
Seorang pria dengan setelan jas mahal itu menatap dokumen didepannya dengan tatapan meremehkan. Tatapan itu ditujukan untuk satu kertas yang bertuliskan laporan tentang pemecatan Ariella di perusahaan Darwin serta data pemilik saham di perusahaan itu.
“Andrew benar-benar bunuh diri” Serunya dengan kekehan
Jordan, sang sekretaris menatap tuannya dengan senyum tipis. “Andrew menjalan pion pada bidak yang salah, Tuan”
Mata coklat itu semakin menyipit mendengar pernyataan Jordan. Pertanda jika dia tidak setuju dengan ucapan Jordan
“Kau salah Jordan, bukan bidaknya yang salah tapi pion yang dipilihnya sudah salah. Kau taukan jika ratu dapat melangkah lebih jauh dari raja.” Jordan mengangguk paham. Senyum lebar teraptri dibibir Jordan ketika tau arah pembicaraan mereka.
“Jadi.. apa yang akan tuan lakukan?” Tanya Jordan
Pria itu memutar kursi kebesarannya membuat pandangannya yang semula menatap tinta pada kertas teralihkan pada pemandangan langit malam didepannya yang terhalang dinding kaca. Dia terlihat berpikir.
“Kapan rapat umum pemegang saham perusahaan Darwin?”
“Bulan depan” Jawab Jordan, setelah melihat jadwal melalui tablet ditangannya
“Jual saham kita dari perusahaan itu pada Ariella. Semuanya”
Jordan melotot, saham mereka diperusahaan Darwin sebesar 16 persen. Jumlah yang sangat besar. Jika mereka menjualnya sekarang mereka bisa mengalami kerugian dari harga belinya.
“Anda yakin? Saham Darwin kemungkinan akan meningkat pesat jika proyek gabungan itu berhasil” Ucap Jordan memberikan peluang bagi Tuannya itu
“Dan kau tau kan alasan kenapa aku ingin menjual saham itu hanya pada Ariella, Jordan” Kursi itu kembali berputar, mata coklatnya menatap Jordan yang selalu membantah ucapannya.
“Baik Tuan Parker” Jawab Jordan dengan formal. Dia hampir lupa dengan kuasa yang dimiliki Tuannya itu.
__ADS_1
Axel Parker, Pria berambut coklat yang serasi dengan mata coklat gelapnya. Sejak awal melihat Ariella dalam rapat perusahaan pandangan pria itu sudah tertuju padanya dan apapun yang Ariella lakukan maka akan Axel ikuti. Termasuk langkah Ariella untuk menghancurkan Andrew Darwin.
-
-
Dini hari, Ariella terbangun sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Dia lupa jika sejak siang dia tidak sempat makan.
Ariella menatap kamar yang dia tempati selama di Milan, kasur disampingnya terasa dingin, dia yakin jika Mederick belum ke kamar mereka. Ya di mansion Paraliv, Mederick bersikeras agar mereka tetap tidur dikamar yang sama dengan alasan banyaknya pelayan yang mungkin akan memantau mereka dan melaporkan pada Dalton.
Ariella melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, suasana mansion yang temaram dengan hawa dingin dari dinding beton tak membuat Ariella takut. Ariella akui jika mansion besar itu terasa sangat mencekam di malam hari. Apalagi tidak ada seorang pelayanpun di sana.
Srat.. Suara sayatan itu membuat langkah Ariella terhenti. Dia berpegangan pada dinding karena rasa lemas pada kedua kakinya saat melihat Mederick memegang sebuah pisau yang berlumuran darah dan seorang wanita yang terjatuh didepannya.
“Cepat katakan! kau tau bukan bukan jika aku tidak suka menunggu”
“A..aku mencintaimu, Tuan” Ujar wanita itu dengan lirih, dia memegang pergelangan tangannya yang tersayat.
“Tu..tuan, aku sungguh-sungguh mencintaimu” Lanjut wanita itu terbata. Dibalik ruang tamu Ariella menutup mulutnya dengan tangan. Takut menganggu aktivitas keduanya yang menjadi tontonan menarik bagi Ella.
“Berhenti membual. Kau harusnya bersyukur aku tidak menggunakan pistol dan langsung menembak mati dirimu, jadi katakan sekarang siapa yang mengirimmu?!”
“Dre..Drevon Archard” Ucapnya terbata. Ariella membelalak, secepat inikah pria itu bergerak, Ella bahkan baru bertemu dengannya beberapa jam yang lalu. “Tuan Drevon meminta saya menggoda anda dan menjauhkan anda dari Ariel-”
DOR.
Suara yang begitu memekikan telinga terdengar. Mederick menyeringai lebar. Ariella menyaksikan semuanya, bagaimana Mederick yang dengan tiba-tiba mengambil pistol pinggangnya dan menembak tepat di kepala wanita itu dengan tenangnya.
__ADS_1
Cairan merah yang mengalir dilantai membuat Ariella merasakan Dejavu. Hal ini sama seperti saat malam pertama mereka. Ketika Mederick menembak mati seorang pria yang ada di dekat jendela.
Ariella mematung, dia bingung dan syok. Inikah sosok Mederick yang sebenarnya?
“Keluarlah, Riel. Sejak kapan kau hamua menjadi kucing penakut yang suka mengintip” Ariella terkejut bukan main. Suara bass itu terdengar sangat datar dan tidak bersahabat di telinganya.
“Sudah puas menontonnya” Ariella tersenyum lebar, bersikap seperti anak kecil yang tidak merasa berdosa sama sekali bahka setelah menenton adegan pembunuhan di depan matanya.
Mederick mendekati Ariella dengan seringain lebar andalannya.
Satu langkah..
Dua langkah
Dan langkah ketiga.. Mederick berdiri tepat didepan Ariella dengan sebuah pistol yang diarahkan pada kepala Ella.
“Aku ingin menembak kepalamu, Riell..” Ucapnya dengan nada manis
Ariella memperhatikan Mederick, mata abu-abu itu menatapnya dalam dan penuh dengan hasrat yang tersembunyi hingga Ariella menjadi yakin jika inilah sosok Mederick yang sebenarnya.
“Kau tidak akan melakukannya, Der” Mata coklat itu menatap lawannya dengan lekat. Mederick terkekeh
“Sebenarnya darimana kepercayaan dirimu itu Ariella. kau benar-benar tidak bisa ditebak”
“Kau tidak akan menyakitiku, Der. Akui saja itu”
“Karena kontrak kita?” Mederick tertawa geli
__ADS_1
“Bukan” Ucap Ariella cepat. Tangannya meraih pistol yang berada tepat dikepalanya dan membalik posisi pistol itu kearah Mederick. Melihat respon Mederick yang membiarkan pistol itu mengarah padanya membuat Ariella semakin yakin “Karena kau mencintaiku, sejak awal, bahkan sebelum kontrak kita dimulai!” Ucap Ariella tajam membuat netra abu-abu itu berkilat menatapnya
To be continuee💗✨