
“Apa yang kamu lakukan? tidak cukupkah untukmu menikah dengan Mederick, Ella?” Baru saja Ariella membuka pintu ruang kerja Andrew, suara pria itu sudah menusuk pendengarannya.
“Maksud anda?” ucap Ariella tenang
“Kau berniat membuat investorku pergikan, Ella?” ucap Andrew tertahan, pria itu sedang mencoa menahan amarahnya
“yah, ketahuan..” Ucap Ariella kelewat santai. Inilah rencana Ella, dia ingin membuat Andrew kehilang segalanya secara perlahan. Dia tidak ingin semuanya terlalu mudah untuk Andrew, pria iblis berkedok malaikat yang sudah membuat Ariella kehilangan segalanya
“KAU!!” Andrew menaikan nada suaranya. Pria paruh baya itu tidak lagi bisa menahan emosi didadanya. “Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu Ella? Itukah balasanmu untuk orang yang sudah merawatmu selama 10 tahun lamanya”
“Justru balasan yang kuberikan ini masih cukup baik. Ngomong-ngomong apa paman masih ingat dengan liontin safir milik ibu?” Ariella menggantung ucapannya. Dia melangkah mendekat menuju meja Andrew dengan pelan.
Tuk..tuk..tuk
Suara sepatu hills yang Ariella kenakan menimbulkan suara yang cukup nyaring. Entah mengapa Andrew merasa gugup dibuatnya
“Aku menemukannya di ruang kerja paman, dan ternyata Liontin Ibu memiliki perekam suara loh” Lanjut Ariella dengan suara riang
“Kau memasuki ruanganku tanpa izin?!” Tanya Andrew cepat dengan tangan yang mengepal sempurna.
“Iya, itukan dulu ruang kerja Ayah, sebelum menjadi ruang kerja paman” Jawab Ariella masih dengan nada cerianya. Dia kini sedang bertingkah seperti anak kecil yang menyebalkan bagi Andrew
“Ternyata harta benar-benar membuat orang menjadi serakah, bahkan dengan saudaranya sendiri. Bukan begitu paman?” Tanya Ella
Andrew tertawa keras yang membuat Ella mengernyit bingung. Seharusnya pria itu murka seperti sebelumnya atau bahkan sudah menyusun rencana untuk melenyapkannya tapi anehnya dengan cepat mood Andrew justru berubah. Membuat Ariella merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1
“Sudah ku duga kau benar-benar cerdas Ella, andai Faniya memiliki sifat sepertimu pasti semuanya akan semakin mudah” ucap Andrew
“Bukannya semakin pintar diriku justru akan berbahaya untuk mu, paman?” Ariella sekilas tersenyum miring
“Kau akan melaporkannya pada polisi, Ella?” Andrew bertanya. Ariella tak menjawab, gadis itu hanya menatap Andrew dengan datar “Jika kau melaporkannya maka kakakmu akan mati, Ella” mata coklat milik Ariella membola, jantungnya berpacu lebih cepat begitu ucapan Andrew memasuki pendengarannya
“Jangan bilang kau.. ?!”
“Kau benar Ella, Leander ada padaku..” Ucap Andrew dengan seringaian yang nampak di wajah keriput samar miliknya “Bukankah kau selalu berusaha mencarinya, Ella?”
Tangan Ariella mengepal, sejak dia tau alasan kejadian di masa lalu yang membuatnya kehilangan ayah dan ibunya. Ariella menemukan fakta jika kakaknya, Leander Ray Dfretes juga menghilang.
“Dimana dia?” Ucap Ariella tertahan.
“Disebuah tempat yang tidak mungkin kau ketahui tanpaku, Ella” Andrew melangkah maju mendekati Ella. Tangannya meraih rambut Ariella yang terurai dan memutarkan rambut itu pada jarinya, mengabaikan tatapan tajam yang Ariella berikan padanya.
Ariella mengepalkan tangannya saat Andrew mendekatkan rambut coklatnya pada hidung pria itu. menghirup aroma pada rambut Ella.
---------
“SHIT, Pria tua sialan” Ariella memaki pada cermin didepannya dengan sebagian rambut yang basah. Gadis itu baru saja mencuci rambutnya yang dipegang oleh Andrew. Berbagai umpatan sudah lepas dari mulut cantiknya itu. segala jenis umpatan yang bisa dia ucapakan untuk Andrew.
Ariella kelepasan satu hal, dia hanya menyusun rencana tanpa mencari tau semua hal yang sudah Andrew lakukan. Ella kira, Leander, kakaknya sudah pergi atau bahkan sudah mati karena Ella tidak bisa menemukan pria itu dimana pun bahkan meskipun Ella sudah mengerahkan detektif untuk mencarinya, tetap saja Leander tidak bisa ditemukan.
Leander, kakaknya yang menjadi sumber kebahagian Ariella sejak kedua orang tuanya meninggal karena seorang bajingan yang sangat berambisi untuk merebut semua harta dan uang ayahnya, pria yang dia panggil sebagai paman.
__ADS_1
“Kau benar-benar sumber masalah, Andrew!”
Kringg..
Bunyi ponselnya membuat Ariella tersadar dari lamunannya
“Kenapa?” Tanya Ariella saat yang disebrang sana tak kunjung buka suara.
“Kenapa belum pulang?” Suara Mederick terdengar dalam dan datar, Ariella melirik jam tangannya. sudah hampir jam 6. Ariella menepuk dahinya, dia lupa jika mereka akan malam dengan Dalton.
“Maaf, Aku akan sampai mansion dalam 30 menit”
“Tidak perlu, aku sudah menjemputmu di kantor.”
“APA?”
TUT-
Panggilan diputuskan oleh Mederick. Ariella menghela nafas lelah. Ini baru beberapa jam sejak rencananya berjalan dan sepertinya dia harus membuat rencana baru untuk membalaskan dendam pada Andrew.
Tapi tunggu apa tadi kata Mederick, pria itu menjemputnya di kantor?
“Hey kau lihat pria tampan didepan perusahaan tadi?” Seru seorang wanita yang baru saja memasuki toilet tepat Ariella berada
“Yes, He’s so damn hot!” Jawab rekannya membuat Ariella nyaris memaki sekarang
__ADS_1
To be continuee💗