
“Anda dapat bersiap untuk makan siang nona. Tuan akan menunggu anda diruang kerjanya” Ucap Jack. Ariella mengangkat alis nya.
“Makan siang?”
“Benar nona, sekarang sudah jam 11 siang” Ariella melotot kearah Jack. Seumur hidupnya Ariella tidak pernah bangun sesiang ini. Ah ia ingat dirinya bukan tertidur secara alami namun dipaksa tidur dengan bius.
“Aku ingin langsung menemui tuan kalian” Jack menatap Ariella seolah menilai pada tampilan Ariella. Pakaian dan rambut gadis itu agak berantakan, seolah mengerti arah tatapan Jack, Ariella bangkit berdiri ia menatap kearah cermin yang menampakan bayangan dirinya.
Tangan gadis itu menata rambut dan bajunya lalu kembali menatap ke arah Jack. “Bukankah sudah lebih baik?” Jack hanya mengangguk lalu menuntun gadis itu ke ruang kerja sang tuan yang selalu menetap disana. Jack menjulukinya tuan gila kerja.
Terdengar suara ketukan singkat disusul pintu yang terbuka secara otomatis “Silahkan masuk nona, tuan berada di dalam” Ariella melangkah masuk tangannya mendadak dingin karena kegugupan yang mulai mendera. Menghembuskan napas pelan gadis itu melangkah masuk bersamaan dengan pintu yang tertutup secara otomatis.
Ariellla menatap seorang pria yang menggunakan kemeja hitam berdiri membelakanginya. Pria itu menatap kearah jendela kaca yang menampakan pepohonan hijau.
Ariella maju mendekat kearah meja kerja pria itu. Mengetukkan tangannya pada meja untuk mendapatkan atensi pria itu dan berhasil, cahaya matahari yang terlihat malu-malu menyinari pria yang kini membalikkan tubuhnya menghadap Ariella.
__ADS_1
GLEK
Ariella mamatung. Perawakan pria itu sungguh sempurna. Tidak ada kecacatan sedikitpun bahkan rumor tentang wajahnya yang hancur karena luka bakar itu tidak dapat Ariella lihat kebenarannya. Pria itu berdiri tegap dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku membuat otot lengannya terlihat jelas.
“Maaf sepertinya aku salah masuk ruangan” ucap Ariella cepat, pria itu terlihat menahan senyumnya yang nyaris terbit.
“Kau tidak salah” Serunya dengan suara berat. Suara maskulin dan dalam itu terdengar menggelitik ditelinga Ariella.
“A-anda Tuan Mederick? Mederick Winston?” Tanya Ariella dengan ragu.
“Ya” Pria itu menatapnya dari atas sampai bawah. Memindainya dengan intens membuat gadis itu sedikit menundukkan kepalanya. Merasa tertekan dengan aura kuat yang mendominasi dimiliki oleh pria itu.
“Sudah puas menatapnya” ucapan berat pria itu membuat Ariella terlonjak kaget, matanya mengerjap untuk kembali fokus pada masalah yang akan dihadapinya kini.
“Maaf saya hanya terkejut dan juga sebenarnya saya bukan nona Darwin”
__ADS_1
Bibir Mederick menyeringai dengan sebelah tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Ariella terdiam bahkan hanya dengan menyeringaipun pria itu semakin terlihat mempesona.
“Jadi siapa kau?”
“Saya Ariella Dfretes, anak angkat keluarga Darwin. Putri kandungnya menolak menikah karena mengandung anak mantan calon tunangan saya” Ariella berucap dengan tenang, ia melihat kearah Mederick
“Cih, mantan calon tunangan katamu” Mederick berdecih dengan nada tak suka sambil menoleh ke samping. Lagi dan lagi Ariella tertegun menatap bagaimana rupa Mederick dari samping. Ini gila pria didepannya terlalu sempurna. Sekarang ia tau alasan pria itu tidak pernah terekpos oleh media. Wajahnya terlalu berharga untuk menjadi santapan publik. Anggap saja rumor tentang dirinya yang buruk rupa adalah sebuah peralihan isu agar pria itu tidak dibanjiri dengan lamaran perjodohan.
“yah bukankah itu wajar, lebih baik berhubungan dengan tuan muda servant daripada tuan muda Winston yang buruk rupa” ucap Ariella lagi, harus diakui Ariella merasa munafik sekarang namun dia harus fokus pada tujuan utamanya. Membuat Mederick Winston membenci keluarga Darwin dan berpihak padanya.
Setelah mengucapkan itu Ariella mendapati tatapan menghunus dari Mederick. Tatapan yang penuh dengan unsur ketidaksukaan pada ucapan Ariella.
“Lidahmu tajam juga rupanya” jawab Mederick. Bibirnya menampakan senyuman sinis yang samar lalu beralih ke meja kerjanya meraih sebuah map dan meyodorkannya pada Ariella.
“Tanda tangani!” mendapati tatapan Ariella yang seolah bertanya sontak membuat Mederick menghela napas kasar lalu kembali menatap mata coklat terang milik Ariella yang terlihat bingung.
__ADS_1
“Itu adalah dokumen perjanjian pernikahan kita” jelasnya yang membuat Ariella melongo
To be continuee💗