A Girls Revenge

A Girls Revenge
31.Tersisa beberapa jam lagi


__ADS_3




Keesokan harinya. Masih tidak ada kabar dimana Yejun berada, Soojin sudah membuat laporan nya kemarin malam setelah selesai dengan urusan korban kemarin.


Pelakunya belum bisa ditemukan, tidak ada sidik jari ataupun petunjuk lainnya, dan hal itu membuat Soojin menginap dikantor polisi semalam untuk mengurus kasus itu.


Kemarin dia sempat melihat Sunhyung yang keluar dari ruangan Seojun sambil menunduk lesu. Ketika ingin dihampiri dia sudah pergi lebih dulu, entah ada apa dengannya, sejak sebulan yang lalu sikapnya lebih tertutup seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


Sekarang Soojin masih berada dimarkas diruangan nya, bahkan sudah ada kantong mata di bawah mata nya.


"Hais, kapan selesainya?! Kenapa bukan anggota lain saja yang menemukan kasus? Kenapa malah aku terus yang bertemu dengan mereka?!" Kesal Soojin mengacak-acak rambut nya lalu membating kepalanya kemeja.


Hyejin yang kebetulan melewati ruangan Soojin sedikit terkejut saat mendengar suara bantingan yang cukup keras dari ruangan Soojin. Dia pun mengetuk pintu untuk memeriksa keadaan ruangan itu.


"Masuk saja."


Hyejin membuka pintu dan masuk keruangan itu.


"Gwaenchana?" Tanya Hyejin berjalan mendekati meja kerja Soojin.


"Nee, hanya tidak tidur karena kasus." Balas Soojin tanpa melihat Hyejin dan fokus pada laptop dihadapannya, karena dia ingin cepat-cepat menyelesaikan data itu.


"Kenapa sampai tidak tidur? Kasus apa yang kau hadapi? Selain itu apa kau menginap disini semalam?" Tanya Hyejin bertubi-tubi.


"Pertama karena kasus, kedua karena korban kasus ini ditemukan dengan keadaan dibunuh dengan luka tikaman sampai meninggal, ketiga, ya, aku menginap disini." Jawab Soojin.


Lalu tepat setelah berkata demikian tugasnya selesai, Soojin langsung menutup laptopnya.


"Selesai!" Dan Soojin kembali membanting kepalanya kemeja dengan keras, dia sudah tidak bisa menahan kantuk.


Padahal biasanya dia bisa tidak tidur beberapa hari karena kasus serupa, tapi kali ini dia tidak tahan tidak tidur selama sehari saja.


"Jangan membanting kepala mu seperti itu, tidurlah dikamar." Kata Hyejin membereskan beberapa lembar kertas yang berserakan dimeja.


"Arraseo," Balas Soojin dan bangkit dengan lemas lalu berjalan ke arah pintu lain yang berada diruangan itu, ketika dibuka itu adalah sebuah kamar lengkap dengan kasur, kamar mandi, lemari, serta meja rias.


Memang beberapa ruang kerja pribadi milik anggota polisi yang berpangkat Letnan, kepala, hingga pangkat teratas lainnya memiliki ruangan berupa kamar diruang kerja pribadi mereka.


Soojin melompat keatas tempat tidur dan langsung tertidur dalam hitungan detik.


Hyejin membereskan meja Soojin yang berantakan, tapi tanpa sengaja dia menyenggol sebuah berkas sehingga kertas-kertas di berkas itu berserakan dilantai.


"Kenapa dia selalu mencampur berkas-berkas yang berbeda?" Gumam Hyejin melihat lebaran-lembaran kertas itu lalu mengumpulkannya satu persatu.


Lalu dia terhenti saat melihat salah satu lembar kertas.

__ADS_1


"Eh? Bukankah ini data medis para korban?" Kata Hyejin.


Lalu dia membaca data milik korban pertama, kelima, dan ketujuh.


'Racun ditubuh mereka ini...' Batin Hyejin.


Tiba-tiba suara pintu diketuk menarik perhatian Hyejin, dia menoleh kearah pintu.


"Masuk."


Yun Yeong muncul dari balik pintu dan masuk keruangan itu.


"Yun yeong? Ada apa?" Tanya Hyejin seraya melanjutkan membereskan kertas yang berserakan dan meletakkannya diatas meja.


"Dimana Soojin?" Tanya Yun Yeong.


"Dia tidur dikamar," Balas Hyejin menunjuk pintu ruangan tempat Soojin tidur. "Wae?"


"Aku mengantarkan hasil autopsi korban pembunuhan kemarin malam. Tadi aku ingin memberikan nya pada anggota lain, tapi tidak ada siapapun diruangan detektif." Ucap Yun Yeong lalu mengulurkan sebuah berkas berwarna biru.


"Memang nya kemarin terjadi kasus apa?" Tanya Hyejin seraya menerima berkas itu dan melihat isinya.


"Kau tidak tau? Kemarin malam Soojin menemukan tubuh seorang pria berumur 30 sampai 40 an di sebuah gang tidak jauh dari rumahnya. Tubuh korban di tikam berkali-kali sampai bagian perut terkoyak dan pisau menancap didadanya." Jelas Yun Yeong.


"Itu termasuk pembunuhan yang sungguh sadis," Kata Hyejin tanpa melihat kearah lawan bicara dan masih sibuk membaca laporan hasil autopsi.


"Eh? Racun?" Gumam Hyejin lalu menatap kearah Yun Yeong.


"Apa dia korban kode batang yang baru?" Tanya Hyejin.


"Bukan, tidak ada tanda kode batang ataupun reaksi lain selain racun itu." Balas Yun Yeong.


"Tapi kenapa bisa ada reaksi racun yang sama? Apa orang lain punya racun itu dan menggunakan nya pada korban?" Pikir Hyejin.


"Mungkin saja," Kata Yun Yeong. "Oh ya, kudengar kalau teman laki-laki Soojin menghilang?"


"Teman laki-laki Soojin? Apa mungkin Yejun?" Kata Hyejin.


"Nee, namanya kalau tidak salah memang Yejun," Ucap Yun Yeong.


"Bagaimana dia bisa menghilang?"


"Katanya dia belum kembali sejak kemarin, selain itu ponselnya ditemukan di dekat TKP korban yang kuceritakan tadi, bahkan ada noda darah di ponselnya sehingga menjadikan benda itu sebagai salah satu barang yang bisa dijadikan bukti." Ucap Yun Yeong.


"Gomawo," Kata Hyejin.


"Nee, cogiyo." Balas Yun Yeong lalu dia berjalan keluar dari ruangan Soojin.


Hyejin menunduk menatap laporan medis ditangannya.

__ADS_1


'Sebenarnya apa yang diinginkan pelaku?' Pikirnya.


...⋇⋆✦⋆⋇ ...


Yejun duduk dikursi sambil menatap kearah Youngsik yang tengah membaca buku yang sudah dia tulis mengenai kisah hidupnya.


"Cukup bagus kisah hidupmu." Kata Youngsik menutup buku itu dan menatap balik Yejun.


"Kau hanya tertarik pada kisah hidup seseorang, bukan nyawa mereka." Ucap Yejun.


Youngsik tersenyum tipis dan tertawa pelan, "Kau tau, kau adalah korban ku yang satu-satunya tidak takut kubunuh sekarang juga." Ucap Youngsik.


"Untuk apa aku takut pada seorang pembohong sepertimu?" Balas Yejun tanpa takut sedikitpun.


"Kita lihat bagaimana kau masih berani atau tidak setelah mendekati waktu kematian mu, batas waktumu hanya 27 jam lagi," Ucap Youngsik berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Tugasmu sudah selesai, kau hanya perlu menunggu sampai batas waktumu." Lanjut Youngsik sebelum dinding pembatas itu tertutup.


'Jika memang aku nanti benar-benar dibunuh olehnya, kuharap dia tertangkap sebelum ada korban setelahku.' Batin Yejun.


Disisi Youngsik.


Dia duduk di meja kerja yang berada diluar ruangan rahasia tempat Yejun berada.


Dia mengambil kode batang yang dia simpan di dalam laci meja, lalu menempelkannya di pinggir buku yang sudah ditulis Yejun.


Youngsik menatap buku itu, ada tulisan nama Yejun dengan tinta berwarna emas di bagian sampul depan.


"Kira-kira siapa yang akan kujadikan korban setelah anak itu, ya?" Gumam Youngsik sambil menyeringai.


Ponselnya yang berada di sampingnya berdering, dan ketika dia melihatnya ternyata itu adalah panggilan dari Seojun.


📞📱: "Yeoboseo?"


📞📱: "Dr. Cheon, apa anda sedang sibuk sekarang?"


📞📱: "Aniyo, aku sedang kosong. Wae?"


📞📱: "Bisakah anda melakukan operasi pasien menggantikan ku?"


📞📱: "memangnya kau ada urusan apa?"


📞📱: "Ada sedikit masalah dikepolisian, nanti akan kukirimkan data pasiennya. Kau bisa bertanya pada perawat di rumah sakit untuk informasi selanjutnya, gomawo."


📞📱: "Nee,"


Panggilan berakhir dengan cepat.


Youngsik berdiri dan meletakkan buku tadi dirak buku, buku-buku yang ada dirak sama juga merupakan buku yang sudah ditulis korban kode batang sebelumnya.

__ADS_1


Lalu dia keluar dari ruang kerjanya itu yang berada dirumahnya dan menuju rumah sakit.


'Mungkin aku bisa memanfaatkan hal ini.' Pikirnya.


__ADS_2