
Kegelapan sudah mengambil alih hari. Kaito sudah kembali ke waktu dimana seharus nya ia berada. Hari ini tepat setelah festival musim gugur selesai diadakan. Jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam.
SMA Asakura semakin sunyi seiring berjalan nya waktu. Hanya terlihat poster dan hiasan hiasan bekas festival di adakan. Sampah sampah berserakan di halaman sekolah.
Cahaya lampu dari dalam sekolah yang memancar keluar. Suara detakan jam dinding yang terdengar di koridor sekolah. Suara langkah kaki para guru yang hendak pulang ke rumah nya. Aula sekolah yang gelap dan kursi kursi kosong yang ada di depan panggung.
Greeekk!!
"Permisi!! ... pak ... Kaito ... Kaito gimana?"
Raku membuka pintu ruang guru dengan wajah panik nya. Nafas nya tak beraturan. Kacamata nya yang hampir jatuh, seragam sekolah yang berantakan.
"Dia ... dibawa ke rumah sakit ...", jawab pak Kakegawa yang kebetulan berada tepat di depan pintu.
"Sial!! ... ya sudah ... makasih pak ...", ujar Raku lalu kembali berlari meninggalkan ruang guru.
Raku terus berlari menyusuri koridor menuju ke pintu keluar gedung sekolah. Haru sudah menunggu nya di sana.
"Raku?! gimana?!", tanya Haru yang berdiri menunggu Raku.
"Udah ke rumah sakit ...", jawab Raku dengan nafas yang terengah engah.
Di saat yang sama, Mina sudah sampai di depan gerbang rumah sakit bersama Naya yang ada di samping nya.
"Naya ... apa Kaito akan selamat?", Mina menghentikan langkah nya di depan gerbang dan menggenggam tangan Naya.
__ADS_1
"Kaito-kun pasti selamat ... aku yakin itu ...", kata Naya berusaha menenangkan hati Mina.
"Ayo!", Naya menggandeng Mina dan melangkah bersama memasuki gedung rumah sakit itu.
"Kakak!!!", teriakan Hanabi yang terdengar di depan ruang gawat darurat.
"Maaf ... kalian harus menunggu di sini dulu ...", ucap seorang perawat dan menutup pintu ruang gawat darurat itu.
"Kak Ai ... gimana nih ... baru kali ini kakak pingsan gini loh ...", Hanabi panik dan tak tau harus berbuat apa kecuali meneteskan air mata nya.
"Tenang Hanabi ... kakak mu pasti gak kenapa napa", ucap Ai lalu memeluk Hanabi dengan erat.
"Ai-chan!!!", teriakan Naya yang sedang berlari menghampiri Ai bersama Mina di samping nya.
Ai melepaskan pelukan nya dari Hanabi dan kembali berdiri.
"Masih di dalem ...", jawab Ai perlahan.
"Ai ... kamu bawa surat nya kan?", tanya Naya.
"Hmm", Ai mengambil secarik kertas tua yang sudah di lipat dari dalam saku nya.
"Semoga ... Kaito selamat", harapan yang diucapkan oleh Mina.
Mereka berempat pun duduk di kursi tunggu yang ada di samping pintu masuk ruang gawat darurat rumah sakit. Kesunyian menyelimuti mereka berempat. Ai terus memeluk Hanabi dan menenangkan nya. Mina dan Naya menyatukan doa mereka untuk Kaito.
__ADS_1
Detakan jam dinding membuat suasana semakin mencekam. Koridor rumah sakit yang gelap, tak seorang pun yang berani lalu lalang selarut ini.
Tak lama kemudian Raku dan Haru datang menghampiri mereka berempat.
"Apa Kaito masih di dalem?", tanya Raku perlahan.
Ai hanya mengangguk dan terus memeluk Hanabi yang menangis itu. Mina terus menundukkan kepala nya dan memejamkan mata nya.
"Kenapa? ... kenapa?", gumam Hanabi terus meneteskan air mata nya.
Kesunyian pun kembali mengambil alih. Haru duduk di samping Naya dan Raku berdiri menyandarkan punggung nya di dinding samping pintu ruang gawat darurat.
Setengah jam berlalu, tak satupun tahu kabar tentang Kaito. Dokter atau pun perawat tak kunjung keluar dari ruangan itu. Semua semakin cemas dan dibuat bingung oleh takdir.
Greek ...
Pintu ruangan itu terbuka dan dokter serta perawat keluar dari sana. Sang dokter nampak sangat lelah karena langsung berjalan meninggalkan perawat yang mendampingi nya tadi di depan pintu ruang gawat darurat.
"Boleh saya tau keluarga dari pasien?", tanya laki laki yang memakai kemeja putih dan celana panjang dengan warna yang sama itu.
"Aku!", Hanabi langsung berdiri dengan harapan bahwa kakak nya baik baik saja.
"Oh .. kakak mu baik baik aja ... dia cuma butuh istirahat karena kekurangan darah", ucap perawat itu.
"Syukurlah ...",
__ADS_1
Semua menghela nafas di saat yang sama. Ternyata Kaito berhasil memanfaatkan peluang sepuluh persen nya untuk bisa selamat itu. Tapi masih ada satu resiko yang belum pasti ia lewati. Dia bisa saja hilang ingatan saat terbangun dari tidur nya.