
"ya Allah ya tuhanku Aku mohon kepadaMU ya Allah, sembuhkanlah putri kecilku aku rindu tangisannya aku rindu teriaknya aku rindu ketika Nara memanggilku mama, ya Allah tetapi bila mana Engkau lebih rindu kepada putri kecilku aku ikhlas ya Allah, aku tidak tega melihat putri ku menahan sakit, aku pasrahkan segalanya kepadaMU ya Allah.Amiin"....
Handphone ku berdering ada panggilan masuk dari Merry dan memintaku segera kembali.
Aku berlari dan melihat Ibu Bapak dan Ibu mertua bahkan Merry dan sindi semuanya menangis.
Aku menghampiri Ibu dan Bapak mereka memeluk aku dan berbicara kalau aku harus ikhlas dan sabar.
Aku melepaskan pelukan Ibu dan Bapak setelah aku mendengar Mas Rio menangis histeris diruangan dimana Nara di rawat.
Aku berlari menghampiri Nara yang sedang ditangisi mas Rio.
"Naraaaaa....Naraaaaa maapin papa" teriakan Mas Rio memanggil-manggil sembari memeluk putrinya yang tubuhnya sudah di tutupi kain putih.
"Naraa" panggilku lirih dan aku berusaha membuka kain yang menutupi wajahnya.
aku pandangi wajah putri kecilku yang sudah tidak bernafas lagi.
Dan aku berusaha untuk ikhlas dengan kepergian anakku Nara tetapi Air mata ku terus mengalir deras hingga tidak kuasa akupun tidak sadarkan diri.
Aku terbangun dari pingsanku aku melihat ada Ibu dan Bapak dan Niko yang sedang duduk di pangkuan Merry.
"bu Nara?"...
"iya nak, kamu yang sabar ya..jenazah Nara sedang di urus sebentar lagi akan dibawa pulang" sahut ibu
Semua manusia akan kembali kepada asalnya menghadap Tuhan sang pencipta.
Ketika aku berusaha bersabar, Kuat dan Ikhlas dengan apa yang terjadi dalam hidupku, Suami yang pergi meninggalkan ku dengan wanita lain. Dan kini anak perempuanku yang pergi meninggalkanku dari dunia ini untuk selamanya. Padahal selama ini anak-anakku lah yang menjadi kekuatan ku dalam menghadapi semua dilemaku.
Aku peluk erat Niko pangeran kecilku yang menangis memangggil-manggil nama kakanya, ketika jenazahnya Nara akan dikebumikan.
Lantunan suara adzan yang dikumandangkan mas Rio didepan jenazah Nara untuk terakhir kalinya membuat aku tidak percaya kalau itu putriku yang pergi meninggalkan kami.
Air mataku terus menetes melepaskan kepergian anakku.
Orang tua dan mertuaku selalu ada disampingku, menghiburku, menguatkanku, dan selalu menenangkanku agar aku tidak jatuh pingsan lagi walaupun dada ini terasa sesak.
Tangisan Niko berhenti karena hiburan Merry, bahkan sekilas aku melihat Niko dihibur oleh Sally keponakan dari Merry, dan berusaha menghibur Niko yang sangat kehilangan kakanya.
__ADS_1
"doa mama akan selalu ada untuk kamu nak, semoga kamu tenang di sana bersama Allah yang lebih sayang sama kamu Amiin.."
Bunga-bunga bertaburan di atas makamnya Annara A'idhah binti Rio Hermawan bahkan Shinta pacarnya mas Rio ikut menaburkan bunga pula di atas makamnya Nara.
"aku turut berduka ya mba?" ucap Shinta setelah selesai menaburkan bunga di atas makam Nara dan berjalan menghampiri Mas Rio.
"kamu yang sabar ya" ucap Sindi dan memelukku
"terimakasih ya Sindi kamu sudah banyak membantuku"...
"sama-sama, aku pulang duluan ya, dadah Niko tante pulang dulu" pamit Sindi dan mencium pipinya Niko
Sindi banyak membantuku pada saat Nara masih dirumah Sakit dan meninggalnya Nara, dia yang sibuk mengurus semuanya.
"ma, ka Nara sudah di surga ya ?" tanya Niko
"iya sayang, ka Nara sudah ada disurga, Niko selalu doain ka Nara ya" sahut ku dan merangkul Niko.
Saat ini aku harus ikhlas dengan kepergiannya Putri kecilku, karena aku masih memiliki Niko pangeran kecilku yang akan aku jaga baik-baik yang akan menjadi kekuatanku.
Aku harus bangkit dari kesedihanku walaupun masih dalam berduka aku harus tegar demi Niko.
Guru kelasnya, Bu Irma datang kerumah membujuk Niko untuk sekolah lagi tetapi tetap saja Niko tidak mau pergi kesekolah.
"saya akan berusaha membujuk lagi, mungkin Niko masih bersedih bu, atas meninggal kakanya"...
"iya ma, tapi jangan terlalu dipaksakan, takut menggangu pisikisnya" sahut wali kelasnya Niko
"iya bu, terimakasih"...
Aku telah mengikhlaskan kepergiannya putriku tetapi dengannya Niko sepertinya dia sangat merasa kehilangan bahkan akhir-akhir ini Niko banyak diam.
Aku berusaha membujuknya agar Niko bisa semangat lagi walaupun tidak ada kaka di sampingnya.
Mengeluarkan Buku-buku yang Niko senangi, agar hatinya tergerak lagi dan rindu akan sekolahnya tetapi tetap saja Niko tidak peduli.
"kita makan es crim yuk" ajak aku pada Niko
Niko masih diam dan tidak peduli dengan ajakan aku
__ADS_1
" Niko nggak mau makam es crim?... udah lama loh kita nggak makan es criim"...
"iyah ma, aku mau" sahut Niko tersenyum
"ok, kita siap-siap dan pamit sama kakek dan nenek"...
Sebelum aku dan Niko pergi makan es crim di tempat yang biasa kami makan bersama-sama dulu di saat masih ada Nara, terlebih dahulu aku mengajak Niko mampir ke makamnya Nara dan mengajak Niko untuk mendoakan kakanya didepan makamnya.
Niko menangis di depan makam kakanya.
"kak Nara Niko kangen sama kaka, tapi kata mama kaka sudah bahagia bersama Allah, sekarang aku mau makan es crim sama mama ditempat kita biasa makan, nggak apa-apa ya kak, kalau kaka nggak ikut" ucap Niko Dan air mataku menetes mengingatkan aku akan kejadian sebelum Nara tertabrak mobil, saat itu kami akan makan es crim sepulang sekolah.
"mama, nggak usah sedih lagi ya, ka Nara sudah bahagia, bersama Allah, aku janji akan terus mendoakan ka Nara dan aku akan sekolah lagi supaya ka Nara senang" ucap Niko memeluk aku.
"iya sayang, kamu janji ya sama mama akan terus sekolah demi ka Nara supaya kamu pintar"...
Niko menganggukkan kepalanya dan tersenyum lalu membantu aku menaburkan bunga diatas makamnya Nara.
Aku tersenyum bahagia melihat pangeran kecilku sudah bahagia dan semangat lagi.
Niko begitu bahagia melahap es crim rasa paforitnya yaitu rasa coklat.
"pelan-pelan sayang, nanti kalau kurang bisa nambah lagi" ujarku sambil mengelap wajahnya yang blepotan.
"iya ma" sahutnya lalu melahap es crimnya sampai habis.
"mau tambah lagi nggak es crimnya?"...
Niko menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa sudah kenyang makan es crimnya, lalu dia mengeluarkan tangannya ke arahku karena tangannya lengket.
"ok, kita cuci tangan biar tangannya tidak lengket lagi"...
Aku membawa Niko ke toilet untuk membersihkan tangannya karena lengket.
"makasih mama" ucap Niko tersenyum
"sama-sama sayang, yuk kita pulang "...
Bahagia itu walaupun sederhana tapi sangat berarti ketika kita melihat anak-anak yang kita sayangi tersenyum bahagia tanpa ada beban.
__ADS_1
dan belajar untuk ikhlas dengan apa yang terjadi dalam hidup ini.