
Ariella selesai mengganti pakaiannya, ia mengenakan gaun panjang berwarna coklat tanpa lengan. Bibirnya dipolesi dengan lipstick berwarna peach, yang membuatnya terlihat cantik dan segar. Ia segera turun ke bawah ketika melihat mobil Mederick memasuki gerbang mansion.
Mederick turun dari mobilnya. Jack mengikuti di belakangnya. Ketika pintu Mansion di buka raut terkejut terlihat di wajah Mederick ketika Ariella berdiri menyambutnya.
“Biar aku bawakan tasmu” Ucap Ariella, ia melangkah maju dengan senyum tipis dibibirnya.
Dengan kaku, Mederick menyerahkan tasnya pada Ariella. Tak sampai disitu, Mederick kembali dikejutkan dengan Ariella yang menggandeng lengannya. Bukan hanya Mederick namun Jack yang bersama dengan mereka juga terkejut.
Aroma citrus memasuki penciuman Mederick. Pria itu merendahkan tubuhnya ke arah leher Ariella yang terkespos. Ia mengendus pelan lalu berdecak kesal.
“Jangan gunakan parfum lagi” ucap Mederick tak suka
“Kenapa? Ini wangi” Ariella menoleh ke samping, wajah Mederick hanya beberapa jengkal dari wajahnya.
Cup… Mederick memberikan kecupan singkat pada bibir Ariella.
“Kau mencuri kesempatan yah.” Ariella memincingkan matanya, Mederick menyeringai.
“Itu hukuman untuk mu yang tidak patuh”
“Memangnya aku budak mu?”
“Ehem.. Tuan kita harus bergegas, jadwal penerbangannya 30 menit lagi” Ucap Jack yang dari tadi terabaikan. Ariella melepaskan tangan Mederick. Ia menatap Jack lalu Mederick
“Kau akan pergi?” tanya Ariella
__ADS_1
“Hmm”
“Ya sudah ini tasmu ku kembalikan” Ariella menyerahkan kembali tas Mederick. Raut wajahnya datar tidak lagi tersenyum seperti sebelumnya. Mederick yang menyadarinya tersenyum miring.
Ariella membalik tubuh nya namun Mederick segera memeluknya dari belakang.
Mengabaikan sosok Jack dan para bawahannya yang langsung memalingkan muka dengan wajah memerah dan kaku.
“Apa yang kau inginkan kali ini?” bisik Mederick tepat di samping telinga Ariella. Ariella membalik tubuh nya lalu tersenyum. Ia mengecup bibir Mederick dengan lembut.
“Aku ingin saham perusahaan Darwin” ucap Ariella membuat Mederick kembali Menyeringai. Ia sudah menduganya ketika melihat Ariella menyambutnya. Tidak mungkin gadis itu berinisiatif melakukan hal itu jika tidak ada yang ia inginkan.
“Kita akan bicarakan ini besok. Jangan mencoba untuk pergi kemanapun, Riel” Mederick berucap serius
“Jangan bercanda der, aku tidak akan kabur. Aku hanya akan menunggumu pulang”
Sedangkan disisi lain tepat di sebuah mansion milik keluarga de servant, aura mencekam datang dari seorang wanita paruh baya yang menatap putranya dengan mata yang penuh dengan amarah.
“Jadi ini yang kamu lakukan Mason? menghamili adik tunanganmu sendiri!” Lina menatap putra semata wayangnya yang menggandeng Faniya dengan tajam.
Dia tak menyangka ketika kembali dari perjalanan bisnisnya dengan Loren, suaminya. Ia justru mendapat pernyataan dari putranya yang justru mengecewakannya.
“Maafkan aku bu, tapi aku tidak menyesal. Aku mencintai Fani dan aku akan menikah dengannya!” Ucap Mason, Ia masih setia menggandeng tangan Faniya.
Loren menghela nafasnya “Biarkan saja Mason dengan pilihannya” ucapnya pada Lina
__ADS_1
“Aku akan membiarkannya jika wanita yang dia bawa itu baik Loren!” Lina menghela nafas frustasi. Sedangkan Faniya mengencangkan pegangan tangannya pada Mason. Secara tidak langsung ia dapat menyimpulkan Lina menganggapnya bukan wanita baik.
“Ucapan ibu melukai perasaannya!” Ucap Mason. Lina tertawa melihat keberanian Mason menentangnya.
“Benarkah? Kenapa dia harus terluka karena ucapanku” tanya Lina. Ia memang tidak menyukai Faniya, itulah alasannya lebih memilih menjodohkan Mason dengan Ariella meskipun gadis itu hanya anak angkat. Setidaknya Ariella jauh lebih cerdas dan berkelas, tidak murahan seperti Faniya.
“Sayang sudah cukup, ini akan berakhir dengan pertengkaran jika dilanjutkan dan Mason.. “ Mason menatap pada Loren “kamu sudah dewasa, lakukan apapun yang kamu inginkan tapi ingat jangan menyesal di kemudian hari” Ucap Loren menjadi penengah diantara ibu dan anak tersebut.
Mason mengangguk, Ia menarik keluar Faniya. Tujuannya malam ini hanya memberitau kebenaran pada keluarganya. Entah itu penerimaan atau penolakan, Mason tidak peduli.
“Kenapa kamu membiarkan mereka pergi, Loren? Aku belum selesai dengan mereka” ucap Lina kesal
“Jangan memperburuk hubunganmu dengan Mason. Memangnya apa yang kamu harapkan dengan memarahi Mason”
Lina terdiam. Loren benar. Meskipun ia memarahi dan menasehati Mason, putranya itu tidak akan berubah pikiran. Lagi pula Faniya sudah mengandung anak Mason. Lalu bagaimana dengan Ariella? bagaimana perasaan gadis itu?
“Ariella sudah menikah dengan cucu Dalton Winston” Seolah menjawab pertanyaan yang bersarang pikirannya. Lina langsung menoleh kearah Loren. Tatapannya meminta penjelasan lebih lanjut.
“Aku mendapat undangan, sayangnya di saat yang sama kita akan rapat tahunan” Lina tertawa keras, Ia berdiri dengan kedua tangan dipinggang. Loren yang menyadari perkataannya menelan ludah kasar.
“Kau tau semuanya tapi tidak memberitauku Loren?!” Lina bertanya dengan langkah mendekat
“I-itu maaf, aku lupa” Loren terdiam. Kalimat yang Lina lontarkan selanjutnya justru membuatnya tidak bisa berkutik akan kemarahan sang istri.
“Malam ini kau tidur di luar!”
__ADS_1
To be continuee💗