
Alafin dan ketiga orang di sampingnya melihat bangunan sekte yang sudah hancur lebur, dimana api yang menjalar kemana-mana menambah kesan kehancuran yang nyata di sekte itu.
*BOOOOM!
“Disana ada suara pertarungan, mari kita kesana, siapa tahu masih ada yang selamat dari sekte ini! Kita akan menyelamatkan mereka semua!” Alafin sudah mulai bergerak cepat, ke sumber suara, begitu juga dengan tiga orang lainnya.
Sesampainya disana, dugaan Alafin benar, dimana ada beberapa Jenderal Pasukan Kerajaan Mahkota Elang yang mengepung sebuah bangunan seperti menara, yang sampai sekarang masih berdiri kokoh di tengah hancurnya sekte itu.
“Keluarlah kalian semua! Cepat serahkan Batu Kristal Dewi Matahari itu pada kami! Dalam hitungan 3, kalau kalian masih tidak mau menyerahkannya, kami akan menghancurkan menara ini dan membunuh semua sandera!” teriak salah satu Jenderal.
Tentu saja ancaman itu membuat semua orang yang masih bertahan di dalam menara itu panik. Akhirnya terjadi sedikit keributan mengenai apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi Para Jenderal Kerajaan itu.
***
__ADS_1
Di dalam Menara Kultivasi.
“Ketua Sekte! Sepertinya kita tidak memiliki pilihan lain, meskipun harta ini adalah salah satu hal yang terus diwariskan selamat ratusan tahun ini, tapi apa gunanya jika kita semua mati, bagaimana kalau memberikannya pada mereka?” tanya Tetua.
Salah satu tetua itu adalah orang yang maju di garis pertama ketika para pasukan kerajaan itu menyerang mereka. Sayangnya kekuatan miliknya tidak cukup kuat sampai bisa menanggulangi semua pasukan yang menyerang.
Ditambah lagi dengan pasukan yang sangat banyak dan memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Tetua itu akhirnya terluka parah, tapi untungnya masih bisa selamat karena pertolongan beberapa murid yang membawanya ke menara ini.
“Lihatlah para murid yang menolongku ini, mereka adalah harta sesungguhnya dari sekte ini, merekalah yang akan mengambil harta ini di masa depan. Jadi, lebih baik kita menyerah dan memberikan harta itu!” usul salah satu Tetua itu sedikit ngotot.
Tapi, kalau malah murid-murid mereka yang mati, maka semua hal akan menjadi runyam dan sekte akan runtuh. Apalagi Batu Kristal Dewi Bulan itu diamanahkan untuk diberikan pada Keturunan Kaisar Arabaz di masa ini.
“Tapi Batu Kristal Dewi Bulan ini bukanlah milik kita, kalau kita sampai memberikannya pada musuh, maka akan ada banyak kemalangan yang menimpa kita,” jawab Ketua Sekte tegas.
__ADS_1
“Kami tahu, namun apakah Anda tega melihat semua murid yang telah berjuang bersama kita selama ini mati sia-sia? Tentunya, Anda tidak ingin hal itu terjadi, kan?” tanya Tetua tadi.
Ketua Sekte itu tidak ragu lagi, baru kali ini dia akan menentang amanah yang diberikan padanya, bagaimanapun hal itu demi menjaga kelangsungan sekte dan semua nyawa yang ada dalam tanggung jawabnya itu.
“Baiklah! Mari kita serahkan Batu Kristal Dewi Matahari ini pada musuh! Kita akan menyelamatkan semua sandera! Semua tetua ikut aku keluar dari menara ini! Andaikan para bajingan kerajaan berkhianat, setidaknya kita saja yang mati!” tegas Ketua Sekte.
Semua tetua yang ada disana mengangguk paham, jiwa ksatria mereka muncul sampai ke titik tertingginya. Bagi mereka, para murid sudah seperti anak sendiri yang harus selalu dijaga.
“Kalau begitu mari kita keluar!” Ketua Sekte dan Para Tetua mengangguk mantap. Mereka semua membuka pintu menara dan menguatkan mental mereka untuk menghadapi Para Jenderal.
“KAMI SUDAH DATANG MEMBAWA BARANGNYA! SEKARANG BERIKAN KAMI SANDERA YANG SUDAH KALIAN TAHAN KEMARI!” teriak Ketua Sekte, namun tak kunjung mendapatkan tanggap.
Dan alangkah terkejutnya mereka ketika tahu apa yang sedang terjadi di depan sana, dimana Para Jenderal itu tengah berhadapan dengan 4 Orang Anak Muda yang memiliki kekuatan sangat luar biasa kuatnya.
__ADS_1
“Siapa mereka semua? Kenapa malah membantu kita?” tanya Ketua Sekte.