
“Aku turut berduka cita atas hal itu Alafin, aku tidak bisa datang disaat ayahmu meninggal, maafkan aku…” Safiya terlihat begitu sedih mendengar berita kematian dari ayah Alafin.
“Tidak masalah, hal itu juga yang membuatku tanpa sengaja menjadi budak di sebuah kota Kerajaan Mahkota Elang. Tapi aku tidak boleh cengeng dan meratapi keadaan ini bukan?” tanya Alafin.
Wajah Alafin tampak sendu ketika mengingat masa kecilnya yang indah bersama sang ayah dan waktu dimana pertama kali dia bertemu serta jatuh cinta pada Safiya.
“Maafkan berdua juga Alafin, kami tidak tahu mengenai semua ini. Sangat wajar kalau kamu sampai bersikap seperti tadi, ternyata permasalahannya sepelik itu, sekali lagi aku minta maaf,” ucap Laila dan Mansa berbarengan.
“Tidak masalah, aku juga akan membeberkan mengenai sesuatu pada kalian semua. Apakah kalian akan percaya kalau aku mengatakan bahwa semua kejadian yang menimpa Desert World ini sudah diprediksi oleh Ayahku?” tanya Alafin tiba-tiba.
“Melihat dari ceritamu tadi, tidak ada alasan kami tidak mempercayainya, apalagi Bola Kristal Dewi yang ada di tangan Safiya itu sudah menunjukkan semuanya tadi, mengenai Sejarah Kuno dari dunia ini,” ucap Mansa.
“Benar, di dunia ini bukan hanya ada Kristal Dewa melainkan ada yang namanya juga Kristal Dewi, yang memiliki kekuatan yang saling berlawanan,” jelas Alafin.
__ADS_1
“Contohnya, jika Kristal Dewa memiliki kekuatan Api, maka Kristal Dewi akan memiliki kekuatan Air, jika Kristal Dewa memiliki kekuatan kegelapan maka Kristal Dewi akan memiliki kekuatan cahaya, begitu juga seterusnya,” sambung Alafin.
“Mana sihir yang ada di dunia ini tercipta oleh bentrokan energi dari Dua Kristal Dewa Dewi yang saling menguasai ini. Hal itu juga yang menjaga keseimbangan serta pengatur jalannya dunia ini,” lanjut Alafin.
“Yang menjadi permasalahan di dunia ini adalah jika ada makhluk hidup mampu menggunakan Kristal Dewa. Maka, dia akan menjadi salah satu wakil Dewa di dunia ini bahkan memiliki sebagian kecil dari kekuatan dewa itu sendiri, tapi…”
Alafin tidak kuasa melanjutkan ceritanya, bagaimanapun pertama kali dia melihat ada orang yang berusaha menguasai Kristal Dewa itu secara langsung adalah Ayahnya sendiri, namun dampak yang diciptakannya membuat ayahnya harus mati.
Safiya yang melihat hal itu langsung menambahi penjelasan itu.
“Satu-satunya orang yang tercatat dalam sejarah bisa mengendalikan kemampuan dari Kristal Dewa adalah Kaisar Tirani Pharaoh, dimana dia adalah musuh semua umat manusia yang ada di dunia ini,” sambung Safiya.
“Sebagai lawannya adalah Si Pengguna Kristal Bulan, salah satunya adalah ibuku serta istri dari Kaisar Tirani Pharaoh itu, yaitu leluhurmu Laila, yang bernama Aamori,” sambung Safiya yang terlihat sedikit jengkel melihat Laila, entah apa alasannya.
__ADS_1
Alafin yang melihat itu langsung memberikan kode pada Safiya untuk tidak bersikap demikian, bagaimanapun Leluhur Aamori masihlah sangat jauh berbeda dengan temannya itu Laila.
“Kenapa kamu seperti tidak suka denganku, apakah kamu masih dendam denganku tadi karena tidak langsung menyerahkan Kristal Dewa itu pada Klan Samiri itu?” tanya Laila menyadari sesuatu.
“Bukan itu … biarkan aku menjelaskannya padamu, ini adalah lanjutan cerita yang tidak disampaikan oleh ibumu dan semua para Ahli Nujum yang memegang takdir ini, karena mereka semua tidak ingin leluhur kalian itu dicap sebagai pengkhianat!”
“Safiya! Kamu tidak harus berkata seperti itu pada Laila, ceritakan saja mengenai hal itu tanpa harus menyamakan Laila dengan leluhurnya itu, kemungkinan besar sifatnya tidak akan sama dengan Leluhurnya itu!” tegas Alafin.
“Maafkan aku Alafin, aku tadi terlalu terbawa suasana. Intinya adalah pasti ibumu menceritakan bahwa untuk menanggulangi Kaisar Tirani Pharaoh, Leluhur Aamori merelakan dirinya untuk diperistri oleh sang kaisar demi bisa menyegelnya bukan?”
Safiya mendekati Laila dengan tatapan serius, seperti sedang menyidang seseorang yang telah melakukan kejahatan serius.
“Benar, lalu?” tanya Laila.
__ADS_1
“Itu semua adalah kebohongan!” tegas Safiya.
“Apa maksudmu mengatakan ibuku dan leluhur bohong?!” Laila terpancing emosi.