
Shinobuya Shou
Seperti biasa saat jam pelajaran di sekolah usai. Aku duduk di sofa yang ada di ruang OSiS. Tentu saja aku ditemani gadis rambut kuning yang sedang membaca novel di samping ku.
Dia adalah Haruka Chika, adik sepupu ku yang pendiam itu. Dia jarang sekali mengajak ku bicara, padahal kami selalu bersama di ruang OSIS ini sepulang sekolah.
"Ano ... Chika ... aku keluar dulu", aku pamit karena bosan dengan keadaan ruang OSIS yang sunyi ini.
"Terserah", jawab nya cuek dan tetap memfokuskan pandangan nya ke novel yang ia baca itu.
Aku pun keluar dan kembali menutup pintu ruang OSIS. Aku melangkah kemana yang hati ku ingin kan. Entah kenapa aku berhenti di depan ruang klub sastra.
Ruangan yang penuh kenangan sebelum aku menjadi ketua OSIS. Hati ku terus mendorong ku untuk membuka pintu dan kembali masuk ke sana.
"Kayak nya gak ada orang ...", aku pun membulatkan tekad ku untuk masuk ke ruang klub lama ku itu.
Greek ...
Eh?! Ruui?
Aku terkejut saat melihat gadis berambut biru dengan bola mata merah padam nya itu. Ia duduk di kursi dibelakang meja besar yang ada di tengah ruangan ini. Dia adalah Ruui, teman satu klub ku dulu. Sikap dingin nya itu membuat nya sedikit di jauhi oleh beberapa orang dulu. Tapi karena dia selalu peringkat satu di sekolah ini.
Banyak yang menjadi teman nya. Termasuk juga aku, tapi aku tak tahu dia menganggap ku teman atau apa. Karena ...
"Met sore Ruui!", ucap ku dengan senyum sembari melambaikan tangan ku.
"Hmm", dia hanya menatap ku sejenak dan kembali memandangi layar ponsel yang ia genggam itu.
Ya ampun ... selalu aja gitu ...
"Oi oi ... kenapa kamu ada di sini?", aku menarik kursi yang ada di ujung ruangan dan meletakan nya di samping Ruui.
"Cuma butuh ketenangan", jawab nya tanpa melihat ku sama sekali.
"Haa? ... alesan apa an tuh?!", aku pun duduk di samping nya dan memandangi wajah nya itu.
"Ngapain liatin aku?", tanya nya dengan wajah tanpa ekspresi nya itu.
__ADS_1
"Cuma butuh ketenangan", jawab ku menggoda nya.
Dari dulu aku selalu mengejek, menjahili dan melakukan banyak hal supaya Ruui menunjukan ekspresi nya pada ku. Tapi dari dulu usaha ku tak membuahkan hasil. Tapi sampai sekarang pun aku masih belum menyerah.
"Ohh", dia hanya mengangguk dan kembali memandangi layar ponsel nya.
"Ano ... Ruui mau ikut aku gak?", aku mencari cari cara supaya bisa berbicara dengan nya.
"Kemana?", lagi lagi dia tak menatap ku saat ku ajak bicara.
"Adalah ... urusan OSIS ...", aku mencari alasan agar dia mau ikut bersama dengan ku sekarang.
Walau sebenarnya aku hanya ingin mengajak nya jalan jalan. Dari dulu dia tak pernah menerima ajakan ku walau cuma makan bareng di kantin, dia menolak ajakan ku mentah mentah.
Sikap nya itulah yang malah membuat ku tertarik pada nya. Dan mungkin aku sudah jatuh cinta pada nya sejak lama. Hanya saja aku terlalu sibuk karena sok menjadi ketua OSIS teladan di depan nya.
Sebenar nya alasan ku menjadi ketua OSIS adalah, aku cuma ingin menarik perhatian nya. Tapi ternyata aku salah. Ruui tetap lah Ruui, sikap dingin nya itu lah yang membuat diri nya spesial di mata ku.
"Ya udah ayo ... kemana?", tanya nya dengan wajah datar nya itu.
Weh?! dia mau?!
"Ano ... bawa tas mu ... kita bakal keluar dari sekolah", jelas ku.
Aku berpikir untuk mengajak nya ke salah satu kafe yang dulu pernah aku kunjungi bersama nya saat kelas satu SMA, saat itu kami sedang mengerjakan novel untuk suatu lomba. Mungkin di sana aku bisa melihat senyum nya.
Walau pun senyuman tipis, aku tak peduli. Aku sangat ingin melihat Ruui dengan ekspresi di wajah nya. Setelah sekian lama akhir nya aku bisa berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama sang ratu es di sekolah.
Karena sikap dingin nya itu dia sering di juluki putri salju atau ratu es oleh murid murid lain di sekolah. Karena kami cukup terkenal, banyak siswa siswi yang terheran heran dan terpaku menatap kami berdua yang sedang berjalan bersama keluar dari gerbang sekolah.
Pasti banyak gosip gosip aneh yang tak penting tersebar besok. Ya, aku tak peduli, yang penting aku bisa bersama Ruui lagi setelah sekian lama. Tak lama kemudian kami berdua akhir nya sampai di kafe yang memiliki kenangan walau hanya sedikit.
Kami duduk berhadapan di samping jendela yang menghadap ke jalan raya. Saat memesan minuman pun tiba, aku minta agar Ruui saja yang memilih minuman untuk kami berdua. Tak ku sangka Ruui masih mengingat minuman kesukaan ku.
Saat pertama kali aku datang ke sini bersama nya, aku memesan cokelat panas. Dan aku ingat betul dia memesan kopi hitam yang pahit. Aku tak tahu lagi harus berkata apa tapi Ruui adalah gadis yang unik menurut ku.
Ruui memesan kedua minuman itu lagi sekarang. Entah kebetulan atau memang dia masih ingat saat saat itu. Kami hanya diam tanpa sepatah kata pun menunggu pesanan kami datang.Setelah beberapa saat dalam diam ku lewati, akhir nya pesanan kami sudah berada di atas meja.
__ADS_1
Dengan wajah dingin nya itu dia menyeruput kopi hitam pesanan nya itu.
"Ano ... Ruui ... kenapa kamu suka kopi pahit?", tanya ku penasaran.
"Karena aku suka", jawaban singkat dengan wajah datar nya itu mengingatkan ku pada diri nya dulu saat pertama kali kami ke sini.
"Memang nya apa enak nya kopi pahit sih?", aku mengernyit heran sembari menyeruput segelas cokelat panas yang manis ini.
"Shou ... apa kamu gak suka kopi?"
Whoaaa .... ini pertama kali nya dia menyebut nama ku. Dan sekaligus pertama kali nya dia bertanya sesuatu tentang diri ku.
"Karena kopi itu gak enak", jawab ku dengan senyuman santai ku.
"Mau coba?"
Wait?! ... dia nawarin aku minum di gelas yang habis dia minum?!
Jika aku menerima nya sama saja aku ciuman tak langsung dengan Ruui. Walau begitu sebenar nya aku memang tak suka kopi dari kecil. Rasa pahit nya itu membuat ku ingin muntah.
"Serius?", aku mengambil segelas kopi milik nya.
"Hmm ... coba", dia mengangguk dan menatap ku dengan wajah datar nya.
"Aku coba ya ...", perlahan aku menyeruput kopi hitam yang pasti pahit ini.
Aku bersiap dengan semua kemungkinan rasa nya.
"Ukhuk ...", sudah ku duga aku tak tahan rasa pahit nya itu.
Aku kembali meletakan gelas kopi Ruui di meja dan menutup mulut ku yang ingin muntah ini.
"Dasar cowo pirang cupu", ujar Ruui dengan senyuman tipis nya seraya menoleh ke arah jendela.
Apa aku gak salah liat?!
Aku baru saja melihat sang Kaguya Ruui tersenyum. Akhir nya impian ku terwujud. Aku bisa melihat sedikit senyum di wajah nya. Mungkin aku akan membuat nya tertawa di masa depan.
__ADS_1
"Hoi ... kamu bilang apa? ... cupu kata mu?!"
Hari ini aku membuat kenangan yang tak terlupakan dalam hidup ku. Aku berhasil membuat senyuman tumbuh di wajah nya. Lain kali, pasti pasti akubakan membuat nya tertawa.