
Kaito
Ternyata aku salah!
Awan tebal yang tadi nya menutupi cahaya sang surya sudah lenyap seiring dengan matahari yang terbenam. Sang rembulan dan pasukan bintang bintang nya yang indah itu sudah menunggu kami berdua di atas langit.
"Wah ..."
Ai langsung terpaku melihat ke atas dengan mata nya yang berbinar. Pantulan cahaya mata nya jauh lebih indah dari bintang yang ada di atas langit menurut ku.
"Kaito ... aku seperti merasa kita pernah melakukan ini sebelum nya ... tapi ... aku tak tau kapan itu ...", kata nya tetap memandang langit malam yang penuh bintang kesukaan nya itu.
"Hmm ...", aku berhenti menatap wajah nya dan melihat ke langit malam yang penuh bintang bintang yang bersinar layak nya berlian di langit langit gua.
"Ke-kenapa?"
Ai menetes kan air mata nya tanpa alasan yang jelas. Ia segera mengusap nya agar aku tak melihat nya menangis, tapi itu sudah terlambat.
---"Aku ingin membuat suara mu kembali ... dan aku ingin membuat mu bahagia"---
Kata kata itu?!
Aku mengingat nya!!!
Saat aku berdiri di gunung Okiyama dan juga dibawah langit penuh bintang seperti ini. Saat dimana Ai memberikan ku tujuan hidup. Aku mengingat tujuan hidup ku yang membuat ku bisa berbuat sejauh ini untuk nya.
Tapi aku hanya mengingat sekilas kejadian itu saja. Aku tak terlalu mengingat nya dengan jelas. Tetesan air mata nya waktu itu, aku juga mengingat nya. Aku mulai mengingat satu kejadian penting dalam hidup ku.
__ADS_1
Itu tanda nya takdir mulai membunuh ku perlahan. Di saat yang sama dada ku sedikit terasa sakit. Penderitaan ku yang sebenar nya baru di mulai. Aku perlahan dibunuh karena kekuatan ku sendiri.
"Kaito?", Ai memasang wajah khawatir nya ketika melihat ku memegang dada ku sendiri.
"Gak apa apa kok ... ukhuk ... ukhuk ...", aku memalingkan wajah ku dari nya dan menutup mulut ku agar Ai tak tertular batuk ku.
"Kaito? ... yakin gak kenapa napa?", Ai memegang pundak ku.
Saat aku melihat telapak tangan ku. Aku terkejut melihat cairan merah yang ada di telapak tangan ku. Seperti nya darah ini keluar dari mulut ku saat batuk tadi. Inilah tand nya, takdir mulai membunuh ku perlahan karena tak terima dengan kekuatan ku ini.
"Kaito?", suara Ai yang menyadarkan ku dari lamunan.
"Ohh ... gak apa apa kok", ucap ku sembari menyembunyikan kedua tangan ku di belakang pinggang ku.
"Ohh ... mending masuk aja yuk ... nanti kamu batuk gara gara kedinginan ...", kata Ai lalu menuntun ku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu delan rumah ku.
"Kalian udah mau pulang?", tanya ku saat melihat Haru dan Mina yang berdiri di belakang Raku.
"Hmm ... besok mau belajar lagi gak?", tanya Haru.
"Wo ... betul juga ... besok di rumah Naya aja ... tu di depan", aku pun menyarankan rumah Naya sebagai target tempat belajar kelompok berikut nya.
"Ya udah ... sampe besok ya? ...", Raku memimpin langkah Mina dan Haru untuk keluar dari rumah ku.
"Mana wajah semangat mu Mina?"
"Berisik ah!"
__ADS_1
"Raku ... nanti Mina bisa nonjok kamu sampe mental loh"
"He? coba aja kalo berani"
Suara percakapan mereka bertiga yang terdengar sebelum aku kembali menutup pintu rumah ku sebelum ada angin dingin yang masuk.
"Oii!!! kalian ... gimana? ... apa kalian ciuman?", Naya berlari menuruni tangga sembari membawa kantong plastik yang berisi sampah bekas bungkus makanan ringan yang tadi kami bawa.
"Naya?!", wajah Ai memerah karena kata kata Naya tadi.
"Ano ... Naya? ... apa itu sampah?", tanya ku menunjuk ke kantong plastik yang ia bawa.
"Iya ... aku beresin kamar mu sekalian ...", ucap nya lalu memasukan kantong plastik itu ke dalam tempat sampah yang ada di samping kulkas ku.
"Ohh ... gak perlu repot repot juga ...", kata ku karena merasa tak enak pada Naya yang harus repot repot membersihkan kamar ku yang seharus nya itu tugas ku.
"Gak apa apa ... sebagai ganti nya besok kamu yang bersihin rumah ku ya?", kata Naya dengan senyuman nya.
"Hoii ... ujung ujung nya minta sesuatu juga", ucap ku kesal.
"Bercanda kok ... ya udah aku mau pulang dulu ... Ai aku tunggu ya ...", Naya keluar dan kembali menutup pintu delan rumah ku.
"Ai? ... kamu tidur di rumah Naya?", tanya ku sembari melangkah ke wastafel yang ada di dapur.
"Ya udah ... aku ambil tas ku dulu", ujar nya lalu berlari naik ke kamar ku.
Aku pun mencuci tangan ku untuk membersihkan bekas darah yang ada di telapak tangan ku.
__ADS_1