
Aku terlalu egois dengan semua yang terjadi dihidupku, hingga anak-anak menjadi korban ke egoisanku.
Sejak anak-anak pergi jalan-jalan bersama papanya dan Shinta wanita yang akan menjadi ibu tiri anak-anakku, aku semakin membatasi mereka untuk bertemu dengan papanya.
Aku tidak ingin anak-anak terlalu dekat dengan Shinta, karena Shinta bagiku wanita yang telah merebut suamiku, dan membuat suamiku berubah sikap hingga suamiku berhenti mencintaiku bahkan aku harus berpisah dengan suamiku karena dia wanita itu.
"walau bagaimanapun juga Rio itu papanya anak-anak jangan buat mereka jauh dari ayahnya" ujar ibu membuyarkan lamunan
"aku hanya tidak suka anak-anak dekat dengan wanita itu bu, aku tidak menginginkan wanita itu menjadi ibu tiri anak-anakku bu, aku takut wanita itu akan mempengaruhi mereka untuk menjauhi aku, ibu kandungnya"...
"Clara janganlah kamu berprasangka buruk kepada wanita itu, harusnya kamu bersyukur wanita itu sayang sama Anak-anakmu" kata ibu.
"bu aku titip toko ya, aku mau jemput Nara dan Niko"
Aku meninggalkan toko dan aku titipkan kepada ibu, aku sedikit kuatir dengan Nara dan Niko karena sebelum mereka berangkat ke sekolah aku melarang mereka untuk tidak bertemu dulu sama papanya, tetapi dengan Nara dia kecewa kepadaku, hingga sarapannya tidak Nara makan, dan berangkat sekolah diantar neneknya dengan wajah muram.
Ibu tidak menunggu anak-anak disekolah dan langsung pulang ibu hanya mengantar saja.
Di taman dekat sekolah biasa aku menunggu anak-anak pulang sekolah. Dan tidak lama kemudian terdengar bel berbunyi menandakan waktunya belajar telah selesai dan waktu untuk pulang.
Sesegera aku langsung menghampiri Nara dan Niko yang pandangannya seperti sedang mencari sesuatu.
"haii sayang anak-anak mama" sapa ku
"ko mama sih bukan nenek yang jemput ?" tanya Nara dengan mukanya yang cemberut
"nenek lagi ditoko sayang jadi mama yang jemput kalian ngak apa-apa ya sayang"...
Niko tersenyum Nara cemberut
"Nara masih marah sama mama?" tanyaku
Nara geleng-geleng kepala dan berjalan ke arah taman dekat sekolah mereka. Aku dan Niko mengikutinya.
__ADS_1
"Nara anak mama yang cantik kita pulang yuk, terus kita makan es krim deh ditempat biasa ok" bujukku
"Niko mau mah?" sahut Niko senang.
Tetapi dengan kaka nya wajahnya masih saja muram.
"Nara gak mau nih?" godaku.
"mauuuu" Nara teriak manja, dan tidak mungkin anak-anak menolak ajakan mamanya apalagi ajakannya makan es krim, dan pasti tidak akan menolak.
Aku tersenyum melihat Nara ceria lagi.
Ditengah perjalanan menuju kedai es krim, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan Nara yang memanggil papanya disebrang jalan yang sedang berjalan dengan wanita itu shinta.
"mama itu papa" tunjuk Nara ke arah papanya yang ada sebrang jalan sana. Tetapi papanya tidak menengok kearah Nara memanggil dia lebih sibuk dengan wanita itu.
"mungkin papa tidak dengar suara kamu sayang, papa kan terlalu jauh dari sini"...ujar ku menenangkan Nara agar tidak menghampiri papanya, karena itu akan berbahaya buat Nara.
"aku mau ke papa" rengekan Nara
Dan hal yang tidak aku inginkan terjadi ada sebuah mobil dari depan dengan begitu kencangnya melaju ke arah Nara.
"NARAAAAAAAAA"....
Bruukk Nara tersungkur jatuh tidak sadarkan diri. Aku panik melihat darah berceceran keluar dari tubuh dan kepalanya Nara.
" Nara sayang anak mama, kamu yang kuat nak, mama ada sini, maafin mama, Naraaa" aku menangis memeluk Nara.
"ka Nara bangun"..Tangisan Niko melihat Kakanya tergeletak tak berdaya dengan berlumuran darah
"Tolong panggil ambulans anakku butuh rumah sakit" aku berteriak meminta tolong kepada orang-orang yang ada disekitarku yang mengerumuni tanpa berbuat apa-apa.
Aku lihat mas Rio ada disampingku, memanggil-manggil Nara agar bangun dari tidak sadarnya.
__ADS_1
Ternyata mas Rio melihat kejadian itu disaat Nara berlari untuk menghampirinya dan dengan begitu cepatnya Nara tersungkur jatuh tertabrak mobil yang melaju dengan cepat.
Nara dilarikan ke rumah sakit oleh ambulans dan aku ada didalamnya menggenggam tangan mungil gadis kecilku.Dan dibantu oleh oksigen agar gadis kecilku bisa bertahan. Sedangkan Niko bareng sama papanya untuk menyusul.
"nak,, mama disini,.mama mohon kamu harus kuat" bisikku.
Dan sesampainya dirumah sakit air mata ku tidak berhenti menetes. Nara langsung dilarikan ke UGD. Aku menangis histeris dan berharap gadis kecilku Nara akan baik-baik saja.
"mama" panggil Niko berlari menghampiri ku dan ikut menangis dipelukanku.
Dan Mas Rio menghampiriku, dengan suara lirih dia berusaha tenang.
"maafkan aku" ujar mas Rio lalu air matanya pecah dan dia menangis di depanku.
"tidak perlu ada kata maaf saat ini aku hanya berharap Anak kita akan baik-baik saja " sahut ku dengan memeluk erat Niko.
Tidak lama kemudian orang tua dan mertuaku datang menenangkan aku dan mas Rio.
"bagai mana dengan Nara " tanya ibu mertuaku dengan tatapan penuh harap, cucunya akan baik-baik saja
Aku menggelengkan kepala, dan menangis memeluk ibuku.
Niko duduk Di pangkuan ibu mertuaku dan menceritakan kejadian Kakanya bisa kecelakaan.
Mata sinis mertuaku melaju ke arah mas Rio, Ibu marah besar hingga tamparan melayang ke wajahnya mas Rio.
"sudah bu "aku menenangkan kemarahan mertua ku kepada anaknya dan menjauhinya karena mas Rio sudah ditemani shinta.
"gara-gara kamu dengan wanita itu, cucuku kecelakaan, ayah macam apa kamu?" kecewanya ibu mertuaku.
"bu ini bukan salah mas Rio tapi salah aku, yang lalai menjaga anak-anakku, hingga Nara harus lepas dari genggaman tanganku" Aku menangis dengan hati penuh sesal.
Kalau aku erat memegang tangan Nara mungkin Nara tidak akan berlari menghampiri papanya dan semuanya tidak akan terjadi.
__ADS_1
Dan Nara akan baik-baik saja dengan menikmati es krim kesukaannya.