
Kaito
"Eh?! ... emm ... bukan gitu Shou", Saki tak berkutik ketika mendengar kata kata Shou senpai.
"Ya udah ... balik ke kelas mu ... bentar lagi masuk", pinta Shou senpai dengan senyuman nya.
"O-oke ...", Saki pun pergi meninggalkan kami dengan tatapan kesal yang ia tujukan untuk Ai.
"Kaito ... lebih baik kamu jagain pacar mu deh", ujar Shou senpai.
"Oi ... dia bukan pacar ku, lagian kenapa cewe tadi takut banget sama Senpai?", tanya ku bingung.
"Heh ... aku ketua OSIS tau", kata nya dengan senyuman sombong nya.
"Tunggu?! kok kamu gak tau siapa aku?!", lanjut Shou senpai ketika menyadari kejanggalan dari pertanyaan ku.
"Hehe ... aku amnesia ...", kata ju dengan sedikit senyum.
"Hee?! ... Ai?! beneran ini?", Shou senpai memastikan bahwa kata kata ku bukan omong kosong belaka.
"Hmm", Ai hanya mengangguk dan tetap memeluk novel itu sedari tadi.
"Haa?? ... cuma gara gara pingsan kemarin?", Shou senpai masih tak percaya akan apa yang terjadi pada ku.
"Mungkin ... ya sudah lah ... Ai, balik ke kelas aja yuk", ajak ku dengan wajah malas ku.
"Oi ... kok kamu bisa sesantai itu kena amnesia?"
__ADS_1
Aku meninggalkan Shou senpai di dalam perpustakaan. Ai mengikuti langkah ku dan tetap memeluk novel nya dari awal aku melihat nya.
"Oh ... iya ... ini dari Naya", ucap ku memberikan penjepit rambut yang tadi ku masukan kedalam saku celana.
"Oh ... makasih", kata nya tanpa melihat ku sama sekali.
Saat kami sampai di depan pintu kelas yang tertutup. Ai menarik tangan ku dan membuat ku menghentikan langkah.
"Ano ... apa kamu ada acara pulang sekolah?", kata nya dengan wajah nya yang memerah itu.
"Gak ada ... kenapa?", jawab ku.
"Pulang sekolah ... mau gak pergi sama aku?", ucap nya sembari memejamkan mata nya seakan takut melihat reaksi ku.
Date?!, ah bukan ...
"Hmm ... terserah kamu ...", aku membuka pintu kelas dan masuk bersama nya.
Bel pelajaran di mulai pun berbunyi.
-----------------
"Huahh .... akhir nya ..."
Aku menghela nafas ku tepat saat jam pelajaran terakhir telah usai. Akhir nya aku bisa melewati hari yang membosankan ini dengan lancar.
"Ai ... dingin dingin gini mau kemana?", tanya ku ketika mengingat hari ini adalah musim dingin.
__ADS_1
"Makam adik ku", ucap nya sembari membereskan alat alat tulis nya yang ada di atas meja.
Dan juga kata kata itu membuat ku sangat terkejut. Ternyata dia punya adik yang sudah meninggal. Aku jadi merasa bersalah telah bertanya hal itu pada nya. Pasti sangat sakit mengingat orang yang ia sayangi telah tiada.
Kring kring~~
"Yeeeyy!!!", sorakan anak anak lain yang mendengar bel pulang sekolah telah berbunyi.
"Aku tunggu di luar ya?", kata Ai menggendong ransel kecil warna merah itu lalu berdiri dari kursi nya.
"Hoi ... tunggu ...", aku menarik tangan nya dan menahan nya untuk melangkah pergi.
"Bareng aja ... nanti kamu kena masalah lagi loh", ujar ku sembari membereskan buku dan alat tulis yang masih ada di atas meja dan memasukan nya kedalam ransel hitam ku.
"Udah yuk ...", ucap ku setelah menggendong ransel ku dan berdiri dari kursi.
Saat kami hendak melewati pintu keluar kelas, aku mengingat suatu hal.
"Tunggu bentar ...", aku menghentikan langkah Ai dan berbalik ke arah Mina yang masih duduk di bangku nya yang berada di baris paling depan itu.
"Mina ... syal ku mana?", tanya ku.
"Ohh ... iya ... ini makasih!!!", kata Mina seraya melempar syal putih milik ku.
"Ya udah ... aku pergi dulu", aku pun melanjutkan langkah ku bersama Ai untuk keluar dari kelas.
Langit biru yang mulai berubah warna menjadi oranye. Suhu cuaca yang makin turun. Sang surya sudah bersiap menenggelamkan diri nya. Kami berdua berjalan berdampingan tanpa sepatah kata pun. Kami melangkah menyusuri jalanan pemukiman yang sunyi.
__ADS_1
Aku hanya mengikuti langkah si rambut pirang di samping ku ini sembari sesekali melirik ke arah wajah cantik nya. Syal merah muda yang melingkar di leher nya. Jaket merah serta ransel merah nya. Uap nya keluar setiap kali ia menghembuskan nafas nya di udara yang dingin ini.
Beberapa kali pun aku melihat wajah nya. Aku tak pernah bosan untuk kembali menatap nya lagi. Cuaca dingin yang membuat ku kesal seakan tak ku pedulikan lagi selama ada Ai di samping ku. Seperti nya dia benar benar spesial untuk diri ku, seandainya aku mengingat masa lalu nya dengan ku.