
Setelah mendengar penjelasan dari Laila kala itu. Alafin dan Mansa memutuskan untuk menuju ke Kota Bulan Bintang. Atau sekarang dikenal sebagai Reruntuhan Bulan Bintang, rumah bagi pada Ahli Nujum yang terkenal di Desert World.
Mereka bertiga kini tengah melakukan perjalanannya menuju ke reruntuhan kota itu, tempat dimana Laila tinggal sebelumnya.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang, Esme?” Mansa bertanya sambil terus melesat cepat menyesuaikan diri dengan kecepatan Alafin yang ada di depannya.
“Karena aku tidak ingin dikasihani, bahkan aku ingin menyimpannya sampai kapanpun, tapi entah kenapa Alafin malah mengetahui mengenai hal ini,” jawab Laila.
“Dia memang orang yang serba tahu, tapi jika dia tidak mengatakan hal itu, kamu tidak akan pernah membagi kesedihanmu dengan kami, padahal kamu adalah orang yang memiliki kisah paling menyedihkan,” ucap Mansa.
“Ya, tapi ada alasan lainnya kenapa aku tidak ingin kembali ke kota itu, kalian akan tahu kenapa aku mengatakannya, setelah bertemu penduduk asli dari kota itu, lihat saja nanti,” ucap Laila tidak ingin ditanya-tanya lagi.
Mansa mengangguk paham, dia kemudian lanjut fokus mengikuti gerakan Alafin yang semakin cepat di depannya itu. Ketiga orang itu tidak banyak mengobrol lagi dan melakukan perjalanan panjang itu.
__ADS_1
***
Setelah perjalanan setengah hari penuh dengan kecepatan tinggi, mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah kota yang hanya tersisa puing-puing saja, namun di sekitarnya terdapat banyak tenda dan memiliki banyak kehidupan.
“Akhirnya kita sampai di Kota Para Ahli Nujum, sepertinya kita berada di kota yang tepat karena setelah melihat semua ini, Laila menjadi terdiam begitu saja, kalau begitu mari kita masuk,” ajak Alafin.
Mereka bertiga melewati sebuah gerbang dari pohon kurma yang menjadi penyangganya, sampai di dalam, mereka semua melihat banyak orang yang menggunakan baju mirip dengan Laila.
Orang itu langsung pergi begitu saja dengan wajah bercampur antara takut dan marah menjadi satu, dia berlalu begitu saja setelah melihat wajah Laila dengan jelas.
Hal itu terus terjadi selama mereka bertemu dengan orang-orang disana, tidak ada yang mendekati mereka dan memilih untuk menghindar, entah alasan apa yang mereka miliki sampai tidak ada yang menyambut ketiga orang itu sama sekali.
“Kita tidak diterima disini, lebih baik kita pergi, sebelum orang-orang itu berkumpul dan mengusir kita secara paksa, lebih baik kita pergi sebelum terlambat,” ajak Laila tidak nyaman dengan perlakuan semua orang kota itu.
__ADS_1
“Apa yang kamu maksud adalah mereka semua, lihatlah mereka bahkan berkumpul dan membawa tongkat sihir masing-masing ke arah kita, sepertinya mereka mengajak baku hantam,” ucap Alafin.
Benar saja, terlihat dari balik pepohonan kurma dan kaktus itu kemudian muncul banyak orang yang berjumlah sekitar 200 an orang sedang menuju ke arah Alafin dengan tatapan tidak mengenakkan.
“LEBIH KALIAN SEMUA CEPAT PERGI! BAWALAH PEREMPUAN ITU SEBELUM HAL BURUK TERJADI LAGI DI KOTA INI!” Semua orang yang berkumpul seperti hendak demo itu berteriak keras pada Alafin dan dua temannya.
“Memangnya kenapa kami harus pergi, bukankah semua orang di padang pasir luas ini adalah saudara, seharusnya kalian menyambut kami dengan baik, bukan malah mengarahkan tongkat sihir itu pada kami semua?” tanya Alafin.
Dia sudah mengeluarkan Pedang Kematian Kuno miliknya yang mengeluarkan hawa membunuh yang begitu pekat, dia mengarahkannya pada semua orang yang ada di depannya itu.
“JELASKAN PADA KAMI MENGENAI KEDATANGAN KALIAN!”
“Kami hanya ingin…”
__ADS_1