjalan keluar disusul oleh Tesa. Wanita paruh baya itu berjalan tepat di belakangnya menjaga jarak antara atasan dan bawahan.
“Berjalan disampingku bibi. Aku tidak tau dimana pintu keluarnya” Ariella tersenyum tipis ketika Tesa maju dan menyamakan langkah mereka. Sebuah mobil Porsche putih terparkir di halaman depan. Langkah Ariella terhenti, dia menatap Tesa meminta penjelasan
“Tuan menyiapkannya untuk nona” Ucap Tesa. Ariella mengangguk acuh lalu masuk kedalam mobil, diikuti dengan Tesa yang duduk disampingnya atas perintah Ariella.
Mereka tiba di sebuah mall, Ariella menghela nafas lalu melirik kearah kanan dengan kesal.
“Apa mereka akan terus ikut?” ucap Ariella. mereka yang dimaksud adalah 3 orang berbadan tegap dengan pakaian berwarna hitam lengkap dengan kacamata hitam yang menarik perhatian orang sekitar.
“Mereka akan mengikuti kemana nona pergi.”
Ariella tidak menyangka hidupnya akan menjadi seperti ini, dikawal seperti seorang tahanan oleh orang-orang itu. Lagipula tidak ada yang tau kalau dirinya sekarang istri Mederick Winston kecuali para keluarga dan kolega yang bahkan tidak akan Ariella temui.
__ADS_1
“Kalian bisa pergi, kami akan kedalam” ucap Ariella pada salah satu pria berpakaian hitam itu.
“Maaf nyonya kami hanya melaksanakan perintah tuan” jawab salah satu pengawal itu. Ariella mengambil ponselnya di dalam tas. Ia menelpon Mederick, deringan pertama pria itu langsung menjawabnya
“Bisa kau suruh para pengawalmu ini pergi” decak Ariella
“Biarkan mereka mengawalmu” jawab Mederick. Pria itu sedang melakukan rapat, tapi ketika melihat Ariella menelponnya tanpa berpikir panjang ia mengangkatnya tanpa memperdulikan bawahannya yang menatap tak percaya pada bos mereka yang selalu mengunakan topeng perak itu. Presentasi yang tadi berjalan terhenti ketika Menderick berbicara dengan seseorang melalui telpon.
“Aku risih, der..” suara Ariella terdengar lirih ditelinga Mederick. Pria itu tersenyum tipis ia suka ketika Ariella memanggilnya begitu. Padahal kenyataannya, Ariella menahan diri untuk tidak memaki pria itu karena memperlakukannya seperti tahanan.
“Kau bersama Tesa?” tanya Mederick
“Ya. Jadi bisakah kau bilang pada pengawalmu itu untuk pergi!” Suara Ariella agak meninggi, Mederick tertawa pelan
“Baiklah. Mereka boleh pergi”
Ariella tersenyum puas. Ia menatap ketiga pria berbaju hitam itu.
“Dengar! Pergilah, aku akan kedalam dengan bibi Tesa” ucap Ariella
“Thanks der, see you tonight”
“Hmm…” Mederick kesal ketika Ariella mematikan telponnya sepihak. Ia menatap ruang rapat yang sepi. Bukan karena tidak ada orang namun tidak ada yang bicara maupun bergerak ketika merasa kekesalan dari bos mereka.
“Rapat selesai” Mederick bangkit meninggalkan ruang rapat menuju ruang kerjanya. Dia melepaskan topeng perak yang menutupi sebagian wajahnya sejak pagi lalu menatap monitor yang menampilkan laporan dari Ezel. Seringain lebar terukir dibibirnya.
Mederick melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan kanannya lalu berdiri di depan dinding berlapis kaca, menatap jalan kota Washington yang dipenuhi gedung pencakar langit. Tatapannya teralih pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia tesenyum ketika mengingat wanita yang memasangkan cincin ini dijarinya.
“’I’m aready miss you”
✨✨
Hello, terimakasih atas dukungan kalian, I hope u all enjoy this story and FYI latar cerita ini pasti barat vibes yaa, seperti BOMA (beware of mr amnsia) semoga kalian suka dan tetap jadi readers setia hehe.
Jangan lupa bantu vody dengan like, vote, fav dan komen yang membangun yaa.
see u in next chapter…
to be continuee💗
__ADS_1