Ai No Koe

Ai No Koe
Chapter 134


__ADS_3

Awan tebal yang menutupi cahaya sang surya. Butiran salju putih yang bejatuhan dari langit. Salju putih yang menumpuk di atas atap rumah rumah dan di jalan jalan. Hari ini dunia dibekukan oleh takdir. Dingin nya hari ini membuat ku merasa kesal.


Hari ini ujian akhir sudah dimulai. Kalau aku mau aku tak ingin mengikuti nya hari ini. Karena takdir sudah bilang aku akan segera mati. Aku hanya membuang waktu ku bila mengikuti hal seperti ini.


Aku bisa mengerjakan semua soal dengan lancar. Hanya saja, ada satu hal yang sangat mengganggu ku. Yaitu Ai, dia sama sekali tak mengajak ku bicara hari ini. Bahkan ia hanya menjawab dengan satu kata pada setiap pertanyaan ku.


Kriingg~~


Bel tanda ujian selesai telah berbunyi. Semua murid diminta untuk langsung pulang dan belajar untuk ujian selanjutnya. Sebelum Ai berdiri dan meninggalkan kelas aku menepuk pundak nya.


"Ai ... kamu bisa ke ruangan klub sebentar? ... ada yang mau aku omongin", pinta ku.


Ai hanya mengangguk dan melangkah keluar dari kelas. Aku segera memakai jaket ku dan menggendong ranselku.


"Oi ... Kaito ... apa kalian ada masalah?", tanya Raku yan duduk di bangku nya.


"Oh ... gak ada", jawab ku menggelengkan kepala lalu berjalan menuju ruang klub sastra.


Setelah menaiki tangga aku segera masuk ke ruang klub sastra. Saat aku membuka pintu aku melihat Ai sedang berdiri di menghadap ke jendela. Dan di saat yang sama aku mengingat sepotong kenangan lagi.


Saat hari pertama di sekolah. Dia tiba tiba masuk ke sekolah ini dan duduk sebangku dengan ku. Ia juga bergabung dengan klub sastra bersama ku. Entah kenapa aku tak merasakan sakit di jantung ku. Ya, itu lebih baik dari pada aku harus jatuh pingsan di sini.


"Ai?", aku masuk dan kembali menutup pintu ruang klub sastra.


"Apa?", Ai membalikkan badan nya dan menghadap ke arah ku.


Kami berdua dipisah oleh meja besar yang ada di tengah ruangan ini. Rak buku berdebu yang ada di kedua sisi ruangan. Dingin nya siang hari ini, aku menatap gadis yang aku cintai.


"Ai ... apa kamu ada masalah?", tanya ku.


"Enggak", jawab nya menggelengkan kepala nya tanpa menatap mata ku.

__ADS_1


"Hmm ... ya udah ...", karena tak tahu harus berbuat apa, aku kembali membuka pintu dan hendak melangkah keluar.


"Kaito ... tunggu ...", Ai menghentikan langkah ku dan membuat ku kembali menoleh ke arah nya.


"Apa?"


"Bisa bisa nya kamu tanya apa ...", Ai menundukan kepala nya dan meremas ujung rok nya.


"Kamu mengingat nya kan?", Ai menjatuhkan tas nya ke lantai dan berjalan ke arah ku.


"Ohh ... waktu pertama kali kita ketemu?", tanya ku.


"Kenapa kamu bisa sesantai itu dasar tolol!!!"


Bruak!!!


Ai menutup pintu dengan kasar dan mendorong ku sampai punggung ku membentur dinding ruangan ini.


"Masih tanya kenapa lagi?! ... aku akan kehilangan mu tau?! ... gimana bisa aku ngomong kaya biasa sama kamu?! ...", Ai menarik kerah seragam ku dengan kuat. Aku bisa merasakan perasaan nya yang kacau balau itu.


"Maaf ...", hanya kata kata ini yang bisa aku katakan pada nya sekarang.


"Kenapa kenapa?! ... kenapa kamu terus aja minta maaf?! ... yang buat kamu mati itu aku kan?!", lagi lagi Ai meneteskan air mata nya dan membasahi seragam dan jaket ku.


"Maaf", hanya ini yang bisa ku katakan karena aku kehabisan kata kata ku.


"Tolol!!", Ai menangis dan menempelkan kening nya di dada ku.


Hari ini, aku kembali membuat nya menangis. Bahkan setelah aku mengubah takdir nya, dia masih saja meneteskan air mata nya itu.


Apa usaha ku sia sia?

__ADS_1


Apa aku akan mati sia sia?


"Kaito ... lebih baik aku mati", kata kata nya yang sangat menyakiti hati ku.


"Jangan bercanda ... kamu pengen usaha ku sia sia?",


"Lebih baik kita mati bareng dari pada aku harus hidup tanpa mu tau?!", Ai menatap ku dengan wajah yang penuh air mata nya itu.


"Ai ... sebener nya ... aku kesini buat ngomong satu hal sama kamu", aku meletakan ke dua tangan ku di atas pundak Ai.


"Ngomong apa lagi?!"


"Aku suka sama kamu ...", setelah mengingat beberapa potongan kenangan, aku sadar betapa besar cinta ku pada nya.


Aku selalu ingin mengungkapkan nya dari dulu. Tapi seperti nya saat ini lah yang paling tepat. Karena aku tak lagi memiliki banyak waktu untuk menyatakan perasaan yang ku pendam sejak lama ini pada nya.


"Kaito?", Ai terpaku pada ku dan sama sekali tak bisa berkata kata.


Di musim dingin ini aku berhasil menyatakan perasaan ku pada nya. Walau aku belum mengingat semua kenangan ku bersama nya secara utuh. Tapi aku merasa satu tahun bersama nya saja sudah cukup bagi ku. Sebentar lagi, aku akan kehilangan semua nya.


"Kenapa?! ... kenapa kamu malah bilang perasaan mu sama aku?! ... bukan itu yang aku inginkan tau?!", Ai memeluk ku dengan erat dan kembali menangis di pelukan ku.


"Maaf ... lagian ... aku gak tau harus ngomong apa", aku membalas pelukan nya dan mengusap kepala nya dengan lembut.


"Aku juga minta maaf ... aku sudah membuat mu berbuat sejauh ini ... maaf maaf maaf", ucap Ai.


"Udah ... kalo gitu ...", aku melepas pelukan nya dan menghapus air mata yang ada di pipi nya menggunakan ibu jari ku.


"Aku punya satu permintaan sebelum aku gak ada", lanjut ku.


"Apa itu?", tanya Ai.

__ADS_1


"Tersenyum lah setiap hari ... buat hari hari mu terasa indah ... walau aku sudah tiada nanti ...", hanya itu permintaan terakhir ku pada nya.


__ADS_2