
Ruang klub sastra sangat hening. Hanya ada suara halaman buku yang saling bergesekan. Dan suara jam dinding yang berdetak. Seketika kehehingan terpecah dengan suara pintu ruang klub sastra yang dibuka oleh seseorang.
----------
Kaito
Ternyata pak Kakegawa lah yang masuk. Dia melangkah dan berhenti di samping Ai.
"Wah ... kali ini ada pasangan remaja yang masuk."
"Permisi pak? Apa anggotanya cuma kami berdua?" Tanyaku sembari mengangkat tangan ku.
"Hmm ... Betul ... dan kau akhirnya mengerti apa bakat mu kan Kaito?"
Kata pak Kakegawa sembari melangkah ke arah ku dan menepuk pundak ku. Tahun lalu memang pak Kakegawa menawari ku masuk ke klub sastra karena aku memiliki nilai bahasa yang bagus.
"Lalu apa tugas kami pak?" Tanya ku tanpa melepaskan pandangan ku dari novel yang ku baca ini.
"Kalian hanya membaca dan ada tugas akhir semester yaitu menulis novel." Jawab pak Kakegawa sembari melangkah kembali ke pintu keluar.
Lalu pak Kakegawa keluar dan menutup pintu keluar ruangan klub sembari melambaikan tangannya. Aku memang termasuk akrab dengan pak Kakegawa dibanding dengan guru lain. Aku merasa dia seperti kakak sendiri karena umurnya yang masih dua puluh dua tahun.
Keadaan menjadi kembali hening seketika. Aku kembali fokus untuk membaca novel. Sesaat kemudian suara sobekan kertas kembali mengambil perhatian ku. Aku melihat ke arah Ai yang sedang menulis di selembar kertas kecil. Ai memberikan kertas beserta pulpen padaku. "Terima kasih, ini aku kembalikan pulpen mu", tulisnya.
----------
Kaito pun membalik selembar kertas kecil itu dan menulis sesuatu dengan pulpen nya. Dan memberikan kertas beserta pulpen nya kembali pada Ai.
"Apa kau punya email? Dari pada pakai kertas dan pulpen lebih baik kita ngomong lewat email aja."
__ADS_1
Ai terkejut dan pipi nya mengeluarkan rona merah. Ai segera mengeluarkan smartphone dari tasnya dan menunjukan alamat emailnya.
Kaito pun segera mencatat nya dan menyimpan nya. Kaito pun mengirimkan pesan pertama nya pada Ai, pesan itu bertuliskan "Halo Ai". Ketika membaca nya mata Ai berbinar dan tersenyum manis tanpa suara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kaito
Ketika aku melihat wajahnya yang tersenyum manis itu, aku kembali mengetikan pesan di smartphoneku. Aku menulis "itu pulpen nya buat kamu aja." Lalu aku menerima pesan darinya yang bertuliskan "terimakasih kamu baik sekali." aku merasa sedikit senang karena baru kali ini aku berbalas pesan dengan perempuan. Di saat yang sama aku merasa aneh, karena kami hanya berjarak dua meter dan hanya terpisahkan oleh sebuah meja.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 5 sore, dan langit sudah mulai berubah warna. Warna kuning ke merahan yang terpancar menembus jendela ruangan itu membuatku sedikit merasa tenang. Dalam beberapa jam tanpa sepatah kata apa pun ini, entah mengapa aku tak memikirkan rasa bosan dalam diriku.
Aku pun menutup novel yang ku baca. Aku sedikit menghela nafasku dan memejamkan mataku yang lelah karena membaca. Ai masih fokus membaca novel yang ia baca dari tadi.
"Hei ... emm ... apa kau mau pulang?" Aku memasukan novel kembali kedalam ransel ku.
Setelah mendengar perkataan ku dia pun mengangguk dan memasukan novel yang ia baca ke dalam tas merah mudanya.
Kami berdua pun melangkah menuju gerbang sekolah. Aku sudah lama tak merasakan suasana sore hari di sekolah. Kami berdua pun berpisah dan berjalan sesuai arah rumah masing masing.
---------
Satu minggu kemudian ...
Pagi ini Kaito kembali bangun dari ranjangnya dengan wajah malasnya. Setelah memakai seragam sekolahnya dengan rapi Kaito sarapan mie instan seperti biasa. Ia meninggalkan semua alat makan nya berserakan di meja makan dan segera melangkah menuju sekolah. Seperti hari hari sebelumnya, Kaito berangkat bersama Mina.
----------
Kaito
"Eto ... Kaito ... belakangan ini kau sering berduaan dengan Ai di ruangan klub ya?".
__ADS_1
Perkataan Mina tak membuat wajah cuek ku ini berubah. Aku hanya menjawabnya sembari mengusap kepalanya dengan sedikit kasar.
"Kalau iya emang kenapa? Mina chan?" Ejek ku memasang wajah datar dengan sedikit memiringkan kepala ku.
"Jangan menyebutku dengan nama itu lagi tau Kaitolol ...," Mina menyingkirkan tangan kanan ku yang mengacak acak rambutnya itu.
Wajahnya jadi aneh dengan rambut yang ku acak acak barusan. Aku tersenyum tipis sembari merapikan rambutnya kembali dengan kedua tangan ku.
"Maaf maaf ... sini rambut mu." Ujar ku merapikan rambutnya yang acak acakan itu.
-----------
Mina
Kehangatan tangannya, aku benar benar merasakannya kali ini. Laki laki yang selalu berbuat baik padaku. Sekarang sudah tumbuh dewasa, tapi cara dia memperlakukan ku masih sama seperti dulu. Dia memang *****, kalau begini, aku bisa jatuh cinta padanya.
Aku menyembunyikan wajah malu ku dengan berkata.
"Gosip nya sudah menyebar loh ... Ai bisa kena masalah dengan para gadis yang suka pada mu."
Dia hanya menghela nafas nya dan berkata dengan wajah santainya.
"Hmm ... apa peduli ku ... aku hanya ingin hidup sebagai bayangan."
Apa apaan jawabanya itu. Dari dulu dia selalu berbicara tentang hal yang tak masuk akal seperti itu. Dia pikir dengan jadi bayangan hidupnya akan berubah?
----------
Kaito
"Dasar *****!!!"
__ADS_1
Apa maksudnya itu? Mina berlari mendahuluiku dengan sangat cepat. Aku tak akan bisa mengejarnya. Itu sudah seperti hukum alam, sejak kecil Mina selalu berlari lebih cepat dari ku. Aku hanya tetap melangkah dengan santai menuju sekolah.