Ai No Koe

Ai No Koe
Chapter 122


__ADS_3

Kaito


Langit oranye yang tertutup awan tebal. Dingin nya sore di musim dingin. Angin yang bertiup sesuka hati nya. Batu nisan yang berbaris rapi memenuhi tanah lapang dengan pohon pohon yang sudah melepas semua daun nya.


Kami berdua berdiri didepan sebuah makan dengan batu nisan yang tertulis nama Mirai Ame. Jadi itu nama adik perempuan nya. Ai sedikit bercerita tentang nya. Adik nya meninggal karena penyakit kelainan jantung yang ia derita.


"Nee ... Kaito ... makasih", ucap Ai lalu meletakan penjepit rambut dengan hiasan bunga matahari itu tepat di depan batu nisan makam adik nya.


"Buat apa?", tanya ku mengernyit.


"Cerita nya panjang ...", jawab nya sembari menyatukan ke dua telapak tangan nya dan memejamkan mata nya.


"Ohh ...", aku pun melakukan hal yang sama dengan nya.


Aku menyatukan kedua telapak tangan ku di depan dada dan memejamkan mata ku.


Semoga Ame tenang di sana ...


"Sudah aku putuskan ...", kata kata Ai yang membuat ku langsung menoleh ke arah nya.


"Apa?"


"Aku akan mengembalikan ingatan mu ... sebagai tanda terima kasih ku", Mata biru nya itu terlihat berkilauan saat menatap ku.


"Oohh ... makasih ...", ucap ku gugup karena terlalu lama memandang wajah cantik nya itu.


"Oh iya ... apa besok kamu bisa belajar kelompok?", tanya Ai.


"Eh?!", aku terkejut dengan pertanyaan nya yang tiba tiba itu.


"Minggu depan kan mulai ujian akhir loh ... aku masih belum paham materi bahasa jepang sama inggris nya", jelas nya.

__ADS_1


"Oh ... eh?! ... emang nya aku bisa bahasa inggris?", tanya ju penasaran karena aku sama sekali tak bisa mengingat masa lalu ku.


"Ujian tengah kemarin kamu peringkat satu kelas dua loh ...", Ai memberi tahu ku kejutan yang sama sekali tak terpikirkan di kepala ku.


"Woh ... ya udah ... pulang aja yuk ... dingin", kata ku sembari melangkah mendahului nya.


"Gimana besok bisa kan?", Ai mengejar langkah ku dan berjalan berdampingan keluar dari pintu gerbang makam.


"Iya iya ..., eh ... berarti SMP udah ujian akhir kah?", tanya ku mengingat adik ku yang masih kelas dua SMP itu.


"Kayak nya sih ...", jawab Ai.


"Ano ... Ai, apa adik mu suka bunga matahari?", tanya ku di tengah langkah kami.


"Umm ... apa kau tak ingat senyuman nya waktu kamu kasih bunga matahari di rumah sakit tiga tahun lalu?", Ai mengangguk dan terus memperhatikan langkah kaki nya itu.


"Hmm ...", aku tak tahu harus menjawab apa karena Ai pasti tahu jawaban ku.


Kami berdua terus berjalan menyusuri jalanan yang sepi dan sunyi. Hanya ada rasa dingin yang menemani kami. Kami berdua seakan membisu karena tak satupun dari kami yang punya hal untuk di katakan. Beberapa saat kemudian, pertanyaan terlintas di benak ku.


"Ya sudah ... rumah ku ada di sana ... aku pulang dulu ya?", kata Ai saat hendak melewati persimpangan jalan.


"Oh ... ya sudah ...", aku hanya bisa tersenyum dan melanjutkan langkah ku menuju ke rumah ku sendirian.


Aku mempercepat langkah ku karena dingin mulai menusuk kulit ku. Rasa lega akhirnya datang saat aku sampai di depan gerbang rumah. Aku pun cepat cepat masuk ke rumah untuk segera melepas penat ku.


Greekk ...


Aku membuka pintu depan dan masuk perlahan. Rumah terlihat sangat sepi dan tak ada tanda tanda dari adik ku yang ganas itu. Setelah menutup kembali pintu depan, aku melangkah ke kamar Hanabi terlebih dulu untuk melihat keadaan nya.


"Aahh ... gimana nih?!", gumam Hanabi yang sedang duduk di depan meja belajar nya.

__ADS_1


Aku bisa mengintip nya dari celah pintu nya yang tak tertutup rapat ini. Sepertinya dia sedang kesulitan mengerjakan sesuatu.


"Hanabi? ... kenapa?", tanya ku lalu masuk ke kamar nya.


"He?! kakak?! ... gak ada apa apa kok", ucap nya langsung menutup buku tulis nya dan meletakan pulpen nya di meja seakan menyembunyikan sesuatu dari ku.


"Ohh ... gak ada apa apa toh", ucap ku lalu meletakan ransel ku di lantai dan duduk di atas ranjang nya sembari menatap nya.


"Ngapain disitu?", tanya Hanabi.


"Ngawasin kamu ... minggu ini kamu ujian akhir kan?", ujar ku dengan tatapan dingin.


"Aku gak perlu diawasin tolol!!", ucap nya dengan wajah kesal nya itu.


"Gak perlu di awasin ya? ... kalo gitu ...", aku berdiri dan melangkah mendekati nya yang sedang duduk di depan meja belajar nya itu.


"Sini kakak bantu ...", aku langsung mengambil buku nya yang ada di atas meja belajar dan membuka nya.


"Hee?!! ... kak ... gak usah!!!", teriak Hanabi sembari berusaha merebut buku nya kembali.


Saat aku baca apa yang ada di dalam buku tulis nya itu. Dia ternyata sedang mengerjakan soal bahasa inggris. Jawaban nya semua salah dan membuat ku geli.


"Hoi ... serius? ... kalo gak bisa coba minta tolong kakak aja ... gak perlu malu ...", kata ku dengan sedikit tawa.


"Coba bilang satu kata ... entar kakak bantuin ...", lanjut ku.


"Apa?"


"Coba bilang ... tolong bantu kak", ucap ku.


"Heee?!!", wajah nya memerah karena malu.

__ADS_1


"Cepetan ... dari pada nilai mu jelek", ancam ku dengan wajah sombong.


"To-tolong kak ...", wajah nya memerah dan dia sama sekali tak melihat wajah ku ketika mengatakan itu.


__ADS_2