
Aku jenuh aku capek setiap hari aku selalu menghadapi suamiku seperti itu kasar suka mabuk bahkan memperlakukan aku seperti aku bukan istrinya.
Dia memang sayang pada anak-anaknya dan dia memang ayah yang baik dan bertanggung jawab bagi anak-anaknya dan selalu mencukupi kebutuhan anak-anaknya tetapi kepadaku istrinya dia bukan suami yang baik.
Slama ini keluargaku tidak pernah tahu dengan sikap suamiku terhadapku yang mereka tahu suamiku adalah lelaki yang baik yang sayang pada istri dan anak-anaknya.
Keluarga kaget saat aku mengatakan kalau aku ingin berpisah dengan suamiku, ayah yang begitu sayang kepada menantunya tiba-tiba sesak dadanya mungkin shock mendengar pernyataanku yg tiba-tiba aku mengatakan kalau aku ingin berpisah dengan suamiku..
Ibuku yang begitu sabar hanya menggeleng-gelengkan kepala memandangku kecewa sembari merangkul pundak ayah yg dadanya sesak...
"ayah istirahat ya, biar ibu nanti yang ngomong sama clara..."berjalan menuju kamar
Aku pandangi anak-anakku yang sedang main didepan teras rumah..mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan orang tuanya. Air mataku menetes keputusan terbaikkah aku pergi meninggalkan suamiku??
"kamu yakin nak mau tinggalin suamimu, bagaimana dengan anak-anakmu dia butuh kalian berdua, janganlah ambil keputusan sendiri pikirkanlah baik-baik kasian anak-anakmu mereka masih terlalu kecil" nasihat ibuku yang ikut memperhatikan anak-anakku.
"ibu tidak pernah tahu apa yang aku alami yang ibu tahu mas Rio baik tapi kenyataannya tidak, dia kasar padaku bu" aku menangis memeluk ibuku
"banyak hal yang ibu sama bapak tidak tahu aku harap ibu ngerti perasaanku"
Ibu diam dan berjalan menghampiri cucu-cucunya dan akupun menyusul dibelakangnya.
"nenek boleh ikut main?"
anak-anakku nara dan niko berlari manja menghampiri neneknya
"boleh ayu nek..."niko anak laki-laki ku menarik tangan neneknya mengajak main lari-larian trus neneknya menangkapnya.
Nara tidak ikut main dia diam dan duduk dikursi mainannya sambil memperhatikan adiknya main dengan neneknya sekilas neneknya memanggilnya agar ikut main juga.
"Nara kenapa, ko nggak ikut main bareng niko dan nenek"
"nggak ahh"sahutnya nara enteng
"kenapa?"
Nara diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya
"kita nggak usah pulang kerumah ya nginep aja disini dirumah nenek, kita kan udah lama nggak nginep dirumah nenek kakek"
Nara memandangku dan menganggukan kepalanya.
"papah ikut juga kan tidur disini rumah nenek" ujar nara polos
"nggak.... papah nggak ikut papah dirumah... yang tidur dirumah nenek mamah nara dan niko"
"kenapa?"
__ADS_1
Aku diam dan tersenyum...
"papah nanti nyusul" sahut ibu
Anak-anakku sudah tidur mereka lelap sekali tidurnya mungkin terlalu lelah karena banyak main.
Aku kuatir dengan sikapnya Nara karena akhir-akhir ini Nara banyak diam tidak seperti biasanya.
Aku duduk diteras depan memandangi langit yang gelap dan sepertinya akan turun hujan dan benar saja hujan pun turun sangat deras dibarengi dengan petir menyambar.
"Clara masuk nak dingin diluar" ibu yg tiba-tiba datang membuyarkan lamunan
"iya bu" sahutku kaget
"Nara terbangun sepertinya kaget mendengar petir tadi, temanin sana dan kmu juga harus istirahat"
Aku menganggukkan kepala dan langsung masuk kedalam,
"bu...."langkahku berhenti dan 8 ibu yang sedang menutup pintu
"bapak baik-baik ajakan, bapak sudah tidak marah lagikan sama ku?"
Aku menyesal sudah membuat bapak sakit karena mendengar aku ingin berpisah dengan suamiku.
Ibu hanya tersenyum
Aku masuk kedalam kamar dan aku hampiri anak-anakku yang sudah tidur terlelap.
handphone ku berdering dan ada 7 panggilan tak terjawab dari Rio suamiku bahkan banyak pesan yang masuk semuanya dari suamiku
menanyakan keberadaanku dan anak-anaknya.
Aku telepon balik dan suamiku mengangkatnya "kamu dimana, dimana anak-anak?" interogasi suamiku dibalik telepon dengan nada marah
"aku dirumah ibu anak-anak ada samaku"
besok pagi aku jemput, aku mau bawa anak-anakku"
tubuhku gemetar hatiku mulai tidak tenang
belum selesai bicara suamiku sudah menutup teleponnya
Pagi-pagi sekali mas Rio sudah ada di rumah orang tuaku sedang berbincang asik bersama bapak,
Sekilas aku pandang ibu yang sedang menyiapkan sarapan dan ibu juga balik melihatku lalu menghampiriku dan memberikan secangkir kopi untuk suamiku
"kasih suamimu..."
__ADS_1
Aku menganggukan kepala dan mengambil secangkir kopi buatan ibu untuk suamiku.
Aku berjalan menghampiri mas Rio yang sedang mengobrol dengan bapak sambil membawa secangkir kopi hangat.
"mas ini kopinya?" aku menaruh kopi dimeja dekat suamiku duduk dan berlalu masuk kedalam.Tiba-tiba bapak memanggilku dan menyuruhku menemaninya
"iya pak...."
Bapak masuk kedalam lalu mengusap rambutku lembut.
Aku duduk disampingnya aku diam seribu bahasa menunggu suamiku yang berbicara terlebih dahulu.
"kenapa kamu pergi dari rumah tanpa bilang dulu padaku?" ujar suamiku yg sepertinya sangat marah padaku tapi menahannya.
"aku minta maaf " sahutku menyesal
"ok kita pulang, aku tidak ingin marah disini"
"iya"
Aku masuk kedalam dan langsung mengemas barangku dan barang anak-anakku.
Nara dan niko terbangun dan bingung melihat mamah nya pagi-pagi sudah sibuk merapikan barang- barangnya
"mamah mau kemana?"ujar niko bingung
Aku tersenyum "kita mau pulang, papah sudah jemput" dan meneruskan memasukan barang-barang kedalam koper sedangkan Nara langsung beranjak bangun dari tempat tidurnya lalu berlari keluar kamar setelah tau papanya sudah datang.
"Niko siap-siap ya...kita pulang "ujarku kepada niko dan menyuruhnya bersiap-siap untuk pulang .
" mah... kenapa nggak lama aja tinggal dirumah neneknya aku masih kangen sama nenek kakek" Riko keluar kamar dan menghampiri nenek dan kakeknya di ruang makan.
Setelah selesai berkemas-kemas aku hampiri Riko yang sedang menyantap roti bakar bersama kakek dan neneknya
"Nara mana suruh sarapan dulu sini?"ujar ibu yang sedang mengoleskan mentega diatas roti lalu menaruhnya diatas piring putih.
"lagi sama papanya bu" ujarku
"panggil sini suamimu kita sarapan bareng-bareng"
"iya bu" lalu aku berjalan menuju teras depan
aku melihat mas Rio dan Nara sedang becanda manja
"Nara kita sarapan dulu yuk" panggilku lalu aku pandang suamiku agar ikut sarapan juga.
Rumah tanggaku seakan-akan baik aj tidak ada komplik bahkan seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa seperti keluarga yang harmonis padahal kenyataannya sangatlah miris.
__ADS_1