AIR MATA CLARA

AIR MATA CLARA
"Kesabaran Ibu untukku"


__ADS_3

Aku sibuk menyiapkan keperluan yang akan aku bawa ke rumah sakit. Ibu sudah terlebih dulu dirumah sakit bersama Niko.


Sedangkan Bapak lebih banyak dirumah, karena bapak cepat merasa lelah apalagi untuk bolak balik kerumah sakit.


Toko sementara aku tutup, sampai aku dapat orang yang mau menjaga toko ku. Dan aku tidak mungkin percayakan toko ke pada bapak, apalagi bapak punya penyakit riwayat sesak nafas, aku takut bapak kenapa-napa disaat menjaga toko.


Sekilas aku lihat bapak sedang tidur dikamar, dan aku tidak tega meninggalkan bapak sendirian dirumah.


"pak"...aku panggil bapak sembari mengetuk pintu kamarnya.


"masuk Clara" sahut bapak dan menyuruhku masuk


"ada apa?" tanya bapak


"pak, aku sudah siapkan buat makan bapak... bapak tidak apa-apakan Clara tinggal sendirian dirumah, nanti sesampainya Clara di rumah sakit aku akan menyuruh ibu cepat pulang"...


"iya nak" sahut bapak tersenyum dan membelai rambut ku seakan aku masih anak kecil dihadapannya.


"aku pergi dulu ya, pak"...


Aku tutup pintu dan pergi meninggalkan bapak dirumah sendirian.


"Claraa"...


Aku kaget saat mendengar suara lantang memanggil Namaku.


"Clara tunggu"....


Langkahku berhenti dan aku tahu yang memanggilku adalah shinta pacarnya mas Rio.


"ada apa?" tanyaku


"aku hanya ingin mengingatkan kamu saja, jangan pernah untuk mendekati mas Rio kembali, kalian sudah bercerai dan kami akan segera menikah" ujarnya shinta.


"aku tidak mendekati mas Rio, dan wajar akhir-akhir ini mas Rio selalu ada didekatku, karena kamu juga tahukan, kalau putriku membutuhkannya." sahut ku lalu aku meninggalkan shinta wanita yang menurutku adalah parasit dikeluargaku.


"wanita aneh" bisik hatiku.

__ADS_1


"Clara tunggu" panggil shinta lagi


"ada apa lagi" tanyaku sedikit kesal


"kamu terlalu sombong ya, pantas saja mas Rio meninggalkanmu" ujarnya shinta memojokkan aku.


Tetapi aku tidak peduli dengan kata-katanya shinta terus saja mengoceh agar aku menjauhi mantan suamiku dan aku meninggalkannya dengan menaiki taksi yang aku pesan.


Sesampainya Rumah sakit aku langsung masuk ke ruangan rawatnya Nara. Aku cium tangan mungilnya dan ku kecup keningnya.


"sayang ini mama, kemarin mama ke sekolah kamu, terus mama bertemu dengan Sally dia menanyakan kamu sayang, katanya Sally kangen sama kamu, cepat sembuh ya biar bisa sekolah lagi terus bisa main lagi sama teman-teman sekolah kamu"...


Aku terdiam dan mengusap air mataku.


"Nara bukan hanya teman-teman kamu saja yang kangen sama kamu Mama juga kangen sama kamu, Niko nenek kakek omah dan juga papa, semuanya kangen sama kamu"...


Air mataku terus menetes hingga seguk-segukan.


"papa sering datang menemui Nara, papa kangen sama kamu nak, papa sering tidur disini temanin kamu, sekarng papa di kantor nanti sore akan datang lagi menemui kamu"...


Aku melihat air matanya Nara menetes dari matanya yang terpejam.


"ada apa sayang, nenek mana?"tanyaku


Niko menujuk ke arah neneknya yang sedang berbicara dengan suster.


Dan aku langsung menghampiri ibu yang sedang berbicara dengan suster


"terimakasih suster" ucap ibu dan suster itupun pergi


"ada apa bu?" tanyaku penasaran apa yang di bicarakan ibu dengan suster itu.


Ibu tersenyum dan mengajakku duduk.


"tidak ada apa-apa sayang, ibu hanya menanyakan kondisi Nara, dan kata suster tadi kita harus banyak bersabar dan berdoa, dan masalah biaya pengobatan Nara sudah dibayar lunas sama Rio"..


"iya bu... o iyah bu, tadi pada saat aku mengajak bicara Nara, tiba-tiba Matanya Nara meneteskan air mata... apa Nara mendengar suara aku bu"...

__ADS_1


Ibu tersenyum dan menganggukkan kepala lalu memeluk aku.


"Bu, lebih baik ibu pulang kasian bapak dirumah sendiri" pintaku kepada ibu


"iya nak,... Niko ayo kita pulang, kakek sudah menunggu " ajak ibu kepada Niko.


"iya nek" sahut Niko


Aku bersyukur ketika putri kecilku sedang berjuang untuk hidup, ibu selalu ada bersamaku dengan sabar memberiku semangat.. dengan sabar menjaga Niko selama aku dirumah sakit dengan sabar merawat bapak yang akhir-akhir ini sering kambuh penyakit asmanya.


Aku harus banyak belajar kepada ibu dengan kesabarannya, selalu tersenyum dalam keadaan sulit.


"Clara" panggil mas Rio dengan senyuman khasnya manis banget.


Terkadang ada kebahagiaan tersendiri kalau aku melihat mantan suamiku tersenyum, tapi kadang akan terasa sakit bila aku mengingat perlakuan mas Rio terhadapku. apalagi dengan penghianatannya.


"bagaimana dengan keadaan Nara apa ada perubahan?" tanya mas Rio


"sama seperti kemarin" jawabku lemas


Lalu mas Rio melihat Nara dibalik kaca.


"mas Rio, terimakasih kamu sudah biayayi semua pengobatan Nara"...


"tidak perlu terimakasih, Nara putriku dan itu udah menjadi kewajibanku" ujar mas Rio dengan suara lembut.


Aku tersenyum tenang.


"kamu sudah makan?" tanya mas Rio


Aku menggelengkan kepala


"makan yuk" ajak mas Rio.


Sudah lama kami tidak pernah makan bersama dan saat ini mas Rio, memperlihatkan kebaikannya sama seperti dulu di saat kami sedang jatuh cinta.


Seandainya perceraian itu tidak pernah terjadi, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi pula.

__ADS_1


Nara tidak akan pernah koma, dan kamipun tidak akan pernah meninggalkan rumah yang bertahun-tahun kami tempati.


Tetapi takdir berkata lain dan aku harus ikhlas menerima takdirku.


__ADS_2