
Kaito
Setelah mencuci tangan ku dan membersihkan bekas darah yang ada di telapak tangan ku. Aku penasaran apa yang sedang Ai lakukan sekarang. Semenjak dia berlari naik tangga dan masuk ke kamar ku, suara nya tak lagi terdengar.
"Ai?", aku pun menyusul nya.
Saat aku sampai di depan pintu kamar ku yang terbuka lebar, aku terkejut saat melihat Ai hanya diam dan berdiri menghadap ke luar jendela kamar ku.
"Ai ... ada apa?", aku menghampiri nya dan menepuk pundak nya dari belakang.
"Kaito ... aku gak tau tapi ...", Ai menoleh ke arah ku dengan air mata nya yang mengalir di pipi.
"Kamu kenapa?", tanya ku khawatir dan bingung di saat yang sama.
"Aku gak tau tapi rasa nya aku mengingat sesuatu ...", Ai tiba tiba memeluk ku dengan erat tanpa alasan yang jelas.
"Malam itu ... dimana kita berdiri di bawah langit yang penuh bintang ...", aku bisa merasakan pelukan nya semakin erat, air mata nya mulai membasahi seragam ku.
Tu-tunggu?! kenapa dia juga?!
"Ai? ... apa kamu juga melihat nya tadi?"
"Iya ... aku melihat nya", pelukan nya terasa sangat hangat dan semakin erat.
"Maaf ... aku gak tau aku mikir apa", ucap nya melepas pelukan nya dan mengusap air mata nya.
"Gak apa apa ... Ai ... kenangan masa lalu itu ... mungkin lebih baik kalau kamu lupain aja ...", pinta ku.
"Mana mungkin!!!", Ai membantah permintaan ku mentah mentah.
__ADS_1
"Aku sekarang harus nya mati kan? ... dan kamu rela kehilangan ingatan mu demi aku ... mana mungkin aku bisa lupain itu!!", Ai menatap ku dengan serius.
"Dan sekarang ... aku gak bisa apa apa ... aku gak akan bisa membalas kebaikan mu ...",
"Bisa kok", sangkal ku.
"Ha?!", Ai yang tadi nya menunduk langsung menatap wajah ku.
"Hidup lah ... dan terus bahagia di dunia ini ... tunjukan senyuman indah mu itu", ucap ku.
"Kaito? ..."
"Ai ... aku ... aku gak akan lama ...",
"Kak? apa kakak udah selesai? Eh?!!, ... maap maap ... aku balik ke kamar ku lagi!", Hanabi datang dengan wajah kantuk dan melihat kami hanya berdua di kamar lalu berlari kembali ke kamar nya pasti karena pikiran nya yang aneh aneh itu.
"Ya udah ... aku pulang dulu", wajah Ai memerah karena melihat tingkah Hanabi dan ia pun keluar dari kamar ku.
"Hanabi?", aku membuka pintu kamar nya dan masuk perlahan.
"Apa yang kakak lakukan berduaan di kamar gitu??", tanya Hanabi meneluk bantal dan tersenyum miris pada ku.
"Hoi ... masih SMP pikiran mu kok gitu seh?! ... apa jangan jangan kamu pernah ..."
Buk!!!
Hanabi melempar ku dengan bantal yang ia peluk hingga aku terjatuh ke lantai.
"Tolol!!! jangan sampai aku membunuh mu sekarang!!!", teriak Hanabi dengan wajah marah nya itu.
__ADS_1
Ya lebih baik kau membunuh ku sekarang ...
"Lagian ... ngapain nyari aku?", tanya ku sembari bangkit berdiri.
"Ano ... aku mimpi buruk", jawab nya.
"Hoi hoi ... alesan macam apa itu ...", ujar ku seraya mengembalikan bantal Hanabi kembali ke atas kasur nya.
"Tidur sini dong kak ...", pinta nya dengan wajah nya yang memerah itu sembari menarik lengan seragam ku.
"He?!"
"Aku takut ...", Hanabi memalingkan wajah nya dari ku.
"Hmm ... kakak mau mandi dulu ... tunggu bentar ya?", ucap ku lalu kembali ke kamar ku dan segera mandi.
Beberapa saat kemudian aku kembali ke kamar Hanabi membawa bantal dan selimut ku.
"Kak?", Hanabi masih duduk di ranjang menunggu ku dengan mata nya sudah terpejam itu.
"Oi ... gak perlu maksain juga kale ...", aku kembali menutup pintu kamar dan meletakan selimut ku di lantai sebagai alas untuk ku tidur.
"Kakak gak bakal pergi kan?", Hanabi memaksakan mata nya agar tetap terbuka.
"Emang nya kamu mimpi apa sih? udah tiduran dulu ...", aku duduk di ujung ranjang nya dan meminta nya untuk kembali tidur.
Setelah Hanabi berbaring aku pun menyelimuti nya mengingat dingin nya hari ini.
"Aku mimpi kakak tiduran di rumah sakit dan gak mau bangun ...", kaga Hanabi seraya memejamkan kedua mata nya.
__ADS_1
"Hmm ... kamu kecapean belajar tuh ... udah tidur aja ... kakak gak bakal pergi", ucap ku saat melihat meja belajar adik ku yang berantakan itu.