AIR MATA CLARA

AIR MATA CLARA
" Surat Undangannya "


__ADS_3

Aku sangat bersyukur karena Bapak sudah sehat kembali setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit dan Niko pangeran kecilku sudah mulai ceria kembali dan tidak terlihat murung lagi.


"terimakasih ya Sindi,.maafkan aku sudah merepotkan kamu menjaga Niko"...


"sama-sama Clara" sahut Sindi dan dia menghampiri ke 2 orang tuaku lalu pamit pulang.


Aku sangat beruntung mempunyai sepupu yang sangat sayang kepada keluargaku dan anak-anakku.


Semoga suatu saat nanti Sindi bisa menemukan jodohnya yang bisa mencintai dan menyayangi dia.


Setelah kepergian Nara, mas Rio tidak pernah datang kerumah bahkan untuk menanyakan kabar anaknya saja tidak pernah, padahal Niko tanggung jawabnya walaupun kami sudah berpisah dan hak asuh anak-anak jatuh padaku tetapi mas Rio masih mempunyai kewajiban untuk menafkahi dan mencukupi kebutuhan Niko.


"Aku tidak meminta, aku hanya meminta haknya Niko, mas" ucapku,


Saat aku menghampiri mas Rio dikantornya.


"aku bisa menghidupi Niko sendiri, tapi mana tanggung jawabmu sebagai ayahnya, gak ada" ucapku kembali lalu aku meninggalkannya dengan membanting pintu ruang kerjanya.


Aku memang kecewa sama Rio, dia tidak ada tanggung jawabnya sama sekali sama Anaknya, bahkan untuk menemui anaknya saja tidak bisa, dengan seribu alasannya sibuk dan sibuk.


"ngapain kamu dikantornya mas Rio?"tanya Shinta mengagetkan aku.


Aku mengusap air mataku agar Shinta tidak melihat aku menangis


"aku habis bertemu dengan mas Rio" jawabku dan berlalu meninggalkannya agar Shinta tidak banyak bertanya.


Shinta terlalu takut kalau aku mendekati kembali mantan suamiku yang kini telah menjadi pacarnya yang waktu dekat ini mereka akan menikah.


"tunggu Clara" panggil Shinta hingga langkahku berhenti


"aku akan menikah dengan mas Rio" ujarnya


"aku tahu itu ko, selamat ya semoga akan menjadi kebahagiaan buat kamu"...

__ADS_1


Seperti petir yang menyambar diatas kepalaku, walaupun aku tahu mantan suamiku akan menikah lagi, tapi kenapa ada rasa sakit dalam hati ku.


Lelaki yang dulu aku cintai yang pernah menjadi suamiku ayah dari anak-anakku ternyata memutuskan untuk menikah kembali dengan perempuan yang telah merebut kebahagiaanku.


"aku benci mas Rio"...


Dengan sengaja aku memecahkan piring yang ada didapur dengan membantingnya, aku marah aku kecewa hati aku terluka.


kenapa harus seperti ini, aku sudah kehilangan putriku Nara dan kehilangan orang yang aku cintai dengan cara menyakiti.


"Clara ada apa nak, kenapa kamu seperti ini?" tanya ibu dan menyingkirkan aku dari pecahan piring.


"kenapa takdir aku harus seperti ini?"...


"Clara, jangan pernah untuk menyalahkan takdir karena sama saja kamu tidak percaya dengan Tuhan, ini semua cobaan untuk kamu, agar kamu sabar dan bertawakal" ujar ibu


Aku memeluk ibu.


"ingat nak, kamu harus melewati semuanya dengan hati ikhlas karena suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaanmu" ujar ibu kembali dan sedikit membuat aku tenang.


"haii Clara kami mau kasih sesuatu untuk kamu" Shinta bersama mas Rio datang menghampiriku dan memberi sebuah undangan pernikahannya.


"aku sih terserah kamu mau datang atau tidak di pernikahan kami" ucap Shinta dengan memamerkan kebahagiaannya dengan undangan pernikahannya.


"selamat ya, semoga kalian bahagia" ucapku dengan mata berkaca-kaca dan aku berusaha menahannya agar mereka tidak melihat tangisan lukaku.


"setelah kami menikah Niko harus ikut denganku" ujar Rio dan mengagetkan aku.


"apa, Niko harus ikut kalian? tidak akan aku biarkan Niko ikut kalian, Niko anakku, hak asuhnya jatuh di aku bukan dikamu"...


"Niko juga anakku, aku ayahnya dan aku berhak atas Niko, jadi kamu tidak usah cape-cape setiap bulan minta uang yang alasannya buat Niko" ujar Rio sombong


"mas, aku mohon sama kamu jangan pernah kamu pernah ambil Niko dari aku, dia harta aku satu-satunya dia yang kini aku miliki, aku tidak mau Niko jauh dari aku, sudah cukup aku kehilangan Nara gara-gara kamu, aku tidak mau Niko juga harus pergi dari ku, aku mohon, ok setelah kamu menikah dengan wanita itu aku tidak akan pernah meminta tanggung jawabmu terhadap Niko, biar aku yang tanggung sendiri, asalkan Niko bersamaku"...

__ADS_1


Aku seperti pengemis didepannya mas Rio yang meminta belas kasihan agar mas Rio kasihan padaku dan tidak mengambil Niko anakku dariku.


"ya udah biarin aja mas,Niko sama mantan istrimu ini, akukan bisa kasih anak juga buat kamu" ujar Shinta.


Mereka pergi begitu saja meninggalkan sesak didalam hatiku.


Aku belajar untuk ikhlas dengan semuanya tetapi aku tidak ikhlas bila Niko harus tinggal dengan mantan suamiku walaupun mas Rio ayah dari Niko tetap saja aku tidak menginginkan Niko harus tinggal bersamanya.


"mama kenapa?"tanya Niko kebingungan melihat mamanya menangis sendirian diteras rumah


"tidak apa-apa sayang, Niko sayang mamakan, Niko tidak akan pernah meninggalkan mama kan?" pertanyaanku bertubi-tubi dengan memeluk Niko erat.


Niko menghapus air mataku dengan tangan mungilnya dan mencium keningku.


Aku seperti memiliki pelindung kecil yang menjadi kekuatanku dan semangat dalam hidupku.


dan aku akan bertahan untuk Niko, dan tidak akan aku biarkan mantan suamiku merebut anakku dariku.


Bapak marah besar saat aku menceritakan mas Rio dan pacarnya datang menemuiku dan memberiku sebuah undangan pernikahannya, serta ingin Mengambil Niko dariku setelah mereka menikah.


Dada bapak sesak, dan ibu berusaha menenangkan bapak.


"Sabar pak" kata ibu mendekati bapak dan mengajaknya untuk duduk


"Rio kelewatan bu, Nara meninggal gara-gara dia, sekarang Niko dia mau bawa maunya lelaki itu apa?" ujar bapak dengan nada marah.


"aku tidak mengerti dengan jalan pikirnya mas Rio, tetapi aku akan berusaha, agar Niko tidak di ambil mas Rio" sahutku dengan wajah penuh kesedihan.


"yang sabar ya nak, semoga Rio berubah pikiran" ujar ibu yang selalu sabar.


"semoga saja bu" sahutku


Aku pandang wajah pangeran kecilku yang sedang terlelap tidur, terkadang mengigau memanggil-manggil papanya.

__ADS_1


Mungkin Niko merindukan papanya hingga harus terbawa dalam mimpinya.


Walaupun Niko didepanku tidak pernah menanyakan papanya, tetapi aku merasakan bahwa dalam hatinya dia merindukan sosok papahnya.


__ADS_2