
Aku usap air mataku yang sedari tadi berlinang tanpa henti yang merasakan rasa sakit dalam hati ku hingga air matalah yang menjawab rasa sakit hati ini.
Aku akan bertahan demi orang tua, terutama anak-anakku, saat dulu aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya dan tiba-tiba aku teringat dengan kejadian itu.
...
Aku kaget saat aku mendengar pintu digedor begitu kerasnya dengan suara teriakan memanggil- manggil namaku, aku hapal itu suara mas Rio, sebelum aku membuka pintu aku lirik jam yang menempel di dinding pukul 23.00 wib.
"lama sekali kamu buka pintu?" ujarnya marah dengan kedua matanya memerah.
"kamu mabuk?" aku menutup hidung karena mencium aroma bau alkohol dari mulutnya.
mas Rio mendorong ku kasar hingga aku jatuh tersungkur ke lantai.
Dia masuk ke dalam tanpa melihat ku kesakitan.
Aku bangun dan ternyata tanganku berdarah mungkin kena goresan ujung pintu saat aku didorong.
Aku hampiri mas Rio berusaha membantunya saat dia jalan sempoyongan menuju kamar.
"semua wanita sama aja" ujarnya seperti mengigau dan memandangku dengan tatapan penuh hawa nafsu tiba- tiba mas Rio menarik tangan ku dan menjatuhkan aku keatas tempat tidur,
Dia menindihku hingga dadaku sesak, dan menciumku hingga aku merasa akan muntah karena bau alkohol di mulutnya. Dia memaksa ku untuk melepas semua pakaian ku, aku menolaknya dan mendorongnya agar mas Rio menjauh dariku.
"Plakkk.... " mas Rio menampar aku hingga hidungku berdarah
"kamu menolakku?" tangannya menarik tanganku kencang hingga ku merintih menangis kesakitan.
"bukan aku menolak mu, tapi bukan seperti ini, kamu kasar kepadaku," aku berusaha melepaskan tanganku.
"kamu istriku"...
"iya aku memang istrimu yang punya kewajiban untuk melayanimu tapi bukan seperti ini" aku menangis dan suamiku terus saja memaksa ku hingga aku pasrah suami ku melakukan apa saja kepadaku...
Hampir setiap hari mas Rio mabuk dan hampir setiap hari juga mas Rio menganiaya ku.
Aku seperti bahan pelampiasan nya dan perlakuan nya seperti aku bukan istrinya. Tubuhku penuh dengan memar wajahku sedikit membiru karena bekas tamparan yang dilakukan oleh suamiku sendiri.
"Wajah mama kenapa, mama sakit?" ujar Nara duduk mendekati ku dan segera aku usap air mataku agar Nara tidak melihat mama nya menangis.
"mama baik-baik ajakan?" Nara terus saja bertanya.
"mama baik-baik aja ko, kamu ko belum tidur, ini udah larut, besok kamu harus sekolah" aku mengusap rambut Nara dan mengajak Nara masuk kamarnya.
__ADS_1
Aku tertidur disamping Nara dan niko, hingga pagi.
Mas Rio berteriak-teriak memanggil namaku aku langsung menghampirinya dan meninggalkan Nara dan Niko yang sedang sarapan. Nara dan Niko saling memandang melihat mamanya berlari kecil menghampiri papanya yang sedang teriak-teriak memanggil nama mamanya.
" kamu kemana aja sih bukanya menghampiri ku saat aku memanggilmu...lama" Mas Rio membentak kasar.
"maaf, aku tadi lagi menemani anak-anak sarapan" penjelasanku.
"kamu ada apa memanggilku?"...
"kemasin pakaian ku, aku mau ke luar kota " tangannya menunjuk kearah pakaian yang berserakan diatas tempat tidur.
"dibawa semua pakaian ini"...
"ya nggaklah berat-beratin koper aku aja" nada marah.
Aku sibuk merapikan pakaiannya sedangkan mas Rio asik dengan hanphone nya.
"Mas, koper nya udah" aku menghampirinya yang sedang asik main hanphone.
"ohhh.. ok, masukkan kedalam bagasi mobil" mas Rio menyuruhku tanpa melihatku dan dia lebih mementingkan hanphone nya.
Aku keluar kamar dam membawa koper suamiku untuk aku masukkan kedalam bagasi mobil.
Nara dan Niko yang sudah selesai sarapan berlari kecil ke arah ku.
"mama nggak kemana-mana, papa yang mau pergi, keluar kota "...
" aku bantu ya ma" Niko ikut membantu memasukan koper kedalam bagasi mobil.
"ambil tas kalian bareng sama papa ya sekolahnya" ...
"iya ma"...
Mas Rio berjalan kearah mobil dan anak-anak sudah siap didalamnya.
Mas Rio memberi sebuah amplop coklat berisi uang
" uang itu untuk kebutuhan kamu dan anak-anak selama aku diluar kota" ujarnya datar lalu masuk kedalam mobil dan pergi. Tampa pamit tampa mrngecup keningku tampa memandangku dia pergi begitu saja dan aku rindu dengan semua itu.
Begitukah suamiku mencintaiku ataukah sama sekali tidak mencintaiku hingga dimatanya aku ini seperti bukan istrinya.
Bahkan untuk menatap wajahku saja dia seperti enggan ataukah ada perempuan lain dihatinya yang membuat dia seperti itu.
__ADS_1
Aku kecewa aku terluka aku menangis...
benar saja suamiku dengan perempuan lain alasannya untuk pergi ke luar kota karena alasan pekerjaan ternyata kenyataannya dia pergi dengan perempuan lain. Merry nama perempuan itu dan merry adalah teman SMA mas Rio. Mereka bertemu kembali disaat teman-teman SMA ,nya mengadakan reuni.
Aku bukan diam dan tidak berbuat apa-apa disaat aku tahu suamiku sendiri pergi dengan wanita lain dan aku tidak ingin ribut dengan suamiku kasian anak-anakku.
Wanita itu datang kerumah dengan alasan ingin bertemu dengan anak-anakku.
Merry memang cantik dibandingkan aku, wajar aku hanya ibu rumah tangga sedangkan dia wanita karir yang selalu menjaga penampilannya.
"anak-anakmu pintar ya mba" ujarnya setelah selesai mengajak Nara dan Niko main dihalaman depan.
Aku tersenyum kuatir "ada tujuan apa dia datang kerumah" dalam benakku.
"beruntung sekali mas Rio punya anak pintar-pintar seperti Nara dan Niko"...
"tujuan kamu apa datang kesini?" aku marah
"ya aku cuma ingin deket aja dengan anak-anaknya mas Rio salah..." sahutnya enteng
Aku terdiam penuh tanya wanita baiklah dia atau dia wanita yang akan merusak rumah tangga aku? semoga perkiraan ku salah.
Anak-anakku nyaman dengan kehadirannya Merry mungkin karena dia ramah dan keibu-ibuanya sungguh luar biasa.
bahkan tiba-tiba aku merasa takut anak-anakku akan lebih deket dengan wanita itu.
Merry menepuk pundakku.
"mba tenang aja aku tidak akan merebut mereka dari mba ko, aku cuma senang aja sama anak kecil " ujar Merry
Aku diam dan tiba-tiba Merry bercerita tentang kedekatannya dengan mas Rio
" mungkin mba clara mengira aku dengan mas Rio ada hubungan, tenang aja mba aku tidak hubungan apa-apa ko, kami hanya berteman saja, ya mungkin mas Rio menyukaiku, tapi aku menolaknya karena aku tidak mau menyakiti hati mba dan anak-anak"...
Merry lalu diam dan aku pun diam sekilas aku melihat Merry meneteskan air mata tapi dia langsung mengusap air matanya dan tersenyum kepadaku
"kamu mencintai mas Rio " tanyaku dengan menatap Merry
"ya nggak lah mba....Mas Rio temanku dan tidak mungkin aku mencintainya" sahutnya
Merry
"kamu bohong Merry... aku tahu kamu mencintai mas Rio"...Air mataku menetes.
__ADS_1
Merry mengelak dan dia langsung pamit pulang.
Aku tahu Merry mencintai mas Rio.tetapi dia tidak mampu mengakuinya karena dia tidak ingin menyakitiku.