(Not) Cinderella Wedding

(Not) Cinderella Wedding
Bab 26 : Taruhan


__ADS_3

“Mr. Yamada”


Ariella menatap Mederick. Rupanya pria itulah yang menjadi incaran mereka.


“Mederick Winston, senang melihatmu disini” Yamada tersenyum lebar yang penuh maksud tersembunyi saat menyambut kedatangan Mederick. “Ingin bertaruh?” tanya Yamada


“Berapa yang harus ku pasang?” Mederick bertanya balik. Yamada terlihat berpikir sejenak lalu pandangannya terarah pada Ariella. Menatap Ariella dengan tatapan menilai.


Mederick yang menyadari hal itu tersenyum samar. Tidak salah dugaannya jika Yamada adalah pria hidung belang. Menjadikan Ariella sebagai umpan dalam rencananya terbukti sangat berhasil.


“Seorang wanita” Tawar Yamada. Tanpa dijelaskan lebih lanjutpun Ariella bisa paham maksud ucapan pria itu.


Ariella menatap Mederick. Perasaannya mulai tak enak sekarang apalagi saat Mederick mengambil posisi duduk didepan meja bandar dan berhadapan dengan Yamada


“Jika kau menang, dia milikmu” Ucap Mederick pada Yamada, dia mengabaikan tatapan protesan yang Ariella berikan. Enak saja Mederick menggunakan dirinya sebagai taruhan.


“Der, kau-“ Ariella bersuara tak terima, Mederick menatap gadis yang berstatus sebagai istrinya itu dan tersenyum tipis “Saat kartu terakhirku terbuka pergilah kearah Gore” Ucapnya pelan. Ariella menatap Mederick yang memberikan kode dengan matanya.


Arah pandangan Ella teralih pada Gore yang berada diujung ruangan, tempat yang cukup gelap untuk sebuah kasino. Diujung sana Gore menganggukan kepalanya, memahami arti tatapan yang gadis itu tujukan padanya.


Permainan kartu antara Mederick dan Yamada dimulai dengan penuh ketegangan untuk Ariella. dibalik sikap tenangnya tidak ada yang tau jika kakinya yang tertutup gaun panjang itu tengah bergerak gusar. Dia sangat yakin jika ada sesuatu yang besar akan terjadi setelah ini.

__ADS_1


10 menit telah berlalu sejak permainan kartu itu dimulai dan saat inilah penetuan pemenang nya. Saat kartu terakhir terbuka, helaan nafas lega datang dari Ariella. Mederick memenangkan taruhan mereka. Ariella bergerak pelan menuju ujung ruangan, kearah Gore berada.


“Aku kalah” Yamada mengakui kekalahannya, dia tersenyum lebar. “Jadi wanitaku yang mana yang kau inginkan Mr. Winston?”


Mederick menatap 4 wanita dibelakang Yamada. Wanita itu tersenyum menggoda, mencoba menarik perhatian Mederick untuk memilih mereka. “Aku tidak ingin wanitamu Yamada”


“Lalu apa tujuanmu ke tempat ini?” Yamada bertanya, namun secara tersembunyi dia memberikan aba-aba pada asistennya saat melihat Ariella yang menjauhi mereka.


“Aku ingin nyawamu” Ucap Mederick dengan seringaian lebar miliknya


DOR.. DOR… DOR..


Suara tembakan memenuhi kasino itu. menyebabkan para pengunjung berhambur dengan panik. Mederick secara tiba-tiba menembakan 3 peluru beruntun ke lantai dua, menembak sniper milik Yamada yang memang sudah bersiap sejak kedatangan Mederick.


“Kau yakin Derick akan selamat di sana?” Tanya Ariella. Dia sedikit khawatir pada keselamatan pria itu karena sekarang mereka sedang bermain di kandang musuh. Lagipula jika Mederick mati di sana maka tujuannya akan semakin sulit tercapai.


Gore menatap Ariella dengan senyum tipis. Dia yakin jika Ariella belum tau rencana dari cucu bosnya itu “Anda tenang saja nona, semua sudah dalam kendali Tuan Muda”


Gore membawa Ariella keluar dari hotel itu. sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan lobi. “Silahkan masuk nona” Gore membukakan pintu penumpang untuk Ella


“Kita akan meninggalkan Derick di sana?”

__ADS_1


“Tuan muda bisa menyelesaikan semuanya. Anda tidak perlu khawatir, Nona. Tuan menyuruh saya membawa anda kembali ke Mansion”


“Oke” Ariella mengangguk acuh lalu masuk ke dalam mobil. Saat mobil bergerak menjauhi hotel, mereka berpapasan dengan mobil satuan polisi yang melaju dari arah berlawanan.


“Kenapa ada polisi? Bukannya yang kalian lakukan ini ilegal?” Ariella bertanya pada Gore. Kepalanya mengarah ke belakang, mengikuti arah mobil polisi yang Ella yakini menuju hotel tempat mereka tadi berada.


“Polisi datang karena panggilan pegawai hotel. Anda tenang saja nona, Tuan Muda dapat menanganinya dengan baik”


Ariella memutar bola matanya jengah. Lagi-lagi Gore menjawab pertanyaannya dengan maksud yang sama “Sepertinya kau percaya sekali dengan Mederick sampai menyerahkan semuanya pada Tuan Mudamu itu” Ariella berucap dengan nada sarkas. “Jika dia ditemukan mati, kau tidak mungkin bisa mengatakan kalimat itu dengan tenang seperti sekarang”


“Saya mempercayai Tuan Dalton” Tegas Gore. Ariella merasa dongkol. Sepertinya obrolannya dengan Gore tidak terkoneksi dengan baik. “Tuan Dalton memerintahkan Tuan Muda untuk menyelesaikannya jadi saya yakin pilihan Tuan Dalton tidak salah” Gore menjelaskan kesalahpahaman Ariella.


“Wah benar-benar bawahan sejati” Ariella bersorak kagum dalam hati. sepertinya jiwa dan raga Gore benar-benar dipersembahkan untuk Winston.


Kurang lebih 1 jam sedang hitam itu memasuki halaman mansion Parliv. Ariella menatap para pelayan yang menyambutnya, namun kali ini ada yang aneh, para pelayan itu terlihat tidak nyaman atau mungkin seperti melarangnya untuk masuk ke dalam Mansion karena mereka menghalangi Ella dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang cukup mengganggu.


Beruntungnya Gore mengancam para pelayan itu hingga Ariella dapat melangkah masuk dengan tenang, hingga diruang tamu langkah Ariella terhenti karena seorang pria yang berdiri didepannya.


Rupanya ini alasan para pelayan menahannya. Karena seorang pria bermata hijau yang menatapnya dengan senyum lebar dibibirnya.


“Jadi kau kakak iparku?” Ucapnya dengan senyuman yang terlihat mengerikan.

__ADS_1


To be continuee💗


__ADS_2