
Ariella menatap Tesa yang memilihkan banyak pakaian. Wanita itu memang sudah berumur namun seleranya dalam fashion patut diacungi jempol.
Dari pakaian santai hingga gaun semua pilihan Tesa sangat sesuai seleranya. Bahkan alas kaki dan perhiasanmu juga dipilihkan oleh Tesa.
Ariella memang lebih suka berpenampilan sederhana namun bukan berarti ia tidak tau fashion. Ella suka barang branded tapi ia tidak suka yang mencolok. Ia tidak begitu tidak tertarik menggunakan make-up karena menurutnya itu merepotkan untuk menggunakan sekaligus membersihkannya. Setidaknya ia merasa beruntung memiliki wajah yang cantik sehingga tidak perlu sibuk mempercantik diri.
“Nona, sudah selesai. Apa ada lagi yang ingin anda beli?”
“Tidak ada, kita pulang” Tesa mengangguk.
Tiga pengawal yang sebelumnya Ariella suruh pergi kini muncul dan mengambil belanjaan nya. Mereka mengikuti langkah Ariella di belakang dengan tangan yang penuh dengan tas belanja.
“Hallo kakak” Ariella menoleh kesamping mendengar sapaan itu.
Sungguh sial, dia malah bertemu dengan Faniya yang merangkul Mason dengan mesra. Faniya sengaja melakukan itu, dia ingin membuat Ariella cemburu.
“Anda mengenalnya nona?” tanya Tesa. Ia menatap tak suka pada Faniya yang tersenyum sinis.
“Iya. Dia Faniya Darwin, adik angkatku dan itu Mason de Servant, bekas tunanganku yang sekarang menjadi tunangan adikku.” Ucap Ariella tenang. Faniya menahan perasaan kesal nya, ia tidak boleh menghancurkan citra wanita lembut di depan Mason.
“Bagaimana kabar mu, Ella?” Mason bertanya
“Like you see. I’m very good”
__ADS_1
Faniya menatap kearah 3 pria berpakaian hitam yang membawakan belanjaan Ariella yang sangat banyak. Sebagai seorang wanita yang selalu dimanjakan tentu saja Faniya iri ketika melihat merek brand yang tertera dibelanjaan itu. Semuanya adalah barang brended dengan harga jutaan dollar.
“Bukankah kakak terlalu boros? Kakak belanja sangat banyak padahal baru kemarin kakak menikah dengan kak Derick.” ucap Faniya.
Mason diam, dia sudah mendengar tentang kabar Ariella akan menikah dengan pria lain namun ia tidak menyangka jika secepat itu.
“Lalu? Apa masalahmu jika aku boros?” tanya Ariella malas
“Harusnya kakak berhemat dan menjadi istri yang baik, jangan hanya menghabiskan uang suami” Ariella tersenyum ketika Faniya berucap dengan nada sindirian padanya.
“Tapi Derick sendiri yang memberikan ini padaku” Ariella memamerkan black card yang diberikan Mederick. Raut benci terlihat diwajah Faniya membuat Ariella tersenyum puas.
“Nona, kita harus pergi” Ariella menyoraki Tesa dalam hati. Wanita paruh baya itu berbicara disaat yang tepat sebelum Faniya menjawabnya.
Faniya menatap benci kepergian Ariella. Ia benci ketika wanita itu bisa memiliki segalanya. Dari dulu sampai sekarang kenapa Ariella selalu di atas dirinya. Kenapa ia selalu mendapatkan bekas dari Ariella.
“Fani, are you oke?” Faniya menatap Mason. Pria itu menatapnya penuh cinta dan kasih sayang.
“Aku pusing Mason, mungkin hormon kehamilan” ucap Faniya lemah
“Kita pulang ya” Mason membujuk Faniya, Ia mendekat Faniya membiarkan wanita itu bersandar padanya.
“It’s oke, aku masih mau tas yang kemarin” ucap Faniya
__ADS_1
“Oke, habis beli kita langsung pulang” ucap Mason. Faniya mengangguk, setidaknya ia sudah merebut Mason de Servant dari Ariella.
-
-
“Adik anda terlihat licik nona..”
Ariella masuk ke dalam mobil. Tesa berada disampingnya berbicara terus terang tentang betapa ia tidak menyukai Faniya.
“Tapi kenapa Mason de Servant mau bertunangan dengannya.” Ariella tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Terlalu malas untuk bergosip tentang mantan tunangannya itu.
“Sudah berapa lama bibi bekerja dengan Mederick?” Ariella tertarik menanyakan tentang ini setelah melihat sosok Tesa yang membenci faniya seperti Ibu yang tidak suka dengan menantunya.
“Sejak usia 20 tahun saya bekerja untuk keluarga Winston nona. Lalu 5 tahun yang lalu saya secara khusus bekerja untuk tuan Mederick”
20 tahun? Ariella tidak menyangka jika Tessa mengabdi selama setengah hidupnya pada keluarga Winston.
“Tuan Mederick memperlakukan saya dengan baik, beliau menghormati saya sebagai orang yang lebih tua” Lanjut Tesa dengan yakin
“Sebenarnya aku sedikit penasaran, di mana orang tua Mederick?” Tanya Ariella
“Kedua orang tua tuan sudah meninggal nona.” Ucap Tesa. Ariella diam, gadis itu tengah bergelut dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
Mobil sampai di parkiran sebuah mansion bergaya rustic milik Mederick. Ariella turun dari sana dan segera melangkah menuju kamarnya. Mulai menjalankan rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa.