
“You Drive me crazy, Riel..” Geram Mederick lalu menjatuhkan Ariella ke ranjang.
Mederick mencium Ariella dengan brutal. Tangannya melepaskan kemeja putih dan melemparnya asal. Ariella mendorong Mederick, dia menghirup udara dengan rakus.
“Kau berniat membuatku mati kehabisan nafas, Der?!” Ariella menatap Mederick tajam berbeda dengan wajah Mederick terlihat seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Mederick menyeringai lalu merangkak memposisikan tubuhnya di atas tubuh Ariella. melepaskan piyama hitam yang membalut tubuh Ella. Ariella terdiam begitu Mederick meloloskan piyamanya dan melempar piyama itu asal.
Udara dingin langsung menerpa kulit terbukanya, berbanding dengan sentuhan panas Mederick yang menjalar di sekujur tubuhnya.
“Jangan memandangiku seperti itu” gumam Ariella saat Mederick menggerakan jari-jarinya dengan tatapan yang terasa sangat panas.
“Kau gugup?” Tanya Mederick dengan kerlingan mata nakalnya
“Menurutmu? Bagaimanapun aku wanita normal. Apa kau pikir aku tidak gugup saat tubuhku dijamah seorang pria” Ariella mencoba bersikap tenang meskipun jantungnya berdegup dengan sangat kencang sekarang.
Mederick terkekeh pelan. Kali ini dia mengangkat tubuh Ella dan menghisap kuat kulit lehernya lalu beralih pada pundak sampai bagian atas dada Ella yang masih tertutup bra.
“Der.. pelan-pelan” Lenguh Ariella karena Mederick yang tiada habisnya menggigit dan menghisapnya, meninggalkan tanda-tanda kepemilikan yang pria itu buat. Dari bawah kepala Mederick terangkat untuk melihat ekpresi Ariella dengan kedua mata coklat indahnya yang tertutup – begitu seksi bagi Mederick.
“Kau benar-benar menggoda Riel”
“I know” Balas Ariella yang lagi-lagi membuat Mederick tertawa. Pria itu membawa Ariella dipangkuannya dan kembali mencumbu bibir Ella. Dia mencengkram erat pinggang Ella dan menekannya pada bagian pangkal pahanya.
Ariella bisa merasakan tonjolan dibagian bokongnya, ada sesuatu yang keras di sana “See! Kau selalu membuatku seperti ini, Riel..” Mederick menggeram dengan suara rendahnya. Tangan kekar pria itu mencengram pinggang Ella semakin erat.
__ADS_1
“And that’s my fault?” Tanya Ariella dengan senyum miring yang sialnya sangat menggoda bagi Mederick.
“Damn you!”
“Akh-“
Ariella terpekik kaget saat Mederick mengehempaskannya ke ranjang dan menyerangnya, membuat Ariella tidak bisa berkutik dibawah kukungan pria itu.
Cahaya matahari menyapa dengan malu-malu. Ariella membuka matanya perlahan kemudian melirik Mederick yang masih tidur disampingnya. Tatapan Ella sangat rumit, sulit untuk menjelaskan perasaannya sekarang.
“Shh.. kau benar-benar buas” Desis Ariella merasakan rasa sakit menjalar diseluruh tubuhnya terutama bagian bawah miliknya saat mencoba bergerak untuk menjauhkan Medrick yang memeluk tubuh polosnya dibalik selimut.
“Jangan mengatakan kata buas pada seorang pria, Riel atau kau akan berakhir sama seperti kemarin” Mederick bergumam netra abu-abu itu terbuka, bersitatap dengan Ariella.
“Kau menyesal?” Tanya Mederick
“Menyesal juga tidak ada gunanya, semua sudah terjadi dan itu keputusanku”
‘Dan keputusanmu itu membuatmu tidak akan bisa lepas dariku, Riel’ ucap Mederick dalam hati. tangannya senantiasa mengelus rambut Ella.
“sarapan?”
“Tidak, aku ingin mandi. Tubuhku terasa lengket”
“Oke” Mederick tiba-tiba menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos keduanya lalu membawa Ariella dalam gendongannya.
__ADS_1
“Kau benar-benar tidak tahu malu” Ariella menutup wajahnya yang merona malu dengan tangan. Demi tuhan ini kali pertama dirinya merasa seperti orang bodoh yang bahkan harus digendong dan dimandikan oleh orang lain.
Kondisi tubuh Ella sudah cukup baik setelah mandi air hangat. Siang ini Ariella berada dikamar Leander. Tangannya bergerak dengan lincah pada Macbook yang Mederick berikan padanya sebelum pria itu berangkat kerja tadi pagi.
Bibirnya mengulas senyum lebar, semua yang dia butuhkan dalam rencananya dapat didapatkan dengan mudah dari Mederick. Setelah semua yang terjadi pria itu semakin memanjakannya.
Ariella baru saja mengirimkan sebuah pesan pada Mason dengan nomor baru, sebuah pesan yang berisikan sedikit petunjuk tentang Faniya.
Tangan Ariella kembali bergerak di keyboard, dia sudah mengumpulkan bukti kejahatan yang selama ini Andrew lakukan. mulai dari rencana pembunuhan sampai dengan penculikan yang dilakukannya pada Leander. Ariella berjanji akan membuat pria itu mendekam di balik jeruji besi hingga mati.
Disisi lain Mason yang baru saja tiba diperusahaanya mendapatkan pesan dari nomor asing. Dengan sedikit ragu dia membuka pesan itu yang ternyata sebuah voice note berdurasi 1 menit 6 detik
“Aku hamil, Zac” Suara seorang wanita terdengar. Mason tau jika suara itu adalah milik Faniya. Dia sangat mengenali suara wanita yang dicintainya itu
“Itu milikku atau Mason?!” Kali ini suara seorang pria yang terdengar. Mason menjadi serius mendengarkan saat namanya di bawa dalam percakapan Faniya dengan seorang pria yang Faniya panggil dengan sebutan Zac
“A-anakmu” ucap Faniya terbata, wanita itu sedang menangis berbanding terbalik dengan sang pria yang tertawa mengejek lalu terjadi keheningan selama hampir 10 detik
“Gugurkan!” Titah sang pria yang membuat tangis Faniya terdengar semakin histeris
“Tidak..tidak.. jangan menyentuhku!” Suara Faniya terjeda “I-ini anak Mason! milik Mason bu-bukan milikmu!!” Ucap Faniya histeris dan bersamaan dengan itu pesan berakhir.
Mason terdiam, otaknya mencerna apa yang baru saja didengarnya. Cukup sulit baginya memproses apa yang terjadi namun satu hal yang dia tau, Faniya bermain dibelakangnya.
To be continue💗
__ADS_1