
“Jangan menyesali ucapanmu nanti” Seru Mederick tepat di sebelah telinga Ella setelahnya dia menjauhkan tubuhnya dari Ella" turunlah kita sudah sampai” Ucap Mederick
Ariella mengedipkan matanya. Dia terlalu fokus dengan pikirannya sendiri hingga tak sadar jika sudah tiba di tempat tujuan mereka.
Hotel Wston, tempat yang sama dengan lokasi pernikahannya dengan Mederick dan di tempat ini juga dia akan makan malam dengan Dalton, kakek Mederick. Ini akan menjadi pertemuan kedua mereka.
Ariella memasuki hotel dengan menggandeng tangan Mederick. Seorang wanita dengan pakaian resepsionis langsung memandu mereka menuju lantai teratas, tempat sebuah restoran bintang 5 yang dimiliki hotel itu.
“Selamat malam, Kek” Sapa Mederick dan Ariella saat mereka sudah berdiri di depan Dalton.
Pria tua itu tersenyum lebar dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Berbagai jenis makanan western sudah tersaji di meja bundar dengan sebuah lilin di tengahnya.
“Jadi kapan kau akan mengambil alih perusahaan?” Ariella menaikkan alisnya saat Dalton bertanya pada Mederick. Mederick terlihat berpikir sejenak lalu menatap Dalton kembali
“Nanti, setelah kami kembali dari bulan madu. Aku tidak ingin kehidupan awal pernikahanku pusing karena perusahaan kakek” Jawab Mederick membuat Ariella menyenggol kaki Mederick yang berada tepat disampingnya.
“Baguslah, Damien sudah mulai bertingkah sejak putus dari Erika”
Mederick tersenyum tipis, dia memiringkan kepalanya “Kudengar dia mengacaukan hidupnya dan membuat kakek menutupi kerugian kantor cabang”
Dalton menghela nafas lalu memijat keningnya “Sudahlah, aku menyerah dengannya” tatapan Dalton mengarah pada Ariella “Jadi kemana kalian akan bulan madu?” Tanya nya
“Bali” Singkat Mederick membuat Ariella kembali menyenggol kaki pria itu yang dibalas dengan senyuman manis Mederick.
“Pilihan yang bagus. Ngomong-ngomong Ella, Dia tidak bertindak kasar denganmu kan?”
“Kakek pikir aku akan memukulnya?” Suara Mederick tak terima
“Bukan kasar itu yang ku maksud, son” Dalton tertawa kecil sedangkan Ariella tersenyum tipis. Jujur saja dia tidak tau apa yang kedua orang itu bicarakan.
“Tuan Dalton” Gore mendekat kearah Dalton.
“Kau tidak lihat aku sedang menikmati waktu santai dengan cucuku, Gore?” suara Dalton terdengar tegas
“Maaf tuan, namun Mr. Yamada akan melakukan transaksi dua hari lagi dan mereka memutuskan kerja sama dengan perusahaan kita”
__ADS_1
“Mengesalkan sekali” Dalton mengoceh. Ini pertama kalinya Ariella melihat sisi lain kakek Mederick itu.
“Derick, bereskan Yamada. Aku lelah dengan mereka” Dalton tak ingin menyelesaikan Yamada dengan tenaganya sendiri. Dia sudah cukup tua untuk melakukan itu. Lebih mudah jika menyuruh cucunya yang melakukan itu terlebih lagi dia harus membuat Ariella sadar seperti apa Mederick agar gadis itu tidak terkejut saat mengetahui semuanya.
Mederick menatap Ariella sebentar sebelum beralih pada kakeknya “Transaksi apa yang mereka lakukan?” Tanya Mederick
“Senjata api” jawab Dalton santai. Dia tersenyum puas saat melihat respon Ariella yang tenang. Gadis itu tak terpengaruh dengan topik bahasan mereka yang terbilang cukup ekstrim untuk kaum perempuan seperti Ella.
Makan malam mereka berakhir singkat setelah Mederick menerima perintah dari Dalton untuk membereskan seorang yang Ariella tahu bernama Yamada itu.
Mederick menatap Ariella yang berjalan disebelahnya tanpa banyak bertanya. Mereka menuju lift dengan hening, tak ada satupun yang berbicara, hanya suara tapak kaki mereka yang terdengar di koridor.
Saat pintu lift terbuka disaat itu juga Ariella berhadapan dengan Faniya dan Mason. Sungguh suatu kesialan untuk Ella karena harus bertemu dengan pasangan itu.
“Masuklah kak” Ucap Faniya. Sepertinya Faniya memang sengaja menunggunya dengan menahan pintu lift agar tetap terbuka. Namun yang Ariella tanyakan bagaimana bisa waktu mereka sangat pas sekali. Seolah sudah direncanakan untuk bertemu.
“Tidak perlu, kalian duluan saja” Balas Ariella dengan tangan yang merangkul Mederick. Faniya tersenyum lebar.
“Masuklah kak, masih ada cukup ruang untuk kalian berdua” Faniya menahan Ella. Dia masih menekan tombol lift agar tetap terbuka.
“Kenapa kau seperti masih terkurung di masalalu kak, masuklah” Ucap Faniya.
“Siapa yang terkurung di masa lalu? Aku hanya tidak ingin merusak malam tenangku dengan berada di satu tempat dengan seorang penggoda.” Jawab Ariella dengan tenang.
“Maksudmu?” Faniya bertanya
“Mason.” Ariella tak menjawab Faniya. Ia justru berbicara pada Mason “Kau harus ingatkan pasanganmu untuk tidak menggoda pria yang sudah beristri. Meskipun hanya dengan tatapannya” Sambung Ella membuat Faniya menggeram tertahan.
Ariella memang sengaja ingin membuat Mason sadar dengan sosok asli Faniya. Harus dia akui jika Mason terlalu baik untuk Faniya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mason jika tau anak yang dikandung Faniya bukanlah anaknya.
“Maaf Ella, belakangan ini Fani memang suka melihat sesuatu yang bersinar dan wajah suamimu memiliki aura itu” Ucap Mason, pria itu meminta maaf untuk Faniya.
“Aku bukan barang” Mederick bersuara berat. Tangannya yang berada dipinggang Ariella semakin erat. Mason yang melihat itu tersenyum kecut.
“Syukurlah jika pernikahan kalian baik-baik saja. Aku doakan yang terbaik untukmu dan maaf jika aku tidak datang saat pernikahan kalian” Ucap Mason menyuarakan pikiran yang selama ini mengganggunya, meskipun terlambat setidaknya dia sudah mengucapkan doanya. Anggap saja sebagai salah satu penebusan karena sudah bermain di belakang Ariella saat mereka akan tunangan.
__ADS_1
“Aku memang tidak mengundangmu” ketus Mederick bersamaan dengan dirinya yang membawa Ariella menjauhi lift. Ella menyikut pinggang pria itu dengan sikunya.
“Apa-apaan kau ini” Kesal Ariella
“Kenapa? Akukan memang tidak mengundangnya” Jawab Mederick tanpa dosa.
“Sudahlah, kita mau kemana?” Tanya Ella saat mereka menaiki tangga darurat menuju atap. Beruntungnya tempat mereka berada dengan atap hanya berjarak 2 lantai jadi Ariella tidak perlu kelelahan menaiki anak tangga.
Mederick mengabaikan pertanyaan Ariella. Pria itu menekan tombol pada jam tangannya. layar jam itu menampakan suatu panggilan yang terhubung.
“Rooftop” Ucap Mederick singkat. Ariella menatap pria itu dengan bingung. Selang 5 menit suara helicopter yang mendekat menarik perhatiannya.
“Apa ini?” Tanya Ariella dengan raut terkejut
“Aku akan pergi ke Italia, dan kau ikut denganku”
“APA?”
“Kenapa terkejut begitu? Harusnya kau mulai terbiasa pergi mendadak denganku. Kau taukan jika suamimu ini memiliki jadwal yang padat”
“Aku tau. Tapi kenapa aku ikut juga. Kupikir urusan jadwalmu bukan tanggung jawabku.”
“Kau istriku bukan?” Mederick bertanya. Ariella mengangguk kaku “Artinya kau harus ikut dimanapun aku berada” lanjut Mederick
“Apa-apaan kalimatmu itu? sepertinya kau lupa kalau kita han-“
“Stt- Jangan katakan apapun tentang perjanjian itu. Dia anak buah kakek” Mederick berbisik sambil menutup mulut Ariella dengan telapak tangannya. Mata abu-abunya menatap kearah pilot helicopter. Ariella yang paham arah pandangan Mederick mengangguk paham.
“Lagipula aku tidak bisa membiarkanmu turun dan bertemu dengan orang menyebalkan itu” Ucap Mederick sambil melepaskan tangannya lalu mengalihkan wajahnya.
“Kau cemburu, Der..?” Tanya Ariella membaca gelagat Mederick
“Not yet, but we’ll see..” Gumamnya lalu beralih membawa Ariella menuju helicopter.
To be continuee💗
__ADS_1
Oiyaa fyi ini ada kaitan sedikit dengan cerita BOMA khusus untuk karakter Damien, kalau kalian udh baca BOMA pasti kalian tau deh siapa Damien itu hehe🤗