
Kaito
Setelah jam pelajaran di sekolah selesai. Naya menyarankan ruang klub sastra sebagai tempat belajar bersama kami hari ini. Dia pasti tak ingin rumah nya berantakan karena kami. Strategi nya boleh juga.
Kami berenam akhir nya duduk di kursi mengelilingi meja besar yang ada di tengah tengah ruangan ini. Rak buku besar yang sedikit berdebu itu membuat ku merasa mengingat sesuatu.
Ai duduk di samping kanan ku dan lagi lagi ia hanya diam dan membaca novel. Naya duduk di samping kiri ku dan selalu menyenggol tangan ku seakan memberi tanda bahwa aku harus mengajak Ai bicara.
"Oi ... apa gak apa apa kita pake ruang klub ini?", tanya Mina sembari mengeluarkan buku dan alat tulis nya dari tas milik nya.
"Hmm ... Kaito kan ketua klub ini ... dia juga udah minta ijin ke pak Kakegawa", jawab Raku dengan wajah malas.
"Mina ... apa kamu siap?", Haru mengeluarkan selembar kertas yang berisi soal soal pelajaran sains dan matematika.
"Huaa ... kalo gak demi kalian aku udah muntah nih", keluh Mina meletakan kepala nya di atas meja.
"Semangat bocah!! ...", Raku menarik rambut Mina dan memaksa nya untuk duduk tegak kembali.
"Kaito!!", bisik Naya sembari menyenggol lengan kiri ku kembali.
"Hmm", aku hanya mengangguk laku menoleh ke arah Ai yang dari tadi sama sekali tak mengucapkan kata kata.
"Ano ... Ai?", aku menepuk pundak nya dan membuat mata nya yang indah itu kembali menatap ku.
Saat melihat bola mata biru nya itu, aku jadi gugup dan aku melupakan hal yang akan aku katakan pada nya.
"Oh iya ... aku lupa ... buku matematika ku masih ada di laci meja", kata Haru seraya berdiri dari tempat duduk nya dan hendak ke luar untuk mengambil buku nya yang tertinggal itu.
"Ano ... aku aja yang ngambil ... soal nya botol minum ku juga ketinggalan", kata Ai lalu melangkah keluar dari ruang klub sastra.
"Oh ... makasih", ucap Haru seraya kembali duduk.
"Kaito ... temenin sana", kata Raku.
"He? ...",
__ADS_1
"Dasar tolol!!, apa kau mau Ai dipukuli sama kelompok nya Saki?", ujar Mina dengan wajah kesal nya.
"Kaito-kun ...", Naya hanya mengangguk.
"Hmm ... oke lah ...", aku pun berdiri dan berjalan kemana Ai akan pergi.
Setelah aku menuruni tangga, aku melihat Ai sedang berbicara dengan laki laki kelas lain yang tak ku kenal di koridor sekolah. Dan yang jadi pusat perhatian ku bukanlah Ai dan laki laki itu. Melainkan Saki yang sedang berbincang bincang dengan kelompok gadis dari kelas nya.
Saki melihat ke arah Ai yang sedang bersama laki laki itu dengan tatapan yang penuh kebencian. Saat ini juga aku sadar bahwa Saki cemburu melihat laki laki itu bersama dengan Ai. Memang ku akui, laki laki yang sedang bicara pada Ai itu memang tampan dan tinggi. Dan mungkin Ai lebih menyukai nya dari pada aku.
Tolol!!! kenapa aku malah kebawa suasana gini seh??!!
"Ai!!! dasar cewek murahan!!", teriakan Saki yang menyadarkan ku dari lamunan.
Tiba tiba Saki berada di depan Ai dengan wajah marah nya itu. Dan satu satu nya pertanyaan ku adalah.
Kemana cowo tadi?
"Maaf", ucap Ai menundukan kepala nya.
"Aku bilang sekali lagi ... jangan berani berani deketin Kakumi lagi!!!", bentak Saki.
Cih ...
Aku langsung melangkah mendekat ke arah mereka. Dengan wajah datar ku aku langsung menggandeng Ai dan membawa nya pergi dari masalah nya itu.
"Dasar cowok tolol!! ... urusan ku belum selesai!", teriak Saki ketika aku menggandeng Ai dan membawa nya pergi dari hadapan Saki.
Aku dan Ai menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di koridor sekolah. Menyadari hal yang tak mengenakan ini aku segera menggandeng Ai masuk menuju kelas kami yang sudah kosong dan menutup pintu nya dengan rapat.
"Kamu gak kenapa napa kan?", tanya ku melepas genggaman tangan ku dari nya.
Ai hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan berjalan dalam diam menuju ke arah bangku kami yang ada di baris paling belakang samping jendela.
"Kaito ... kenapa kamu nolong aku?", tanya nya sembari mengambil botol minum nya dari dalam laci meja kami.
__ADS_1
"He? ... aku gak tau", jawab ku.
Aku memang tak memiliki alasan untuk menyelamatkan nya tadi. Tapi tubuh ku serasa bergerak dengan kemauan nya sendiri. Mungkin kenangan masa lalu ku yang hilang itu lah yang membuat ku seperti ini.
"Kamu selalu aja ngorbanin semua nya buat aku ...", kata nya sembari mengambil buku dari dalam laci meja Haru.
"Jangan bilang gitu ...", aku berusaha menghentikan nya untuk mengatakan hal itu lagi di hadapan ku.
"Aku cuma takut ...", Ai melangkah ke arah ku perlahan.
"Kenapa takut?", tanya ku bingung.
"Aku takut kehilangan mu suatu saat nanti hanya karena menyelamatkan aku yang gak guna ini", ucap Ai menghentikan langkah nya tepat di depan ku.
"Makasih ...",
Ucapan nya itu rasa nya membuka kunci kenangan di dalam hati ku. Aku mengingat kejadian saat pertama kali bertemu dengan nya. Aku membantu nya membawakan tumpukan buku yang baru ia beli dari toko buku yang tak sengaja ku lewati saat berjalan pulang.
Saat itu aku menunggu ucapan terima kasih nya yang belum aku dapatkan setelah mengantar nya sampai rumah. Saat ini aku mengingat satu lagi kenangan indah ku bersama nya sebelum aku mengubah takdir nya.
"Ai? ... kenapa?", tanya ku saat melihat Ai menatap ku dengan mata nya yang berkaca kaca.
"Terima kasih sudah membantu ku membawakan buku waktu itu ...", kata kata nya yang membuat jantung ku serasa di tusuk pisau lagi.
"Aghh!!!"
Rasa sakit ini lagi, entah kenapa rasa sakit nya sedikit bertambah seiring kenangan yang aku dapatkan kembali.
"Kaito?! ... kamu gak apa apa?", tanya Ai saat melihat ku meringis kesakitan.
"Hmm ... gak kenapa napa ...", aku tersenyum dan menyembunyikan rasa sakit ku ini lagi.
"Kaito ... jangan bilang itu efek samping kekuatan mu", kata Ai dengan wajah khawatir nya.
"Bu-bukan ... aku cuma mules kok ...", sangkal ku lalu membalik badan ku dan membuka pintu kelas kami.
__ADS_1
"Ya udah ... yang lain pasti udah nungguin kita ...",