A Girls Revenge

A Girls Revenge
28.Kejadian tidak terduga


__ADS_3




Satu bulan kemudian berlalu dengan cepat, selama hampir sebulan itu tidak ada keanehan apapun, kasus-kasus yang berhubungan dengan pembunuh berantai sudah tidak ada dan digantikan dengan kasus-kasus biasa.


Dan setelah penyelidikan korban kedelapan, polisi kehilangan petunjuk mengenai Cold-Blooded Killer hingga saat ini, petunjuk terakhir adalah lokasi tempat mobil milik korban kedelapan berada terakhir kalinya pun tidak bisa membantu banyak.


Untuk beberapa hari kedepan, kepala kepolisian meminta seluruh anggota polisi agar lebih waspada dan melakukan penyelidikan dengan lebih ketat lagi, hanya tersisa dua korban sebelum benar-benar ada, para polisi lebih sering berpatroli disekitar tempat yang mungkin akan terjadi kasus serupa.


Soojin keluar dari ruangannya, dia baru selesai mengurus data kasus yang baru dia selesaikan sejak kemarin, akhir-akhir ini dia sering menyelidiki kasus pelenyapan berencana, tapi dia menyelidiki sendiri. Sejak Sunhyung mengatakan tidak enak badan bulan lalu, dia lebih sering pergi entah kemana lalu ketika kembali dan ditanya darimana dia hanya menjawab 'ada sedikit urusan'.


Soojin berjalan menuju ruang bukti, dia masih harus memeriksa barang bukti untuk beberapa kasus.


Ketika sampai disana, ia disambut dengan seorang pria berseragam polisi, tapi wajahnya tidak bisa dilihat karena dia memakai masker, dia seperti tengah mencari sesuatu diantara tumpukkan barang bukti.


"Mianhae?!" Pekik Soojin dengan sengaja.


Pria itu tampak tersentak karena terkejut, lalu dia menoleh kearah Soojin.


"Sedang apa anda disini? Ruangan ini tidak boleh dimasuki oleh orang lain kecuali dia seorang detektif dan forensik." Ucap Soojin.


Orang itu menundukkan kepalanya, "Mianhae, saya diminta untuk mencari salah satu barang bukti oleh salah satu anggota tim forensik, karena mereka sedikit sibuk jadi meminta tolong pada saya." Balas orang itu.


"Memang bukti apa yang diminta dicarikan?" Tanya Soojin sambil menatap lamat pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Sebuah buku."


"Buku?" Soojin menaikkan alisnya bingung, "Buku apa?"


"Katanya buku yang ditemukan pada kasus seminggu yang lalu."


Minggu lalu terjadi kasus penyerangan, korban selamat tapi pelaku belum ditemukan sampai saat ini. Selain itu ditemukan sebuah buku bersampul hitam polos didalam lemari korban yang terkunci. Buku itu sepertinya buku diari, karena isinya seperti cerita hidup yang ditulis korban, karena itu buku itu dijadikan sebagai salah satu barang bukti.


"Oh, arraseo," Soojin berjalan mendekati salah satu rak dan mencari buku yang dimaksud pria itu.


Tidak sampai dua menit Soojin menemukan bukunya.


"Buku ini?" Tanya Soojin untuk memastikan sambil menunjukkan buku yang ada di tangannya.


"Kurasa benar." Balas pria itu.


Soojin berjalan mendekat dan menyodorkan buku itu. Ketika pria itu hendak menerimanya, panggilan Sunhyung menarik perhatian mereka.


"Soojin!" Mereka berdua menoleh kearah pintu tempat Sunhyung tengah berdiri di tengah pintu sambil bersedekap dada.

__ADS_1


"Wae?" Tanya Soojin dengan kesal, dia masih marah dengan Sunhyung karena suatu masalah dua hari yang lalu. Buku yang disodorkannya pun ditarik kembali.


Pria itu mengumpat kesal didalam hati, kenapa malah ada yang datang disaat itu.


"Apa yang kau lakukan?" Bukannya menjawab Sunhyung malah bertanya balik.


"Dia diminta tim forensik untuk mengambil salah satu barang bukti pada kasus seminggu yang lalu." Balas Soojin.


"Mianhae, kurasa barang itu belum bisa diberikan." Kata Sunhyung lalu berjalan masuk keruangan itu.


"Wae?" Tanya Soojin.


"Aku diminta untuk menyelidiki ulang kasus minggu lalu dengan semua barang buktinya." Balas Sunhyung seraya memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.


"Tapi kan aku yang bertugas untuk menyelesaikan kasus itu, kenapa malah kau yang diminta untuk menyelidiki ulang?" Tanya Soojin lagi.


"Sudahlah, kita bahas berdua saja nanti."


Soojin berdecik, "Ck, arraseo," Lalu dia menatap pria tadi, "Mianhae, aku akan memberikan buku nya pada tim forensik jika sudah selesai dengan kasusnya." Lanjut Soojin.


"Nee, cogiyo." Balas pria itu menundukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


'Cih, kenapa Yoon Sunhyung harus datang disaat seperti ini?!' Batin pria itu kesal.


"Jadi?" Sahut Soojin setelah orang tadi benar-benar pergi.


"Mwo?" Tanya balik Sunhyung.


"Kau ini sedang PMS atau bagaimana? Sejak kasus lima hari yang lalu kau selalu marah-marah." Kata Sunhyung mengambil buku yang di pegang Soojin dan langsung pergi.


"Yak!!" Pekik Soojin, tapi Sunhyung mengacuhkan nya dan pergi dari ruangan itu.


"Jika saja bukan rekan ku, sudah pukul kepalanya sampai dia amnesia." Kesal Soojin, lalu dia ikut pergi dari ruangan itu.


Soojn berjalan dilorong sendirian, tidak biasanya lorong dilantai 2 kosong seperti tidak ada tanda kehidupan, pikirnya.


"Soojinnie!" Soojin menoleh kebelakang dan melihat Hyejin yang berjalan kearahnya.


"Wae eonnie?" Tanya Soojin.


"Apa kau melihat Sunhyung?" Tanya balik Hyejin.


"Nee, tapi tadi dia pergi entah kemana," Balas Soojin walaupun masih merasa kesal. "Memangnya kenapa?"


"Seojun oppa membutuhkan bantuannya untuk meretas sebuah ponsel." Balas Hyejin.


"Ponsel? Ponsel apa?" Tanya Soojin.

__ADS_1


"Anggota divisi penyelidik menemukan ponsel milik para korban yang sempat diduga hilang di salah satu tempat yang jarang dilewati orang." Balas Hyejin.


"Maksudnya ponsel korban kode batang?"


"Nee, ponsel-ponsel itu tidak bisa dinyalakan, bahkan datanya pun tidak bisa dibuka," Kata Hyejin. "Jika masalah nya seperti ini maka hanya Sunhyung saja yang bisa mengatasinya."


"Iya sih," Gumam Soojin.


"Baiklah aku akan mencarinya nanti saja, ayo, kita diminta keruangan Seojun oppa." Ajak Hyejin lalu menarik tangan Soojin.


"A-arraseo." Soojin hanya pasrah lengannya ditarik oleh Hyejin.


...⋇⋆✦⋆⋇ ...


Disekolah Soojin.


Yejun, Seoyoon serta Yerin baru saja keluar dari gedung sekolah. Hari ini para murid pulang lebih cepat karena guru mengadakan rapat untuk ujian semester akhir sekaligus ujian kelulusan untuk kelas 3.


"Beberapa hari ini Soojin sering tidak masuk." Ucap Seoyoon membuka topik pembicaraan.


"Mungkin karena kasus yang semakin banyak terjadi akhir-akhir ini." Kata Yerin.


"Kurasa akan sulit baginya ketika ujian kelulusan kita nanti, dia ketinggalan banyak materi." Sahut Yejun.


"Benar,"


Mereka berhenti di penyebrangan lampu lalu lintas.


"Aku duluan." Kata Yejun.


Arah pulang Yerin dan Seoyoon berbeda dengan Yejun dan Soojin, jadi mereka sering berjalan pulang bersama hanya sampai penyebrangan itu.


"Sampai jumpa besok, jangan lupa beritau Soojin soal ujian itu!" Balas Seoyoon sedikit berteriak karena Yejun sudah menyebrang lebih dulu.


"Arraseo!"


Yejun berjalan dijalan yang cukup sepi, hanya ada dua tiga orang yang berada dijalan yang sama.


Langkahnya terhenti dan pandangan nya tertahan pada sebuah gang yang sempat dia lewati, entah dia yang salah lihat atau bagaimana, ada seseorang berpakaian serba hitam yang tengah memegang sebuah pisau.


Yejun menatap sesuatu didekat kaki orang itu, kenapa mirip tubuh manusia? Karena disekitar orang itu tidak ada penerangan sekaligus karena berada digang sempit Yejun tidak bisa melihat dengan jelas.


Karena tidak ingin terjadi masalah yang mungkin nanti melibatkannya Yejun memutuskan pergi, mungkin dia hanya salah melihat sesuatu yang berada di dekat kaki orang tadi.


Namun baru beberapa langkah tiba-tiba mulutnya dibekap oleh sebuah kain dari belakang, Yejun langsung mencoba memberontak.


"Diamlah, aku tau kau melihat ku tadi,"

__ADS_1


Dari suaranya dia adalah seorang pria, dan apa maksudnya dia melihat nya tadi? Apa dia orang yang berada digang tadi? Tidak ada waktu untuk berfikir bagi Yejun, karena semakin lama tubuhnya semakin lemas, dari kain itu samar-samar tercium obat tidur.


Dan hingga akhirnya semua menjadi gelap.


__ADS_2