A Girls Revenge

A Girls Revenge
30.Batas waktu


__ADS_3




Soojin berhenti dilokasi itu, dia segera turun dari mobil dan melihat sekeliling, tidak ada siapapun disana karena hari sudah malam, sekarang sudah jam 6.30 malam.


Soojin beralih menatap layar ponselnya, "Lokasinya disini, tapi kenapa Yejun tidak ada dimanapun?" Gumam Soojin.


Lalu dia mencoba menghubungi ponsel Yejun lagi, dan sebuah suara nada dering ponsel membuatnya tersentak, dia melihat sekeliling mencari sumber suara itu.


Soojin berjalan mendekati semak-semak yang berada dipinggir jalan, dan dia menemukan ponsel Yejun yang layarnya menampilkan panggilan dari nya. Ketika ingin mengambilnya dia sadar ada darah di pinggiran layar ponsel.


Soojin mengeluarkan sarung tangan putih dari sakunya lalu memakai nya dan mengambil ponsel itu.


Soojin memerhatikan bercak itu, darahnya belum mengering sepenuhnya, dan itu artinya itu adalah darah yang masih baru.


'Tidak mungkin darah Yejun, kan?' Pikir Soojin.


"AKKHHH!!!!"


Soojin terkejut setelah mendengar suara teriakkan yang seperti nya suara wanita.


Dia segera mencari sumber suara, hingga akhirnya berhenti di gang yang sama dengan yang dilihat Yejun siang tadi. Ada seorang wanita dari arah berlawanan tengah terduduk sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan nya, dari raut wajahnya dia ketakutan.


Begitupun Soojin, dia terkejut dengan sesuatu yang dipandangi wanita itu, sesosok tubuh seorang pria yang berlumuran darah dengan perutnya yang terkoyak dan dadanya yang masih terdapat pisau yang menancap.


Soojin segera mendekati wanita dan tubuh pria itu, dia memeriksa keadaan pria itu, dan ternyata dia sudah meninggal.


"Hubungi polisi sekarang!" Ucap Soojin dengan tegas pada wanita yang masih memasang raut wajah terkejut sekaligus ketakutan. Tapi dengan cepat dia tersadar setelah Soojin memerintahnya.


"Ba-baik!" Wanita itu mengeluarkan ponselnya dari tas dan menghubungi polisi.


Soojin memeriksa tubuh itu.


'Perkiraan meninggal sekitar jam 11 kurang siang ini, alasan meninggal karena kehilangan darah dan tikaman di dada serta luka berat diperut.' Batin Soojin.


Lalu dia teringat sesuatu, segera dia memeriksa kedua punggung tangan korban, tidak ada apapun disana kecuali darah yang merembes dari lukanya. Soojin bernafas lega, berarti ini bukan kasus kode batang, tapi tetap saja ini kasus yang sungguh sadis.


"A-aku sudah menghubungi polisi, mereka akan sampai disini sekitar 10 menit bersama ambulance." Ucap wanita tadi seraya berdiri dari duduknya.


"Arraseo, tapi, apa yang kau lakukan disini? Dan bagaimana kau bisa menemukan korban?" Tanya Soojin.


"Aku baru pulang dari kantor, aku selalu pulang lewat gang ini karena mempersingkat jarak menuju rumahku. Tapi ketika aku lewat, aku melihat sesuatu tapi tidak begitu jelas, ketika kudekati ternyata tubuh pria ini." Jelas wanita itu.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


"Na-namaku Min Eunhee." Kata wanita itu.


"Arraseo, kita tunggu sampai polisi tiba." Kata Soojin menatap tubuh korban yang sungguh sadis.


10 menit kemudian...


Polisi, tim forensik, detektif serta petugas medis sudah datang ketempat itu.


Sekarang wilayah itu sudah dibatasi garis kuning, tubuh korban tengah diperiksa tim forensik.


"Bagaimana?" Tanya Soojin.


Salah satu petugas forensik yang menyelidiki menghampiri Soojin yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.


"Perkiraan korban meninggal sekitar jam 10.56 siang ini, korban meninggal karena kehilangan darah, luka tusukan dibagian perut, serta tikaman didada." Jelas petugas itu.


"Berapa perkiraan luka yang diterima korban?"


"Belum bisa dipastikan sampai dilakukan autopsi lanjutan di rumah sakit."


"Segera lakukan penyelidikan," Pinta Soojin.


"Baik."


"Oh ya, jamkanman," Soojin memberikan ponsel Yejun pada petugas itu.


"Baik." Petugas itu menerima ponsel itu dan berjalan pergi.


'Entah apa yang kulakukan ini, kuharap Yejun tidak berada dalam bahaya saat ini,' Batin Soojin.


...⋇⋆✦⋆⋇ ...


Sunhyung mengetuk pintu ruangan Seojun, hingga sebuah suara menyahut dari dalam ruangan.


"Masuk."


Sunhyung membuka pintu dan masuk keruangan itu.


"Hyung memanggilku?" Tanya Sunhyung seraya menutup pintu lalu berjalan menghampiri Seojun yang tengah duduk di meja kerjanya dengan sebuah kertas digenggamannya.


"Nee," Balas singkat Seojun tanpa melihat kearah Sunhyung.


Dari jawaban dan sikap Seojun, Sunhyung dapat menebak kalau pria di hadapannya tengah serius akan sesuatu dan mungkin akan mempengaruhi beberapa hal.


"Duduklah," Kata Seojun. Sunhyung duduk dikursi tepat didepan Seojun.


Lalu pria berstatus kepala pemimpin divisi detektif itu meletakkan kertas digenggamannya di hadapan Sunhyung.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Sunhyung mengambil kertas itu dan membacanya.


"Hasil laporan medis mu," Balas Seojun dengan ekspresi serius.


Sunhyung membaca dengan cepat dan teliti, dan setelah selesai dia menghela nafas dan meletakkan kertas itu kembali kemeja lalu bersandar pada senderan kursi.


"Menurut hasil pemeriksaanku, racun yang dua bulan lalu sempat kita kira sudah hilang ternyata sudah menyebar keseluruh tubuh dan meresap sumsum tulang mu." Ucap Seojun.


"Sebenarnya aku sudah menduga hal ini," Kata Sunhyung menatap kertas laporan medisnya.


"Tidak mungkin pelaku memberikan racun yang mudah dihilangkan begitu saja, bagaimanapun dia adalah pembunuh berantai yang sudah membunuh orang dengan cara keji." Lanjutnya.


"Setelah kuperiksa lagi, racun itu akan hilang setelah sehari, namun seminggu kemudian reaksinya akan muncul. Racun mulai menyebar keseluruh tubuh," Ucap Seojun. "Tapi seharusnya gejala dari efek racun itu sudah muncul sejak sebulan lalu, apa memang sudah terjadi?" Tanya Seojun.


Sunhyung diam selama beberapa saat lalu mengangguk, "Nee, sebulan yang lalu tiba-tiba saja aku mimisan tanpa henti, bahkan sampai sekarang." Balas Sunhyung tanpa memandang Seojun dan masih menatap lembaran laporan itu.


Seojun menghela nafas lelah lalu mengangkat tangan nya untuk memijat kepalanya yang terasa pusing, "Hah, jika sudah seperti ini hanya satu hal yang bisa dilakukan," Seojun menggantung kalimatnya dan menatap kearah Sunhyung, begitu pun sebaliknya.


"Kau harus melakukan operasi sumsum tulang sekaligus mengganti semua darahmu, racunnya benar-benar sudah meresap ke semua darahmu." Lanjut Seojun.


"Aku mengerti, tapi jangan sekarang operasinya," Ucap Sunhyung.


Seojun mengernyitkan dahi, "Wae? Apa kau ingin keadaanmu semakin parah? Berdasarkan perkiraan medis kau mungkin hanya bertahan selama kurang dari satu minggu lagi jika tidak segera melakukan operasi."


"Aku sudah memikirkannya, tapi aku ingin mendengar berita pelaku tertangkap sebelum melakukan operasi, aku ingin mendengar bagaimana orang yang memberikan racun ini tertangkap." Kata Sunhyung.


Seojun menghela nafas gusar, "Kau ini benar-benar keras kepala." Kesal Seojun.


Sunhyung bangkit dari duduknya, "Tolong jangan beritau siapapun mengenai keadaanku, terutama adikku." Kata Sunhyung


"Wae? Kenapa orang lain tidak boleh tau soal kondisimu bahkan adikmu juga?" Tanya Seojun.


"Aku hanya tidak ingin mereka khawatir sehingga tidak fokus dengan kehidupan nya," Balas Sunhyung lalu dia berjalan menuju pintu keluar.


"Gomawo... Hyung..." Ucap Sunhyung sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.


Seojun menatap punggung Sunhyung yang baru saja menghilang dibalik pintu.


"Semoga pelaku tertangkap sebelum batas waktumu." Gumam Seojun.


Disisi Sunhyung.


Dia berjalan sendirian dilorong markas kepolisian, lalu tiba-tiba dia berhenti melangkah.


'Jika memang batas waktu ku hanya beberapa hari, maka aku harus secepatnya menangkap pelaku.' Batin Sunhyung.


Lalu dia kembali melangkah pergi dari markas kepolisian.

__ADS_1


__ADS_2