
Mobil yang dikendarai Iyan meluncur cepat ke arah gedung yang di jadikan tempat penyiksaan Lisa. Dengan nafas yang memburu dan rahang mengeras, ia memukul mukul kemudinya setiap saat. Amarahnya memuncak, Mobil melaju seakan tak ada rem nya...
"Lisa kakak mohon bertahan lah....
Sesampainya di gedung itu, Iyan melihat Max sudah ada disana bersama anak buahnya terlihat menunduk sangat sedih...
"Shit, jangan menampilkan wajah seperti itu atau ku pecahkan kepala kalian..." Teriak Iyan pada anak buahnya dengan bulir air mata yang sudah membasahi pipi dan rahang tegasnya..
Semua yang ada disana hanya diam mematung, tak terkecuali Max. Dia tidak berani mengeluarkan suara maupun kesedihan nya.. Dan Iyan melangkahkan kakinya kearah Lisa yang sudah tidak bernyawa dengan luka disekujur tubuhnya, dan dengan keadan baju yang terlihat sobek disana sini . Tangannya masih terikat keatas menopang tubuh kurusnya... Lissa malangnya nasipmu..
Iyan duduk lemas dan nangis meraung baginya Lisa adalah adik kandung nya. Karna Lisa dan Iyan sama-sama anak tunggal.. Iyan menangis sesenggukan, memikirkan nasip adik kesayangannya itu..
Kembali terbayang ingatan masa lalunya tentang Lisa yang menyemangatinya untuk tetap terus mengejar cinta Gina. Dia yang selalu menjaga Gina. Dia juga yang selalu menjadi alasan Iyan marah dan tertawa.. Kini wajah Cantik dan manis itu tak akan pernah terlihat lagi, suaranya tak terdengar lagi dan langkahnya tak terlihat lagi... Tapi bagaimana Iyan mampu melangkah dengan kenangan kenangan indahnya bersama Lisa dimasa kecil???
Ah Lisaaaaaaa.....
Please come back..
please stay with me
please don't go...
"Tuan, apa yang harus kami lakukan?" tanya Max berhati-hati .
"Hubungi Tio, bilang tidak usah menyusul kemari, kita akan membawa Lisa ke rumah. Suruh Tio dan Salsa menjaga Gina agar emosinya tidak membuatnya salah langkah." ucap Iyan disela Isak tangisnya.
"Emm tuan, sepertinya terlambat.. Nona sudah meledakkan persembunyian Arsya bersama dengan Arsya didalamnya. Tio baru saja mengabari saya.." Ucap Max lirih dan penuh dengan kehati hatian..
"Ouh triple shit..... Cepat urus Lisa secepatnya, Gadis kecilku itu sudah pasti sangat terpukul ." Bahkan dititik terendah dan tersedih sekali pun, Iyan tetap saja mengkhawatirkan sang kekasih...
__ADS_1
Disisi lain Gina sudah tidak sadarkan diri karna terus terusan menangis. tubuhnya lemah tak bertenaga, masih dalam keadaan kacau dan percikan darah disekujur tubuhnya mampu membuat orang mengira bahwa dia terluka.
Salsa yang memeluk Gina pun ikut menangis dari tadi.. Ia paham betul seperti apa arti Lisa bagi Nonanya ini . Dan dia pun ikut emosi dengan apa yang dilakukan Arsya. .
"Hiks, apa yang harus kita lakukan Tio? Kemana kita pergi?" ucapnya disela Isak tangisnya.
"Calm down salsa, Max tadi mengirim pesan bahwa jasad Lisa akan dibawa ke Mansion PRATAMA. menurut ku kita lebih baik kesana. Tuan Iyan juga pasti sudah menuju kesana." Ucap Tio dengan tetap fokus mengemudi mobil itu...
Mobil Tio lebih dulu sampai di kediaman Pratama, dan salsa turun menggendong Gina dibantu Mbok Iyem menuju kamar yang biasa ditempati oleh Gina ...
Tak berselang lama, Mobil Iyan pun tiba.. Max dan yang lain menurunkan jasad Lisa kearah ruang tamu yang memang sudah disiapkan tempat pembaringan. Iyan pun mengikuti dari belakang, dan langsung menuju kamar Gina..
ceklek.
dibukanya pintu kamar Gina pelan dan perlahan.
"Oh my sweet heart" batin Iyan, ia kembali menitikkan Air matanya, melihat Gina yang telah tertidur karna menangis terlalu lama itu.. Sekalipun pakaiannya sudah diganti bersih dan tak ada noda darah, dapat dilihat punggung tangannya membengkak dan punggung kakinya membiru.. Dapat ia pastikan bahwa Gina sudah menghabisi nyawa Arsya.
Merasa ada yang menyentuh nya, Gina membuka kelopak matanya. dan Didapatinya Iyan sedang diam menatap wajahnya.
"Kak, Lisa kak,,, Hiks ,hiks" Gina kembali menangis'
" Iya Kakak tau, Sorry." Ucap Iyan juga menitikkan air matanya memeluk dan menepuk pundaknya.. Memberikan ketenangan dan menyalurkan kehangatan .
Hari berlalu, Gina maupun Iyan sudah dapat menerima kepergian Lisa dengan lapang dada. Mereka Melawati hari hari seperti biasanya.
__ADS_1
Marco tetap tinggal dirumah megahnya dengan segala luka dan penyesalan yang dideritanya. Iyan tak berbuat apapun untuk membuat pria tua itu jera, hanya sebuah kalimat pendek saja dapat membuatnya jera.
"***apa yang kau tanam, maka itu yang akan kau tuai***"
Marco ingat betul perihal Ayahnya yang membunuh Nenek dari Iyan Pratama. Dan kini karna ulah ayahnya, yang menanggung karma itu adalah purtanya Arsya Fedhrick Winston.. Seperti kata orang.
"***nyawa balas nyawa***"
Oh tuhan. cukup sudah cukup!!!
Dan hari berganti, bulan berlalu dan tahun pun berganti... beberapa bulan lagi akan dilaksanakan resepsi pernikahan Iyan Pratama dan Gina Syarif.
Keduanya telah mengikat janji suci seminggu yang lalu. Dan mereka memang sengaja menunda resepsi untuk kepentingan pribadi...
***Bersambung
__ADS_1
to be continued***