Ai No Koe

Ai No Koe
Chapter 132


__ADS_3

Kaito


"Woah!!! ... salju nya turun kak!!!", teriakan Hanabi yang membuat ku terpaksa membuka kedua mata ku.


Hanabi berdiri di depan jendela kamar ku yang sudah ia buka.


"Hoi ... berisik ...", ucap ku mengusap kedua mataku lalu bangkit dan duduk di atas ranjang ku.


"Oi ... kakak gak lupa kan?", tanya nya dengan senyuman manis nya di pagi hari.


"Lupa? apa?"


"Tolol!!! ... kakak bilang mau ajak aku ke perpustakaan kota hari ini", Hanabi memasang wajah marah nya.


"Ohh ... iya ... hari ini sabtu yak?", aku sedikit tersenyum sembari menggaruk kepala ku.


"Ya udah sana buruan mandi!! ...", pinta nya sembari menarik tangan ku dan memaksaku untuk berdiri dari ranjang ku.


"Iya iya ...", jawab ku berusaha membuang rasa malas ku jauh jauh.


"Buruan!!!", teriak Hanabi ketika aku sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah mandi dan mengganti pakaian ku. Aku segera keluar dari kamar dan menuruni tangga untuk segera menemui Hanabi di ruang makan untuk sarapan seperti biasa.


"Eh? ... Hanabi?", tanya ku saat melihat nya hanya duduk di kursi meja makan tanpa ada makanan di atas meja makan.


"Aku lupa ... aku lupa beli bahan makanan", ucap nya diiringi tawa nya itu.


"Hmm ... ya udah ... sana siap siap ... kita langsung ke perpustakaan kota aja", kata ku lalu kembali menaiki tangga untuk kembali ke kamar ku.


"Loh terus kita gak sarapan?", tanya Hanabi bingung.


"Kita beli aja di mini market deket rumah ... udah cepetan pake jaket yang tebel biar gak kedinginan", aku pun kembali masuk ke kamar ku dan memakai jaket dan celana panjang ku.


Saat aku kembali ke lantai dasar rumah ku. Hanabi sudah menunggu di depan pintu keluar rumah kami. Ia mengenakan jaket tebal serta syal di leher nya. Hanabi tersenyum manis saat melihat ku.

__ADS_1


"Ayo kak cepet!!!", ujar nya.


"Iya iya ...", aku segera memakai sepatu olahraga warna merah ku dan mengikat tali nya dengan erat.


"Ayo kak ... buruan ... aku mau liat salju nih!!", Hanabi menarik tangan ku tak sabar ingin segera keluar dari rumah.


"Hoi hoi ... santai aja ...", aku membuka pintu perlahan dan merasakan hawa dingin mulai menyerang.


"Woahh!!! ... cantik nya!!!", Hanabi langsung berlari keluar dari rumah.


Pagi ini butiran salju putih mulai berjatuhan dari langit. Dingin nya pagi ini terasa tak berarti bagi Hanabi ketika melihat indah nya salju yang sedang jatuh perlahan. Hanabi melompat kegirangan dengan tawa nya yang menghibur ku pagi ini.


"Oi ... hati hati ... entar kepeleset baru tau rasa", ucap ku memperingatkan nya sembari menutup pintu rumah ku kembali.


"Ayo kak!! ... cepetan!!", Hanabi berlari keluar dari gerbang.


"Cih ... sabar napa sih ...", aku pun segera mengikuti langkah nya dan tak lupa kembali menutup gerbang rumah ku.


"Aduh!!", Hanabi akhir nya terjatuh ke tanah karena terpeleset genangan air yang sudah membeku di depan rumah kami.


"Hahaha ... kamu gak apa apa kan?", aku membantu nya untuk kembali berdiri.


"Kan udah di bilang jangan lari lari ... ya udah ayo jalan", aku menggandeng tangan nya agar ia tak terjatuh lagi.


Kami pun menerobos dingin nya pagi ini hanya untuk pergi ke perpustakaan kota. Semua ini demi membuat kenangan indah bersama adik ku sebelum aku benar benar pergi dari dunia ini. Tangan kecil nya yang aku genggam di tengah salju yang berjatuhan ini tak akan pernah aku lupakan.


Adik ku satu satu nya ini akan kehilangan kakak nya sebentar lagi. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar dia bisa menerima takdir nya dan hidup bahagia walau aku sudah tiada.


"Kak ... aku laper", ucap nya perlahan tanpa menatap ku.


"Ya dah ... itu minimarket nya udah deket", kata ku ketika sudah melihat minimarket yang ada di pinggir jalan itu.


Aku pun membeli dua roti isi dan dua kaleng teh hangat dari minimarket itu. Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju stasiun yang ada di seberang sekolah ku.


"Hoi ... kenapa gak makan di sana aja?", tanya ku sembari melahap roti isi yang baru saja aku beli.

__ADS_1


"Buang buang waktu", jawab Hanabi sembari mengunyah roti isi nya.


"Hmm ... terserah", aku pun meneguk sekaleng teh hangat ku sampai habis tak tersisa dan membuang nya ke tempat sampah yang kebetulan kami lewati.


Setelah sampai di stasiun yang ada di seberang sekolah ku, kami berdua pun segera naik kereta menuju ke stasiun pusat kota. Karena aku kehilangan ingatan ku, Hanabi lah yang memimpin perjalanan kami. Aku hanya diam dan mendengar setiap ocehan nya itu.


Setelah kami tiba di stasiun pusat kota. Hanabi menggandeng ku dan kami berjalan entah kemana. Beberapa saat kemudian terlihat lah gedung besar dua lantai. Hanabi berhenti dan menoleh ke arah ku.


"Ini dia kak ... tempat yang sering kakak kunjungi waktu SMP dulu", ujar Hanabi dengan semangat nya itu.


"Ohh ... jadi ini ...",


"Ya udah kak ... ayo masuk!", Hanabi menarik tangan ku dan memaksa ku untuk mengikuti nya.


Tempat yang tenang, suara halaman buku yang saling bergesekan. Bau kertas yang tak asing ini. Rak rak buku besar yang berbaris. Tak ada keramaian yang aku benci di sini. Jelas aku dulu sering ke sini.


Kami pun naik ke lantai dua perpustakaan kota. Kata Hanabi lantai dua adalah tempat novel dan komik komik remaja yang populer di pajang.


Setelah memilih novel yang ingin kami baca, Hanabi meminta ku untuk duduk di kursi yang ada di depan meja kayu panjang yang disediakan untuk pengunjung. Setelah aku duduk Hanabi pun duduk di samping ku dengan wajah nya yang berseri seri itu.


Aku mengambil ponsel ku dan memakai earphone yang aku bawa. Rasa nya aneh, kenapa aku tiba tiba ingin mendengarkan musik?


Sesaat kemudian perasaan ku jadi agak aneh. Aku merasa aku akan segera mengingat potongan kenangan ku lagi di sini. Aku tak ingin membuat Hanabi khawatir karena melihat ku kesakitan di samping nya. Aku tak ingin mengacaukan hari nya yang bahagia ini.


Deg!!!


Jantung ku lagi lagi terasa sangat sakit. Saat aku memejamkan mataku. Aku mengingat nya. Hari dimana aku duduk di sini bersama Ame. Hari dimana aku menemani Hanabi menulis novel di sini. Hari hari yang aku lewati di sini. Aku telah mengingat nya.


Ame? ... aku ingat sekarang ...


"Kakak kenapa?", Hanabi melepas earphone ku saat melihat ku meringis kesakitan lagi.


Sial!!! ... rasa sakit nya bertambah sedikit demi sedikit ...


Kalau begini terus ...

__ADS_1


Bruak!!!


Aku tak lagi bisa membuka mata ku. Tubuh ku rasa nya berat dan yang ku rasakan hanya lah dingin yang menyelimuti ku.


__ADS_2