(Not) Cinderella Wedding

(Not) Cinderella Wedding
Bab 15 : Pemandangan Pagi


__ADS_3

Mederick menghentikan aksinya. Ketika tak mendapat respon dari lawan cumbuannya. Masih dengan posisi diatas Ariella tanpa jarak sedikitpun. Kerutan samar nampak di dahinya.


“Kau tidak tidur kan?” Tanya Mederick. Ia menepuk pipi kanan Ariella yang memejamkan mata nya.


Tidak ada respon. Pria itu menatap tak percaya lalu mendengus.


“Bagaimana jika aku membangunkanmu dengan cara lain” setelah mengucapkan itu Mederick mulai mencium leher Ariella. Menggigit kecil leher jenjang nan putih gadis itu. Meninggalkan warna kemerahan yang samar.


“Masih menolak bangun, hmm?” Tanya Mederick dengan suara seraknya.


Bau amis darah tercium, Mederick menoleh, menatap ke arah jendela yang pecah serta mayat seorang pria yang masih mengeluarkan darah yang mengalir memenuhi lantai. Ia menghembuskan napas kasar, hampir saja dia lupa jika ada satu parasit di kamarnya saat ini. Pria itu bangkit lalu meraih ponselnya


“Kemari dan bersihkan sampah itu” ucap Mederick pada Jack, asistennya melalui panggilan telepon.


Mederick beralih kearah Ariella merapikan helaian rambut gadis itu yang berantakan akibat ulahnya lalu membawa Ariella dalam gendongannya dan keluar dari kamar hotel itu.


Didepan kamar ada sosok Jack yang berdiri tegap menyambut Mederick. Jack melirik sekilas pada Ariella lalu mengintip ke dalam kamar


"Mereka nekat juga mencari keributan di hari bahagia anda" seru Jack, selain asisten Jack juga adalah orang yang dekat dengan Mederick. Namun pria itu selalu bersikap sopan padanya


"Justru itu kesempatannya" seru Mederick, dia melangkah melewati Jack


"Pastikan kau menemukan pelakunya" titah Mederick


"Baik, Tuan"


Mederick melangkah menuju lift khusus, pria itu menekan tombol menuju lantai dasar. Masih dengan menggendong Ariella, dia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar melewati koridor hotel dengan dua orang pengawal yang mengiringinya dari jarak yang cukup jauh.


Mederick menuji mobilnya yang sudah terparkir di depan hotel, dia meletakkan Ariella di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman pada Ariella. Dengan santai Mederick mengitari mobil itu dan mendudukkan diri di kursi kemudi.


Mederick menatap Ariella lekat, memindai wajah tenang gadis itu yang tertidur tanpa pengawasan


“Kau selamat malam ini, kitten. Tapi aku tidak akan menahan diriku untuk lain kali.”


-


-


Bulu mata hitam lentik itu perlahan terbuka menampakan sepasang bola mata coklat terang yang mengernyit bingung ketika merasa sesuatu yang berat menindih perutnya.

__ADS_1


“Sudah bangun.."


Ariella tertegun mendengar suara berat nan serak milik seorang pria yang mendekapnya. Khas suara orang bangun tidur namun entah mengapa suara itu terdengar seksi ditelinganya? Astaga! Memang harus Ariella akui Mederick terlalu berbahaya baginya dan bagi jantungnya.


“sudah selesai melamunnya?” tanya Mederick tersenyum miring. Ariella menatap Mederick. Pria itu menggunakan tangan kanannya untuk menopang kepalanya sendiri dan tangan kiri yang memeluk pinggangnya.


Ariella menelan ludahnya. Mederick tidak menggunakan baju sehingga sekarang topless.


“I know, I’m hot” ucap Mederick.


“Yaa dan Aku hanya menikmati pemandangan pagi yang indah” ucap Ariella. ia bukan tipe gadis yang munafik. Siapa yang tak suka ketika melihat pria seperti patung dewa yunani berada didepannya bahkan memeluknya.


Mederick menyeringai, tangannya menyentuh wajah Ariella. Mengelus pipi gadis itu dengan pelan. Tatapannya terarah pada bibir Ariella yang terluka akibat gigitannya semalam.


“It’s hurt?” tanya Mederick


“Sedikit, aku tidak tau jika ada hal seperti ini dalam kontrak” yang Ariella maksud adalah perlakuan Mederick padanya yang terlalu intim.


“Don’t you like it?” tanya Mederick menampilkan smirknya


“I don’t know but, I don’t hate that” jawab Ariella. Ia tidak tau karena itu pertama kalinya ia berciuman.


Tiba-tiba Handphone Mederick berdering. Ia bangkit dari ranjang lalu mengangkatnya.


“Perusahan Setle akan melakukan pengiriman jam 1 malam ini” Ucap Pria disebrang telpon


“Tujuannya?” tanya Mederick


“Macau. mereka akan menyelundupkannya melalui jalur laut” jawabnya


“heh, mereka belum jera juga rupanya” Mederick tersenyum miring.


“Katakan pada Ezel untuk membereskan mereka” ucap Mederick lalu menutup telpon. Ariella terdiam, seketika ia mengingat kejadian sebelumnya. Mederick menembak mati seseorang tepat dihadapannya.


“Pria semalam, apa dia mati?” tanya Ariella. Ia sudah berdiri tepat di hadapan Mederick


“Menurutmu?” Mederick balik bertanya dengan langkah mendekat. Ariella mencoba tenang, menahan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat.


“Kau tidak berpikir untuk mundur setelah cincin ini ada di jarimu kan” lanjut Mederick tersenyum miring.

__ADS_1


Ariella terdiam, ia sudah menduga pasti akan ada bahaya ketika ia memulai untuk balas dendam, tapi ia tidak menyangka jika akan sejauh ini. Mederick Winston ternyata bukanlah pria buruk rupa dan seseorang mati tepat didepannya, pria itu memiliki banyak rahasia dan Ariella bertanya dalam pikirannya apakah ia menyesali keputusannya?


“Yah apapun yang ada di otakmu sekarang itu tidak berguna. Kau milikku sampai kontrak kita berakhir” ucap Mederick


“Aku lupa tentang ini.. Ngomong-ngomong berapa lama waktu kontrak kita? Akubtidak menemukannya dalam klausul kontrak" Tanya Ariella. Dia baru sadar jika jangka waktu kontrak tidak tertuliskan di sana.


“Sampai aku bilang selesai” ucap Mederick santai membuat Ariella membelalak.


“Hah? Kau tidak memberikan ku waktu yang pasti?”


“Salahmu tidak membaca kontrak itu dengan benar”


Ariella terdiam. Ia sudah menandatangi kontrak dengan Mederick, jika ia ingkar maka Mederick pasti akan membunuhnya bahkan sebelum ia berhasil menghancurkan Darwin.


“Baiklah. Apapun yang anda katakan” Ucap Ariella formal. Mederick berdecih tak suka


"Kau benar-benar pintar tarik ulur" Mederick berjalan menuju meja dan meraih sesuatu dari laci meja


"Itulah daya tarikku" Ucap Ariella membuat Mederick tertawa pelan


“Belanjalah mengunakan ini” Mederick memberikan Ariella satu kartu kredit berwarna hitam.


“Kau tidak masalah aku menghabiskan semua uangmu” Ariella tersenyum, ia mengambil black card unlimited itu.


“Coba saja kalau bisa”


“Aku akan membeli hotel Wston dengan uangmu” Ucap Ariella bercanda


“Lakukan sesukamu. Aku pergi” Mederick mendekat ke wajah Ariella. Ia mengecup singkat bibir Ariella setelahnya ia pergi dari kamar itu.


Ariella menatap pintu yang tertutup, dia tidak perlu menanyakan kemana Mederick pergi, lagipula mereka akan berpisah dikemudian hari, jadi bukankah lebih baik jika gadis itu semakin sedikit mengetahui tentang Mederick.


"Tapi dia tidak lagi menggunakan topeng saat pergi..." gumam Ariella


Setelah kepergian Mederick. Ariella masuk ke kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya dicermin. Seperti inikah dia ketika bersama Mederick tadi? Kemeja putih kebesaran, rambut berantakan, bibir membengkak dan leher yang memerah. Tunggu memerah?


“MEDERICK WINSTON YOU FUCKING !" Teriak Ariella kesal


✨✨✨

__ADS_1


Hello ini vody, terimakasih buat para readers yang masih setia baca cerita ini. I hope u all enjoy this story dan jangan lupa bantu vody biar semakin semangat nulis dengan memberikan like, vote, fav and komen yang membangun yaaa💗 kritik dan saran di terima dengan senang hatii kokk hehe🥰💗


To be continuee💗


__ADS_2