
•
•
•
Soojin mendatangi lokasi yang diberikan Sunhyung padanya. Mereka bertemu di sebuah taman tidak jauh dari rumah Soojin, tapi yang membuat Soojin bingung saat dia sampai tidak ada siapapun disana.
"Mana lagi tu anak? Gitu-gitu malah bohongin aku lagi?! Hais, jinjja." Sungut Soojin.
Ditengah kekesalannya itu dia tidak menyadari ada seseorang yang memerhatikannya dari jauh, dan sekarang mulai berjalan mendekat.
Soojin yang pekak menyadari ada yang mendekatinya, namun yang terlintas dipikirannya orang itu adalah Sunhyung.
"Kenapa lama seka--" Begitu berbalik Soojin mendapati seseorang memakai jaket bertudung hitam dan memakai masker sehingga tidak dapat melihat wajahnya. "Siapa kau?" Tanya Soojin waspada.
'Jinjja, kenapa disaat seperti ini aku lupa membawa pistol, pisau atau alat lainnya untuk berjaga-jaga!' batin Soojin menggerutu. 'Tapi kenapa rasanya dia tidak asing?'
Dan detik berikutnya pria itu menyerang dengan pisau lipat, jika tidak menghindar maka bisa dipastikan pisau itu kana langsung mengoyak leher Soojin.
Soojin mundur beberapa langkah, mencoba berfikir apakah ada alat disekitar yang bisa dijadikan alat perlindungan. Selain itu dia mencoba berfikir cara menghubungi anggota kepolisian lain untuk meminta bantuan.
"Kau ingin menghindar kemana, hm?"
Suara dari orang didepannya langsung membuat jantung Soojin berdetak lebih cepat, suaranya sangat mirip dengan... Pembunuh yang telah membunuh kedua orang tuanya dulu.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sampai Soojin tidak sadar sosok itu telah bergerak menyerangnya.
Soojin mencoba menghindar untuk beberapa saat, mencoba mencari celah menyingkirkan alat yang dibawa lawannya itu.
"Akh..." Ringis Soojin karena pisau itu berhasil menggores pipinya dan orang itu mendorongnya.
Karena keseimbangan yang kurang Soojin terjatuh dengan mudah.
Orang bertudung itu langsung mencekik Soojin yang mencoba bangun dan menahan pergerakannya dengan menusuk kedua lengan dan perut Soojin dengan pisau lalu menindih tubuh itu.
Soojin yang tidak dapat bergerak karena rasa sakit itu hanya bisa menahan air matanya yang hendak keluar sangking menyakitkan.
"Siapa-kau-sebenarnya," Perkataan Soojin terjeda-jeda karena rasa sakit dibagian perutnya.
Orang itu malah menyeringai dibalik masker hitamnya, "Untuk apa ku beritahu? Malah hanya akan membantumu dan hal itu tidak menguntungkan," Balas orang itu. "Atau mungkin kau masih ingat dengan ku?"
"Yang-kusadari hanya-lah-kau-orang yang telah membunuh-orang tua-ku." Ucap Soojin terbata-bata.
"Hampir benar."
Lalu orang itu memutar pisaunya yang masih menancap diperut Soojin dan hal itu membuat luka yang lebih parah, darah pun sudah keluar dari mulut Soojin.
"Akkhh...." Soojin hanya bisa meringis, kedua lengannya mati rasa dan kakinya tidak bisa bergerak bebas karena ditahan oleh orang itu.
Darah yang keluar dari perut Soojin semakin banyak dan merembes kemana-mana. Pandangan Soojin pun mulai menggelap karena sudah kehilangan cukup banyak darah.
__ADS_1
'Tidak, aku tidak boleh pingsan, kenapa diriku menjadi selemah ini ketika menghadapi orang yang kucari-cari selama bertahun-tahun?'
Sayangnya taman itu sudah sangat sepi sehingga tidak ada yang bisa menolong Soojin sekarang.
Rasa sakit yang mulai menjadi membuat pandangan Soojin benar-benar menggelap, sebelum tidak sadarkan diri Soojin melihat kalau ada sebuah liontin yang menggantung di leher orang itu. Dan setelahnya semua menjadi hitam.
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
"Ugh..." Soojin mengerjapkan matanya perlahan dan mendapati dinding atap yang berwarna putih dan ada suara monitor disampingnya. Selain itu infus dan alat bantu nafas (entah apa namanya) terpasang ditubuhnya.
Lalu dia mencoba bangun tapi rasa sakit di perut nya membuatnya kesulitan.
"Jangan bangun dulu, jahitannya akan terbuka nanti." Ucap Hyejin berjalan mendekati ranjang tempat Soojin berbaring.
"A-apa yang terjadi?" Tanya Soojin.
"Kau hampir mati," Balas Hyejin santai membantu Soojin kembali berbaring. "Jika saja Mingji eonnie tidak menghubungi Seojun oppa maka sudah dipastikan kau datang ke sisi Sang Pencipta." Lanjut Hyejin.
"Mingji eonnie?" Tanya Soojin.
"Iya," Balas Hyejin.
Flashback on...
"Halo?" Seojun mengangkat panggilan di ponselnya yang berasal dari Mingji.
"Mingji? Kenapa?" Tanya Seojun.
"Jadi maksudmu Soojin mendapat pesan dari Sunhyung untuk mengajak bertemu ditaman?"
"Baiklah kalau begitu, aku akan coba mencarinya." Panggilan itu berakhir.
"Kenapa hyung?" Tanya Sunhyung.
"Soojin tiba-tiba dikirimi pesan ajakan bertemu dari nomormu di sebuah taman." Balas Seojun.
"Ha? Tapikan dari tadi aku tidak memegang ponsel." Kata Sunhyung.
"Ya karena itu aku akan mencari nya sekarang." Ucap Seojun berjalan keluar dari kantornya.
"Hyung/Oppa, kami ikut!" Ucap Hyejin dan Sunhyung serempak lalu berdiri dan menyusul Seojun.
Flashback of...
"Syukurlah kami berhasil menemukanmu sebelum orang itu menyeretmu pergi." Kata Seojun baru saja datang bersama Sunhyung.
"Lalu, apa dia berhasil ditangkap?" Tanya Soojin.
Hyejin menggeleng, "Aniya, dia berhasil melarikan diri. Tapi menurutku dia cukup hebat dalam akrobatik." Balas Hyejin.
"Akrobatik?" Bingung Soojin.
__ADS_1
"Ketika kami ingin mengejarnya, dia lari ke sebuah gedung. Ketika dia sudah terpojok diatap, dia melompat turun dengan tali dan menyebrang ke gedung sebelah." Jelas Sunhyung.
"By the way, siapa dia itu sampai menjebakmu dan bahkan melukaimu sampai separah ini?" Tanya Hyejin.
"Aku juga tidak yakin, tapi dari suaranya seperti pembunuh yang kita incar." Lirih Soojin.
"Tunggu, apa?" Bingung Hyejin. "Apa kau pernah mendengar suara pembunuh itu?" Tanya Hyejin.
"Sedikit, tapi sudah sangat lama jadi belum tentu dugaan ku benar." Balas Soojin.
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
"Jangan tidur terlambat, pastikan istirahat secukupnya, makan yang teratur, kunci pintu jika sudah malam atau ketika ingin keluar, waspada dengan sekeliling, jangan menarik perhatian orang-orang yang mencurigakan---"
"Stop, stop, stop, nee eonnie, jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja, tidak akan ada masalah lagi." Ucap Soojin memotong perkataan Mingji yang kelewat banyak.
"Huh, baiklah, tapi ingat pesan ku ya?"
"Baik, baik, ayo cepat, pesawatnya akan segera lepas landas dan oppa pasti juga sudah menunggu eonnie dan Aeri-Ssi." Kata Soojin lalu mendorong tubuh Mingji serta Aeri menjauh.
Mereka bertiga sekarang ada di bandara, hari ini Mingji dan Aeri akan pulang ke rumah mereka di Gyeongju.
"Ingat pesan ku ya!!"
"Baik!" Ketika kedua sosok keluarganya itu menghilang dari pandangannya, Soojin langsung menghela nafas lelah.
Kakaknya itu selalu posesif padanya sejak kedua orang tua mereka meninggal 8 tahun yang lalu. Terlebih lagi kejadian dua hari yang lalu yang nyaris membuatnya bertemu dengan sang Pencipta.
I'm missing you waiting for you~
Nae mami geu---
📞📱: "Yeoboseo?"
Soojin langsung mengangkat panggilan di ponselnya.
📞📱: "Soojin, maaf mengganggu mu di waktu seperti ini."
📞📱: "Tak apa Seojun oppa. Ada apa sampai kau menelponku?"
📞📱: "Aku ingin meminta bantuan mu untuk menyelidiki kasus yang terjadi di dekat sungai Yeongsan. Awalnya aku ingin menyelidiki, tapi mendadak ada rapat antar kepala divisi." Balas Seojun.
📞📱: "Kenapa harus aku? Maksudku kenapa tidak petugas lainnya saja?"
📞📱: "Alasannya, mereka sibuk dengan kasus lainnya. Hyejin akan ikut dengan ku sedangakan Sunhyung terjebak macet jadi tidak tau akan sampai tepat waktu atau tidak."
📞📱: "Oh, baiklah kalau begitu. Aku mungkin akan sampai sekitar sepuluh menit dari sekarang." Kata Soojin masuk kemobilnya dan mulai menjalankan mobil menuju sungai Yeongsan.
📞📱: "Baiklah, terima kasih Soojin."
📞📱: "No problem."
__ADS_1
Panggilan itu berakhir, dan Soojin langsung fokus pada jalanan.