
•
•
•
📞📱: "Yeobeseo? Wae oppa?" Tanya Sunji di seberang telpon.
📞📱: "Rapat hari ini sudah lebih cepat selesai, aku dan Soojin ingin pergi makan siang, Soojin berniat mengajakmu bersama kami. Kau sedang tidak sibuk kan sekarang di apertemen?" Tanya Sunhyung.
📞📱: "Tidak, baiklah aku akan ketempat kalian, dimana lokasinya?"
📞📱: "Akan kukirimkan nanti."
📞📱: "Baik."
📞📱: "Jja."
Panggilan telpon itu berakhir bertepatan dengan Soojin dan Sunhyung memasuki sebuah cafe tak jauh dari markas kepolisian.
"Apa kata Sunji?" Tanya Soojin.
"Dia akan segera menyusul," Balas Sunhyung.
"Kenapa?" Tanya Sunhyung menatap Soojin yang tiba-tiba melamun ketika mereka baru saja duduk di kursi.
"Aniya, aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu tentang kejadian 8 tahun yang lalu, entah kenapa aku merasa suara pelaku mirip dengan seseorang yang kukenal." Balas Soojin.
"Apa mungkin seseorang yang sering kau dengar suaranya?" Kata Sunhyung.
"Mungkin saja," Balas Soojin.
"Apa kau tau sedikit ciri-ciri pelaku?" Tanya Sunhyung.
"Emm, ada sih, perkiraan ku dia setinggi 178 cm, dan dia memiliki aroma yang khas." Balas Soojin mengingat-ingat.
"Aroma? Aroma apa?"
"Ketika dia menyerangkan ku beberapa hari yang lalu, kami sempat berdekatan dan aku menyium aroma yang cukup menyengat serta terasa tidak asing." Balas Soojin.
"Seperti apa aromanya?" Tanya Sunhyung.
"Terasa seperti semacam aroma obat tidur, tapi terasa sedikit berbeda. Seperti ada campuran di aroma itu." Balas Soojin.
"Mungkin saja itu memang benar obat tidur yang dicampurkan sesuatu, karena setiap korban pembunuhan tidak ada luka fisik ataupun sesuatu didalam tubuh yang membuat mereka terbunuh, mereka dibuat tertidur atau lebih buruknya lagi langsung dibunuh menggunakan obat itu lalu mengukir kode batang." Kata Sunhyung.
"Aku juga memikirkannya." Gumam Soojin.
Dan tidak lama kemudian seorang wanita menggunakan baju putih polos dan celana hitam masuk ke cafe lalu menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Mianhe aku terlambat." Ucap Sunji.
"Tak apa Sunji, kebetulan kami juga belum lama datang." Balas Soojin.
Lalu Sunji duduk disamping Sunhyung, "Lama tak bertemu Soojin eonnie." Sapa Sunji.
"Tentu, terakhir kita bertemu sehari sebelum kau pergi ke Australia, kan?" Balas Soojin.
"Hah, aku akan meninggalkan kalian untuk reuni berdua." Sahut Sunhyung berdiri dari duduknya dan berjalan keluar cafe.
Sunji dan Soojin sama-sama tertawa menanggapi perkataan Sunhyung.
"Dia tidak berubah sama sekali ya." Kata Soojin.
"Oh ya eonnie," Panggil Sunji. Soojin hanya menjawab dengan deheman dan bertepatan dengan pelayan yang datang dengan dua gelas Mocalatte.
"Aku dengar dari oppa kalau kalian melakukan rapat mengenai kasus pembunuhan barantai yang mana pelakunya dijuluki Cold-Blooded Killer?" Lanjut Sunji.
"Nee, kemarin bertepatan dengan mu yang kembali ke Korea, telah terjadi kecelakaan di sebuah jalan tol dan di salah satu mobil, kami menemukan tubuh Oh Ju Young yang ternyata menjadi korban ketujuh." Balas Soojin mengambil gelas nya lalu menyesap kopi itu dengan pelan.
"Oh Ju Young? Kalau tidak salah dia seorang Fotografer, kan?" Tanya Sunji ikut mengambil gelasnya.
"Ya begitulah." Balas Soojin.
Diluar cafe.
Sunhyung melihat sekitar dan pandangannya tertahan pada seseorang berjaket hitam yang berdiri tak jauh darinya dan bersembunyi di tembok gang. Lalu saat mereka saling memnyadari satu sama lain, orang itu langsung melarikan diri.
Sunhyung berhenti di perempatan yang cukup sepi, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan menemukan seseorang yang memakai jaket dan tudung yang sama seperti orang yang dia lihat tadi.
Sunhyung mulai mendekati nya secara perlahan dan bersiap dengan pistol digenggam nya.
Dan ketika sudah tepat berada dibelakangnya, Sunhyung menepuk pundak orang itu. Ketika orang itu berbalik, ternyata dia hanyalah seorang remaja SMA yang sedang berjalan-jalan dengan memakai headset.
"Mianhe, aku salah orang." Kata Sunhyung sedikit menundukkan kepalanya.
"Aa, nee." Balas remaja itu ikut menundukkan kepala lalu berjalan pergi.
Sunhyung menghela nafas lalu kembali mengedarkan pandangannya, dan saat menoleh kebelakang dia mendapati orang yang sama, tapi kali ini memakai masker dan sedang memegang ponsel. Ketika mereka bertatapan orang itu langsung melarikan diri.
Sunhyung yang melihat nya pun langsung mengejar nya.
Tapi ketika sampai di sebuah gang, Sunhyung kehilangan jejak pelaku.
"Hais, sial!" Kesal Sunhyung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
'Aku akan menghubungi Soojin terlebih dahulu.' batin Sunhyung mengeluarkan ponselnya.
Dan ketika ingin berbalik tiba-tiba saja ada yang menusuknya dibagian perut.
__ADS_1
"Kusarankan untuk fokus pada keamananmu dari pada keamanan teman wanita mu itu. Dan kuharap polisi tidak mencoba menyembunyikan saksi." Bisik pelaku lalu berjalan pergi.
Sunhyung menyentuh perutnya yang mulai mengeluarkan darah, dengan cepat dia menyabut pisau itu dari perutnya dan darah nya langsung mengucur keluar.
"Hah... Apa.. Maksudnya... Menyembunyikan saksi?..." Gumam Sunhyung seraya menahan rasa sakit diperutnya.
'Apa mungkin dia sudah tau kalau Soojin melihat dia membunuh orang tuanya yang menjadi korban ketiga dan keempat?' batin Sunhyung.
"Akh..." Ringis Sunhyung karena luka tusukan itu semakin terasa sakit.
'Kenapa dia menyerangku sama seperti saat dia menyerang Soojin?' batinnya Sunhyung.
Dan tiba-tiba saja pandangannya menjadi buram, padahal biasanya dia mendapat luka tusukan tidak sampai pusing seperti saat ini. Karena semakin terasa pusing dan tidak kuat menahan beban tubuhnya, Sunhyung langsung jatuh.
Ditempat Soojin dan Sunji.
"Eh? Dimana oppa?" Sahut Sunji tidak mendapati kakak nya diluar cafe.
Dia dan Soojin baru saja selesai dan berniat bergabung dengan Sunhyung yang sedang berada diluar cafe.
"Ya ampun, kenapa dia selalu saja menghilang tiba-tiba, sih?!" Kesal Soojin lalu mengeluarkan ponselnya.
"Apa yang akan kau lakukan eonnie?" Tanya Sunji.
"Aku akan mencoba melacak keberadaan nya," Balas Soojin tanpa melihat lawan bicara. "Ketemu, dia berada di sebuah gang tidak jauh dari sini." Lanjut Soojin begitu berhasil melacak keberadaan Sunhyung.
Mereka bedua pun segera menuju kesana, dan ketika sampai mereka mendapati Sunhyung yang terbaring tidak sadarkan diri ditanah dengan perut nya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.
"Oppa/Sunhyung??!!!"
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
Sekarang Soojin, Sunji, dan Hyejin tengah duduk didepan ruang operasi menunggu Sunhyung selesai ditangani oleh Seojun.
Setelah menemukan Sunhyung di gang dengan keadaan terluka tadi, Soojin langsung menghubungi ambulance serta Hyejin dan Seojun. Mereka berdua ikut menyusul ke rumah sakit dan Seojun yang melakukan operasi Sunhyung.
Sudah hampir satu jam Seojun didalam dan selama satu jam Sunji tidak berhenti menangis bahkan sampai terisak. Soojin duduk disampingnya mencoba menenangkan adik temannya itu. Sedangkan Hyejin bersandar di dinding sambil melipat tangan di depan dada dan memejamkan matanya.
Dan tidak lama kemudian Seojun keluar dari ruang operasi. Dia menghampiri ketiga orang itu lalu melepas masker yang dia gunakan. Begitupun dengan Soojin, Sunji, dan Hyejin.
"Bagaimana keadaan nya Seojun oppa?" Tanya Soojin dengan khawatir.
"Dia baik-baik saja, luka tusukan tidak terlalu dalam," Balas Seojun membuat ketiga wanita itu bernafas lega.
"Tapi kurasa sepertinya pelaku menaburkan semacam racun dipisau yang dia gunakan, sehingga untuk beberapa hari kedepan Sunhyung mungkin tidak akan bangun." Lanjut Seojun.
"Tapi dia tidak akan kenapa-kenapa kan Seojun oppa?" Tanya Sunji yang masih berlinang air mata.
"Jangan khawatir, kalian membawanya tepat waktu sehingga racun yang masuk ketubuhnya belum menyebar, perkiraan ku mungkin sekitar lima atau satu minggu kedepan dia akan bangun." Balas Seojun mengusap surai hitam Sunji.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu."