
Di Medan Pertempuran.
Kekaisaran Gurun Abadi membawa sekitar 1 juta pasukan terkuat mereka. Bisa dikatakan secara kualitas kekuatan pasukan ini berada di bawah Pasukan Aliansi.
Namun yang tidak bisa diremehkan oleh Pasukan Aliansi adalah jumlah Pasukan Gurun Abadi. Karena pada dasarnya, sebuah perang bukan masalah kualitas dan kuantitas saja, tapi strategi juga berpengaruh.
“Apakah ini keputusan kalian semua, Wahai Kaisar Gurun?” tanya Alafin yang terlihat sedang terbang sejajar dengan Kaisar Gurun dan para petingginya di langit.
“Kami tidak akan menarik diri lagi. Kami memiliki sebuah kebanggaan yang tidak akan tunduk pada Aliansi yang baru didirikan beberapa minggu ini,” jawab Kaisar Gurun Abadi.
“Lucu sekali pernyataan itu, tapi aku tidak akan mempermasalahkannya karena berbicara dengan perpanjangan tangan dari Klan Samiri sepertimu, hanya membuang waktu saja,” ucap Alafin mengejek.
“Tapi aku peringatkan sekali lagi padamu, Wahai Kaisar Gurun! Aku bukanlah orang yang akan memaafkan orang yang sudah menolakku sama sekali!” ucap Alafin.
__ADS_1
“Jadi sekali kamu menghunuskan pedang pada kami. Maka, dimana letak makam kalian semua sudah ditentukan. Jadi aku tanya sekali lagi, apakah ini keputusan terbaikmu?”
Alafin memberikan gertakkan dengan mengeluarkan Ranah Kekuatannya yang sangat tidak masuk akal untuk usianya. Dimana dia mengeluarkan tekanan dengan Ranah Grand Dao Puncak di usianya yang sangat muda itu.
[Penggunaan 10 triliun PP untuk meningkatkan kekuatan dari Master dari Ranah Holy Tyrant sampai ke Ranah Grand Dao Puncak satu hari yang lalu, menyisakan 7 triliun PP dalam menu status.]
Melihat hal ini, Kaisar Gurun Abadi terdiam. Dia hanya menerima informasi bahwa Alafin hanya berada di Ranah Holy Tyrant Puncak, yang mana kekuatan itu setara dengan Para Leluhur Kekaisaran.
‘Jangan ragu! Kami akan berusaha untuk membunuh Pemimpin Aliansi ini! Sangat memalukan bagi harga diri kita. Jika, setelah sampai disini, kita malah tidak jadi berperang!’ ucap Leluhur dengan telepati.
Dengan perkataan dari para leluhurnya itu, Kaisar Gurun Abadi tidak ragu lagi, dia berteriak dengan lantang mengenai perang yang akan terus berlangsung.
“Ini adalah keputusan kami bersama! Kami akan bertarung sampai titik darah penghabisan!” tegas Kaisar Gurun Abadi.
__ADS_1
“Kalau begitu, maka kami juga akan melakukan hal yang sama! Semuanya kembali ke barisan perang! Sepertinya musuh kita sudah tidak sabar untuk menjadi mayat!”
Alafin langsung memimpin seluruh petinggi di belakangnya untuk kembali ke barisan pasukan mereka. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kaisar Gurun Abadi dan semua petinggi di belakangnya.
“Semuanya dengarkan aku! Ikuti semua instruksi yang dikeluarkan oleh Para Jenderal dan Para Kapten Aliansi! Kita akan memenangkan peperangan ini dalam waktu singkat!” teriak Alafin pada pasukannya.
Dia memberikan beberapa kata-kata penyemangat dan penguat mental lainnya. Ini adalah salah satu cara untuk membuat pasukannya tidak gentar apalagi ketakutan melawan musuh mereka ini.
“Raging Sandstorm : Badai Pasir Raksasa! Aku ingin meluluhlantakkan semua musuhku dalam satu serangan! Majulah salah satu skill terkuatku!”
Alafin membuka peperangan itu dengan memberikan serangan badai pasir raksasa yang menyelimuti seluruh pasukan musuh seketika. Serangan ini juga menjadi tanda bahwa peperangan sudah dimulai.
“Bunuh semua musuh yang ada dalam badai itu! Majuuuuuuu!” teriak Mansa.
__ADS_1