
•
•
•
Sekarang Soojin dan Je Yeon masih berada di bandara.
"Jaga dirimu baik-baik." Ucap Je Yeon menepuk pelan kepala Soojin.
"Kenapa oppa tidak menginap ditempat ku saja dan malah pulang kerumah lama?" Tanya Soojin dengan ekspresi sedih.
Tadi dia menawarkan kakaknya itu untuk menginap di rumahnya, tapi Je Yeon menolak. Dia bilang ingin kerumah lama mereka saja.
"Pertama karena aku tidak ingin merepotkanmu, kedua aku merindukan tempat itu. Karena di tempat itulah kenangan yang tidak akan pernah bisa kita lupakan berada." Balas Je Yeon.
"Arraseo, aku akan sering datang kesana jika waktuku sedang kosong." Kata Soojin.
"Hmm, kalau begitu aku pergi, jaga dirimu." Ucap Je Yeon melambaikan tangan nya dan berjalan pergi.
"Oppa juga! Jangan lupa menelpon ku ketika sampai!!" Pekik Soojin karena kakaknya itu sudah cukup jauh.
"Tentu!"
"Hah... Sekarang aku ingin kemana ya?" Pikir Soojin. "Ke RS Seojun oppa saja deh," Dia mengeluarkan kunci mobilnya dan menuju parkiran bandara.
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
Di rumah sakit, ruang Seojun.
'Korban pertama terjadi 12 tahun yang lalu, korban kedua 10 tahun yang lalu, korban ketiga dan keempat 8 tahun yang lalu, korban kelima 5 tahun yang lalu, korban keenam 3 tahun yang lalu, dan korban ke tujuh 3 hari yang lalu. Di beberapa laporan autopsi mengatakan kalau ada sesuatu yang lain yang bisa di jadikan dugaan bunuh diri,'
'Korban pertama diduga meminum racun, begitu juga korban ke lima dan ketujuh. Sedangkan korban kedua diduga karena memang ingin bunuh diri,'
'Racun pada luka Sunhyung sama persis dengan yang ditemukan di tubuh korban pertama, korban kelima dan ketujuh, apa pelaku memang ingin membunuh salah satu anggota polisi yang telah mengejarnya selama ini? Tapi... Entah kenapa jenis racun ini terasa tidak asing. Aku seperti pernah melihat jenis racun ini disuatu tempat,' pikir Seojun.
"Hais, ini mulai membuatku stress," Kesal Seojun mengacak-acak kasar surai coklatnya.
Tiba-tiba suara pintu diketuk menarik perhatian Seojun.
"Masuk." Singkat Seojun seraya merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya.
"Maaf jika aku mengganggu waktu anda Dr. Jang." Seojun menoleh kearah pintu dimana seorang pria yang juga memakai jas dokter sepertinya berdiri diambang pintu.
"Dr. Cheon?"
"Silahkan masuk," Kata Seojun.
Setelah menutup pintu pria yang berprofesi sebagai dokter itu masuk keruangan. Seojun berdiri dari kurisnta dan menuntun orang itu ke sofa dekat jendela tak jauh dari pintu. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Kalau boleh tau ada hal apa sampai datang kemari?" Tanya Seojun.
"Aku ingin membicarakan sesuatu." Balas pria yang dipanggil Dr. Cheon itu.
__ADS_1
Cheon Yeongsik, dokter dirumah sakit yang sama seperti Seojun. Dia adalah senior Seojun ketika dirumah sakit, mereka terkadang melakukan operasi atau pemeriksaan bersama.
"Sesuatu?"
"Nee, aku ingin tau mengenai kasus korban kelima pada kasus Cold-Blooded Killer." Kata Yeongsik.
"Mianhae, tapi itu adalah informasi rahasia. Aku tidak boleh sembarangan memberitahu pada orang lain." Balas Seojun.
"Mungkin aku lupa memberitahu mu, korban kelima adalah teman masa kecilku, aku kehilangan kontak dengan nya 6 tahun yang lalu." Ucap Yeongsik.
"Korban meninggal 5 tahun yang lalu, kenapa baru mencari tau tentangnya sekarang?" Tanya Seojun.
"Dia tiba-tiba pindah keluar negeri, lalu beberapa bulan setelahnya kami berhenti berhubungan. Sekitar seminggu yang lalu aku berhasil menelpon keluarganya, dan kata mereka Byungho meninggal karena menjadi korban pembunuh kode batang." Jelas Yeongsik.
"Arraseo," Kata Seojun.
"Korban kelima bernama Nam Byungho, dia ditemukan di taman dekat sungai Han pada malam sabtu 5 November 2018. Tidak ada luka fisik ataupun luka dalam, tapi saat autopsi ditemukan efek racun ditubuhnya. Tim forensik tidak bisa mencari tau racun apa itu." Jelas Seojun.
"Begitu rupanya, aku menyesal karena baru mengetahui hal ini." Ucap Yeongsik dengan nada suara yang pelan.
'Pihak kepolisian meminta pihak media untuk merahasiakan nama para korban dan hanya menampilkan tempat korban ditemukan. Mungkin Dr. Cheon tidak memiliki niat tersembunyi, tapi tentu trik itu tidak akan bisa mengelabui ku.' Batin Seojun.
"Arraseo, terima kasih sudah meluangkan waktumu," Ucap Yeongsik berdiri lalu langsung berjalan menuju pintu keluar.
"Sebelum itu," Seojun mengehentikan perkataannya dan tepat dengan Yeongsik berhenti melangkah.
"Tolong rahasiakan hal ini dari media dan publik." Lanjut Seojun.
"Kenapa dia tiba-tiba mencari tau mengenai Nam Byungho?" Gumam Seojun setelah Yeongsik benar-benar keluar dari ruangannya.
Dan tidak lama kemudian suara ketukan pintu kembali terdengar.
"Masuk."
Soojin membuka pintu dan masuk keruangan itu.
"Mianhae, aku mengganggu mu oppa." Kata Soojin berjalan mendekat.
"Aniyo, aku juga sedang istirahat. Ada apa kau kemari?" Tanya Seojun seraya berjalan mendekati meja kerjanya dan duduk dikursinya.
"Emm, hanya berkunjung saja sih." Balas Soojin duduk di sofa sambil menghadap ke arah Seojun, tapi pandangannya kearah lain.
"Kukira kau menjemput Je Yeon hyung." Kata Seojun seraya mengeluarkan kertas laporan dari laci meja.
"Sudah, tapi dia bilang ingin menginap dirumah lama saja, jadi daripada aku tidak ada kerjaan jadinya aku kerumah sakit saja." Balas Soojin.
"Kau kan bisa membantunya membereskan rumah lama mu dan barang-barangnya, kan?" Ucap Seojun.
"Malas." Kata Soojin bercanda.
Seojun hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepala menanggapi sikap Soojin.
"Oppa, apa kau tau dimana Hyejin eonnie?" Tanya Soojin.
__ADS_1
"Entahlah, tadi aku sempat bertemu dengannya di markas, katanya dia akan pergi mengajar jadi dia tidak bisa dihubungi untuk beberapa jam kedepan.
"Oh, begitu." Gumam pelan Soojin tapi masih bisa didengar oleh Seojun.
"Kenapa?" Tanya Seojun.
"Aniyo, tiba-tiba aku merasa khawatir dengan kondisi Hyejin eonnie." Balas Soojin.
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
"Mungkin,"
Seojun menatap lamat wajah Soojin, lalu pandangannya kembali menatap laporan yang dipegangnya.
"Laporan apa itu oppa?" Tanya Soojin berjalan mendekat dan duduk di kursi didepan Seojun.
"Laporan mengenai hasil autopsi dari korban pertama sampai ketujuh." Balas Seojun.
"Kenapa tiba-tiba memeriksa laporan-laporan itu?" Tanya Soojin lagi.
"Hanya untuk memastikan sesuatu," Balas singkat Seojun tanpa melihat lawan bicaranya.
"Tadi sebelum aku datang aku melihat Dr. Cheon keluar dari ruanganmu, kalau boleh tau apa yang kalian bicarakan? Terakhir kali melihatnya setahun yang lalu." Tanya Soojin.
Soojin dan yang lainnya mengenal Dr. Cheon, mereka sempat bertemu beberapa kali ketika mengurus korban penyerangan atau yang lainnya. Tapi Soojin dan yang lain kehilangan kontak dengannya kecuali Seojun.
"Dia bertanya mengenai korban kelima." Balas Seojun masih fokus dengan kertas ditangannya.
"Dan kau memberitahu nya?"
"Hm," Seojun hanya berdehem.
"Tapi untuk apa dia bertanya mengenai korban kelima?"
"Dia adalah teman masa kecil korban kelima, katanya mereka kehilangan kontak 5 tahun yang lalu."
"Kupikir dia bisa saja dimasukkan ke daftar tersangka."
Seojun melihat kearah Soojin, "Kenapa kau bisa berkata demikian?"
"Yah... Karena mungkin saja dia punya motif tersembunyi, selain itu dia bilang dia kehilangan kontak dengan korban sejak 5 tahun yang lalu, jika memang benar kenapa tidak bertanya pada mantan rekan forensiknya? Bukankah dia dulu adalah anggota tim forensik?" Jelas Soojin menjelaskan alasannya.
"Itu juga sempat kupikirkan sebelum memberitahu jawaban dari pertanyaannya, tapi aku ada alasan lain untuk menjawabnya." Balas Seojun.
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
Nama. : Cheon Yeongsik
Usia. : 30 tahun
Pekerjaan : dokter, ahli bedah
__ADS_1