
Kaito
"Senpai?"
Suara itu, aku mengenali nya. Tapi aku tak mengingat nya. Bola mata biru dan rambut pirang keemasan sebahu nya. Yukata kuning dengan motif bunga yang ia kenakan. Senyuman hangat yang ia berikan kepada ku.
Siapa dia?
"Kaito?", di saat yang sama suara Ai memanggil ku.
Ai menggoyangkan badan ku dan terus memanggil nama ku. Aku pun membuka mata dan menyadari aku ketiduran saat sedang belajar bersama. Aku pun mengangkat kepala ku dari atas meja dan mengusap mata ku yang masih berat ini.
"Maaf aku ketiduran ...", kepala ku terasa sedikit pusing, mungkin aku terlalu lelah untuk belajar.
"Yang lain kemana?", tanya ku saat menyadari hanya ada kami berdua di dalam ruangan ini.
"Pulang duluan ...", jawab Ai sembari memasukan novel nya kedalam tas merah nya itu.
"Kamu nungguin aku? ... kenapa gak langsung bangunin aku aja?", aku langsung memasukan buku buku dan alat alat tulis ku yang ada di atas meja dan menutup resleting ransel ku.
"Gak apa apa ... aku juga mau nyelesain baca novel dulu", jawab nya lalu berdiri dari kursi.
"Hoi ... jam berapa ini?", aku terkejut saat melihat keluar jendela.
Langit sudah diambil alih oleh sang rembulan dan bintang bintang. Malam ini hanya sedikit awan yang beterbangan dan membuat sang bulan terlihat jelas.
"Ai ... kau lupa syal mu", aku pun mengambil syal yang masih ada di atas meja dan memberikan nya pada nya.
"Makasih ... ayo pulang ... keburu dingin", ucap nya.
"Hmm ... ayo", aku langsung menggendong ransel ku dan memimpin langkah nya keluar dari ruang klub sastra.
Setelah kami menuruni tangga, aku terkejut ketika melihat koridor sekolah yang sudah gelap dan sunyi. Tak ku sangka aku bisa pulang selarut ini. Aku harap Hanabi tak terlalu memikirkan ku.
"Kaito"
__ADS_1
Ai menggenggam tangan kanan ku dan menempelkan kepala nya ke bahu ku dengan mata nya yang terpejam karena ketakutan.
"Ai? ... jangan bilang kamu takut gelap",
"Udah ... cepetan keluar dari sini", kata Ai dengan genggaman tangan nya yang semakin erat.
"Iya iya", aku pun menuntun nya untuk melewati koridor sekolah yang gelap ini.
Sesaat kemudian kami akhir nya berhasil keluar dari gedung sekolah dan Hawa dingin langsung menyambut kami berdua. Di saat yang sama Ai langsung melepas genggaman tangan nya dari ku dengan pipi nya yang mulai memerah.
"Ma-makasih", ucap nya gugup.
"Hmm ... oh iya ... kamu mau langsung pulang?", tanya ku supaya Ai tak terlarut dengan kejadian tadi.
"Hari ini aku nginep di rumah Naya", jawab nya.
"Ohh ... gitu ...",
Kami melangkah di tengah dingin nya malam ini. Cahaya lampu jalan yang menerangi jalan kami. Kami hanya berjalan dalam diam dan tak satu pun dari kami mengatakan sepatah kata pun.
Sayang sekali aku harus kehilangan nya sebentar lagi. Setelah aku mati, aku tak akan bisa melihat nya lagi. Tak lama lagi aku tak akan bisa melihat paras cantik nya itu lagi.
"Kaito?", Ai tiba tiba memanggil ku dengan suara nya yang merdu itu.
"Hmm", aku menoleh ke arah nya.
"Kalau semua kenangan kita balik ... aku gak tau harus bilang apa lagi sama kamu", kata Ai menundukkan kepala nya dan melihat langkah kaki nya sendiri.
"Saat itu tiba ... kamu hanya cukup tersenyum pada ku", ucap ku sembari mengusap kepala nya dengan lembut.
"Kaito ... kau memang baik ... pantas Ame jatuh cinta pada mu ...", kata kata mya yang sama sekali tak aku mengerti.
"Ame? siapa?", tanya ku bingung.
"Kamu pasti bakal inget ... cepat atau lambat", Ai menoleh ke arah ku dengan senyuman seindah pelangi nya itu.
__ADS_1
Senyuman yang telah lama ku nanti. Akhir nya aku dapat melihat nya lagi. Saat aku melihat senyuman nya, waktu seakan berhenti. Aku tak bisa melepas pandangan ku dari nya.
"Kaito? kenapa?", tanya Ai saat melihat ku melihat nya dengan tatapan kosong.
"Ohh ... gak ada apa apa", jawab ku memalingkan wajah ku dari nya.
"Kaito ...", Ai menunduk sehingga syal yang ia pakai menutupi mulut nya.
"Apa?"
"Makasih", ucap nya perlahan nyaris tak terdengar.
Aku tak tahu dia berterima kasih untuk hal apa. Tapi ketika aku mendengar kata kata itu, hati ku sangat damai. Aku hanya ingin terus mendengar suara nya itu.
Tak terasa kami akhir nya sampai di depan rumah ku. Ai langsung masuk ke rumah Naya setelah berpamitan dengan ku. Aku pun segera masuk ke rumah karena menghawatirkan keadaan Hanabi.
Greeek ...
"Hanabi?"
Aku masuk dan kembali menutup pintu rumah ku. Saat aku melepas syal putih dari leher ku aku terkejut karena tiba tiba Hanabi berlari ke arah ku dari dalam kamar nya.
"Kakak!!! ... kemana aja sih?", Hanabi memeluk ku dengan erat.
"Hoi ... kakak belajar buat ujian minggu besok bareng temen", jawab ku.
"Lain kali kabarin aku ngapa?", Hanabi melepas pelukan nya dan memasang wajah cemberut nya itu.
"Ohh ... Iya iya ... maaf ... kakak sama sekali gak pegang ponsel dari tadi", ucap ku menyadari ponsel ku yang masih ada di dalam ransel ku dari tadi pagi.
"Ya udah ... ayo makan malem bareng", ajak Hanabi serah berlari ke dapur.
Selama kami makan malam bersama. Aku sadar Hanabi sudah sedikit berubah. Ia sedikit mengurangi sifat nya yang ganas itu. Mungkin karena dia benar benar takut kehilangan ku hanya karena mimpi nya itu.
Canda tawa selalu menemani kami di meja makan. Kebahagiaan dan kehangatan yang mungkin tak akan aku rasakan lagi. Senyuman adik ku yang manis itu. Aku juga akan kehilangan itu suatu hari nanti.
__ADS_1